INICIAR SESIÓNKael mencobanya, tetapi kristal itu tidak mengeluarkan cahaya apa pun, dia hanya merasakan hangat di telapak tangannya.
"Mana-nya juga nol? Benar-benar level nol." Murid lain tertawa.
Kael menarik tangan dan menatap gurunya.
"Tidak perlu dipaksakan." Guru menyuruh Kael kembali ke tempat duduk, "Selanjutnya."
Kael masih memegangi tangannya.
[Kristal mana terdeteksi.]
[Energi tersedia.]
[Devour dapat digunakan.]
Dia malah baru tahu kalau kristal pun energinya bisa diserap. Setelah pelajaran selesai, Kael berjalan sendiri ke taman belakang, dia akan membuka sistem di kepalanya, sepertinya ada yang belum diketahui.
"Kael."
Saat menoleh, Evelyn sudah berdiri di belakang Kael, "Kau menguntitku?"
"Tidak."
"Kalau tidak kenapa kau ada di sini?"
"Aku hanya ingin menawarkan sesuatu." Evelyn mengeluarkan kotak kecil dan menyodorkannya ke Kael, "Kristal sihir, ini hadiah pertemanan kita, kuharap kamu menerimanya."
Kael mengerutkan kening, "Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Anggap saja hadiah. Siapa tahu kemampuanmu akan meningkat jika menyimpan benda ini." Evelyn tersenyum.
Kael tetap waspada, Evelyn terlalu pintar untuk mengajaknya berteman begitu saja, "Buka kotaknya."
Evelyn membuka kotak itu dan menyodorkannya lagi ke Kael.
[Energi asing terdeteksi.]
[Peringatan! Energi memiliki karakteristik yang tidak dikenal.]
Kael mengulurkan tangan untuk menyentuh kristal itu. PRANG! Kristalnya pecah dan membuat Kael mau pun Evelyn kaget.
[Fragmen kekuatan berhasil diserap. Kemampuan baru terdeteksi. Kunci pertama telah ditemukan.]
Evelyn tersenyum, "Kael, itu bukan kristal biasa, itu pecahan dari sesuatu yang bahkan Raja Iblis saja tidak berani menyentuhnya."
Kael malah berlutut dan mengambil salah satu pecahan kristal di tanah, "Maksudmu?"
"Ini adalah kristal Pecahan Kekosongan, katanya sebelum dunia ini memiliki level dan sihir, ada sesuatu yang disebut kekosongan. Tidak ada yang tahu seperti apa bentuknya, tapi menurut catatan kuno kekosongan adalah sesuatu yang tidak bisa diukur oleh sistem."
"Dan kau punya benda seperti ini? Dari mana?" Menoleh ke Evelyn.
"Aku menemukannya di ruang bawah tanah akademi."
"Lalu kenapa memberikannya padaku?"
Evelyn tersenyum tipis, "Karena sejak melihatmu aku merasakan sesuatu yang aneh."
"Karena aku level nol?"
"Justru karena itu, semua orang yang memiliki kekuatan akan tercatat dalam sistem," Menunjuk dada Kael, "tapi kau, seolah sistem tidak tahu apa yang harus dicatatkan padamu."
Untuk pertama kali ada seseorang yang hampir memahami rahasianya. Kael membeku. Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncil, pintu sangat besar berwarna hitam dengan simbol pecahan kristal seperti di tangannya muncul, apa itu?
[Kunci pertama berhasil ditemukan. Syarat berukutnya : Temukan gerbang kekosongan.]
Kael menelan ludah.
"Kael? Kau melihat sesuatu?"
Kael segera sadar, dia menggeleng, "Tidak."
Evelyn menyipitkan mata, "Kau bohong."
Kael tersenyum kecil, "Kau juga."
Evelyn malah tertawa, "Benar. Aku memang membohongimu." Dia pergi meninggalkan Kael.
Malamnya, saat di kamar, Kael tidak bisa tidur memikirkan 'Gerbang Kekosongan', kalau sekelebat bayangan yang muncul tadi benar-benar ada, mungkin semua jawaban pada dirinya berada di sana. Kenapa ada level nol, kenapa dia punya Devour, dan siapa yang menciptakan sistem dunia. Kael duduk dan membuka sistem di kepalanya.
[Nama : Kael. Ras : Iblis. Level : 0. Mana : 0. Kunci kekosongan : 1/7]
Kael mengerutkan kening, "Satu per tujuh?" Dia mengambil serpihan kristal hitam tadi, "Apa benda seperti ini ada tujuh dan aku harus mengumpukannya?"
Di tempat lain ... seorang pria berjubang hitam sedang berdiri di depan sebuah altar kuno. Di hadapannya terdapat kristal yang retak dan itu membuatnya tersenyum, "Jadi, sudah ada yang menemukan pecahan pertama."
Bayangan hitam bergerak mendekat dari belakang, "Apakah kita harus mengambilnya?"
Pria itu menggeleng, "Tidak. Biarkan dia mengumpulkan semuanya. Kita akan tahu apakah anak level nol itu benar-benar pewaris kekosongan."
