Home / Fantasi / Iblis Level Nol / 03 - Hutan Terlarang

Share

03 - Hutan Terlarang

Author: Jenang gula
last update publish date: 2026-08-12 11:14:12

 Tetapi tepat sebelum menyentuh tubuh Kael...

[Devour aktif.]

Cahaya hitam menyelimuti tangan Kael, tubuh Shadow Wolf mendadak berhenti, lalu jatuh tak sadarkan diri.

[Kekuatan berhasil diserap.]

[Kecepatan meningkat.]

[Indra malam diperoleh.]

Kael merasakan sesuatu, penglihatannya jadi lebih tajam, pendengarannya semakin jelas, bahkan dia mendengar detak jantung pengawalnya. "Menarik."

"Yang... Yang Mulia melakukan apa?" Pengawal itu kebingungan.

Kael tersenyum, "Entahlah. Ayo!" Keduanya melanjutkan perjalanan lagi lebih jauh ke dalam dan kali ini langkah Kael jadi lebih ringan. Semakin dalam, semakin kuat monster yang muncul, membuat Kael bersemangat.

Level 5.

Level 8.

Level 10.

Kael tidak membunuh apa pun, dia hanya menyerap sedikit demi sedikit, dan setiap kali Devour aktif kemampuannya bertambah.

[Kekuatan diserap.]

[Pengelihatan malam diperoleh.]

[Indra penciuman diperoleh.]

[Regenerasi minor diperoleh.]

Kael mulai memahami sesuatu, Devour bukan sekedar menyerap energi, tetapi juga mengambil kemampuan. Kael menatap jauh ke dalam hutan, dia jadi penasaran, apa kiranya yang terjadi jika dia bertemu dengan monster yang lebih besar?

Tanah tiba-tiba bergetar, pengawal berhenti berjalan, dan menghalangi langkah Kael dengan tangan kanannya, "Yang Mulia." Dari balik pepohonan terdengar langkah yang sangat berat, seekor monster raksasa keluar dari kegelapan, tubuhnya ditutupi sisik hitam, tanduk panjang yang tumbuh di kepala membuat pengawal itu seketika pucat, "Yang Mulia." Kali ini ucapannya lebih pelan.

[Nama : Dragon Ogre]

[Level : 28]

[Peringatan.]

[Perbedaan kekuatan terlalu besar.]

Kael malah tersenyum. Dia menemukan sesuatu yang menarik, "Jangan ikut campur!"

Pengawal terkejut, "Itu terlalu berbahaya, Yang Mulia."

Kael melangkah maju, "Aku ingin mencobanya."

Dragon Ogre mengeram.

Kael mengangkat tangannya, untuk sesaat, matanya berubah jadi merah terang.

[Devour siap digunakan.]

[Peringatan.]

[Target terlalu kuat.]

[Peringatan.]

[Kemungkinan gagal : 93%]

[Peringatan.]

Sistem di kepala Kael menyala merah dan berkedip-kedip. Namun, bukannya mundur Kael malah tersenyum, "Aku masih punya tujuh persen. Ayo! Serang aku!" tantangnya penuh percaya diri.

Dragon Ogre melangkah maju, mengeram, kemudian melesat ke arah Kael.

Pengawal menghunuskan pedang meski tangannya sedikit bergetar, "Mundur, Yang Mulia!"

Kael mengangkat tangan, "Jangan!"

"Tapi-"

"Aku ingin mencobanya sendiri."

Dragon Ogre mengarung lagi, menghantam tanah tepat di tempat Kael berdiri, tanah pun pecah, dan debu berterbangan.

"Yang Mulia!" Pengawal sangat panik.

Kael sudah melompat ke samping, tubuhnya bergerak cepat, dan itu membuatnya tersenyum.

[Kecepatan Shadow Wolf aktif.]

Dragon Ogre kembali menyerang, Kael terus menghindar, satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan, tak ada yang mengenainya. Dia mulai kewalahan dan Dragon Ogre tetap saja memburunya.

[Peringatan.]

[Stamina Host menurun.]

Tak ada pilihan lain, Kael pun mengangkat tangan dan mencoba menerima serangan Dragon Ogre.

[Devour aktif.]

'DUAR!' Tubuhnya terpental jauh, terguling ke tanah, dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.

Pengawal langsung berlari mendekat, "Yang Mulia?"

"Aku tidak apa-apa." Kael bangkit perlahan, tangannya bergetar, dia tidak menyangka akan seperti ini.

[Devour gagal.]

[Terget terlalu kuat.]

[Tidak dapat menyerap seluruhnya.]

[Sebagian energi berhasil diserap.]

Masih berpikir dan Dragon Ogre sudah menyerangnya lagi. Kael mengepalkan tangan, energi hitam mulai berkumpul, saat Dragon Ogre meninjunya, Kael membalas dengan tinjunya yang tentu berukuran lebih kecil.

BOOM! Gelombang menyebar, pengawal menutupi wajahnya ketakutan, ketika debu menghilang, dia mencari Kael dan mendekat, "Yang Mulia?"

