/ Rumah Tangga / ISTRIMU TERNYATA SULTAN / BAB 5: CEO vs CEO (Versi KW)

공유

BAB 5: CEO vs CEO (Versi KW)

작가: Siapaja
last update 최신 업데이트: 2025-12-27 00:20:35

Gedung Pencakar Langit Pramono Tower, Lantai 45.

Rangga melangkah keluar dari lift pribadi dengan aura yang berubah 180 derajat. Tidak ada lagi Rangga si suami takut kecoa. Yang ada hanyalah Arganta Rangga Pramono, CEO muda yang dikenal dingin, kejam dalam negosiasi, dan memiliki tatapan setajam elang.

Sekretarisnya, Siska, berlari kecil mengejarnya dengan tablet di tangan.

"Pak Arga, perwakilan dari Wibawa Group sudah menunggu di Ruang Rapat 1. Mereka mengirim Direktur Operasional baru mereka yang katanya sangat... perfeksionis. Namanya Ibu Berliana."

Rangga mengangguk singkat sambil membenarkan letak dasi Armani-nya. "Bagus. Saya suka lawan yang perfeksionis. Biar saya hancurkan egonya dalam sepuluh menit."

Rangga mendorong pintu kaca ruang rapat yang berat itu dengan percaya diri penuh.

"Selamat pagi," sapanya dengan suara bariton yang berwibawa.

Di ujung meja panjang berbahan marmer itu, seorang wanita duduk membelakanginya, sedang menatap pemandangan kota Jakarta dari dinding kaca. Wanita itu mengenakan blazer merah marun yang membalut tubuhnya dengan elegan, rambutnya disanggul rapi menyisakan leher jenjang yang putih.

Wanita itu memutar kursi kebesarannya perlahan.

"Selamat pagi, Pak Ar..."

Kalimat wanita itu terhenti di udara. Langkah Rangga terhenti mendadak seolah kakinya dipaku ke lantai karpet tebal itu.

Waktu seakan berhenti berputar.

Di hadapan Rangga, duduk istrinya. Istri yang tadi pagi rebutan gayung dengannya. Istri yang tidur menganga sambil memeluk guling bau apek. Berlin.

Mata Berlin membelalak lebar, hampir keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka sedikit, menampakkan keterkejutan yang murni.

"Mas Rangga?!" desis Berlin tanpa suara, matanya menyapu penampilan suaminya dari ujung kaki ke ujung kepala. Jas mahal yang pas badan, rambut klimis dengan pomade, dan sepatu kulit mengkilap.

Pikiran Berlin berputar cepat: Ngapain dia di sini? Bukannya dia bilang mau ngelamar kerja jadi admin gudang? Kenapa dia masuk ke ruang rapat VVIP pake baju sekeren itu?

Detik berikutnya, Berlin menyimpulkan satu hal: Ini pasti baju pinjaman. Ya ampun, pikir Berlin panik. Mas Rangga pasti nekat nyusup ke sini buat ngelamar kerja, terus dia nyuri jas bosnya biar kelihatan bonafide! Dasar suami bodoh! Kalau ketahuan satpam gimana?

Sementara itu, isi kepala Rangga tak kalah kacau. Berlin? Ngapain dia duduk di kursi Direktur Utama? Rangga menatap blazer merah marun itu. Potongannya sempurna. Jahitan tangan. Tapi Rangga segera menepisnya. Nggak mungkin. Itu pasti baju KW dari Tanah Abang yang dia bilang kemarin. Dia pasti di sini sebagai... sekretaris pengganti? Atau notulis magang yang disuruh duduk di kursi bos buat gaya-gayaan sebelum bos aslinya dateng?

Siska, sekretaris Rangga, memecah keheningan yang mencekam itu.

"Perkenalkan, Pak Arga. Ini Ibu Berliana, perwakilan dari Wibawa Group."

"Berliana?" ulang Rangga kaku.

"Arga?" ulang Berlin dengan nada yang sama kakunya.

Mereka saling menatap dengan tatapan 'Lagi main sandiwara apa lo?'.

Berlin berdeham keras, langsung masuk ke mode akting terbaiknya. Ia tidak boleh membongkar penyamaran suaminya di sini, atau Rangga akan diusir satpam dan mereka akan kehilangan sumber penghasilan. Sebagai istri yang baik (dan demi warisan), ia harus menyelamatkan muka suaminya.

"Senang bertemu dengan Anda, Pak... Arga," kata Berlin, menekankan nama samaran itu dengan senyum sinis. Ia berdiri dan mengulurkan tangan. "Saya dengar Anda CEO di sini? Wah, hebat sekali. Masih muda, tampan, terlihat... sangat meyakinkan."

Rangga menyipitkan mata. Istriku ini jago banget aktingnya, batinnya. Dia pasti takut dipecat kalau ketahuan suaminya cuma pengangguran yang nyasar.

