INICIAR SESIÓNKael mengepalkan tangan kali ini. "Baik. Mari kita mulai."
Lyria menoleh, "Kael? Dia level 17."
"Jangan kawatir." Kael maju menuju arena diikuti Darian, beberapa peserta berkumpul di sekitar arena, guru yang bertugas mengawasi berdiri di tengah.
"Pertarungan berakhir jika salah satu menyerah atau tidak mampu melanjutkan." Darian mengangkat tangan dan api mulai muncul, "Jangan salahkan aku kalau kamu terluka."
Kael hanya berdiam diri.
[Terget terdeteksi.]
[Nama : Darian.]
[Level : 17]
Tersenyum kecil. Kael tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.
Darian menyerang. BOOM! Sebuah bola api melesat, Kael yang menghindar, membuat bola api itu menghantam tanah. Darian menyerang lagi dan lagi, Kael terus bergerak cepat, lebih cepat dari yang bisa dilakukan oleh level nol.
"Dia cepat sekali. Sangat seru! Aku mulai bingung harus mendukung siapa." kasak-kusuk di pinggir arena.
Darian marah, "Berhenti menghindar!"
Kael tersenyum, "Kalau kau bisa menangkapku, aku akan berhenti."
Darian menggertakkan gigi, dia mengumpulkan lebih banyak mana, api besar muncul dari belakang tubuhnya, "Kalau begitu coba hindari ini."
[Peringatan.]
[Serangan area terdeteksi.]
Kael tidak bergerak, dia mengangkat tangannya, yang ditunggu-tunggu telah tiba.
[Devour diaktifkan.]
Api Darian melesat dengan cepat, saat menyentuh tangan Kael, api itu tidak meledak, justru berputar-putar, dan masuk ke tubuh Kael.
[Energi api diserap.]
Semua mata membesar, "Apa yang dia lakukan?"
Kael mengepalkan tangan, muncul api hitam kemerahan, dia mengarahkannya ke tanah di depan Darian. BOOM! Ledakan itu cukup untuk membuat Darian terjatuh, dan Kael tidak menyerangnya lagi.
Darian menatap Kael dengan wajah pucat, "Kau?"
Kael mendekati Darian dan mengulurkan tangan, "Bangun."
Darian menatap tangan itu untuk sesaat, pada akhirnya dia menerima uluran tangan itu, dan Kael menariknya berdiri.
Guru mengangkat tangan, "Pertarungan selesai." Suasana yang tadinya riuh menjadi hening. Anak-anak satu per satu membubarkan diri.
"Menarik."
Suara itu terdengar asing sampai membuat Kael menoleh. Seorang gadis berdiri di balkon akademi, rambut panjang berwarna perak, mata ungu, seragamnya juga berbeda dengan murid biasa. Dia adalah salah satu penyihir muda terkuat di akademi, tatapannya juga tertuju ke Kael.
"Anak itu..." Tersenyum tipis, "jelas bukan level nol biasa."
"Kael!" Lyria mendekat, "Kau tidak terluka? Kau baik-baik saja? Kau benar-benar aneh."
Kael tersenyum, "Kenapa?"
"Semua orang menertawakanmu, tapi kau malah santai."
"Kalau aku marah setiap ada yang mengejekku, aku akan capek."
Lyria tertawa, "Kau benar juga."
"Kael." Gadis yang tadi berdiri di balkon mendekat. Usianya sekitar tujuh belas tahun, tetapi aura yang dimiliki mampu membuat para murid langsung menyingkir.
Lyria berbisik, "Dia Evelyn, penyihir jenius di akademi."
"Kenapa?" tanya Kael yang dari tadi menatap Evelyn.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Untuk apa?"
"Karena aku penasaran."
"Padaku?"
"Lebih tepatnya..." Evelyn mendekat lagi, "pada kemampuanmu." Langsung mengangkat tangan, bola api muncul, dan dilempar ke Kael.
"Evelyn!" teriak Lyria.
Kael tidak bergerak, api berhenti tepat di depan wajah Kael, tidak sampai menyentuh.
Evelyn mengendalikan sihirnya dengan sempurna, "Aku hanya ingin menguji sesuatu."
Kael menatap api tersebut.
[Energi sihir terdeteksi.]
[Kualitas energi : Tinggi.]
Kael menahan kemampuan Devour-nya, dia tak mau kemampuannya diketahui orang lain, kalau menyerap energi Evelyn, bisa-bisa terbongkar dan kacau.
Evelyn mematikan apinya, "Menarik."
Kael mengerutkan kening, "Apa?"
"Kau tidak menggunakan sihir untuk menghindar, tapi kau juga tidak takut."
Kael tersenyum, "Mungkin aku pemberani."
Evelyn tertawa pelan, "Atau mungkin kau tahu bahwa aku tidak akan menyakitimu." Berjalan melewati Kael, "Suatu hari nanti aku akan mengetahui rahasiamu."
Kael menoleh, "Kalau begitu semoga beruntung."
