LOGINDapur di rumah kotak itu sempit. Saking sempitnya, jika Rangga membusungkan dada sedikit saja, punggungnya akan menabrak kulkas, dan perutnya akan menyenggol kompor.
Di hadapan mereka, tergeletak dua bungkus mie instan rasa ayam bawang, dua butir telur, dan panci aluminium penyok yang disediakan pemilik kontrakan.
"Oke," kata Rangga, menatap kompor gas dua tungku itu seolah sedang menatap panel kendali nuklir. "Kamu yang masak, atau aku?"
Berlin melipat tangan di dada, berusaha terlihat santai meski jantungnya berdebar. Di rumahnya, koki pribadi bernama Chef Hugo yang selalu menyiapkan makan malam. Berlin bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor gas. Ia terbiasa dengan kompor induksi layar sentuh yang bisa bicara.
"Mas Rangga kan laki-laki," elak Berlin cerdik. "Masa nggak bisa nyalain api? Katanya tadi freelancer serabutan? Pasti sering masak sendiri, dong."
Rangga tersudut. Sial. Ia lupa kalau karakter "Rangga si Miskin" seharusnya mandiri.
"Tentu. Gampang," jawab Rangga dengan percaya diri palsu. "Minggir dikit, Yang. Biar Chef Rangga beraksi."
Rangga maju selangkah. Tangannya gemetar sedikit saat memegang kenop kompor. Ia pernah melihat video YouTube tentang ini. Tekan, lalu putar.
Ctrek-ctrek-ctrek... BLAR!
Api biru menyembur keluar dengan suara mendesis yang agresif.
Rangga melompat mundur saking kagetnya, hampir menabrak Berlin.
"Astaga!" pekik Berlin, ikut mundur. "Itu apinya gede banget! Mas mau bakar rumah?!"
"Ini... ini teknik flambé!" Rangga beralasan cepat, wajahnya pucat tapi berusaha tetap cool. "Api besar biar... uh... kematangan airnya presisi. Panci mana panci?"
Dengan gerakan kaku, Rangga mengisi panci dengan air kran (ia meringis sedikit, terbiasa masak pakai air mineral Equil) dan menaruhnya di atas api.
"Sekarang giliran kamu," Rangga menunjuk telur ayam. "Pecahin telurnya."
Berlin menelan ludah. Ia menatap telur cokelat itu dengan jijik. Ia biasa makan telur yang sudah jadi Poached Egg cantik di atas roti sourdough, bukan benda mentah yang kulitnya masih ada kotoran ayamnya ini.
"Oke. Watch and learn," gumam Berlin.
Ia mengambil telur itu dengan ujung jari, lalu memukulnya ke pinggiran panci dengan tenaga yang biasa ia gunakan untuk menampar pipi klien yang kurang ajar dalam imajinasinya.
PRANG.
Telur itu tidak retak. Telur itu hancur lebur.
Cuning telur, putih telur, dan pecahan kulitnya tumpah ruah masuk ke dalam air mendidih.
Hening.
Mereka berdua menatap "sup kulit telur" yang bergolak di dalam panci.
"Itu..." Rangga mencoba mencari kata-kata positif. "...menambah tekstur. Crunchy. Kalsium tinggi."
Berlin mengangguk cepat, wajahnya memerah padam menahan malu. "Iya. Itu... resep rahasia keluarga aku. Biar ada sensasi krenyes-krenyes pas dimakan."
Lima menit kemudian, dua mangkuk mie instan tersaji di meja lipat kecil di ruang tengah. Penampilannya menyedihkan. Mienya terlalu lembek karena direbus 10 menit (mereka sibuk debat soal siapa yang harus buang sampah), kuahnya keruh penuh serpihan kulit telur, dan takaran airnya terlalu banyak hingga rasanya pasti hambar.
"Silakan dinikmati, Istriku," kata Rangga, menyerahkan garpu plastik.
Berlin menatap mangkuk itu. Di kepalanya terbayang Beef Wellington dan Red Wine yang seharusnya ia nikmati malam ini. Tapi perutnya berbunyi nyaring.
Ia menyuapkan mie lembek itu ke mulut.
Rasanya tawar. Teksturnya seperti bubur. Dan benar saja, ada bunyi krak saat ia menggigit kulit telur.
"Gimana?" tanya Rangga was-was.
Berlin menelan susah payah. Ia ingin muntah, tapi gengsinya lebih tinggi.
"Enak," bohong Berlin, matanya berkaca-kaca (antara terharu atau menderita). "Rasanya... otentik. Bumbu MSG-nya kerasa banget di lidah. Mas Rangga pinter masak ya."
Rangga tersenyum bangga, lalu menyuap miliknya sendiri.
Detik berikutnya, senyum Rangga luntur. Ya Tuhan, ini makanan atau lem kertas? batinnya menjerit. Lidahnya yang terbiasa dimanja rasa bintang lima memberontak.
"Iya... enak banget," jawab Rangga dengan suara serak, menahan keinginan untuk melepehnya. "Besok-besok... kita beli makan di warteg aja ya? Biar... uh... bantu ekonomi kerakyatan."
"Setuju," sahut Berlin cepat, terlalu cepat. "Kita harus dukung UMKM."