Dragon Ogre menarung kesakitan dan mundur beberapa langkah.

Kael yang menyadari di tinjunya terdapat sedikit kekuatan Dragon Ogre, tersenyum, mengangkat kedua tangan, mengeluarkan api merah di tangan kiri dari energi Ravian, dan api hitam di tangan kanan dari energi Dragon Ogre.

[Kemampuan baru terbentuk.]

[Dragon Flame.]

Kael mengabaikan suara sistem dan fokus melempar dua api itu bersamaan ke arah Dragon Ogre, "Pergilah!"

'BOOM!' Tepat menghantam tubuh Dragon Ogre, monster itu pun meraung keras, sisiknya retak, lalu tergeletak di tanah.

[Target dikalahkan.]

[Devour dimulai.]

[Kekuatan diperoleh.]

[Pertahanan diperoleh.]

[Kemampuan baru : Dragon Skin.]

Kael tersenyum. Ini adalah kemenangan besar baginya.

[Peringatan.]

[Pertumbuhan Host telah terdeteksi.]

[Sistem dunia mulai melakukan pengawasan.]

"Pengawasan?" Keal tidak paham dengan yang satu itu. Hanya dalam hitungan detik, jauh di atas langit Kerajaan Iblis, sebuah mata raksasa perlahan terbuka, dan tepat menatap ke arahnya.

[Anomali Host ditemukan.]

[Pengawasan dimulai.]

"Yang Mulia..." Pengawal tidak bisa memahami, bagaimana bisa anak level nol mengalahkan monster level dua puluh delapan, "apa sebenarnya kekuatan Anda?"

Kael terdiam, dia tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya, tidak mungkin, atau semua malah akan berakhir sekarang juga. "Keberuntungan."

"Keberuntungan?" ulang pengawal.

"Mungkin monster itu sedang sakit."

Pengawal itu menatap tubuh Dragon Ogre yang masih tergeletak di tanah, penuh dengan luka, dan yakin Kael sedang berbohong. Namun, sebagai pengawal, dia tak berani bertanya lagi.

Kael berjalan pulang, baru saja keluar dari hutan, dia langsung berhenti.

"Ada apa, Yang Mulia?"

Kael enggan menjawab.

[Peringatan.]

[Host sedang diawasi.]

'Siapa?' pikirnya.

[Sistem Dunia.]

Jantung Kael berdetak lebih cepat, ternyata benar setelah pertarungan tadi, sistem yang selama ini dia pikir hanya ilusi kepalanya, menyimpan rahasia menakutkan. Kael merasa harus hati-hati mulai sekarang.

Sesampainya di istana ... "Kau terlambat." Azreal dan Seraphina sudah menunggu dengan cemas sejak tadi.

"Maaf."

"Ke mana saja?"

"Berburu."

Azreal menatap pengawal di belakang Kael.

Pengawal itu berlutut, "Yang Mulia ..." Menceritakan semua yang terjadi di hutan tanpa melewati satu pun adegan di sana.

Azreal mengakat tangan agar pengawal itu pergi, lalu menoleh ke putranya, "Bagaimana kau mengalahkan Dragon Ogre, Kael?"

Kael tersenyum, "Keberuntungan, Ayah."

Jawaban itu membuat Azreal marah, "Kau pikir aku percaya jawaban konyolmu?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Iblis Level Nol   81 - Saat Tiga Otak Mabuk Berkumpul

    Evelyn menatapnya dengan serius. "Waktu kami melawan Veyron, kenapa kau tidak datang membantu?"Abraham terdiam sejenak. "Kontrak kerja sama klan kita sudah berakhir saat itu," jawabnya datar."Itu saja?""Menurutmu apa lagi?""Kami sedang menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Kau tahu itu, kan?""Aku tahu.""Tapi kau tetap tidak membantu."Abraham menghela napas. "Evelyn, kontrak kerja sama itu memiliki batas waktu. Ketika Veyron muncul, masa kerja sama tersebut sudah berakhir. Aku tidak punya kewajiban untuk mengerahkan pasukan klanku."Evelyn mengerutkan kening. "Kau benar-benar tidak punya sedikit pun rasa tanggung jawab?""Aku punya tanggung jawab. Tapi saat itu, ada urusan yang jauh lebih penting bagiku.""Urusan apa?""Leon."Nama itu membuat Evelyn terdiam.Abraham melanjutkan, "Dia pengkhianat klan petir. Dia memberikan pecahan kristal hitam kekosongan kepada Veyron dan mengkhianati orang-orangnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja.""Tapi Veyron juga