Evelyn berhenti, menoleh sambil tersenyum, "Terima kasih." Pergi.
Kael tahu betul kalau Evelyn berbahaya, bukan karena kekuatannya, tetapi karena terlalu banyak memperhatikan. Dia harus hati-hati.
Lyria menoleh, "Kau mengenalnya?"
"Tidak."
"Dia tertarik padamu."
Kael mengangkat alis, "Karena kemampuanku?"
"Ya." Lylia jadi kesal.
Kael membuka sistem.
[Devour tingkat 2]
[Kemampuan baru : Analisis jiwa.]
[Memungkinkan Host melihat sebagian informasi tersembunyi dari target.]
Kael melihat ke arah Evelyn yang semakin menjauh.
[Nama : Evelyn.]
[Ras : Iblis.]
[Level : 32]
[Bakat : Penyihir Agung.]
[Status khusus : ???]
Kael mengerutkan kening, sistem tidak bisa membaca status khususnya, dia lebih fokus lagi menatap Evelyn.
Tiba-tiba Evelyn juga menoleh ke arah Kael, 'Siapa sebenarnya anak level nol itu?' pikirnya. Melihat Kael memperhatikannya, Evelyn melempar senyum, dan kembali menjauh.
***
Setelah ujian level kemarin, hari ini ujian mana, dan kelas akan dibagi setelahnya. "Menurutmu kita sekelas?" tanya Lyria yang duduk di sebelah Kael.
"Entahlah."
"Kuharap begitu."
"Kenapa?" Kael menoleh.
"Karena aku sudah mengenalmu sejak kecil." Lyria tersenyum.
Kael ikut tersenyum, "Kalau begitu jangan khawatir."
"Maksudnya?"
"Aku juga berharap kita satu kelas."
Pembicaraan itu berhenti saat guru masuk, "Mulai hari ini, kalian akan belajar tiga hal utama. Sihir, pertarungan, dan pengendalian mana." Mengeluarkan kristal dan murid satu per satu menyentuhnya. "Mana 120. Mana 180. Mana 230." Sorakan terdengar setiap kali angka tinggi disebut guru.
Saat giliran Lyria, kristal yang disentuh berwarna merah menyala, dia tersenyum bangga.
"Mana 310. Bagus! Sangat bagus untuk usiamu." Guru menatap Kael karena sekarang giliriannya.
Dengan malas Kael maju, mana tidak terlalu penting baginya, dia bisa menyerap mana dari mana pun, tetapi ujian ini tidak bisa dihindari. Kale mengulurkan tangan untuk menyentuh kristal itu.
Guru mengerutkan kening, "Salurkan mana."
Langit menggelap, garis bintang berwarna ungu semakin membesar di langit, Evelyn berdiri di tengah aula dengan mata nyalangnya menatap ke penyusup. "Jangan menyentuhnya." Gema suara itu membuat pada menyusup bergeming. "Evelyn? Kau masih hidup?" Kael menoleh ke Evelyn, energi gadis itu naik pesat, tetapi tetap tak bisa dideteksi. "Pergi!" Petir keunguan menyambar-nyambar di langit akademi. Tiga menyusup menoleh ke Kael, "Anak level nol. Aku akan datang kembali!" Menghilang bersamaan dengan debu yang memenuhi akademi. Lyria berlari mendekati Kael, "Kau terluka?" Menggeleng, "Hanya luka kecil. Jangan kawatir." "Tentu saja aku khawatir, bagaimana kalau kau terluka, dan mati?" "Kau pikir aku akan mati semudah itu?" "Aku tidak tahu. Aku hanya takut kamu mati." Kael tersenyum, "Memangnya kenapa kalau aku mati?" "Nanti siapa yang akan menggangguku? Berteman denganku? Yang-" Kael langsung mengacak rambut Lyria, "Aku tidak akan mati semudah itu." Evelyn menarik Kael,
Kael mencobanya, tetapi kristal itu tidak mengeluarkan cahaya apa pun, dia hanya merasakan hangat di telapak tangannya."Mana-nya juga nol? Benar-benar level nol." Murid lain tertawa.Kael menarik tangan dan menatap gurunya."Tidak perlu dipaksakan." Guru menyuruh Kael kembali ke tempat duduk, "Selanjutnya."Kael masih memegangi tangannya.[Kristal mana terdeteksi.][Energi tersedia.][Devour dapat digunakan.]Dia malah baru tahu kalau kristal pun energinya bisa diserap. Setelah pelajaran selesai, Kael berjalan sendiri ke taman belakang, dia akan membuka sistem di kepalanya, sepertinya ada yang belum diketahui."Kael."Saat menoleh, Evelyn sudah berdiri di belakang Kael, "Kau menguntitku?""Tidak.""Kalau tidak kenapa kau ada di sini?""Aku hanya ingin menawarkan sesuatu." Evelyn mengeluarkan kotak kecil dan menyodorkannya ke Kael, "Kristal sihir, ini hadiah pertemanan kita, kuharap kamu menerimanya."Kael mengerutkan kening, "Kenapa kau memberikannya padaku?""Anggap saja hadiah. Sia
