Home / Rumah Tangga / ISTRIMU TERNYATA SULTAN / BAB 8: Mertua Rasa Inspektur Wilayah

Share

BAB 8: Mertua Rasa Inspektur Wilayah

Author: Siapaja
last update publish date: 2026-02-03 23:20:19

Pagi itu di Kompleks Perumahan Subsidi "Griya Minimalis Asri" seharusnya tenang. Burung gereja berkicau, tukang bubur memukul mangkuk, dan tetangga sebelah sedang memanaskan motor bebeknya.

Namun, kedamaian itu hancur oleh suara deru mesin halus namun bertenaga yang asing di telinga warga sekitar.

Bukan satu, tapi tiga mobil hitam mengkilap satu Rolls Royce Phantom diapit oleh dua Alphard merayap pelan memasuki jalanan paving blok yang sempit itu. Mobil itu begitu lebar hingga spionnya hampir menyenggol pagar rumah warga.

Di dalam Rumah Kotak Sabun, Rangga yang baru sembuh dari sakit perut sedang menyesap teh hangat (teh celup biasa, bukan Earl Grey). Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat.

Notifikasi GPS Tracker: "Mama is Nearby"

Rangga tersedak tehnya. Ia melompat ke jendela, mengintip lewat celah gorden. Wajahnya memucat seketika.

"LIN! BERLIN! BAHAYA!" teriak Rangga, suaranya pecah.

Berlin yang sedang maskeran wajah (menggunakan masker lumpur hijau murah agar terlihat

meyakinkan) keluar dari kamar mandi dengan wajah hijau seperti Hulk.

"Apaan sih? Ada kecoa lagi?"

"Lebih parah!" Rangga menunjuk ke jendela dengan tangan gemetar. "Mama gue! Nyonya Besar Pramono ada di depan! Dia pasti ngelacak HP gue!"

Mata Berlin membelalak di balik masker hijaunya. "Hah? Mama lo? Kalau dia liat gue, dia bakal lapor ke Papa gue! Mereka kan satu arisan sosialita!"

"Sembunyiin barang bukti!" perintah Rangga panik. "Sekarang!"

Kepanikan melanda.

Mereka berdua berlarian di ruang tamu sempit itu seperti ayam tanpa kepala. Rangga

menyambar jam tangan Patek Philippe-nya dan melemparnya ke dalam panci bekas rebusan mie instan yang belum dicuci. Berlin menyapu semua skincare mahalnya di meja rias ke dalam kantong kresek hitam, lalu menendangnya ke kolong kasur.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan di pintu terdengar sopan, tapi berirama tegas dan mengintimidasi.

"Rangga? Buka pintunya. Mama tahu kamu di dalam. Sinyal HP kamu sekuat bau sampah di lingkungan ini."

Rangga menelan ludah. Ia menatap Berlin. "Lin, masker lo! Jangan dilepas!" bisik Rangga cepat. "Mama gue belum pernah ketemu lo langsung, cuma liat foto I*******m lo yang full makeup dan retouch. Kalau lo pake masker hijau gitu plus daster, dia nggak bakal ngenalin!"

"Oke," Berlin mengangguk, menarik rambutnya menjadi cepol acak-acakan yang benar-benar berantakan. "Gue bakal akting jadi istri paling kampungan sedunia biar dia ilfeel."

Rangga menarik napas panjang, lalu membuka pintu.

Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya yang anggun, mengenakan kacamata hitam Chanel dan tas Birkin kulit buaya. Di belakangnya, dua pengawal berbadan tegap memayungi beliau agar tidak terkena sinar matahari pagi Depok.

"Ma..." sapa Rangga kaku.

Wanita itu menurunkan kacamata hitamnya, menatap putranya, lalu menatap rumah kotak itu dengan pandangan ngeri seolah sedang melihat tempat pembuangan limbah nuklir.

