Inicio / Rumah Tangga / ISTRIMU TERNYATA SULTAN / BAB 6: Interogasi di Atas Karpet Murahan

Compartir

BAB 6: Interogasi di Atas Karpet Murahan

Autor: Siapaja
last update Última actualización: 2025-12-27 00:23:39

Pintu rumah kontrakan itu terbanting menutup. Kunci diputar dua kali.

Belum sempat Rangga melepas sepatu kulitnya, Berlin sudah berbalik badan, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatapnya dengan tatapan mematikan tatapan yang sama yang ia gunakan di ruang rapat tadi pagi.

"Jelaskan," tuntut Berlin. Suaranya dingin, memotong udara pengap ruang tamu sempit itu.

Rangga melempar tas kerjanya ke sofa, lalu melonggarkan dasinya dengan kasar. Ia tahu momen ini akan datang. Sepanjang perjalanan pulang di taksi online (yang ia pesan khusus di titik jemput jauh dari kantor), ia sudah menyusun skenario.

"Kamu dulu yang jelaskan," balas Rangga tak kalah sengit, menunjuk blazer merah marun Berlin. "Sejak kapan staf admin rendahan duduk di kursi Direktur Utama Wibawa Group? Dan baju itu... itu Dior koleksi Fall/Winter, kan? Aku pernah liat di majalah."

Mata Berlin menyipit. "Tau dari mana itu Dior? Katanya kamu cuma baca koran lampu merah?"

Skakmat. Rangga tergagap. "Y-ya... liat di I*******m! Explore aku isinya fashion cewek semua karena... karena aku lagi riset pasar buat jualan baju bekas!"

Berlin mendengus, tapi pertahanannya sedikit goyah. Ia memegang kerah blazernya defensif.

"Ini bukan Dior asli, Mas Rangga yang terhormat," bohong Berlin lancar. "Ini KW Super. Grade AAA. Beli di Mangga Dua, nawar sampe berbusa. Harganya cuma tiga ratus ribu. Bahannya aja gatel nih, liat leher aku merah-merah."

Berlin menggaruk lehernya yang mulus (yang sebenarnya tidak gatal sama sekali karena sutra itu sangat lembut) demi meyakinkan suaminya.

"Dan soal kursi Direktur..." Berlin menelan ludah, mencari alasan masuk akal. "Bos aku lagi cuti melahirkan. Aku disuruh jagain ruangannya. Pas kamu masuk, aku lagi... lagi halu. Ngebayangin gimana rasanya jadi orang kaya. Puas lo?"

Rangga terdiam. Penjelasan itu... masuk akal. Sangat masuk akal bagi orang yang "ingin kaya" seperti karakter yang ia mainkan.

"Oke," kata Rangga, bahunya rileks. "Masuk akal. Halu itu manusiawi."

"Sekarang giliran lo!" seru Berlin, maju selangkah, menunjuk dada bidang Rangga yang terbalut kemeja mahal. "Ngapain lo di sana? Dan kenapa lo dipanggil Pak Arga? Jangan bilang lo sebenernya CEO yang lagi nyamar jadi gembel buat nyari cinta sejati?"

Jantung Rangga berhenti berdetak satu detik. Tebakan istrinya tepat sasaran 100%.

Rangga tertawa. Tawa yang keras dan dipaksakan.

"Hahaha! Imajinasi kamu kebanyakan nonton FTV, Yang! CEO nyamar? Mana ada orang kaya mau hidup susah di kotak sabun ginian sama kecoa?" Rangga menggeleng-gelengkan kepala, memasang wajah kasihan.

"Terus?" desak Berlin.

"Aku di sana buat interview kerja jadi... Cleaning Service Eksekutif," Rangga berimprovisasi cepat. "Tapi pas nunggu di lobi, ada kurir laundry langganan bos dateng. Dia nitip jas Pak Arga CEO yang aslike aku. Karena aku penasaran... ya aku cobain aja di toilet."

Rangga merentangkan tangannya, memamerkan jas Armani-nya.

"Pas aku lagi ngaca, eh sekretarisnya masuk. Dia salah ngira aku bosnya karena... ya, harus diakui, badan aku emang pantes pake jas mahal," Rangga menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya narsis. "Daripada diusir, ya aku ikutin aja alurnya. Lumayan, ngerasain jadi orang kaya sepuluh menit."

Berlin menatap Rangga dari atas ke bawah.

Cerita itu konyol. Tapi Rangga memang tampan. Dan fitting jas itu memang terlalu sempurna di badannya, seolah dijahit khusus untuknya.

"Lo... nyuri jas bos lo buat gaya-gayaan?" tanya Berlin pelan.

"Minjem," ralat Rangga. "Besok juga dibalikin ke laundry."

Berlin menghela napas panjang, lalu tiba-tiba tertawa. Tawa lepas yang bukan akting. Ia merosot duduk di karpet bulu tipis di lantai.

"Kita berdua ini menyedihkan banget ya, Mas," kata Berlin di sela tawanya. "Sama-sama halu. Sama-sama pengen jadi orang kaya. Pantesan kita jodoh."

Rangga ikut duduk di lantai, di sebelah Berlin. Ia menatap istrinya yang tertawa. Di bawah lampu neon murah ruang tamu itu, tanpa makeup tebal dan tanpa postur angkuh ala direktur, Berlin terlihat... manis.

"Tapi, Lin," ucap Rangga, suaranya merendah, menjadi sedikit lebih serius. "Tadi di ruang rapat... kamu keren. Galak. Tapi keren. Aku hampir percaya kamu beneran bos."

Pipi Berlin memanas. Pujian itu terdengar tulus.

"Lo juga," gumam Berlin tanpa menatap mata Rangga. "Akting lo jadi CEO tadi... lumayan meyakinkan. Kalau lo bukan pengangguran yang nunggak cicilan motor, mungkin gue udah naksir."

Hening sejenak. Atmosfer di ruangan sempit itu berubah. Udara terasa lebih padat. Jarak di antara mereka di atas karpet itu hanya satu jengkal.

Mereka bukan lagi CEO dan Direktur. Mereka hanya Rangga dan Berlin, dua penipu yang lelah seharian berpura-pura.

Krukkk.

Suara perut Rangga memecah momen romantis itu.

Berlin tertawa lagi. "Laper, Bos KW?"

Rangga nyengir kuda. "Banget. Debat sama 'Ibu Direktur Palsu' tadi nguras energi."

"Yaudah," Berlin berdiri, menepuk-nepuk blazernya. "Karena kita udah sukses nipu satu gedung hari ini, kita rayain. Mie instan lagi?"

Rangga menggeleng cepat, trauma dengan 'sup kulit telur' kemarin. "Nggak. Gaji pertama aku sebagai... uh... figuran CEO tadi udah cair. Malam ini kita makan mewah."

"Mewah?" mata Berlin berbinar. "Steak?"

"Sate kambing depan komplek," jawab Rangga bangga. "Pake lontong. Bungkus dua."

Berlin tersenyum, senyum yang kali ini mencapai matanya. "Boleh. Tapi lo yang ngantri. Gue mau lepas baju KW gatel ini dulu."

Saat Berlin masuk ke kamar, Rangga menyandarkan kepalanya ke sofa. Ia meraba dada kirinya.

Jantungnya berdetak cepat. Bukan karena takut ketahuan. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak sabar menunggu makan malam sate kambing pinggir jalan bersama wanita penipu yang baru dinikahinya itu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 16: Orang Kaya Baru (dan Bodoh)

    Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 15: Sandiwara Satu Milyar Rasa

    Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 14: Reuni Rasa Neraka

    Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 13: Cinderella dari Pasar Senen

    Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 12: Gelap, Panas, dan Kejujuran Tengah Malam

    Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 11: Mantan Terindah (Dan Termahal)

    Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status