Rangga menyambut uluran tangan itu. Jabatannya erat. Terlalu erat.

"Terima kasih, Ibu Berliana," balas Rangga, menahan seringai. "Anda juga terlihat sangat... mahal hari ini. Saya hampir tidak mengenali Anda. Pasti butuh usaha keras untuk tampil seprima ini, kan? Mengingat... background Anda."

Siska dan tim legal yang ada di ruangan itu saling pandang, bingung dengan ketegangan aneh yang menguar dari kedua bos mereka.

"Silakan duduk," kata Rangga, mengambil tempat di ujung meja, berhadapan langsung dengan Berlin. "Mari kita bicara bisnis. Saya tidak punya waktu seharian. Saya ada urusan penting nanti sore... urusan domestik."

"Kebetulan sekali," balas Berlin tajam, membuka map kulit yang dibawanya. "Saya juga harus pulang cepat. Ada hama di rumah saya yang perlu dibasmi."

Tim legal menelan ludah. Suasana rapat itu terasa seperti medan perang.

"Baiklah," Rangga membuka dokumen di depannya, mencoba fokus. "Mengenai akuisisi lahan di Jakarta Selatan..."

"Kami menolak harga yang Anda tawarkan," potong Berlin cepat, bahkan sebelum Rangga menyebut angka.

Rangga melotot. "Saya belum sebut angka, Ibu Berliana."

"Saya tahu isi kepala pebisnis serakah seperti Anda," kata Berlin, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Rangga. "Anda pasti mau menawar rendah, kan? Sama seperti kebiasaan Anda menawar harga... sayur di pasar."

Rangga tersedak ludahnya sendiri. Itu sindiran soal kejadian di tukang sayur kemarin sore.

"Oh ya?" Rangga memajukan tubuhnya. "Dan saya rasa Anda tipe orang yang boros. Meminta fasilitas nomor satu tapi kinerjanya nol. Seperti orang yang beli skincare jutaan tapi lupa beli sabun mandi."

JLEB.

Wajah Berlin memerah padam. Tim legal semakin bingung. Sejak kapan negosiasi lahan membahas sabun mandi?

"Bapak Arga yang terhormat," suara Berlin bergetar menahan emosi. "Usulan Anda tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya dengan... orang yang mengaku bisa masak tapi malah bikin dapur meledak."

"Itu namanya eksperimen!" seru Rangga tanpa sadar, lalu buru-buru berdeham saat Siska menatapnya aneh. "Maksud saya... dalam bisnis, kita butuh eksperimen berani. Inovasi!"

"Inovasi gagal!" bantah Berlin, menggebrak meja marmer itu. "Perusahaan kami butuh kepastian! Bukan janji manis yang rasanya hambar dan penuh kulit telur!"

Suasana hening.

Siska memberanikan diri berbisik, "Maaf, Pak Arga... kulit telur maksudnya apa ya dalam istilah saham?"

Rangga mengangkat tangan, menghentikan sekretarisnya. Napasnya memburu. Ia menatap istri kontraknya yang kini terlihat seperti singa betina siap menerkam.

Sialnya, Rangga harus mengakui satu hal: Berlin terlihat sangat seksi saat sedang marah dan berkuasa seperti ini.

"Rapat ditunda," putus Rangga tiba-tiba, berdiri dan merapikan jasnya.

"Apa?" Berlin ternganga. "Anda lari dari negosiasi?"

"Bukan lari," Rangga tersenyum miring, senyum yang membuat lutut Berlin sedikit lemas. "Saya butuh evaluasi internal. Kita lanjutkan negosiasi ini... di tempat yang lebih privat. Nanti malam."

Rangga memberi kode mata yang hanya dimengerti mereka berdua: Kita bahas ini di rumah kotak sabun.

"Baik," tantang Berlin, mengangkat dagunya angkuh. "Siapkan argumen terbaik Anda, Pak Arga. Saya tidak akan memberi ampun."

Rangga berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar. Begitu pintu tertutup dan ia sendirian di koridor, Rangga menyandarkan punggungnya ke dinding dan merosot lemas.

"Gila," gumamnya, memegangi dadanya yang berdetak kencang. "Hampir aja ketahuan. Untung dia ngira gue cuma akting jadi bos."

Di dalam ruangan, Berlin juga melakukan hal yang sama. Ia meminum air mineral mahalnya sampai habis dalam sekali teguk.

"Gila," batin Berlin. "Aktingnya total banget. Dia dapet jas itu dari mana? Ganteng banget lagi sialan."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 16: Orang Kaya Baru (dan Bodoh)

    Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 15: Sandiwara Satu Milyar Rasa

    Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 14: Reuni Rasa Neraka

    Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 13: Cinderella dari Pasar Senen

    Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 12: Gelap, Panas, dan Kejujuran Tengah Malam

    Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 11: Mantan Terindah (Dan Termahal)

    Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status