"Ya Tuhan, Rangga," desis Nyonya Pramono. "Kamu ninggalin penthouse kamu demi... kandang

hamster ini? Oksigen di sini saja rasanya sesak."

"Ini namanya hidup mandiri, Ma," bela Rangga. "Aku bahagia di sini."

"Bahagia?" Nyonya Pramono mendengus. "Kamu kurusan. Dan muka kamu pucat. Pasti kurang gizi."

Tiba-tiba, Berlin muncul dari balik punggung Rangga. Ia berjalan dengan gaya menyeret kaki (slouching), mengenakan daster batik yang warnanya sudah pudar, dan wajah penuh lumpur hijau yang mulai retak-retak.

"Siapa ini, Mas?" tanya Berlin dengan suara cempreng yang dibuat-buat, logatnya ia buat medok berlebihan. "Ada tamu toh? Kok nggak disuguhi kopi sachet?"

Rangga hampir tertawa, tapi ia menahannya mati-matian.

Nyonya Pramono mundur selangkah, menutupi hidungnya dengan sapu tangan sutra. "Rangga... makhluk rawa ini siapa?"

"Ini istriku, Ma," kata Rangga bangga, merangkul bahu Berlin. "Namanya... Ijah. Eh, Berlin. Kami sudah nikah siri. Dia... wanita sederhana yang aku cintai apa adanya."

Berlin mengulurkan tangan yang masih ada sisa masker hijaunya ke arah Nyonya Pramono. "Salim dulu, Tante Mertua. Maaf ya, tangan saya bau terasi. Habis nyambel."

Nyonya Pramono menatap tangan itu dengan horor murni. Ia tidak menyambut uluran tangan itu, melainkan menatap Rangga dengan tatapan kecewa berat.

"Jadi ini alasan kamu menolak perjodohan dengan Putri Wibawa?" tanya Nyonya Pramono dingin. "Demi... wanita yang mukanya hijau dan bau terasi ini?"

"Iya, Ma," jawab Rangga mantap. "Berlin memang nggak selevel sama Putri Wibawa yang manja itu. Tapi Berlin bisa masak air. Kadang-kadang."

"Betul, Tante," sahut Berlin, menggaruk ketiaknya (akting totalitas). "Saya mah apa atuh. Cuma butiran debu. Yang penting Mas Rangga cinta. Ya kan, Mas?"

Berlin mengedipkan matanya yang tertutup masker ke arah Rangga.

Nyonya Pramono memijat pelipisnya. Ia tampak seperti akan pingsan. "Cukup. Mama pusing. Bau kapur barus di rumah ini bikin migrain Mama kambuh."

Wanita itu berbalik badan, memberi isyarat pada pengawalnya.

"Rangga, Mama kasih kamu waktu satu bulan. Kalau dalam satu bulan kamu nggak balik ke rumah dan menceraikan... Shrek ini... Mama akan coret nama kamu dari kartu keluarga dan warisan. Camkan itu."

Tanpa menunggu jawaban, Nyonya Pramono masuk kembali ke dalam RollsRoycenya. Pintu tertutup, dan iring-iringan mobil mewah itu mundur perlahan, meninggalkan debu di wajah Rangga dan Berlin.

Hening.

Begitu mobil itu hilang dari pandangan, Rangga dan Berlin lemas. Mereka berdua merosot duduk di lantai teras.

"Gila," desah Berlin, memegang dadanya. "Akting gue barusan piala Oscar banget nggak sih? Garuk ketek itu improvisasi jenius."

Rangga tertawa lepas, rasa takutnya hilang berganti rasa geli. Ia menatap wajah hijau istrinya.

"Parah lo, Lin. Mama gue pasti trauma seumur hidup. 'Makhluk rawa' katanya."

Berlin ikut tertawa, masker hijaunya semakin retak di mana mana. "Biarin. Yang penting dia nggak ngenalin gue. Kalau dia tahu 'makhluk rawa' ini sebenernya pewaris Wibawa Group yang sering dia puji puji di majalah, dia bisa serangan jantung."