***
Pagi berikutnya, suasana akademi iblis terasa aneh, guru berdiri berkelompok saat Kael memasuki halaman.
"Ada apa?" tanya Lyria.
Kael menggeleng, "Aku tidak tahu."
BOOM! Ledakan keras mengguncang seluruh akademi, para murid berteriak, kaca-kaca jendela pecah, dan debu memenuhi halaman.
Seorang guru berteriak, "Semua masuk gedung!" Asap hitam mengepul di luar, beberapa sosok berjubah hitam melompati tembok, menikmati pemandapangan kacau di akademi sihir.
Lyria menarik tangan Kael, "Ayo, Kael!"
Namun, Kael tidak bergerak, tatapannya tertuju ke salah satu penyusup, [Terget terdeteksi. Level : 41]
Salah satu guru maju, "Siapa kalian?"
Pria berjubah hitam mengangkat tangan dan mengumpulkan sihir di tangannya, "Serahkan pecahan itu."
Semua orang terdiam, Kael yang memahami sesuatu, langsung menoleh ke Evelyn yang berdiri di sisi lain gedung. Meski jauh keduanya sama-sama bertatapan.
Evelyn bicara pelan dan ditujukan ke Kael dengan kekuatan khususnya, "Kael, jangan keluarkan pecahan itu."
Tiba-tiba seorang penyusup melesat ke arah Kael.
"Jangan mendekat!" Lyria mengumpulkan mana merah dan menyerang menyusup itu. BOOM!
Tersenyum, bahkan meski bersuara keras, tubuhnya tak merasakan sesuatu, "Anak kecil level lima belas."
"Jangan! Apa kau gila? dia level empat puluh satu!" teriak Lyria melihat Kael maju di depannya.
"Aku tahu." Kael melompat menjauh dari Lyria dan murid lainnya. Dia mengangkat tangan dan energi hitam berkumpul di tangannya.
Pria itu menyerang lebih dulu. Kael menghindar, serangan berikutnya dari samping, dan Kael tetap saja berhasil menghindari. "Kau suka bermain-main?"
Kael yang tahu tidak mungkin bisa menyerang, terus menghindar sambil menyerap energi sedikit demi sedikit, lompatannya yang semakin cepat membuat pria di depannya panik. Dia bersiap menyerang setelah energi yang dikumpulkan dirasa cukup.
DUARR! Kael terlempar jauh, terguling, darah keluar dari sudut bibir, dan menetes pula dari dahinya.
Seorang pria berjubah hitam lain levelnya lima puluh enam, menatap Kael nyalang, "Serahkan pecahannya."
Kael berdiri sambil menyeka darah di bibirnya, "Kalau tidak?"
Pria itu tersenyum, "Kalau begitu kami akan mengambilnya dari mayatmu." Mengangkat tangan, energi hitam besar berkumpul di atas kepalanya, siap dilempar ke Kael.
Langit menggelap, garis bintang berwarna ungu semakin membesar di langit, Evelyn berdiri di tengah aula dengan mata nyalangnya menatap ke penyusup. "Jangan menyentuhnya." Gema suara itu membuat pada menyusup bergeming. "Evelyn? Kau masih hidup?" Kael menoleh ke Evelyn, energi gadis itu naik pesat, tetapi tetap tak bisa dideteksi. "Pergi!" Petir keunguan menyambar-nyambar di langit akademi. Tiga menyusup menoleh ke Kael, "Anak level nol. Aku akan datang kembali!" Menghilang bersamaan dengan debu yang memenuhi akademi. Lyria berlari mendekati Kael, "Kau terluka?" Menggeleng, "Hanya luka kecil. Jangan kawatir." "Tentu saja aku khawatir, bagaimana kalau kau terluka, dan mati?" "Kau pikir aku akan mati semudah itu?" "Aku tidak tahu. Aku hanya takut kamu mati." Kael tersenyum, "Memangnya kenapa kalau aku mati?" "Nanti siapa yang akan menggangguku? Berteman denganku? Yang-" Kael langsung mengacak rambut Lyria, "Aku tidak akan mati semudah itu." Evelyn menarik Kael,
Kael mencobanya, tetapi kristal itu tidak mengeluarkan cahaya apa pun, dia hanya merasakan hangat di telapak tangannya."Mana-nya juga nol? Benar-benar level nol." Murid lain tertawa.Kael menarik tangan dan menatap gurunya."Tidak perlu dipaksakan." Guru menyuruh Kael kembali ke tempat duduk, "Selanjutnya."Kael masih memegangi tangannya.[Kristal mana terdeteksi.][Energi tersedia.][Devour dapat digunakan.]Dia malah baru tahu kalau kristal pun energinya bisa diserap. Setelah pelajaran selesai, Kael berjalan sendiri ke taman belakang, dia akan membuka sistem di kepalanya, sepertinya ada yang belum diketahui."Kael."Saat menoleh, Evelyn sudah berdiri di belakang Kael, "Kau menguntitku?""Tidak.""Kalau tidak kenapa kau ada di sini?""Aku hanya ingin menawarkan sesuatu." Evelyn mengeluarkan kotak kecil dan menyodorkannya ke Kael, "Kristal sihir, ini hadiah pertemanan kita, kuharap kamu menerimanya."Kael mengerutkan kening, "Kenapa kau memberikannya padaku?""Anggap saja hadiah. Sia