Malam itu, di rumah kotak sabun yang estetik, dua pewaris triliunan rupiah tidur dengan perut kembung dan rasa lapar yang belum tuntas, memunggungi satu sama lain di kasur yang sempit.
Di dalam hati, Rangga diam-diam membuka aplikasi food delivery di ponselnya di bawah selimut, memesan Burger Wagyu untuk dikirim ke pos satpam depan kompleks.
Di sisi lain kasur, Berlin melakukan hal yang sama: memesan satu kotak Sushi Premium untuk diambil diam-diam nanti malam.
Mereka belum sadar, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai besok pagi: Satu Kamar Mandi.
Lokasi: Ruang Brankas VIP, Bank Mega KaryaAsap putih pekat menyembur dengan desisan marah dari tabung logam di lantai. Ruangan bundar itu seketika berubah menjadi oven gas beracun. Mata Rangga mulai perih. Tenggorokannya terasa seperti disikat menggunakan kawat cuci piring."Tutup hidung pakai baju! Bernapas lewat mulut pelan pelan!" teriak Rangga. Suaranya teredam oleh lengkingan sirene brankas.Nyonya Pramono terbatuk batuk hebat. Wajah riasannya luntur berantakan.
Lokasi: Ruang Brankas VIP (Lantai B3), Bank Mega KaryaLampu neon putih kini berganti menjadi kedipan merah yang menyakitkan mata. Suara sirene meraung memantul di dinding dinding baja bawah tanah.Namun bagi Rangga, suara yang paling keras adalah detak jantungnya sendiri. Surat pengakuan mendiang ayah angkatnya terlepas dari tangannya, melayang jatuh ke lantai marmer yang dingin.Karakter Rangga yang biasanya jenaka dan penuh akal jalanan mendadak hancur. Wajahnya pias. Selama ini dia mengira Tuan Pramono adalah malaikat penolong yang mengangkatnya dari panti asuhan. Ternyata, pria itu ada
Lokasi: Bengkel Bang SomadPukul 01.15 WIB."Ma, bangun." Rangga mengguncang pelan bahu ibu angkatnya.Nyonya Pramono membuka mata dengan kaget. Wajahnya pias melihat tumpukan ban bekas di sekelilingnya. Dia hampir lupa kalau keluarganya kini berstatus buronan."Kita harus ke Bank Mega Karya sekarang," kata Rangga cepat. Suaranya ditekan sekecil mungkin. "Ada token fisik di kotak deposit rahasia Papa. Cuma sidik jari Mama yang bisa buka. Itu satu satunya cara menguras uang Vanguard."Nyonya Pramono memucat. "Ke bank? Rangga,
Jalanan aspal mulus berganti menjadi jalan tanah berbatu. BMW Seri 7 yang dikemudikan Rangga berguncang keras. Bumper mobil mewah itu sesekali bergesekan dengan polisi tidur semen yang dibuat asal asalan oleh warga. Kaca mobil diturunkan. Bau khas Sungai Ciliwung dan asap pembakaran sampah langsung memenuhi kabin yang sebelumnya wangi parfum mobil mahal. Nyonya Pramono menutup hidungnya dengan saputangan sutra yang sudah basah oleh air mata. Tuan Wibawa terus merangkul istrinya sambil menatap waspada ke luar jendela. Rangga menghentikan mobil tepat di depan sebuah bengkel motor berlantai dua yang sangat sempit. Pintu ro
Lokasi: Basement Parkir VVIP, Hotel Grand Cakrawalalayar ponsel Rangga menjadi gelap. Namun bayangan titik merah di dada istrinya tercetak jelas di retinanya. Jantung Rangga seperti diremas tangan raksasa. Jarak dari Senayan ke townhouse di pinggiran Jakarta Selatan memakan waktu setidaknya empat puluh menit dengan Vespa. Sangat tidak mungkin."Darmawan!" bentak Rangga, berbalik menatap pria tua yang masih gemetar memeluk tas kerjanya. "Mana kunci mobil lo?!""A-apa?""Kunci mobil! Cepet!" Rangga merebut paksa kunci BMW Seri-7 dari tangan Darmawan, menekan
Lokasi: Basement Parkir VVIP, Hotel Grand CakrawalaGema tawa Pak Darmawan memantul di dinding beton basement yang lembab. Tawa itu terdengar sumbang dan dipaksakan. Pria tua beruban itu mencoba memperbaiki letak jas mahalnya, berusaha menutupi kegugupannya di hadapan Rangga yang menghalanginya."Jalanan? Kamu mau menakut-nakuti saya dengan preman terminal, Nak Rangga?" Pak Darmawan mendengus meremehkan. "Valerie dan The Vanguard bisa membeli seluruh jalanan di Jakarta ini sebelum kamu selesai menyeduh kopi. Kamu pikir gertakan ojolmu itu sebanding dengan triliunan rupiah yang mereka bawa?"Rangga tetap bersandar santai di kap mobil BMW Darmawan. Dia memutar-mutar kunci Vespanya dengan jari telunjuk."Triliunan rupiah itu angka di layar, Pak. Tapi kalau ban mobil Bapak dibocorin tiap hari, kaca rumah Bapak dilempar batu tiap malam, dan muka Bapak viral di semua grup WhatsApp se-Indonesia... duit triliunan itu nggak bakal bisa beli ketenangan tidur Bapak," balas Rangga tenang, memotong