  • Iblis Level Nol   80 - Kekecewaan Lyria

    Kael berpikir sebentar. “Taman air mancur di tengah labirin?”Lyria mengangguk. "Kau pernah berjanji akan membawaku ke sana lagi."Kael tersenyum. "Aku ingat. Tetapi kau harus menunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih."Lyria menatapnya lekat-lekat. "Kau selalu punya alasan untuk menyuruhku menunggu.""Karena aku tidak ingin kau sakit lagi."Lyria tersenyum kecil. "Kalau begitu, kapan kau akan berhenti memperlakukanku seperti seseorang yang terbuat dari kaca?"Kael tertawa. "Kalau kau sudah benar-benar sehat."Lyria tidak menjawab, memperhatikan wajah Kael, laki-laki itu masih memiliki senyum yang sama, sorot mata yang dahulu selalu membuatnya merasa aman, dan juga kebiasaan Kael ketika mengusap rambutnya yang berantakan masih sama seperti dulu.Lyria menunduk sebentar, banyak hal telah berubah, tetapi dia belum siap melepaskan semua yang pernah mereka miliki.***Ketika malam di hari yang lain... Kael baru saja menyelesaikan tugasnya bersama Azreal. Saat berjalan menuju kamarnya keti

  • Iblis Level Nol   79 - Kerinduan yang Mencekik

    Lyria menoleh, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin. “Ryan memberikan gelang ajaib yang seharusnya melindunginya kepada Leon."Kael mengerutkan kening. “Leon?" Kael menatap Ryan, "Apakah kau tahu di mana Leon sekarang?"Ryan menggeleng. "Tidak."Kael terdiam. Leon seharusnya sudah kehilangan hampir seluruh kemampuannya setelah Abraham menghancurkan inti kekuatannya, tubuhnya pun berada dalam kondisi yang sangat lemah. Namun, jika gelang itu benar-benar melindunginya, berarti masih ada kemungkinan Leon bertahan hidup.Azreal yang mendengar percakapan mereka segera meletakkan gelasnya. "Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui keadaan sebenarnya," katanya tegas. "Kita akan mengirim pengintai untuk mencari informasi tentang Leon." Menoleh ke Kael, "Untuk malam ini, nikmatilah kepulanganmu. Kita akan membicarakan persoalan ini besok."Kael mengangguk, meskipun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan.Lyria kembali menatap Ryan, tidak lagi mengatakan apa-a

  • Iblis Level Nol   78 - Ikutlah Denganku

    "Ya?""Aku akan berangkat besok pagi."Tara mengangguk. "Semoga perjalananmu lancar."Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang kapan mereka akan bertemu lagi. Tidak ada permintaan agar Kael menunggunya. Bahkan, Tara tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun. Kael ingin mengatakan sesuatu, tetapi Enla sudah kembali berbicara mengenai persiapan perjalanan. Pertemuan pun berlanjut, dan selama itu pula, Tara tetap tersenyum seolah tidak ada sesuatu pun yang sedang ditahan di dalam hatinya.Setelah pertemuan selesai, para pejabat mulai meninggalkan ruangan. Lyria sedang berbicara dengan salah seorang tabib mengenai obat yang harus dibawanya selama perjalanan ketika Kael melihat Tara berjalan menuju pintu samping. “Tara, tunggu."Tara menghentikan langkah.Kael segera menghampirinya. "Aku mau bicara sebentar."Tara melirik ke arah Lyria, kemudian mengangguk. “Baik."Kael mengajaknya menuju taman kecil di sisi timur istana. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi pohon-pohon cemara bersalju. Di keja

  • Iblis Level Nol   77 - Tidak Mungkin Tetap di Sini

    Lyria tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana. Tatapannya tertuju kepada Kael, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang sebenarnya telah dia ketahui sejak awal, tetapi tidak pernah benar-benar siap untuk melihatnya.Kael masih mencium Tara. Lalu membuka mata, tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Kael membeku, dia mengenali wajah itu, mengenali mata yang dahulu selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan, mata yang pernah membuatnya merasa bahwa apa pun yang terjadi, selalu ada seseorang yang akan menunggunya pulang.Perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang sudab kehilangan begitu banyak hal, yang baru saja dijanjikan tidak akan kehilangan dirinya begitu saja.Kael perlahan melepaskan ciumannya dari Tara.Namun, Lyria tidak menunggu penjelasan. Air mata mengalir di pipinya, tidak menangis keras-keras, bahkan tidak mengeluarkan suara, hanya menutup mulutnya dengan tangan, seolah takut isakannya akan terdengar. Lalu Lyria menggeleng pelan, bukan sebagai ben

  • Iblis Level Nol   76 - Aku Sungguh Mencintaimu

    "Memastikan obatmu berikutnya sudah disiapkan.""Tara." Perempuan itu berhenti."Apa lagi?"Kael hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya menggeleng. “Tidak jadi."Tara mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Kael memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Ada yang berubah. Tara masih tersenyum kepadanya, mengurus kebutuhannya, memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi perempuan itu tidak lagi berlama-lama di sisinya.Tara tidak duduk menemaninya setelah semua urusannya selesai, tidak menatapnya dengan cara yang sama seperti ketika mereka berada di Gerbang Kekosongan. Kael tahu perubahan itu karena dia menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Tara untuk memahami perasaannya. Perempuan itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.Malam tiba.. langit Bintang Utara dipenuhi cahaya aurora yang bergerak perlahan di antara gugusan bintang. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, Lyria akhirnya diminta beristirahat di kamar yang disediakan khusus untuknya. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status