Rangga menatap Berlin. Di balik masker hijau konyol dan daster lusuh itu, ia melihat seseorang yang rela mempermalukan dirinya sendiri demi menyelamatkan Rangga.

"Makasih ya, Shrek," ledek Rangga lembut.

"Sama-sama, Keledai," balas Berlin.

Namun, tawa mereka perlahan mereda saat teringat ancaman terakhir Nyonya Pramono.

"Satu bulan," gumam Rangga. "Kita cuma punya waktu satu bulan buat buktiin kita bisa hidup mandiri tanpa warisan. Kalau nggak, gue ditarik pulang."

"Dan gue harus balik ke perjodohan itu," tambah Berlin muram.

Mereka saling pandang. Tekad di mata mereka menguat. Bukan lagi soal sandiwara iseng. Ini soal harga diri.

"Kita harus cari duit," kata Berlin tegas, berdiri dan membersihkan debu di dasternya. "Duit beneran. Bukan kartu kredit bokap."

"Setuju," Rangga mengangguk. "Besok, kita cari kerja tambahan. Yang halal. Yang... merakyat."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 71: Akrobat Udara dan Panjat Pinang Kematian

    Lokasi: Ruang Brankas VIP, Bank Mega KaryaAsap putih pekat menyembur dengan desisan marah dari tabung logam di lantai. Ruangan bundar itu seketika berubah menjadi oven gas beracun. Mata Rangga mulai perih. Tenggorokannya terasa seperti disikat menggunakan kawat cuci piring."Tutup hidung pakai baju! Bernapas lewat mulut pelan pelan!" teriak Rangga. Suaranya teredam oleh lengkingan sirene brankas.Nyonya Pramono terbatuk batuk hebat. Wajah riasannya luntur berantakan.

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 70: Peretas Terjebak dan Hitung Mundur Kematian

    Lokasi: Ruang Brankas VIP (Lantai B3), Bank Mega KaryaLampu neon putih kini berganti menjadi kedipan merah yang menyakitkan mata. Suara sirene meraung memantul di dinding dinding baja bawah tanah.Namun bagi Rangga, suara yang paling keras adalah detak jantungnya sendiri. Surat pengakuan mendiang ayah angkatnya terlepas dari tangannya, melayang jatuh ke lantai marmer yang dingin.Karakter Rangga yang biasanya jenaka dan penuh akal jalanan mendadak hancur. Wajahnya pias. Selama ini dia mengira Tuan Pramono adalah malaikat penolong yang mengangkatnya dari panti asuhan. Ternyata, pria itu ada

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 69: Brankas Utama dan Warisan Berdarah

    Lokasi: Bengkel Bang SomadPukul 01.15 WIB."Ma, bangun." Rangga mengguncang pelan bahu ibu angkatnya.Nyonya Pramono membuka mata dengan kaget. Wajahnya pias melihat tumpukan ban bekas di sekelilingnya. Dia hampir lupa kalau keluarganya kini berstatus buronan."Kita harus ke Bank Mega Karya sekarang," kata Rangga cepat. Suaranya ditekan sekecil mungkin. "Ada token fisik di kotak deposit rahasia Papa. Cuma sidik jari Mama yang bisa buka. Itu satu satunya cara menguras uang Vanguard."Nyonya Pramono memucat. "Ke bank? Rangga,

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 68: Markas Gerilya dan Sinyal Balasan

