Inicio / Rumah Tangga / ISTRIMU TERNYATA SULTAN / BAB 7: Perut Sultan vs Bakteri Jalanan

Compartir

BAB 7: Perut Sultan vs Bakteri Jalanan

Autor: Siapaja
last update Última actualización: 2025-12-27 00:28:38

Asap sate mengepul di udara, bercampur dengan aroma bumbu kacang dan kecap manis yang menggoda. Di atas meja kayu reyot warung pinggir jalan itu, Rangga makan seolah dia belum pernah melihat daging selama sepuluh tahun.

"Pelan-pelan, Mas," komentar Berlin, menatap ngeri pada tumpukan tusuk sate di piring suaminya. "Itu kambing nggak akan lari lagi. Udah mati."

"Enak banget, Lin," gumam Rangga dengan mulut penuh. "Dagingnya juicy. Smoky flavor-nya dapet banget. Ini jauh lebih enak daripada... uh... daging kaleng yang biasa aku makan."

Sebenarnya, lidah Rangga sedang bersorak kegirangan. Setelah seharian menahan lapar dan stres menjadi CEO, sate kambing ini terasa seperti Wagyu A5 di mulutnya. Ia melupakan satu fakta krusial: perutnya adalah perut aristokrat yang terbiasa dengan makanan steril, organik, dan higienis standar bintang lima.

Bakteri E. coli di sambal kecap itu sedang bersiap melakukan invasi.

Dua jam kemudian, di Rumah Kotak Sabun.

"Aduh... aduh... mati gue..."

Rangga meringkuk di atas kasur Queen Size, memeluk perutnya erat-erat. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di dahinya.

Berlin berdiri di samping kasur, panik. Ia memegang ponselnya, jempolnya hampir menekan tombol panggilan darurat ke Dokter Pribadi Keluarga yang biasa datang dengan helikopter. Tapi ia sadar, helikopter tidak bisa mendarat di atap rumah tipe 36 ini.

"Mas Rangga! Lo kenapa? Keracunan? Lo mau mati?!" seru Berlin histeris.

"Perut aku... melilit..." erang Rangga. "Rasanya kayak... kayak ada demo buruh di usus aku..."

Rangga berguling ke samping, mengerang kesakitan.

Berlin menggigit bibir. Ia tidak pernah merawat orang sakit. Kalau dia sakit, ada perawat yang datang. Kalau papanya sakit, satu lantai rumah sakit dibooking. Sekarang? Cuma ada dia, Rangga, dan minyak kayu putih sisa peninggalan penghuni kos sebelumnya.

"Oke, oke. Tenang, Berlin. Lo istri yang baik. Istri miskin yang mandiri," gumamnya pada diri sendiri.

Berlin duduk di tepi kasur. Dengan ragu, ia menyentuh dahi Rangga. Dingin dan basah.

"Lo masuk angin kali ya? Atau kaget makan sate kambing kebanyakan?"

"Kayaknya... dua-duanya..." Rangga merintih lagi. "Lin... sakit banget..."

Melihat Rangga yang biasanya sok kuat dan tengil kini tak berdaya, hati Berlin mencelos. Naluri melindunginya muncul naluri yang jarang ia pakai.

"Buka baju lo," perintah Berlin tegas.

Rangga membuka mata sedikit, melotot lemah. "Hah? Lo mau ngapain? Gue lagi sekarat, jangan macem-macem."

"Gue mau balurin minyak kayu putih, bego!" Berlin menarik paksa kaos oblong Rangga ke atas.

Rangga pasrah. Berlin menuangkan minyak kayu putih ke telapak tangannya (terlalu banyak, sampai tumpah ke seprai), lalu mulai mengusap perut rata dan berotot milik suaminya.

Sentuhan tangan Berlin terasa hangat dan... canggung. Pijatannya tidak beraturan, kadang terlalu keras, kadang terlalu lembut. Tapi bagi Rangga, rasa hangat itu perlahan mengurai simpul menyakitkan di perutnya.

"Lo punya perut bagus juga buat ukuran pengangguran," gumam Berlin tanpa sadar, mencoba mengalihkan rasa gugupnya menyentuh kulit pria lain. "Pasti sering lari dikejar debt collector ya?"

Rangga tertawa lemah. "Iya... lari tiap hari..." Lari di treadmill Technogym seharga 200 juta, tambahnya dalam hati.

"Makanya jangan rakus," omel Berlin, tapi tangannya terus memijat dada dan perut Rangga dengan telaten. "Perut lo itu kaget. Biasa makan promag doang, tiba-tiba dikasih daging kambing 20 tusuk. Syukur nggak meledak."

Rangga menatap wajah Berlin dari bawah. Wajah istrinya terlihat serius, ada kerutan khawatir di dahinya. Rambutnya yang biasa rapi kini dicepol asal-asalan. Bau minyak kayu putih memenuhi ruangan sempit itu, mengalahkan bau parfum mahal mereka.

Untuk pertama kalinya, Rangga merasa... dirawat. Bukan oleh perawat bayaran, tapi oleh seseorang yang peduli padanya (atau setidaknya peduli kalau dia mati, warisannya batal cair).

"Lin..." panggil Rangga pelan.

"Apa lagi? Mau muntah? Jangan di kasur! Spreinya cuma satu!"

"Makasih," ucap Rangga tulus.

Tangan Berlin berhenti bergerak sejenak. Ia tertegun.

"Berisik," jawab Berlin ketus, tapi ia menarik selimut sampai ke dagu Rangga. "Tidur. Kalau besok lo masih sakit, gue seret lo ke Puskesmas. Gue nggak punya duit buat bawa lo ke UGD swasta."

"Iya, Nyonya..."

Berlin beranjak naik ke sisi kasur yang lain, mematikan lampu utama, dan menyisakan lampu tidur remang-remang.

Rangga memejamkan mata, rasa sakit di perutnya mulai tergantikan rasa kantuk akibat kelelahan dan kehangatan minyak kayu putih.

Di sebelahnya, Berlin berbaring menghadap punggung Rangga. Ia menatap punggung lebar itu.

Aneh, pikir Berlin. Tadi gue hampir nelpon Profesor Hartono, dokter spesialis penyakit dalam terbaik di Asia Pasifik. Padahal cuma sakit perut biasa.

Berlin menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Mungkin efek bau minyak kayu putih yang menyengat. Atau mungkin karena malam ini, rumah kotak sabun yang sempit ini terasa sedikit lebih... hangat.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 16: Orang Kaya Baru (dan Bodoh)

    Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 15: Sandiwara Satu Milyar Rasa

    Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 14: Reuni Rasa Neraka

    Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 13: Cinderella dari Pasar Senen

    Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 12: Gelap, Panas, dan Kejujuran Tengah Malam

    Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 11: Mantan Terindah (Dan Termahal)

    Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status