로그인Pagi itu di Kompleks Perumahan Subsidi "Griya Minimalis Asri" seharusnya tenang. Burung gereja berkicau, tukang bubur memukul mangkuk, dan tetangga sebelah sedang memanaskan motor bebeknya.
Namun, kedamaian itu hancur oleh suara deru mesin halus namun bertenaga yang asing di telinga warga sekitar.
Bukan satu, tapi tiga mobil hitam mengkilap satu Rolls Royce Phantom diapit oleh dua Alphard merayap pelan memasuki jalanan paving blok yang sempit itu. Mobil itu begitu lebar hingga spionnya hampir menyenggol pagar rumah warga.
Di dalam Rumah Kotak Sabun, Rangga yang baru sembuh dari sakit perut sedang menyesap teh hangat (teh celup biasa, bukan Earl Grey). Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat.
Notifikasi GPS Tracker: "Mama is Nearby"
Rangga tersedak tehnya. Ia melompat ke jendela, mengintip lewat celah gorden. Wajahnya memucat seketika.
"LIN! BERLIN! BAHAYA!" teriak Rangga, suaranya pecah.
Berlin yang sedang maskeran wajah (menggunakan masker lumpur hijau murah agar terlihat
meyakinkan) keluar dari kamar mandi dengan wajah hijau seperti Hulk.
"Apaan sih? Ada kecoa lagi?"
"Lebih parah!" Rangga menunjuk ke jendela dengan tangan gemetar. "Mama gue! Nyonya Besar Pramono ada di depan! Dia pasti ngelacak HP gue!"
Mata Berlin membelalak di balik masker hijaunya. "Hah? Mama lo? Kalau dia liat gue, dia bakal lapor ke Papa gue! Mereka kan satu arisan sosialita!"
"Sembunyiin barang bukti!" perintah Rangga panik. "Sekarang!"
Kepanikan melanda.
Mereka berdua berlarian di ruang tamu sempit itu seperti ayam tanpa kepala. Rangga
menyambar jam tangan Patek Philippe-nya dan melemparnya ke dalam panci bekas rebusan mie instan yang belum dicuci. Berlin menyapu semua skincare mahalnya di meja rias ke dalam kantong kresek hitam, lalu menendangnya ke kolong kasur.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu terdengar sopan, tapi berirama tegas dan mengintimidasi.
"Rangga? Buka pintunya. Mama tahu kamu di dalam. Sinyal HP kamu sekuat bau sampah di lingkungan ini."
Rangga menelan ludah. Ia menatap Berlin. "Lin, masker lo! Jangan dilepas!" bisik Rangga cepat. "Mama gue belum pernah ketemu lo langsung, cuma liat foto I*******m lo yang full makeup dan retouch. Kalau lo pake masker hijau gitu plus daster, dia nggak bakal ngenalin!"
"Oke," Berlin mengangguk, menarik rambutnya menjadi cepol acak-acakan yang benar-benar berantakan. "Gue bakal akting jadi istri paling kampungan sedunia biar dia ilfeel."
Rangga menarik napas panjang, lalu membuka pintu.
Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya yang anggun, mengenakan kacamata hitam Chanel dan tas Birkin kulit buaya. Di belakangnya, dua pengawal berbadan tegap memayungi beliau agar tidak terkena sinar matahari pagi Depok.
"Ma..." sapa Rangga kaku.
Wanita itu menurunkan kacamata hitamnya, menatap putranya, lalu menatap rumah kotak itu dengan pandangan ngeri seolah sedang melihat tempat pembuangan limbah nuklir.
"Ya Tuhan, Rangga," desis Nyonya Pramono. "Kamu ninggalin penthouse kamu demi... kandang
hamster ini? Oksigen di sini saja rasanya sesak."
"Ini namanya hidup mandiri, Ma," bela Rangga. "Aku bahagia di sini."
"Bahagia?" Nyonya Pramono mendengus. "Kamu kurusan. Dan muka kamu pucat. Pasti kurang gizi."
Tiba-tiba, Berlin muncul dari balik punggung Rangga. Ia berjalan dengan gaya menyeret kaki (slouching), mengenakan daster batik yang warnanya sudah pudar, dan wajah penuh lumpur hijau yang mulai retak-retak.
"Siapa ini, Mas?" tanya Berlin dengan suara cempreng yang dibuat-buat, logatnya ia buat medok berlebihan. "Ada tamu toh? Kok nggak disuguhi kopi sachet?"