Kael mengepalkan tangan kali ini. "Baik. Mari kita mulai."Lyria menoleh, "Kael? Dia level 17.""Jangan kawatir." Kael maju menuju arena diikuti Darian, beberapa peserta berkumpul di sekitar arena, guru yang bertugas mengawasi berdiri di tengah."Pertarungan berakhir jika salah satu menyerah atau tidak mampu melanjutkan." Darian mengangkat tangan dan api mulai muncul, "Jangan salahkan aku kalau kamu terluka."Kael hanya berdiam diri.[Terget terdeteksi.][Nama : Darian.][Level : 17]Tersenyum kecil. Kael tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.Darian menyerang. BOOM! Sebuah bola api melesat, Kael yang menghindar, membuat bola api itu menghantam tanah. Darian menyerang lagi dan lagi, Kael terus bergerak cepat, lebih cepat dari yang bisa dilakukan oleh level nol."Dia cepat sekali. Sangat seru! Aku mulai bingung harus mendukung siapa." kasak-kusuk di pinggir arena.Darian marah, "Berhenti menghindar!"Kael tersenyum, "Kalau kau bisa menangkapku, aku akan berhenti."Darian mengge
Bentakan itu membuat Kael menunduk diam.Seraphina malah tertawa kecil, "Bairkan dia istirahat, Sayang."Azreal menoleh, "Seraphina!""Anak kita baru sepuluh tahun." Seraphina mendekati Kael dan memeluk putranya, "Kalau Kael belum mau cerita, jangan dipaksa." Mengangkat wajah putranya dan tersenyum."Terima kasih, Ibu."Seraphina mengusap kepala Kael, mengecup, dan membiarkan Kael pergi."Kael." Azreal merendahkan lagi nada bicaranya."Ya, Ayah?" Kael berhenti di tengah jalan sebelum masuk ke kamarnya.Aura samar berbau naga yang dari tadi terus menganggu, membuat Azreal semakin khawatir, "Mulai besok kau tidak boleh pergi ke Hutan Arken sendirian."Kael mengangguk, "Baik, Ayah." Sesampainya di kamar, Kael memeriksa levelnya lagi, dia heran karena masih saja nol, "Padahal aku sudah lebih kuat. Apa yang salah? Kenapa angka itu tidak berubah?"[Misi tersembunyi telah terbuka.][Menantang takdir.][Syarat : Mencapai kekuatan yang tidak dapat diukur oleh Sistem Dunia.][Hadiah : Tidak dik
Tetapi tepat sebelum menyentuh tubuh Kael...[Devour aktif.]Cahaya hitam menyelimuti tangan Kael, tubuh Shadow Wolf mendadak berhenti, lalu jatuh tak sadarkan diri.[Kekuatan berhasil diserap.][Kecepatan meningkat.][Indra malam diperoleh.]Kael merasakan sesuatu, penglihatannya jadi lebih tajam, pendengarannya semakin jelas, bahkan dia mendengar detak jantung pengawalnya. "Menarik.""Yang... Yang Mulia melakukan apa?" Pengawal itu kebingungan.Kael tersenyum, "Entahlah. Ayo!" Keduanya melanjutkan perjalanan lagi lebih jauh ke dalam dan kali ini langkah Kael jadi lebih ringan. Semakin dalam, semakin kuat monster yang muncul, membuat Kael bersemangat.Level 5.Level 8.Level 10.Kael tidak membunuh apa pun, dia hanya menyerap sedikit demi sedikit, dan setiap kali Devour aktif kemampuannya bertambah.[Kekuatan diserap.][Pengelihatan malam diperoleh.][Indra penciuman diperoleh.][Regenerasi minor diperoleh.]Kael mulai memahami sesuatu, Devour bukan sekedar menyerap energi, tetapi j
Debu memenuhi taman, Ravian tersenyum puas, tetapi beberapa detik kemudian senyumnya menghilang. Dari balik debu Kael berdiri, tidak terluka, bahkan pakaiannya tidak terbakar. Ravian terbelalak, "Mustahil." lirihnya.Kael melihat tangannya sendiri, di dalam tubuhnya sesuatu sedang bergerak, hangat, dan terus menjalar ke seluruh tubuh.[Serangan sihir terdeteksi.][Kemampuan Devour aktif.][Energi api berhasil diserap.]Kael tersenyum. 'Jadi begini rasanya menyerap sihir secara langsung.' pikirnya. Dia menoleh ke Ravian, "Giliranmu."Ravian mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya dia merasa takut kepada seseorang yang tercatat sebagai level nol.Dari balkon istana ... sepasang mata merah sedang mengawasi mereka, Azreal.Seraphina yang tengah minum teh, mendekati suaminya, "Sepertinya putra kita mulai tumbuh."Azreal tidak menjawab, tatapannya semakin fokus dan serius karena dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aura Kael bukan aura iblis biasa, "Seraphin







