LOGIN
Napas Berlin masih memburu saat ia menghempaskan tubuhnya ke kursi plastik murahan itu. Aroma asap pembakaran ayam dan debu jalanan langsung menyergap hidungnya
sangat kontras dengan aroma lavender dan chamomile di lobi Hotel Grand Hyatt yang baru saja ia tinggalkan lima belas menit lalu.
"Mas! Es teh manis satu! Gelas besar!" teriaknya pada penjual pecel lele, tidak peduli gaun sutra selututnya menyapu lantai warung yang agak berminyak.
Ia melirik ke arah jalan raya. Tidak ada mobil mewah hitam yang mengejar. Aman.
"Pilihan bagus. Es teh manis adalah obat terbaik buat orang yang baru lari dari kenyataan."
Suara bariton itu datang dari meja di sebelahnya.
Berlin menoleh tajam. Seorang pria duduk di sana. Kemejanya putih, lengan digulung asal-asalan, dan dasinya sudah longgar tak karuan. Pria itu tampak berantakan, tapi jenis berantakan yang... mahal.
"Tahu dari mana gue lari dari kenyataan?" tanya Berlin ketus.
Pria itu Rangga mengangkat gelas es jeruknya seolah sedang bersulang. "Karena gue baru aja lakuin hal yang sama. Napas lo bunyi kayak lokomotif, dan lo terus-terusan nengok ke jalan raya kayak buronan polisi."
Berlin mendengus, pertahanannya sedikit menurun. "Bukan polisi. Lebih parah. Orang tua."
Mata Rangga berbinar jenaka. Ia menggeser kursi plastiknya sedikit lebih dekat, melanggar batas privasi dengan cara yang anehnya tidak menyebalkan. "Biar gue tebak. Kencan buta?"
"Perjodohan bisnis," koreksi Berlin sambil menerima es tehnya dari penjual. Ia menyedotnya rakus, membiarkan dinginnya air meredakan panas di kepalanya. "Mereka mau nikahin gue sama anak rekan bisnis Papa. Katanya sih pewaris tunggal, lulusan luar negeri, bibit bebet bobot sempurna. Cih."
Rangga tertawa, suara tawanya renyah namun terdengar getir. "Klise banget. Gue juga. Baru aja kabur dari Grand Hyatt. Katanya cewek ini 'putri keraton' versi modern. Anggun, penurut, pintar masak. Gue yakin aslinya pasti manja dan nggak bisa bedain bawang merah sama bawang bombay."
Berlin tersedak es tehnya. Grand Hyatt? Itu tempat yang sama. Tapi Jakarta luas, dan orang kaya yang hobi menjodohkan anak di hotel bintang lima ada ribuan. Ia menepis kebetulan itu.
"Gue Berlin," katanya, mengulurkan tangan.
"Rangga," sambut pria itu. Jabatannya hangat dan tegas.
"Jadi, Rangga, apa rencana lo sekarang? Pulang dan diceramahi sampai kuping panas?"
Rangga menggeleng. Ia menatap piring lele goreng di depannya dengan tatapan kosong. "Gue nggak bisa pulang. Kalau gue pulang, bokap gue bakal sita semua fasilitas. Kartu kredit, mobil, apartemen... semua."
"Sama," gumam Berlin pelan, berbohong demi solidaritas. Padahal, ia punya rekening rahasia di Swiss yang tidak diketahui ayahnya. Tapi di depan pria yang tampak senasib ini, ia ingin terlihat sama menderitanya. "Gue cuma staf admin biasa di perusahaan Papa. Kalau gue nolak nikah, gue dipecat. Gue bakal jadi gelandangan."
Rangga menatapnya, meneliti wajah Berlin. Cantik, pikirnya. Tapi ada api kemarahan di matanya yang membuat wanita ini terlihat hidup jauh berbeda dari foto-foto sosialita kaku yang disodorkan ibunya.
"Gue juga," Rangga berbohong lancar tanpa kedipan. "Gue cuma... freelancer. Usaha kecil-kecilan. Nggak punya apa-apa selain harga diri. Makanya gue nolak dijodohin sama anak orang kaya itu. Gue nggak mau jadi benalu."
Hening sejenak di antara mereka. Suara desis penggorengan lele menjadi latar musik keputusasaan mereka.
Tiba-tiba, Berlin meletakkan gelasnya dengan keras ke meja.
"Gue butuh nikah," desisnya. "Kalau gue nikah sama orang pilihan gue sendiri, Papa nggak bisa maksa gue nikah sama si pewaris sombong itu. Warisan Nenek gue cuma cair kalau gue nikah."
Rangga tertegun. Ide gila melintas di kepalanya seperti sambaran petir. Ia menatap wanita asing di depannya. Cantik, terlihat sederhana (meski Rangga curiga tas yang dipangkunya itu asli, bukan KW), dan sama-sama membenci orang kaya.
"Gue juga butuh istri," kata Rangga pelan, mencondongkan tubuh. "Bokap gue bilang kalau gue nggak nikah tahun ini, dia bakal kasih perusahaan... maksud gue, usaha ruko keluarga gue... ke sepupu gue yang licik."
Mereka saling bertatapan. Dua orang asing yang terluka oleh ekspektasi keluarga.
"Lo miskin, kan?" tanya Berlin menyelidik, matanya memicing.
Rangga mengangguk mantap. "Miskin banget. Cicilan motor gue nunggak dua bulan."
"Bagus. Gue juga pas-pasan. Gaji UMR," balas Berlin cepat. "Gue nggak butuh cowok kaya yang bakal ngatur hidup gue. Gue butuh partner. Kita nikah. Kontrak satu tahun. Cukup buat bikin orang tua kita diem dan warisan Nenek gue cair."
Rangga tersenyum miring. Ini sempurna. Istri sederhana yang tidak akan mengincar hartanya karena dia pikir Rangga miskin. "Oke. Kita nikah. Tapi janji, hidup mandiri. Nggak ada bantuan orang tua. Makan apa adanya."
"Deal," jawab Berlin tanpa ragu. "Makan di warung tenda seumur hidup pun gue jabanin asal nggak ketemu si anak manja di Hyatt itu."
Rangga tertawa dalam hati. Kalau saja dia tahu.
Mereka bersalaman lagi di atas meja plastik yang lengket. Kesepakatan telah dibuat. Dua miliarder baru saja sepakat untuk hidup susah bersama, tanpa menyadari bahwa mereka baru saja menikahi mimpi buruk yang mereka hindari.
Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg
Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit
Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi
Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan
Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si
Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu







