로그인Gedung Pencakar Langit Pramono Tower, Lantai 45.
Rangga melangkah keluar dari lift pribadi dengan aura yang berubah 180 derajat. Tidak ada lagi Rangga si suami takut kecoa. Yang ada hanyalah Arganta Rangga Pramono, CEO muda yang dikenal dingin, kejam dalam negosiasi, dan memiliki tatapan setajam elang.
Sekretarisnya, Siska, berlari kecil mengejarnya dengan tablet di tangan.
"Pak Arga, perwakilan dari Wibawa Group sudah menunggu di Ruang Rapat 1. Mereka mengirim Direktur Operasional baru mereka yang katanya sangat... perfeksionis. Namanya Ibu Berliana."
Rangga mengangguk singkat sambil membenarkan letak dasi Armani-nya. "Bagus. Saya suka lawan yang perfeksionis. Biar saya hancurkan egonya dalam sepuluh menit."
Rangga mendorong pintu kaca ruang rapat yang berat itu dengan percaya diri penuh.
"Selamat pagi," sapanya dengan suara bariton yang berwibawa.
Di ujung meja panjang berbahan marmer itu, seorang wanita duduk membelakanginya, sedang menatap pemandangan kota Jakarta dari dinding kaca. Wanita itu mengenakan blazer merah marun yang membalut tubuhnya dengan elegan, rambutnya disanggul rapi menyisakan leher jenjang yang putih.
Wanita itu memutar kursi kebesarannya perlahan.
"Selamat pagi, Pak Ar..."
Kalimat wanita itu terhenti di udara. Langkah Rangga terhenti mendadak seolah kakinya dipaku ke lantai karpet tebal itu.
Waktu seakan berhenti berputar.
Di hadapan Rangga, duduk istrinya. Istri yang tadi pagi rebutan gayung dengannya. Istri yang tidur menganga sambil memeluk guling bau apek. Berlin.
Mata Berlin membelalak lebar, hampir keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka sedikit, menampakkan keterkejutan yang murni.
"Mas Rangga?!" desis Berlin tanpa suara, matanya menyapu penampilan suaminya dari ujung kaki ke ujung kepala. Jas mahal yang pas badan, rambut klimis dengan pomade, dan sepatu kulit mengkilap.
Pikiran Berlin berputar cepat: Ngapain dia di sini? Bukannya dia bilang mau ngelamar kerja jadi admin gudang? Kenapa dia masuk ke ruang rapat VVIP pake baju sekeren itu?
Detik berikutnya, Berlin menyimpulkan satu hal: Ini pasti baju pinjaman. Ya ampun, pikir Berlin panik. Mas Rangga pasti nekat nyusup ke sini buat ngelamar kerja, terus dia nyuri jas bosnya biar kelihatan bonafide! Dasar suami bodoh! Kalau ketahuan satpam gimana?
Sementara itu, isi kepala Rangga tak kalah kacau. Berlin? Ngapain dia duduk di kursi Direktur Utama? Rangga menatap blazer merah marun itu. Potongannya sempurna. Jahitan tangan. Tapi Rangga segera menepisnya. Nggak mungkin. Itu pasti baju KW dari Tanah Abang yang dia bilang kemarin. Dia pasti di sini sebagai... sekretaris pengganti? Atau notulis magang yang disuruh duduk di kursi bos buat gaya-gayaan sebelum bos aslinya dateng?
Siska, sekretaris Rangga, memecah keheningan yang mencekam itu.
"Perkenalkan, Pak Arga. Ini Ibu Berliana, perwakilan dari Wibawa Group."
"Berliana?" ulang Rangga kaku.
"Arga?" ulang Berlin dengan nada yang sama kakunya.
Mereka saling menatap dengan tatapan 'Lagi main sandiwara apa lo?'.
Berlin berdeham keras, langsung masuk ke mode akting terbaiknya. Ia tidak boleh membongkar penyamaran suaminya di sini, atau Rangga akan diusir satpam dan mereka akan kehilangan sumber penghasilan. Sebagai istri yang baik (dan demi warisan), ia harus menyelamatkan muka suaminya.
"Senang bertemu dengan Anda, Pak... Arga," kata Berlin, menekankan nama samaran itu dengan senyum sinis. Ia berdiri dan mengulurkan tangan. "Saya dengar Anda CEO di sini? Wah, hebat sekali. Masih muda, tampan, terlihat... sangat meyakinkan."
Rangga menyipitkan mata. Istriku ini jago banget aktingnya, batinnya. Dia pasti takut dipecat kalau ketahuan suaminya cuma pengangguran yang nyasar.
Rangga menyambut uluran tangan itu. Jabatannya erat. Terlalu erat.
"Terima kasih, Ibu Berliana," balas Rangga, menahan seringai. "Anda juga terlihat sangat... mahal hari ini. Saya hampir tidak mengenali Anda. Pasti butuh usaha keras untuk tampil seprima ini, kan? Mengingat... background Anda."
Siska dan tim legal yang ada di ruangan itu saling pandang, bingung dengan ketegangan aneh yang menguar dari kedua bos mereka.
"Silakan duduk," kata Rangga, mengambil tempat di ujung meja, berhadapan langsung dengan Berlin. "Mari kita bicara bisnis. Saya tidak punya waktu seharian. Saya ada urusan penting nanti sore... urusan domestik."
"Kebetulan sekali," balas Berlin tajam, membuka map kulit yang dibawanya. "Saya juga harus pulang cepat. Ada hama di rumah saya yang perlu dibasmi."
Tim legal menelan ludah. Suasana rapat itu terasa seperti medan perang.
"Baiklah," Rangga membuka dokumen di depannya, mencoba fokus. "Mengenai akuisisi lahan di Jakarta Selatan..."
"Kami menolak harga yang Anda tawarkan," potong Berlin cepat, bahkan sebelum Rangga menyebut angka.
Rangga melotot. "Saya belum sebut angka, Ibu Berliana."
"Saya tahu isi kepala pebisnis serakah seperti Anda," kata Berlin, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Rangga. "Anda pasti mau menawar rendah, kan? Sama seperti kebiasaan Anda menawar harga... sayur di pasar."
Rangga tersedak ludahnya sendiri. Itu sindiran soal kejadian di tukang sayur kemarin sore.
"Oh ya?" Rangga memajukan tubuhnya. "Dan saya rasa Anda tipe orang yang boros. Meminta fasilitas nomor satu tapi kinerjanya nol. Seperti orang yang beli skincare jutaan tapi lupa beli sabun mandi."
JLEB.
Wajah Berlin memerah padam. Tim legal semakin bingung. Sejak kapan negosiasi lahan membahas sabun mandi?
"Bapak Arga yang terhormat," suara Berlin bergetar menahan emosi. "Usulan Anda tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya dengan... orang yang mengaku bisa masak tapi malah bikin dapur meledak."
"Itu namanya eksperimen!" seru Rangga tanpa sadar, lalu buru-buru berdeham saat Siska menatapnya aneh. "Maksud saya... dalam bisnis, kita butuh eksperimen berani. Inovasi!"
"Inovasi gagal!" bantah Berlin, menggebrak meja marmer itu. "Perusahaan kami butuh kepastian! Bukan janji manis yang rasanya hambar dan penuh kulit telur!"
Suasana hening.
Siska memberanikan diri berbisik, "Maaf, Pak Arga... kulit telur maksudnya apa ya dalam istilah saham?"
Rangga mengangkat tangan, menghentikan sekretarisnya. Napasnya memburu. Ia menatap istri kontraknya yang kini terlihat seperti singa betina siap menerkam.
Sialnya, Rangga harus mengakui satu hal: Berlin terlihat sangat seksi saat sedang marah dan berkuasa seperti ini.
"Rapat ditunda," putus Rangga tiba-tiba, berdiri dan merapikan jasnya.
"Apa?" Berlin ternganga. "Anda lari dari negosiasi?"
"Bukan lari," Rangga tersenyum miring, senyum yang membuat lutut Berlin sedikit lemas. "Saya butuh evaluasi internal. Kita lanjutkan negosiasi ini... di tempat yang lebih privat. Nanti malam."
Rangga memberi kode mata yang hanya dimengerti mereka berdua: Kita bahas ini di rumah kotak sabun.
"Baik," tantang Berlin, mengangkat dagunya angkuh. "Siapkan argumen terbaik Anda, Pak Arga. Saya tidak akan memberi ampun."
Rangga berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar. Begitu pintu tertutup dan ia sendirian di koridor, Rangga menyandarkan punggungnya ke dinding dan merosot lemas.
"Gila," gumamnya, memegangi dadanya yang berdetak kencang. "Hampir aja ketahuan. Untung dia ngira gue cuma akting jadi bos."
Di dalam ruangan, Berlin juga melakukan hal yang sama. Ia meminum air mineral mahalnya sampai habis dalam sekali teguk.
"Gila," batin Berlin. "Aktingnya total banget. Dia dapet jas itu dari mana? Ganteng banget lagi sialan."