Rangga hampir tertawa, tapi ia menahannya mati-matian.
Nyonya Pramono mundur selangkah, menutupi hidungnya dengan sapu tangan sutra. "Rangga... makhluk rawa ini siapa?"
"Ini istriku, Ma," kata Rangga bangga, merangkul bahu Berlin. "Namanya... Ijah. Eh, Berlin. Kami sudah nikah siri. Dia... wanita sederhana yang aku cintai apa adanya."
Berlin mengulurkan tangan yang masih ada sisa masker hijaunya ke arah Nyonya Pramono. "Salim dulu, Tante Mertua. Maaf ya, tangan saya bau terasi. Habis nyambel."
Nyonya Pramono menatap tangan itu dengan horor murni. Ia tidak menyambut uluran tangan itu, melainkan menatap Rangga dengan tatapan kecewa berat.
"Jadi ini alasan kamu menolak perjodohan dengan Putri Wibawa?" tanya Nyonya Pramono dingin. "Demi... wanita yang mukanya hijau dan bau terasi ini?"
"Iya, Ma," jawab Rangga mantap. "Berlin memang nggak selevel sama Putri Wibawa yang manja itu. Tapi Berlin bisa masak air. Kadang-kadang."
"Betul, Tante," sahut Berlin, menggaruk ketiaknya (akting totalitas). "Saya mah apa atuh. Cuma butiran debu. Yang penting Mas Rangga cinta. Ya kan, Mas?"
Berlin mengedipkan matanya yang tertutup masker ke arah Rangga.
Nyonya Pramono memijat pelipisnya. Ia tampak seperti akan pingsan. "Cukup. Mama pusing. Bau kapur barus di rumah ini bikin migrain Mama kambuh."
Wanita itu berbalik badan, memberi isyarat pada pengawalnya.
"Rangga, Mama kasih kamu waktu satu bulan. Kalau dalam satu bulan kamu nggak balik ke rumah dan menceraikan... Shrek ini... Mama akan coret nama kamu dari kartu keluarga dan warisan. Camkan itu."
Tanpa menunggu jawaban, Nyonya Pramono masuk kembali ke dalam RollsRoycenya. Pintu tertutup, dan iring-iringan mobil mewah itu mundur perlahan, meninggalkan debu di wajah Rangga dan Berlin.
Hening.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, Rangga dan Berlin lemas. Mereka berdua merosot duduk di lantai teras.
"Gila," desah Berlin, memegang dadanya. "Akting gue barusan piala Oscar banget nggak sih? Garuk ketek itu improvisasi jenius."
Rangga tertawa lepas, rasa takutnya hilang berganti rasa geli. Ia menatap wajah hijau istrinya.
"Parah lo, Lin. Mama gue pasti trauma seumur hidup. 'Makhluk rawa' katanya."
Berlin ikut tertawa, masker hijaunya semakin retak di mana mana. "Biarin. Yang penting dia nggak ngenalin gue. Kalau dia tahu 'makhluk rawa' ini sebenernya pewaris Wibawa Group yang sering dia puji puji di majalah, dia bisa serangan jantung."
Rangga menatap Berlin. Di balik masker hijau konyol dan daster lusuh itu, ia melihat seseorang yang rela mempermalukan dirinya sendiri demi menyelamatkan Rangga.
"Makasih ya, Shrek," ledek Rangga lembut.
"Sama-sama, Keledai," balas Berlin.
Namun, tawa mereka perlahan mereda saat teringat ancaman terakhir Nyonya Pramono.
"Satu bulan," gumam Rangga. "Kita cuma punya waktu satu bulan buat buktiin kita bisa hidup mandiri tanpa warisan. Kalau nggak, gue ditarik pulang."
"Dan gue harus balik ke perjodohan itu," tambah Berlin muram.
Mereka saling pandang. Tekad di mata mereka menguat. Bukan lagi soal sandiwara iseng. Ini soal harga diri.
"Kita harus cari duit," kata Berlin tegas, berdiri dan membersihkan debu di dasternya. "Duit beneran. Bukan kartu kredit bokap."
"Setuju," Rangga mengangguk. "Besok, kita cari kerja tambahan. Yang halal. Yang... merakyat."
Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg
Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit
Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi
Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan
Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si
Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu







