MasukBentakan itu membuat Kael menunduk diam.
Seraphina malah tertawa kecil, "Bairkan dia istirahat, Sayang."
Azreal menoleh, "Seraphina!"
"Anak kita baru sepuluh tahun." Seraphina mendekati Kael dan memeluk putranya, "Kalau Kael belum mau cerita, jangan dipaksa." Mengangkat wajah putranya dan tersenyum.
"Terima kasih, Ibu."
Seraphina mengusap kepala Kael, mengecup, dan membiarkan Kael pergi.
"Kael." Azreal merendahkan lagi nada bicaranya.
"Ya, Ayah?" Kael berhenti di tengah jalan sebelum masuk ke kamarnya.
Aura samar berbau naga yang dari tadi terus menganggu, membuat Azreal semakin khawatir, "Mulai besok kau tidak boleh pergi ke Hutan Arken sendirian."
Kael mengangguk, "Baik, Ayah." Sesampainya di kamar, Kael memeriksa levelnya lagi, dia heran karena masih saja nol, "Padahal aku sudah lebih kuat. Apa yang salah? Kenapa angka itu tidak berubah?"
[Misi tersembunyi telah terbuka.]
[Menantang takdir.]
[Syarat : Mencapai kekuatan yang tidak dapat diukur oleh Sistem Dunia.]
[Hadiah : Tidak diketahui.]
Kael tersenyum, "O... ternyata ini permainannya."
***
Tiga hari berlalu, Kael yang mengalahkan Dragon Ogre di Hutan Arken, menyebar cepat ke seluruh istana. Meski banyak orang hampir tak percaya, nyatanya pengawal yang pergi bersama Kael-lah saksinya, dan karena itu pula Azreal mengambil keputusan penting.
"Ya, Ayah?" Kael dipanggil ke ruang latihan, semua kesatria berdiri di belakang ayahnya, dan Kael tepat berada di tengah arena.
"Hari ini aku ingin menguji kemampuanmu." Azreal mengulurkan kristal tingkat tinggi, Kael yang paham langsung menyentuh kristal itu, dan hasilnya masih sama, level nol. "Gunakan sihir." ucapnya setelah menyimpan kristal kembali.
"Aku tidak punya bakat sihir, Ayah." Kael bahkan tidak tahu harus menunjukkan apa.
Azreal menatap Kael lebih serius, "Aku tahu kau bisa menggunakan sesuatu."
Kael menghela napas, terus menyembunyikan apa yang dimiliki memang tak mungkin, dia pun mengangkat tangan dan mengeluarkan api kecil di telapak tangannya.
Semua orang terkejut, terlebih saat api merah itu mulai membesar dan berubah menjadi hitam, semua mundur ketakutan.
Azreal yang tak bergeming dari tempatnya, menyipitkan mata, "Api apa itu?"
"Sudah, Ayah." Kael memadamkan apinya dan menunduk.
Azreal tersenyum tipis, "Bagus."
"Bagus?" Kata itu membuat Kael memandang ayahnya.
"Bulan depan kau akan mengikuti Ujian Kerajaan."
"Ujian? Untuk apa, Ayah?"
"Masuk Akademi Iblis."
Kael menghela napas, "Aku tidak mau." Meski jawaban itu membuat semua orang kaget, Kael tidak peduli, di sana banyak anak berbakat, dia yang level nol ini hanya akan ditertawakan meski dia memiliki kemampuan yang bahkan dirinya sendiri tidak bisa menjabarkannya.
"Kenapa?"
"Malas."
Jawaban yang membuat semua mata membelalak itu malah membuat Azreal tertawa, "Sayangnya kau tidak punya pilihan, mau atau tidak, kau akan tetap pergi ke sana."
***
Hari ujian tiba, ratusan anak memenuhi halaman akademi, ada yang berasal dari keluarga bangsawan, dan ada pula anak-anak jenius yang sengaja dipilih kerajaan. Kael berjalan melewati gerbang bersama pengawal, baru saja masuk halaman, dan kasak-kusuk tentang levelnya sudah terdengar.
"Itu dia. Kael? Putra Raja Iblis yang level nol. Benarkah? Katanya dia mengalahkan Dragon Ogre. Jangan percaya. Dia pasti dibantu pengawal."
Kael terus berjalan dan berusaha tak mendengar apa yang semua anak katakan. Saat seorang gadis berdiri di depannya menggunakan seragam akademi dengan lambang bangsawan, barulah Kael berhenti, dan menatapnya.
Gadis itu tersenyum, "Namaku Lyria. Kamu Kael, kan?"
Kael mengangguk. Dia sudah tahu kalau itu Lyria karena sering datang ke istana, tetapi Lyria hari ini berbeda, terlihat lebih percaya diri, apa karena memakai seragam akademi?
"Aku dengar kamu masih level nol." Melihat Kael mengangguk, Lyria tersenyum, "Bagus!" Wajah bingung Kael, dihadiahi kekehan oleh Lyria, "Artinya aku punya alasan untuk mengalahkanmu."
Kael tertawa kecil, "Kamu sama denganku?"
Lyria memiringkan kepala, "Memangnya kamu berpikir apa?" Mengangkat tangan dan keduanya tertawa bersama.
Bel berbunyi, semua peserta menuju arena, ujian pertama adalah mengukur level. Satu per satu anak maju, level 8, level 11, level 13, sorak sorai bersahutan memenuhi arena.
Tiba giliran Lyria, dia menyentuh kristal, cahaya merah menyala terang, level 15. Mendengar penguji yang terkejut melihat levelnya, Lyria tersenyum bangga, "Giliranmu." ucapnya ke Kael.
Kael berjalan menuju kristal, semua mata tertuju padanya, saat dia meletakkan tangan, cahaya muncul, level nol, hasil yang ditunjukkan sama dengan kristal milik ayahnya.
Halaman akademi langsung dipenuhi tawa. "Level nol! Benar-benar tidak punya kekuatan. Putra Raja Iblis seperti itu? Memalukan." Gunjingan itu saling bersahutan.
Kael tidak marah mau pun malu, dia justru tersenyum, baginya angka nol tidak penting, karena hanya dirinya yang tahu kalau apa yang tersimpan dalam tubuhnya, bisa mengalahkan sistem dunia suatu saat nanti.
Berbeda dengan Lyria, dia terlihat marah, "Berhenti tertawa!"
Anak lelaki di sebelah Lyria menoleh, "Kenapa? Kita hanya mengatakan yang sebenarnya." Dia adalah Darian, putra bangsawan yang cukup berpengaruh, levelnya 17. Melirik Kael dengan senyum mengejek. "Kalau dia benar-benar putra Raja Iblis, dia harus membuktikannya."
Kael menoleh, "Apa yang harus kubuktikan?"
Darian menunjuk arena latihan, "Pertarungan."
Lyria menggeleng, "Jangan!"
Darian tertawa, "Kenapa kau membelanya terus?"
Lyria diam, sebenarnya dia tidak tahu, sejak kecil dia dan Kael sering bertemu, hanya Kael yang menganggapnya teman, bukan seorang putri atau anak bangsawan yang harus dihormati dan canggung. Mungkin itu yang membuatnya selalu merasa nyaman di dekat Kael, "Aku cuma tidak suka melihat orang berkelahi karena hal tidak jelas."
Darian tersenyum, "Kalau tidak suka jangan ikut campur." Menoleh ke Kael, "Berani tidak?" tantangnya lagi.
"Kalau aku menolak?" Kael malas bertarung dengan Darian atau dengan siapa pun.
"Semua orang tahu kalau kau memang lemah, meski kata orang kau mengalahkan Dragon Ogre, aku yakin, itu cuma karanganmu saja." Damian tertawa diikuti anak-anak lain.
Evelyn menatapnya dengan serius. "Waktu kami melawan Veyron, kenapa kau tidak datang membantu?"Abraham terdiam sejenak. "Kontrak kerja sama klan kita sudah berakhir saat itu," jawabnya datar."Itu saja?""Menurutmu apa lagi?""Kami sedang menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Kau tahu itu, kan?""Aku tahu.""Tapi kau tetap tidak membantu."Abraham menghela napas. "Evelyn, kontrak kerja sama itu memiliki batas waktu. Ketika Veyron muncul, masa kerja sama tersebut sudah berakhir. Aku tidak punya kewajiban untuk mengerahkan pasukan klanku."Evelyn mengerutkan kening. "Kau benar-benar tidak punya sedikit pun rasa tanggung jawab?""Aku punya tanggung jawab. Tapi saat itu, ada urusan yang jauh lebih penting bagiku.""Urusan apa?""Leon."Nama itu membuat Evelyn terdiam.Abraham melanjutkan, "Dia pengkhianat klan petir. Dia memberikan pecahan kristal hitam kekosongan kepada Veyron dan mengkhianati orang-orangnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja.""Tapi Veyron juga
Kael berpikir sebentar. “Taman air mancur di tengah labirin?”Lyria mengangguk. "Kau pernah berjanji akan membawaku ke sana lagi."Kael tersenyum. "Aku ingat. Tetapi kau harus menunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih."Lyria menatapnya lekat-lekat. "Kau selalu punya alasan untuk menyuruhku menunggu.""Karena aku tidak ingin kau sakit lagi."Lyria tersenyum kecil. "Kalau begitu, kapan kau akan berhenti memperlakukanku seperti seseorang yang terbuat dari kaca?"Kael tertawa. "Kalau kau sudah benar-benar sehat."Lyria tidak menjawab, memperhatikan wajah Kael, laki-laki itu masih memiliki senyum yang sama, sorot mata yang dahulu selalu membuatnya merasa aman, dan juga kebiasaan Kael ketika mengusap rambutnya yang berantakan masih sama seperti dulu.Lyria menunduk sebentar, banyak hal telah berubah, tetapi dia belum siap melepaskan semua yang pernah mereka miliki.***Ketika malam di hari yang lain... Kael baru saja menyelesaikan tugasnya bersama Azreal. Saat berjalan menuju kamarnya keti
