INICIAR SESIÓNRangga menatap bangunan cat kusam di hadapannya dengan senyum yang dipaksakan. Cat temboknya mengelupas seperti kulit terbakar matahari, dan ada jemuran pakaian dalam beraneka warna yang melambai-lambai ditiup angin di balkon lantai dua.
"Ini... homey banget ya, Yang?" Rangga bertanya, berusaha terdengar antusias, padahal dalam hati ia sedang menghitung berapa banyak kuman yang baru saja ia hirup.
Berlin mengangguk kaku di sebelahnya. Tangan kanannya mencengkeram tas bermerek Hermes (yang ia balikkan agar logo H-nya tidak terlihat) sekuat tenaga. "Iya, Mas. Cozy. Kelihatan... akrab sama tetangga."
"Akrab apanya, mbak! Kalau tetangga sebelah bersin, mbak bisa bilang 'alhamdulillah' dari kamar mbak saking tipisnya tembok!" seru Ibu Kos, wanita paruh baya dengan daster batik dan rol rambut yang menyambut mereka.
Ibu Kos membuka pintu kamar nomor 12 dengan bunyi kriet panjang yang memilukan. "Nah, ini unit terbaik. Kamar mandi dalam, meskipun shower-nya kadang nyiprat ke kasur kalau tekanannya tinggi. Harga tujuh ratus ribu sebulan, listrik token. Gimana?"
Rangga dan Berlin melangkah masuk. Ruangan itu berukuran 4x4 meter. Bagi Rangga, ini seukuran walk-in closet (lemari pakaian) di apartemen penthouse-nya. Bagi Berlin, ini lebih kecil dari kandang anjing Golden Retriever miliknya di rumah utama.
"Tujuh ratus ribu?" Rangga bergumam. Ia biasa menghabiskan dua kali lipat jumlah itu hanya untuk sekali tip valet di hotel. "Itu... murah banget, Bu? Nggak kemahalan buat fasilitas... uh... selengkap ini?"
Rangga hampir menggigit lidahnya sendiri. Ia harus terlihat miskin!
"Mahal?" Berlin menyela cepat, menyikut pinggang Rangga keras-keras. "Maksud suami saya, itu pas banget buat budget kami yang mepet, Bu. Tapi apa nggak bisa kurang dikit? Lima ratus ribu gitu?"
Berlin menahan napas. Ia tidak pernah menawar harga seumur hidupnya. Biasanya, ia hanya menunjuk barang dan asistennya yang akan menggesek kartu. Tapi ia ingat pernah nonton sinetron di mana orang miskin harus menawar sadis.
Ibu Kos mendengus. "Nawar sadis amat, Neng. Yaudah, enam setengah. Take it or leave it."
"Kami ambil!" seru keduanya bersamaan, terlalu cepat. Mereka hanya ingin segera keluar dari kecanggungan ini.
"Oke, bayar dulu depositnya. Tiga bulan di muka," Ibu Kos menadahkan tangan.
Rangga secara refleks merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit Louis Vuitton, dan menarik kartu American Express Centurion (Black Card) miliknya yang berkilau hitam metalik.
Mata Ibu Kos membelalak. "Wih, kartu apaan tuh item-item? Kartu timezone?"
Jantung Rangga berhenti berdetak. Mati gue.
"Eh, bukan Bu!" Rangga panik, buru-buru menyelipkan kartu sakti itu kembali. "Ini... ini kartu anggota gym... eh, kartu perpustakaan daerah! Warnanya emang item biar nggak gampang kotor."
Berlin memutar bola matanya, lalu dengan sigap mengeluarkan segepok uang tunai lecek dari tasnya uang yang sengaja ia tarik dari ATM dan ia remas-remas supaya terlihat seperti hasil tabungan lama.
"Pakai cash aja ya, Bu. Suami saya emang suka halu, dikira perpustakaan bisa buat bayar kosan," kata Berlin sambil menyerahkan uang itu dengan senyum manis yang bergetar.
Satu jam kemudian, mereka berdua duduk bersila di atas kasur busa tipis yang berbau kapur barus. Barang-barang mereka dua koper besar yang isinya baju-baju branded yang labelnya sudah digunting paksa menumpuk di sudut.
"Jadi..." Rangga memecah keheningan. "Kita resmi tinggal bareng."
"Demi warisan," tegas Berlin, mengibaskan tangannya di depan hidung, berusaha mengusir debu imajiner. "Inget, Mas Rangga. Kita cuma perlu bertahan setahun. Setelah itu, kita cerai, gue dapet warisan Nenek, lo dapet... apapun yang lo kejar."
"Kebebasan," jawab Rangga singkat. Ia melepas jasnya, menyisakan kaos oblong putih.
Tiba-tiba, seekor kecoa melintas santai di dekat kaki Berlin.
"KYAAA!" Berlin menjerit, melompat ke atas kasur dan memeluk leher Rangga tanpa sadar. Refleksnya begitu cepat hingga Rangga terhuyung ke belakang.
"Kecoa! Mas, panggil Housekeeping! Suruh manajer hotelnya ke sini!" teriak Berlin histeris, wajahnya pucat pasi.
Rangga yang sedang menahan berat tubuh Berlin (dan menikmati aroma parfum mahal wanita itu yang jelas bukan parfum minimarket) terkekeh kaku.
"Yang... ini kosan," bisik Rangga di telinga Berlin. "Nggak ada housekeeping. Adanya sapu lidi di pojok pintu."
Berlin tersadar. Wajahnya memerah padam. Ia perlahan melepaskan pelukannya, merapikan rambutnya dengan canggung, lalu menunjuk sapu di sudut ruangan dengan jari gemetar.
"Kalau gitu... sebagai suami yang baik... tugas lo yang usir monster itu."
Rangga menelan ludah. Ia menatap kecoa yang kini menggerakkan antenanya menantang. Sejujurnya, Rangga biasa menyuruh satpam atau pembantunya untuk urusan begini. Ia tidak pernah membunuh serangga sendiri seumur hidupnya.
"Oke. Gampang," kata Rangga, suaranya naik satu oktaf karena panik. Ia mengambil sapu lidi dengan cara memegang yang salah (seperti memegang tongkat golf). "Minggir lo, kecoa miskin."
Saat Rangga mengayunkan sapu dengan gaya canggung itu, Berlin sadar satu hal: pernikahan palsu ini akan menjadi bencana yang sangat, sangat panjang.
Dan mungkin, hanya mungkin, bencana ini akan sedikit menyenangkan.
Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg
Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit
Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi
Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan
Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si
Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu







