Home / Fantasi / Iblis Level Nol / 06 - Kristal Hitam

Share

06 - Kristal Hitam

Author: Jenang gula
last update publish date: 2026-08-13 11:06:13

Kael mencobanya, tetapi kristal itu tidak mengeluarkan cahaya apa pun, dia hanya merasakan hangat di telapak tangannya.

"Mana-nya juga nol? Benar-benar level nol." Murid lain tertawa.

Kael menarik tangan dan menatap gurunya.

"Tidak perlu dipaksakan." Guru menyuruh Kael kembali ke tempat duduk, "Selanjutnya."

Kael masih memegangi tangannya.

[Kristal mana terdeteksi.]

[Energi tersedia.]

[Devour dapat digunakan.]

Dia malah baru tahu kalau kristal pun energinya bisa diserap. Setelah pelajaran selesai, Kael berjalan sendiri ke taman belakang, dia akan membuka sistem di kepalanya, sepertinya ada yang belum diketahui.

"Kael."

Saat menoleh, Evelyn sudah berdiri di belakang Kael, "Kau menguntitku?"

"Tidak."

"Kalau tidak kenapa kau ada di sini?"

"Aku hanya ingin menawarkan sesuatu." Evelyn mengeluarkan kotak kecil dan menyodorkannya ke Kael, "Kristal sihir, ini hadiah pertemanan kita, kuharap kamu menerimanya."

Kael mengerutkan kening, "Kenapa kau memberikannya padaku?"

"Anggap saja hadiah. Siapa tahu kemampuanmu akan meningkat jika menyimpan benda ini." Evelyn tersenyum.

Kael tetap waspada, Evelyn terlalu pintar untuk mengajaknya berteman begitu saja, "Buka kotaknya."

Evelyn membuka kotak itu dan menyodorkannya lagi ke Kael.

[Energi asing terdeteksi.]

[Peringatan! Energi memiliki karakteristik yang tidak dikenal.]

Kael mengulurkan tangan untuk menyentuh kristal itu. PRANG! Kristalnya pecah dan membuat Kael mau pun Evelyn kaget.

[Fragmen kekuatan berhasil diserap. Kemampuan baru terdeteksi. Kunci pertama telah ditemukan.]

Evelyn tersenyum, "Kael, itu bukan kristal biasa, itu pecahan dari sesuatu yang bahkan Raja Iblis saja tidak berani menyentuhnya."

Kael malah berlutut dan mengambil salah satu pecahan kristal di tanah, "Maksudmu?"

"Ini adalah kristal Pecahan Kekosongan, katanya sebelum dunia ini memiliki level dan sihir, ada sesuatu yang disebut kekosongan. Tidak ada yang tahu seperti apa bentuknya, tapi menurut catatan kuno kekosongan adalah sesuatu yang tidak bisa diukur oleh sistem."

"Dan kau punya benda seperti ini? Dari mana?" Menoleh ke Evelyn.

"Aku menemukannya di ruang bawah tanah akademi."

"Lalu kenapa memberikannya padaku?"

Evelyn tersenyum tipis, "Karena sejak melihatmu aku merasakan sesuatu yang aneh."

"Karena aku level nol?"

"Justru karena itu, semua orang yang memiliki kekuatan akan tercatat dalam sistem," Menunjuk dada Kael, "tapi kau, seolah sistem tidak tahu apa yang harus dicatatkan padamu."

Untuk pertama kali ada seseorang yang hampir memahami rahasianya. Kael membeku. Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncil, pintu sangat besar berwarna hitam dengan simbol pecahan kristal seperti di tangannya muncul, apa itu?

[Kunci pertama berhasil ditemukan. Syarat berukutnya : Temukan gerbang kekosongan.]

Kael menelan ludah.

"Kael? Kau melihat sesuatu?"

Kael segera sadar, dia menggeleng, "Tidak."

Evelyn menyipitkan mata, "Kau bohong."

Kael tersenyum kecil, "Kau juga."

Evelyn malah tertawa, "Benar. Aku memang membohongimu." Dia pergi meninggalkan Kael.

Malamnya, saat di kamar, Kael tidak bisa tidur memikirkan 'Gerbang Kekosongan', kalau sekelebat bayangan yang muncul tadi benar-benar ada, mungkin semua jawaban pada dirinya berada di sana. Kenapa ada level nol, kenapa dia punya Devour, dan siapa yang menciptakan sistem dunia. Kael duduk dan membuka sistem di kepalanya.

[Nama : Kael. Ras : Iblis. Level : 0. Mana : 0. Kunci kekosongan : 1/7]

Kael mengerutkan kening, "Satu per tujuh?" Dia mengambil serpihan kristal hitam tadi, "Apa benda seperti ini ada tujuh dan aku harus mengumpukannya?"

Di tempat lain ... seorang pria berjubang hitam sedang berdiri di depan sebuah altar kuno. Di hadapannya terdapat kristal yang retak dan itu membuatnya tersenyum, "Jadi, sudah ada yang menemukan pecahan pertama."

Bayangan hitam bergerak mendekat dari belakang, "Apakah kita harus mengambilnya?"

Pria itu menggeleng, "Tidak. Biarkan dia mengumpulkan semuanya. Kita akan tahu apakah anak level nol itu benar-benar pewaris kekosongan."

***

Pagi berikutnya, suasana akademi iblis terasa aneh, guru berdiri berkelompok saat Kael memasuki halaman.

"Ada apa?" tanya Lyria.

Kael menggeleng, "Aku tidak tahu."

BOOM! Ledakan keras mengguncang seluruh akademi, para murid berteriak, kaca-kaca jendela pecah, dan debu memenuhi halaman.

Seorang guru berteriak, "Semua masuk gedung!" Asap hitam mengepul di luar, beberapa sosok berjubah hitam melompati tembok, menikmati pemandapangan kacau di akademi sihir.

Lyria menarik tangan Kael, "Ayo, Kael!"

Namun, Kael tidak bergerak, tatapannya tertuju ke salah satu penyusup, [Terget terdeteksi. Level : 41]

Salah satu guru maju, "Siapa kalian?"

Pria berjubah hitam mengangkat tangan dan mengumpulkan sihir di tangannya, "Serahkan pecahan itu."

Semua orang terdiam, Kael yang memahami sesuatu, langsung menoleh ke Evelyn yang berdiri di sisi lain gedung. Meski jauh keduanya sama-sama bertatapan.

Evelyn bicara pelan dan ditujukan ke Kael dengan kekuatan khususnya, "Kael, jangan keluarkan pecahan itu."

Tiba-tiba seorang penyusup melesat ke arah Kael.

"Jangan mendekat!" Lyria mengumpulkan mana merah dan menyerang menyusup itu. BOOM!

Tersenyum, bahkan meski bersuara keras, tubuhnya tak merasakan sesuatu, "Anak kecil level lima belas."

"Jangan! Apa kau gila? dia level empat puluh satu!" teriak Lyria melihat Kael maju di depannya.

"Aku tahu." Kael melompat menjauh dari Lyria dan murid lainnya. Dia mengangkat tangan dan energi hitam berkumpul di tangannya.

Pria itu menyerang lebih dulu. Kael menghindar, serangan berikutnya dari samping, dan Kael tetap saja berhasil menghindari. "Kau suka bermain-main?"

Kael yang tahu tidak mungkin bisa menyerang, terus menghindar sambil menyerap energi sedikit demi sedikit, lompatannya yang semakin cepat membuat pria di depannya panik. Dia bersiap menyerang setelah energi yang dikumpulkan dirasa cukup.

DUARR! Kael terlempar jauh, terguling, darah keluar dari sudut bibir, dan menetes pula dari dahinya.

Seorang pria berjubah hitam lain levelnya lima puluh enam, menatap Kael nyalang, "Serahkan pecahannya."

Kael berdiri sambil menyeka darah di bibirnya, "Kalau tidak?"

Pria itu tersenyum, "Kalau begitu kami akan mengambilnya dari mayatmu." Mengangkat tangan, energi hitam besar berkumpul di atas kepalanya, siap dilempar ke Kael.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Iblis Level Nol   81 - Saat Tiga Otak Mabuk Berkumpul

    Evelyn menatapnya dengan serius. "Waktu kami melawan Veyron, kenapa kau tidak datang membantu?"Abraham terdiam sejenak. "Kontrak kerja sama klan kita sudah berakhir saat itu," jawabnya datar."Itu saja?""Menurutmu apa lagi?""Kami sedang menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Kau tahu itu, kan?""Aku tahu.""Tapi kau tetap tidak membantu."Abraham menghela napas. "Evelyn, kontrak kerja sama itu memiliki batas waktu. Ketika Veyron muncul, masa kerja sama tersebut sudah berakhir. Aku tidak punya kewajiban untuk mengerahkan pasukan klanku."Evelyn mengerutkan kening. "Kau benar-benar tidak punya sedikit pun rasa tanggung jawab?""Aku punya tanggung jawab. Tapi saat itu, ada urusan yang jauh lebih penting bagiku.""Urusan apa?""Leon."Nama itu membuat Evelyn terdiam.Abraham melanjutkan, "Dia pengkhianat klan petir. Dia memberikan pecahan kristal hitam kekosongan kepada Veyron dan mengkhianati orang-orangnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja.""Tapi Veyron juga