Lyria menoleh, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin. “Ryan memberikan gelang ajaib yang seharusnya melindunginya kepada Leon."Kael mengerutkan kening. “Leon?" Kael menatap Ryan, "Apakah kau tahu di mana Leon sekarang?"Ryan menggeleng. "Tidak."Kael terdiam. Leon seharusnya sudah kehilangan hampir seluruh kemampuannya setelah Abraham menghancurkan inti kekuatannya, tubuhnya pun berada dalam kondisi yang sangat lemah. Namun, jika gelang itu benar-benar melindunginya, berarti masih ada kemungkinan Leon bertahan hidup.Azreal yang mendengar percakapan mereka segera meletakkan gelasnya. "Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui keadaan sebenarnya," katanya tegas. "Kita akan mengirim pengintai untuk mencari informasi tentang Leon." Menoleh ke Kael, "Untuk malam ini, nikmatilah kepulanganmu. Kita akan membicarakan persoalan ini besok."Kael mengangguk, meskipun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan.Lyria kembali menatap Ryan, tidak lagi mengatakan apa-a
"Ya?""Aku akan berangkat besok pagi."Tara mengangguk. "Semoga perjalananmu lancar."Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang kapan mereka akan bertemu lagi. Tidak ada permintaan agar Kael menunggunya. Bahkan, Tara tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun. Kael ingin mengatakan sesuatu, tetapi Enla sudah kembali berbicara mengenai persiapan perjalanan. Pertemuan pun berlanjut, dan selama itu pula, Tara tetap tersenyum seolah tidak ada sesuatu pun yang sedang ditahan di dalam hatinya.Setelah pertemuan selesai, para pejabat mulai meninggalkan ruangan. Lyria sedang berbicara dengan salah seorang tabib mengenai obat yang harus dibawanya selama perjalanan ketika Kael melihat Tara berjalan menuju pintu samping. “Tara, tunggu."Tara menghentikan langkah.Kael segera menghampirinya. "Aku mau bicara sebentar."Tara melirik ke arah Lyria, kemudian mengangguk. “Baik."Kael mengajaknya menuju taman kecil di sisi timur istana. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi pohon-pohon cemara bersalju. Di keja
Lyria tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana. Tatapannya tertuju kepada Kael, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang sebenarnya telah dia ketahui sejak awal, tetapi tidak pernah benar-benar siap untuk melihatnya.Kael masih mencium Tara. Lalu membuka mata, tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Kael membeku, dia mengenali wajah itu, mengenali mata yang dahulu selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan, mata yang pernah membuatnya merasa bahwa apa pun yang terjadi, selalu ada seseorang yang akan menunggunya pulang.Perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang sudab kehilangan begitu banyak hal, yang baru saja dijanjikan tidak akan kehilangan dirinya begitu saja.Kael perlahan melepaskan ciumannya dari Tara.Namun, Lyria tidak menunggu penjelasan. Air mata mengalir di pipinya, tidak menangis keras-keras, bahkan tidak mengeluarkan suara, hanya menutup mulutnya dengan tangan, seolah takut isakannya akan terdengar. Lalu Lyria menggeleng pelan, bukan sebagai ben
"Memastikan obatmu berikutnya sudah disiapkan.""Tara." Perempuan itu berhenti."Apa lagi?"Kael hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya menggeleng. “Tidak jadi."Tara mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Kael memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Ada yang berubah. Tara masih tersenyum kepadanya, mengurus kebutuhannya, memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi perempuan itu tidak lagi berlama-lama di sisinya.Tara tidak duduk menemaninya setelah semua urusannya selesai, tidak menatapnya dengan cara yang sama seperti ketika mereka berada di Gerbang Kekosongan. Kael tahu perubahan itu karena dia menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Tara untuk memahami perasaannya. Perempuan itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.Malam tiba.. langit Bintang Utara dipenuhi cahaya aurora yang bergerak perlahan di antara gugusan bintang. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, Lyria akhirnya diminta beristirahat di kamar yang disediakan khusus untuknya. K