Kael mengepalkan tangan kali ini. "Baik. Mari kita mulai."Lyria menoleh, "Kael? Dia level 17.""Jangan kawatir." Kael maju menuju arena diikuti Darian, beberapa peserta berkumpul di sekitar arena, guru yang bertugas mengawasi berdiri di tengah."Pertarungan berakhir jika salah satu menyerah atau tidak mampu melanjutkan." Darian mengangkat tangan dan api mulai muncul, "Jangan salahkan aku kalau kamu terluka."Kael hanya berdiam diri.[Terget terdeteksi.][Nama : Darian.][Level : 17]Tersenyum kecil. Kael tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.Darian menyerang. BOOM! Sebuah bola api melesat, Kael yang menghindar, membuat bola api itu menghantam tanah. Darian menyerang lagi dan lagi, Kael terus bergerak cepat, lebih cepat dari yang bisa dilakukan oleh level nol."Dia cepat sekali. Sangat seru! Aku mulai bingung harus mendukung siapa." kasak-kusuk di pinggir arena.Darian marah, "Berhenti menghindar!"Kael tersenyum, "Kalau kau bisa menangkapku, aku akan berhenti."Darian mengge
Bentakan itu membuat Kael menunduk diam.Seraphina malah tertawa kecil, "Bairkan dia istirahat, Sayang."Azreal menoleh, "Seraphina!""Anak kita baru sepuluh tahun." Seraphina mendekati Kael dan memeluk putranya, "Kalau Kael belum mau cerita, jangan dipaksa." Mengangkat wajah putranya dan tersenyum."Terima kasih, Ibu."Seraphina mengusap kepala Kael, mengecup, dan membiarkan Kael pergi."Kael." Azreal merendahkan lagi nada bicaranya."Ya, Ayah?" Kael berhenti di tengah jalan sebelum masuk ke kamarnya.Aura samar berbau naga yang dari tadi terus menganggu, membuat Azreal semakin khawatir, "Mulai besok kau tidak boleh pergi ke Hutan Arken sendirian."Kael mengangguk, "Baik, Ayah." Sesampainya di kamar, Kael memeriksa levelnya lagi, dia heran karena masih saja nol, "Padahal aku sudah lebih kuat. Apa yang salah? Kenapa angka itu tidak berubah?"[Misi tersembunyi telah terbuka.][Menantang takdir.][Syarat : Mencapai kekuatan yang tidak dapat diukur oleh Sistem Dunia.][Hadiah : Tidak dik
Tetapi tepat sebelum menyentuh tubuh Kael...[Devour aktif.]Cahaya hitam menyelimuti tangan Kael, tubuh Shadow Wolf mendadak berhenti, lalu jatuh tak sadarkan diri.[Kekuatan berhasil diserap.][Kecepatan meningkat.][Indra malam diperoleh.]Kael merasakan sesuatu, penglihatannya jadi lebih tajam, pendengarannya semakin jelas, bahkan dia mendengar detak jantung pengawalnya. "Menarik.""Yang... Yang Mulia melakukan apa?" Pengawal itu kebingungan.Kael tersenyum, "Entahlah. Ayo!" Keduanya melanjutkan perjalanan lagi lebih jauh ke dalam dan kali ini langkah Kael jadi lebih ringan. Semakin dalam, semakin kuat monster yang muncul, membuat Kael bersemangat.Level 5.Level 8.Level 10.Kael tidak membunuh apa pun, dia hanya menyerap sedikit demi sedikit, dan setiap kali Devour aktif kemampuannya bertambah.[Kekuatan diserap.][Pengelihatan malam diperoleh.][Indra penciuman diperoleh.][Regenerasi minor diperoleh.]Kael mulai memahami sesuatu, Devour bukan sekedar menyerap energi, tetapi j
Debu memenuhi taman, Ravian tersenyum puas, tetapi beberapa detik kemudian senyumnya menghilang. Dari balik debu Kael berdiri, tidak terluka, bahkan pakaiannya tidak terbakar. Ravian terbelalak, "Mustahil." lirihnya.Kael melihat tangannya sendiri, di dalam tubuhnya sesuatu sedang bergerak, hangat, dan terus menjalar ke seluruh tubuh.[Serangan sihir terdeteksi.][Kemampuan Devour aktif.][Energi api berhasil diserap.]Kael tersenyum. 'Jadi begini rasanya menyerap sihir secara langsung.' pikirnya. Dia menoleh ke Ravian, "Giliranmu."Ravian mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya dia merasa takut kepada seseorang yang tercatat sebagai level nol.Dari balkon istana ... sepasang mata merah sedang mengawasi mereka, Azreal.Seraphina yang tengah minum teh, mendekati suaminya, "Sepertinya putra kita mulai tumbuh."Azreal tidak menjawab, tatapannya semakin fokus dan serius karena dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aura Kael bukan aura iblis biasa, "Seraphin