  • Iblis Level Nol   80 - Kekecewaan Lyria

    Kael berpikir sebentar. “Taman air mancur di tengah labirin?”Lyria mengangguk. "Kau pernah berjanji akan membawaku ke sana lagi."Kael tersenyum. "Aku ingat. Tetapi kau harus menunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih."Lyria menatapnya lekat-lekat. "Kau selalu punya alasan untuk menyuruhku menunggu.""Karena aku tidak ingin kau sakit lagi."Lyria tersenyum kecil. "Kalau begitu, kapan kau akan berhenti memperlakukanku seperti seseorang yang terbuat dari kaca?"Kael tertawa. "Kalau kau sudah benar-benar sehat."Lyria tidak menjawab, memperhatikan wajah Kael, laki-laki itu masih memiliki senyum yang sama, sorot mata yang dahulu selalu membuatnya merasa aman, dan juga kebiasaan Kael ketika mengusap rambutnya yang berantakan masih sama seperti dulu.Lyria menunduk sebentar, banyak hal telah berubah, tetapi dia belum siap melepaskan semua yang pernah mereka miliki.***Ketika malam di hari yang lain... Kael baru saja menyelesaikan tugasnya bersama Azreal. Saat berjalan menuju kamarnya keti

  • Iblis Level Nol   79 - Kerinduan yang Mencekik

    Lyria menoleh, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin. “Ryan memberikan gelang ajaib yang seharusnya melindunginya kepada Leon."Kael mengerutkan kening. “Leon?" Kael menatap Ryan, "Apakah kau tahu di mana Leon sekarang?"Ryan menggeleng. "Tidak."Kael terdiam. Leon seharusnya sudah kehilangan hampir seluruh kemampuannya setelah Abraham menghancurkan inti kekuatannya, tubuhnya pun berada dalam kondisi yang sangat lemah. Namun, jika gelang itu benar-benar melindunginya, berarti masih ada kemungkinan Leon bertahan hidup.Azreal yang mendengar percakapan mereka segera meletakkan gelasnya. "Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui keadaan sebenarnya," katanya tegas. "Kita akan mengirim pengintai untuk mencari informasi tentang Leon." Menoleh ke Kael, "Untuk malam ini, nikmatilah kepulanganmu. Kita akan membicarakan persoalan ini besok."Kael mengangguk, meskipun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan.Lyria kembali menatap Ryan, tidak lagi mengatakan apa-a

  • Iblis Level Nol   78 - Ikutlah Denganku

    "Ya?""Aku akan berangkat besok pagi."Tara mengangguk. "Semoga perjalananmu lancar."Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang kapan mereka akan bertemu lagi. Tidak ada permintaan agar Kael menunggunya. Bahkan, Tara tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun. Kael ingin mengatakan sesuatu, tetapi Enla sudah kembali berbicara mengenai persiapan perjalanan. Pertemuan pun berlanjut, dan selama itu pula, Tara tetap tersenyum seolah tidak ada sesuatu pun yang sedang ditahan di dalam hatinya.Setelah pertemuan selesai, para pejabat mulai meninggalkan ruangan. Lyria sedang berbicara dengan salah seorang tabib mengenai obat yang harus dibawanya selama perjalanan ketika Kael melihat Tara berjalan menuju pintu samping. “Tara, tunggu."Tara menghentikan langkah.Kael segera menghampirinya. "Aku mau bicara sebentar."Tara melirik ke arah Lyria, kemudian mengangguk. “Baik."Kael mengajaknya menuju taman kecil di sisi timur istana. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi pohon-pohon cemara bersalju. Di keja

  • Iblis Level Nol   77 - Tidak Mungkin Tetap di Sini

    Lyria tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana. Tatapannya tertuju kepada Kael, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang sebenarnya telah dia ketahui sejak awal, tetapi tidak pernah benar-benar siap untuk melihatnya.Kael masih mencium Tara. Lalu membuka mata, tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Kael membeku, dia mengenali wajah itu, mengenali mata yang dahulu selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan, mata yang pernah membuatnya merasa bahwa apa pun yang terjadi, selalu ada seseorang yang akan menunggunya pulang.Perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang sudab kehilangan begitu banyak hal, yang baru saja dijanjikan tidak akan kehilangan dirinya begitu saja.Kael perlahan melepaskan ciumannya dari Tara.Namun, Lyria tidak menunggu penjelasan. Air mata mengalir di pipinya, tidak menangis keras-keras, bahkan tidak mengeluarkan suara, hanya menutup mulutnya dengan tangan, seolah takut isakannya akan terdengar. Lalu Lyria menggeleng pelan, bukan sebagai ben

  • Iblis Level Nol   76 - Aku Sungguh Mencintaimu

    "Memastikan obatmu berikutnya sudah disiapkan.""Tara." Perempuan itu berhenti."Apa lagi?"Kael hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya menggeleng. “Tidak jadi."Tara mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Kael memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Ada yang berubah. Tara masih tersenyum kepadanya, mengurus kebutuhannya, memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi perempuan itu tidak lagi berlama-lama di sisinya.Tara tidak duduk menemaninya setelah semua urusannya selesai, tidak menatapnya dengan cara yang sama seperti ketika mereka berada di Gerbang Kekosongan. Kael tahu perubahan itu karena dia menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Tara untuk memahami perasaannya. Perempuan itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.Malam tiba.. langit Bintang Utara dipenuhi cahaya aurora yang bergerak perlahan di antara gugusan bintang. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, Lyria akhirnya diminta beristirahat di kamar yang disediakan khusus untuknya. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status