Accueil / Rumah Tangga / ISTRIMU TERNYATA SULTAN / BAB 3: Mie Instan Rasa Bintang Lima

Share

BAB 3: Mie Instan Rasa Bintang Lima

Auteur: Siapaja
last update Dernière mise à jour: 2025-12-27 00:16:03

Dapur di rumah kotak itu sempit. Saking sempitnya, jika Rangga membusungkan dada sedikit saja, punggungnya akan menabrak kulkas, dan perutnya akan menyenggol kompor.

Di hadapan mereka, tergeletak dua bungkus mie instan rasa ayam bawang, dua butir telur, dan panci aluminium penyok yang disediakan pemilik kontrakan.

"Oke," kata Rangga, menatap kompor gas dua tungku itu seolah sedang menatap panel kendali nuklir. "Kamu yang masak, atau aku?"

Berlin melipat tangan di dada, berusaha terlihat santai meski jantungnya berdebar. Di rumahnya, koki pribadi bernama Chef Hugo yang selalu menyiapkan makan malam. Berlin bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor gas. Ia terbiasa dengan kompor induksi layar sentuh yang bisa bicara.

"Mas Rangga kan laki-laki," elak Berlin cerdik. "Masa nggak bisa nyalain api? Katanya tadi freelancer serabutan? Pasti sering masak sendiri, dong."

Rangga tersudut. Sial. Ia lupa kalau karakter "Rangga si Miskin" seharusnya mandiri.

"Tentu. Gampang," jawab Rangga dengan percaya diri palsu. "Minggir dikit, Yang. Biar Chef Rangga beraksi."

Rangga maju selangkah. Tangannya gemetar sedikit saat memegang kenop kompor. Ia pernah melihat video YouTube tentang ini. Tekan, lalu putar.

Ctrek-ctrek-ctrek... BLAR!

Api biru menyembur keluar dengan suara mendesis yang agresif.

Rangga melompat mundur saking kagetnya, hampir menabrak Berlin.

"Astaga!" pekik Berlin, ikut mundur. "Itu apinya gede banget! Mas mau bakar rumah?!"

"Ini... ini teknik flambé!" Rangga beralasan cepat, wajahnya pucat tapi berusaha tetap cool. "Api besar biar... uh... kematangan airnya presisi. Panci mana panci?"

Dengan gerakan kaku, Rangga mengisi panci dengan air kran (ia meringis sedikit, terbiasa masak pakai air mineral Equil) dan menaruhnya di atas api.

"Sekarang giliran kamu," Rangga menunjuk telur ayam. "Pecahin telurnya."

Berlin menelan ludah. Ia menatap telur cokelat itu dengan jijik. Ia biasa makan telur yang sudah jadi Poached Egg cantik di atas roti sourdough, bukan benda mentah yang kulitnya masih ada kotoran ayamnya ini.

"Oke. Watch and learn," gumam Berlin.

Ia mengambil telur itu dengan ujung jari, lalu memukulnya ke pinggiran panci dengan tenaga yang biasa ia gunakan untuk menampar pipi klien yang kurang ajar dalam imajinasinya.

PRANG.

Telur itu tidak retak. Telur itu hancur lebur.

Cuning telur, putih telur, dan pecahan kulitnya tumpah ruah masuk ke dalam air mendidih.

Hening.

Mereka berdua menatap "sup kulit telur" yang bergolak di dalam panci.

"Itu..." Rangga mencoba mencari kata-kata positif. "...menambah tekstur. Crunchy. Kalsium tinggi."

Berlin mengangguk cepat, wajahnya memerah padam menahan malu. "Iya. Itu... resep rahasia keluarga aku. Biar ada sensasi krenyes-krenyes pas dimakan."

Lima menit kemudian, dua mangkuk mie instan tersaji di meja lipat kecil di ruang tengah. Penampilannya menyedihkan. Mienya terlalu lembek karena direbus 10 menit (mereka sibuk debat soal siapa yang harus buang sampah), kuahnya keruh penuh serpihan kulit telur, dan takaran airnya terlalu banyak hingga rasanya pasti hambar.

"Silakan dinikmati, Istriku," kata Rangga, menyerahkan garpu plastik.

Berlin menatap mangkuk itu. Di kepalanya terbayang Beef Wellington dan Red Wine yang seharusnya ia nikmati malam ini. Tapi perutnya berbunyi nyaring.

Ia menyuapkan mie lembek itu ke mulut.

Rasanya tawar. Teksturnya seperti bubur. Dan benar saja, ada bunyi krak saat ia menggigit kulit telur.

"Gimana?" tanya Rangga was-was.

Berlin menelan susah payah. Ia ingin muntah, tapi gengsinya lebih tinggi.

"Enak," bohong Berlin, matanya berkaca-kaca (antara terharu atau menderita). "Rasanya... otentik. Bumbu MSG-nya kerasa banget di lidah. Mas Rangga pinter masak ya."

Rangga tersenyum bangga, lalu menyuap miliknya sendiri.

Detik berikutnya, senyum Rangga luntur. Ya Tuhan, ini makanan atau lem kertas? batinnya menjerit. Lidahnya yang terbiasa dimanja rasa bintang lima memberontak.

"Iya... enak banget," jawab Rangga dengan suara serak, menahan keinginan untuk melepehnya. "Besok-besok... kita beli makan di warteg aja ya? Biar... uh... bantu ekonomi kerakyatan."

"Setuju," sahut Berlin cepat, terlalu cepat. "Kita harus dukung UMKM."

Malam itu, di rumah kotak sabun yang estetik, dua pewaris triliunan rupiah tidur dengan perut kembung dan rasa lapar yang belum tuntas, memunggungi satu sama lain di kasur yang sempit.

Di dalam hati, Rangga diam-diam membuka aplikasi food delivery di ponselnya di bawah selimut, memesan Burger Wagyu untuk dikirim ke pos satpam depan kompleks.

Di sisi lain kasur, Berlin melakukan hal yang sama: memesan satu kotak Sushi Premium untuk diambil diam-diam nanti malam.

Mereka belum sadar, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai besok pagi: Satu Kamar Mandi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 16: Orang Kaya Baru (dan Bodoh)

    Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 15: Sandiwara Satu Milyar Rasa

    Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 14: Reuni Rasa Neraka

    Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 13: Cinderella dari Pasar Senen

    Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 12: Gelap, Panas, dan Kejujuran Tengah Malam

    Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 11: Mantan Terindah (Dan Termahal)

    Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status