    Jalanan aspal mulus berganti menjadi jalan tanah berbatu. BMW Seri 7 yang dikemudikan Rangga berguncang keras. Bumper mobil mewah itu sesekali bergesekan dengan polisi tidur semen yang dibuat asal asalan oleh warga. Kaca mobil diturunkan. Bau khas Sungai Ciliwung dan asap pembakaran sampah langsung memenuhi kabin yang sebelumnya wangi parfum mobil mahal. Nyonya Pramono menutup hidungnya dengan saputangan sutra yang sudah basah oleh air mata. Tuan Wibawa terus merangkul istrinya sambil menatap waspada ke luar jendela. Rangga menghentikan mobil tepat di depan sebuah bengkel motor berlantai dua yang sangat sempit. Pintu ro

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 67: Titik Laser Merah dan Pelarian di Tengah Malam

    Lokasi: Basement Parkir VVIP, Hotel Grand Cakrawalalayar ponsel Rangga menjadi gelap. Namun bayangan titik merah di dada istrinya tercetak jelas di retinanya. Jantung Rangga seperti diremas tangan raksasa. Jarak dari Senayan ke townhouse di pinggiran Jakarta Selatan memakan waktu setidaknya empat puluh menit dengan Vespa. Sangat tidak mungkin."Darmawan!" bentak Rangga, berbalik menatap pria tua yang masih gemetar memeluk tas kerjanya. "Mana kunci mobil lo?!""A-apa?""Kunci mobil! Cepet!" Rangga merebut paksa kunci BMW Seri-7 dari tangan Darmawan, menekan

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 66: Negosiasi Berdarah dan Skandal Sang Pengkhianat

    Lokasi: Basement Parkir VVIP, Hotel Grand CakrawalaGema tawa Pak Darmawan memantul di dinding beton basement yang lembab. Tawa itu terdengar sumbang dan dipaksakan. Pria tua beruban itu mencoba memperbaiki letak jas mahalnya, berusaha menutupi kegugupannya di hadapan Rangga yang menghalanginya."Jalanan? Kamu mau menakut-nakuti saya dengan preman terminal, Nak Rangga?" Pak Darmawan mendengus meremehkan. "Valerie dan The Vanguard bisa membeli seluruh jalanan di Jakarta ini sebelum kamu selesai menyeduh kopi. Kamu pikir gertakan ojolmu itu sebanding dengan triliunan rupiah yang mereka bawa?"Rangga tetap bersandar santai di kap mobil BMW Darmawan. Dia memutar-mutar kunci Vespanya dengan jari telunjuk."Triliunan rupiah itu angka di layar, Pak. Tapi kalau ban mobil Bapak dibocorin tiap hari, kaca rumah Bapak dilempar batu tiap malam, dan muka Bapak viral di semua grup WhatsApp se-Indonesia... duit triliunan itu nggak bakal bisa beli ketenangan tidur Bapak," balas Rangga tenang, memotong

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 28: Tamu Tak Diundang dengan Helikopter

    Lokasi: Rumah Kotak SabunRangga melangkah masuk ke halaman rumah dengan senyum lebar, selebar jalan tol Jagorawi. Ia baru saja melihat wajah gantengnya terpampang di videotron

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 26: Pengakuan Halu dan Pesan Maut

    Langit yang tadinya cerah mendadak runtuh. Hujan badai mengguyur Kebun Binatang Satwa Lestari tepat saat pengunjung terakhir pulang."Mas! Lari!"Berlin menarik tangan Rangga. Mereka berlari menerobos hujan

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 24: Tarzan Kota dan Jane yang Jijikan

    Gerbang besi berkarat itu berderit memilukan saat Rangga mendorongnya terbuka. Di atasnya, plang nama "KEBUN BINATANG SATWA LESTARI" menggantung miring, huruf 'S'-nya sudah copot sehingga terbaca "ATWA LESTARI".Angin berhembus. Bukan angi

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 25: Safari Sultan KW (Konsep Wow)

    Gerbang besi berkarat itu kini dililit tanaman rambat liar (yang sengaja tidak dipotong) dan dihiasi papan kayu bekas bertuliskan kapur: "THE LOST SANCTUARY: An Exclusive Eco-Healing Experience."

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status