Lokasi: Ruang Brankas VIP, Bank Mega KaryaAsap putih pekat menyembur dengan desisan marah dari tabung logam di lantai. Ruangan bundar itu seketika berubah menjadi oven gas beracun. Mata Rangga mulai perih. Tenggorokannya terasa seperti disikat menggunakan kawat cuci piring."Tutup hidung pakai baju! Bernapas lewat mulut pelan pelan!" teriak Rangga. Suaranya teredam oleh lengkingan sirene brankas.Nyonya Pramono terbatuk batuk hebat. Wajah riasannya luntur berantakan.
Lokasi: Ruang Brankas VIP (Lantai B3), Bank Mega KaryaLampu neon putih kini berganti menjadi kedipan merah yang menyakitkan mata. Suara sirene meraung memantul di dinding dinding baja bawah tanah.Namun bagi Rangga, suara yang paling keras adalah detak jantungnya sendiri. Surat pengakuan mendiang ayah angkatnya terlepas dari tangannya, melayang jatuh ke lantai marmer yang dingin.Karakter Rangga yang biasanya jenaka dan penuh akal jalanan mendadak hancur. Wajahnya pias. Selama ini dia mengira Tuan Pramono adalah malaikat penolong yang mengangkatnya dari panti asuhan. Ternyata, pria itu ada
Lokasi: Bengkel Bang SomadPukul 01.15 WIB."Ma, bangun." Rangga mengguncang pelan bahu ibu angkatnya.Nyonya Pramono membuka mata dengan kaget. Wajahnya pias melihat tumpukan ban bekas di sekelilingnya. Dia hampir lupa kalau keluarganya kini berstatus buronan."Kita harus ke Bank Mega Karya sekarang," kata Rangga cepat. Suaranya ditekan sekecil mungkin. "Ada token fisik di kotak deposit rahasia Papa. Cuma sidik jari Mama yang bisa buka. Itu satu satunya cara menguras uang Vanguard."Nyonya Pramono memucat. "Ke bank? Rangga,
Jalanan aspal mulus berganti menjadi jalan tanah berbatu. BMW Seri 7 yang dikemudikan Rangga berguncang keras. Bumper mobil mewah itu sesekali bergesekan dengan polisi tidur semen yang dibuat asal asalan oleh warga. Kaca mobil diturunkan. Bau khas Sungai Ciliwung dan asap pembakaran sampah langsung memenuhi kabin yang sebelumnya wangi parfum mobil mahal. Nyonya Pramono menutup hidungnya dengan saputangan sutra yang sudah basah oleh air mata. Tuan Wibawa terus merangkul istrinya sambil menatap waspada ke luar jendela. Rangga menghentikan mobil tepat di depan sebuah bengkel motor berlantai dua yang sangat sempit. Pintu ro
Lokasi: Basement Parkir VVIP, Hotel Grand Cakrawalalayar ponsel Rangga menjadi gelap. Namun bayangan titik merah di dada istrinya tercetak jelas di retinanya. Jantung Rangga seperti diremas tangan raksasa. Jarak dari Senayan ke townhouse di pinggiran Jakarta Selatan memakan waktu setidaknya empat puluh menit dengan Vespa. Sangat tidak mungkin."Darmawan!" bentak Rangga, berbalik menatap pria tua yang masih gemetar memeluk tas kerjanya. "Mana kunci mobil lo?!""A-apa?""Kunci mobil! Cepet!" Rangga merebut paksa kunci BMW Seri-7 dari tangan Darmawan, menekan
Lokasi: Basement Parkir VVIP, Hotel Grand CakrawalaGema tawa Pak Darmawan memantul di dinding beton basement yang lembab. Tawa itu terdengar sumbang dan dipaksakan. Pria tua beruban itu mencoba memperbaiki letak jas mahalnya, berusaha menutupi kegugupannya di hadapan Rangga yang menghalanginya."Jalanan? Kamu mau menakut-nakuti saya dengan preman terminal, Nak Rangga?" Pak Darmawan mendengus meremehkan. "Valerie dan The Vanguard bisa membeli seluruh jalanan di Jakarta ini sebelum kamu selesai menyeduh kopi. Kamu pikir gertakan ojolmu itu sebanding dengan triliunan rupiah yang mereka bawa?"Rangga tetap bersandar santai di kap mobil BMW Darmawan. Dia memutar-mutar kunci Vespanya dengan jari telunjuk."Triliunan rupiah itu angka di layar, Pak. Tapi kalau ban mobil Bapak dibocorin tiap hari, kaca rumah Bapak dilempar batu tiap malam, dan muka Bapak viral di semua grup WhatsApp se-Indonesia... duit triliunan itu nggak bakal bisa beli ketenangan tidur Bapak," balas Rangga tenang, memotong







