Share

Ibu Anak Sang Miliarder
Ibu Anak Sang Miliarder
Author: Lumi Lite

1

Author: Lumi Lite
last update publish date: 2026-08-10 00:43:43

“Olivia, cepat buka internet! Kau tidak akan pernah menyangka siapa yang sedang trending!”

Aku meringis mendengar pekikan Alice yang penuh semangat, bernada tinggi, dan hampir memekakkan telinga dari ponselku. Hal yang seharusnya sudah biasa mengingat dia telah menjadi sahabatku selama dua belas tahun, tetapi nyatanya aku tetap belum terbiasa.

“Aku sedang tidak punya waktu untuk gosip selebritas, Alice.” Aku mendengus sambil mengeluarkan piring-piring dari mesin pencuci piring. “Seharian ini aku bahkan hampir tidak sempat membereskan barang-barang karena anak-anak. Aku-“

“Kau pasti akan punya waktu kalau tahu yang sedang trending itu adalah kau dan seorang miliarder tertentu.” Dia terkekeh seperti Harley Quinn, dan aku hampir bisa membayangkan seringai psikopat di wajahnya.

“Kenapa aku dan seorang miliarder...”

Tunggu?! Seorang miliarder... Maksudnya...

Dadaku langsung sesak saat memikirkan dirinya.

“Tolong bilang itu bukan miliarder yang itu,” bisikku.

“Memangnya siapa lagi?! Kalian berdua ada di seluruh berita!” pekik Alice.

Kakiku gemetar menopang tubuhku, dan aku bersandar pada meja dapur. Aku menggigil seolah seseorang baru saja menyiramku dengan air es.

“K-Kenapa?!”

“Cari saja Dante Romero, nanti kau akan mengerti maksudku! Aku tidak perca-“

“Nanti aku telepon lagi.”

“Tunggu-“

Aku mengakhiri panggilan itu dan langsung membuka G****e. Jariku gemetar saat mengetik nama satu-satunya pria yang telah bersumpah tidak akan pernah lagi kulibatkan dalam hidupku.

“Tidak!” Aku terkesiap. Cairan asam naik ke tenggorokanku. Mata hazelku membelalak melihat deretan berita yang memenuhi internet.

Olivia Miller, wanita muda yang terlibat dalam skandal seks Dante Romero lima tahun lalu, baru-baru ini terlihat bersama anak kembar tiga yang identik. Mungkinkah mereka anak Dante?

“Tidak, tidak, tidak!”

Aku menggulir layar ponselku, membaca satu demi satu berita tentang diriku, anak-anakku, dan Dante Romero.

‘Bagaimana?’

‘Kenapa?’

Aku menatap foto diriku dan putra-putraku saat sedang menaiki taksi, jelas-jelas diambil tanpa izin. Dilihat dari waktunya, foto itu pasti diambil beberapa menit setelah kami meninggalkan bandara.

“Domba.” Aku menjatuhkan ponselku ke atas meja dapur lalu menarik rambut cokelat kastanyeku dengan frustrasi.

‘Ini tidak mungkin terjadi. Ini benar-benar tidak mungkin terjadi! Aku sudah merencanakan awal yang baru di LA, tetapi masa lalu terkutuk itu tetap saja kembali menghantuiku.’ Aku mondar-mandir di dapur, berusaha mengusir kenangan pahit lima tahun lalu yang terus menghantui pikiranku.

‘Apa yang harus kulakukan? Anak-anak masih terlalu kecil untuk menghadapi semua drama ini. Haruskah aku-‘

Ding Dong.

Suara bel pintu membuyarkan lamunanku, dan aku langsung membeku di tempat. Perasaan pahit bahwa dialah yang berada di balik pintu mulai mencekik tenggorokanku.

Ding Dong.

Bel pintu itu berbunyi lagi, dan aku menarik napas panjang yang gemetar.

‘Kau terlalu paranoid, Olly. Tidak mungkin dia sudah menemukanmu secepat ini.’

Aku melangkah pelan menuju ruang tamu. Pintu depan rumahku tampak jauh lebih besar dan mengintimidasi setiap kali aku semakin mendekat.

Ding Dong.

Jari-jariku gemetar saat menyentuh gagang pintu.

“Kau hanya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan terjadi,” bisikku sambil membuka pintu.

Dalam sekejap, sesosok pria tinggi berbaju gelap menerobos masuk melewatiku lalu membanting pintu hingga tertutup.

“Apa ap-“

“Akhirnya kau membuka pintu juga, Nona Miller.”

Darah di tubuhku seakan membeku mendengar suara pria di hadapanku yang dingin dan datar.

Tatapanku bergerak menyusuri tubuhnya yang dibalut jas, melewati rahangnya yang tegas, lalu berhenti pada sepasang mata biru tajam yang menatap lurus ke arahku.

“Oh, domba,” embusku.

Berdiri di hadapanku adalah pria paling diidamkan di Los Angeles, Sang Raja Es, Dante Romero, dalam seluruh aura gelapnya.

“Anak-anakku, di mana mereka?”

Domba kuadrat.

Jantungku berdegup kencang di dalam dada. Bagaimana mungkin dia menemukan kami padahal kami baru kembali ke LA hari ini?

“A-Apa maksudmu anak-anak?” Aku meringis mendengar gagapku sendiri.

Mungkin... hanya mungkin... pertanyaanku akan terdengar lebih meyakinkan seandainya suaraku tadi tidak melengking seperti tikus.

“Jangan pura-pura bodoh di depanku.”

Mata Dante menyipit hingga hanya tinggal garis tipis, lalu ia melangkah mendekat. Tubuhnya yang jauh lebih besar, berotot, serta kehadirannya yang begitu mengintimidasi seolah mencekik paru-paruku. Aku mundur selangkah.

“Aku tahu kau hamil setelah insiden kecil kita lima tahun lalu.”

Mayday! Mayday! Jangan tinggalkan aku begini, otak! Cepat pikirkan alasan!

“Kau tidak mungkin benar-benar percaya dengan rumor di internet. Itu pasti boho-“

“Jadi kau menyiratkan bahwa aku cukup bodoh untuk mendasarkan tuduhanku pada gosip?”

Ia kembali melangkah maju dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan.

“B-bukan, Tuan. Bukan itu maksudku. Aku hanya... maksudku... tidak ada yang seharusnya percaya pada internet... Bukan berarti Anda mempercayainya... Maksudku...” Aku menggeleng cepat, menggerakkan kedua tanganku ke sana kemari sambil mundur selangkah setiap kali ia maju. Punggungku akhirnya membentur dinding, dan kepanikanku langsung melonjak.

“Harus kuakui, saat pertama kali melihat berita itu, kupikir itu hanya ulah para troll. Namun, rasa penasaranku terusik. Setelah menggali sedikit lebih dalam, aku menemukan bahwa kau memang melahirkan anak-anakku.”

Dante menerobos masuk ke dalam ruang pribadiku, dan aku langsung terdiam di bawah aura mengintimidasinya.

“Aku datang untuk membawa pulang anak-anakku.”

“Hah?!” Aku melongo menatapnya. Apa dia baru saja menuntut anak-anakku, atau aku salah dengar?

“Maaf... tapi sepertinya aku tidak mengerti maksud ucapanmu.”

“Apa kau sebodoh itu? Aku datang untuk membawa pulang anak-anakku, Nona Miller. Di mana mereka?”

Kini giliranku menatapnya dengan tatapan mematikan. Pria ini benar-benar punya keberanian menghina orang sambil mengajukan permintaan yang begitu konyol.

“Maaf, tapi tidak, Tuan Romero.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Kerutan di wajah Dante semakin dalam.

“Itu bukan permintaan ataupun saran. Itu perintah.” Ia melempariku tatapan tajam yang kubalas tanpa gentar.

“Dan setahuku, aku tidak bekerja untukmu. Mereka putra-putraku, dan aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu.”

“Mereka juga anak-anakku-“

“Ya, anak-anak yang bahkan keberadaannya baru kau ketahui beberapa jam yang lalu.”

“Karena kau menyembunyikan mereka dariku.” geramnya sambil menghantam pintu dengan kepalan tangan. Dan aku menolak untuk bergeming.

Kalau dia pikir aku akan gentar hanya karena intimidasi murahan seperti itu, dia salah besar.

“Kau menuduhku dan nyaris mengancam nyawaku. Bagaimana kau mengharapkanku memberi tahu bahwa aku hamil saat kau bahkan tidak tahan melihat wajahku?”

“Itu tetap tidak memberimu hak untuk menyembunyikan keberadaan putra-putraku. Aku ayah mereka.”

“Dan hanya karena kau ayah mereka bukan berarti kau berhak menerobos masuk ke rumahku lalu menuntut anak-anak yang telah kulahirkan dan kubesarkan selama bertahun-tahun. Kau sama sekali tidak mengenal mereka. Astaga, bahkan nama mereka pun kau tidak tahu.”

“Liam, Michael, dan Nathan.”

Nama ketiga putraku meluncur begitu saja dari bibirnya, membuatku berkedip.

Bagaimana mungkin dia tahu?

Oh, benar. Dia bilang tadi dia menyelidiki masa laluku.

Pikiran tentang seberapa banyak yang ia ketahui tentang diriku membuat kulitku meremang.

“Lalu menurutmu itu membuatmu jadi ayah yang sempurna?” Aku mendengus sinis, dan wajah Dante langsung menggelap.

“Dan kau pikir kau lebih baik?” balas Dante. “Menurutku, wanita yang bersedia memanfaatkan keadaan seorang pria yang sedang dibius lalu tidur dengannya demi uang bahkan tidak pantas menjadi seorang ibu.”

Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada sambaran petir. Air mata menggenang di pelupuk mataku, tetapi segera kutahan. Lima tahun telah berlalu, namun dia masih menganggapku seorang wanita murahan. Aku jadi bertanya-tanya berapa banyak orang yang juga mempercayai kebohongan itu.

“B-bukan begitu yang terjadi!” isakku, tak mampu menghentikan suaraku yang bergetar.

“Oh, ya?” Ia menyeringai mengejek sambil menatapku seolah-olah aku hanyalah seonggok sampah.

Aku tidak tahu! Ingin sekali aku berteriak.

Satu menit sebelumnya, aku masih asyik memakan sekotak cokelat yang kuterima dari seorang pengagum rahasia setelah menyelesaikan shift malam paruh waktuku di hotel.

Keesokan paginya, aku terbangun dalam keadaan telanjang, tubuhku pegal, terbaring di samping seorang pria asing... dan keperawananku telah hilang.

Aku bersumpah, aku tidak tahu bagaimana semua itu bisa terjadi.

“Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, silakan pe-“

Dante meraih pergelangan tanganku dan menarikku ke arahnya sebelum sempat kusentuh gagang pintu.

Semburat merah langsung menghiasi pipiku karena jarak kami yang begitu dekat. Dada kami hanya terpaut beberapa sentimeter, dan aku takut dia bisa mendengar detak jantungku yang menggila. Di bawah tubuhnya yang menjulang tinggi dan tatapan dingin nan tajamnya, aku merasa begitu kecil.

Tatapanku menyusuri setiap lekuk wajah tampannya, dan semburat merah di pipiku semakin pekat. Rahang yang tegas, kulit sawo matang yang mulus, rambut hitam legam, serta mata biru yang memikat. Tidak heran begitu banyak wanita tergila-gila padanya. Dia tampan luar biasa... dengan cara yang nyaris membuat dosa.

“Berapa yang kau inginkan? Sebutkan hargamu.” Dante menyeringai sinis sambil mengeluarkan buku cek dari saku jasnya.

Bibirku langsung melengkung membentuk seringai tajam.

“Anak-anakku bukan barang dagangan. Dan apa pun yang kau katakan atau lakukan tidak akan membuatku menyerahkan mereka kepadamu.” Aku mengertakkan gigi lalu menarik kasar tanganku dari genggamannya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau gugatan hak asuh?” ujarnya santai, bibirnya terangkat membentuk seringai licik. “Dengan kekuasaanku dan kondisi keuanganmu yang menyedihkan, aku bisa memastikan kau tidak akan pernah melihat anak-anakmu lagi.”

Tidak akan pernah melihat putra-putraku lagi?!

Kata-katanya menancap ke dalam diriku bagaikan taring berbisa seekor ular.

“K-kau tidak akan sekejam itu.” Suaraku bergetar.

Benarkah dia akan melakukannya?

Tidak mungkin dia setega itu.

Tawa rendah dan kelam bergema di seluruh ruang tamu.

Dante melingkarkan lengannya di pinggangku dan menarik tubuhku rapat ke tubuhnya. Aku menegang dalam pelukannya, membeku oleh rasa takut, amarah, dan hasrat aneh yang berdenyut di setiap nadiku.

“Aku Dante Romero, Sayang.” Suaranya rendah dengan nada yang berbahaya sekaligus menggoda, membuat pipiku memanas. “Ada banyak hal yang berani kulakukan, jauh melampaui apa yang bisa kau bayangkan.”

Dante memiringkan kepalanya, menempelkan bibirnya yang begitu menggoda tepat di dekat telingaku.

“Aku memberimu dua pilihan, Olivia: pindah dan tinggal bersamaku atau bersiaplah untuk tidak pernah melihat putra-putramu lagi.”

Apa pun ketertarikan yang sempat kurasakan padanya seketika hangus tak bersisa.

'Catatan untuk diriku sendiri, Olivia;'

'Dante Romero mungkin adalah mahakarya yang diciptakan Tuhan, tetapi dia memiliki hati iblis. Jangan pernah melupakan itu.'

“Baik.” Kata itu terasa seperti racun saat keluar dari bibirku.

Seringai puas yang menyebalkan menghiasi wajah Dante, dan aku menggeram, ingin sekali menamparnya hingga seringai itu lenyap.

“Bagus.” Dante melepaskan tangannya dari pinggangku, membiarkan ujung jarinya menyusuri tepian kausku. Aku langsung menepis lengannya dan menatapnya dengan jijik.

“Kau punya waktu lima menit. Tidak usah repot-repot membawa apa pun. Semua yang kau butuhkan sudah tersedia di mansion.”

Tanpa menjawab, aku berjalan keluar dari ruang tamu dengan langkah penuh amarah, mati-matian menahan keinginan untuk meninju selangkangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Anak Sang Miliarder   51

    ‘Nggak separah yang kuingat.’ Aku menyemangati diriku sendiri saat berdiri di depan dapur, menatap pintunya seolah-olah pintu itu adalah sesuatu yang merangkak keluar dari mimpi buruk paling menakutkanku.Sudah beberapa menit lewat pukul tujuh, dan aku meninggalkan kamar untuk menyiapkan sarapan ekstra spesial untuk semua orang karena suasana hatiku sedang ceria dan bersemangat sampai aku tiba di dapur. Kenangan tentang apa yang terjadi kemarin kembali terlintas di kepalaku, dan aku langsung mundur dari pintu.‘Cuma sedikit berantakan di sana-sini, nggak ada yang parah.’ Gambaran terakhir tentang kondisi dapur kembali muncul di pikiranku, seolah-olah mengingatkanku betapa parah keadaannya, dan aku meringis. ‘Oke, ternyata memang jauh lebih parah daripada sekadar sedikit berantakan, tapi lebih baik tetap berpikir positif dalam situasi yang gelap, dan situasi ini benar-benar gelap.’Tanganku menyentuh gagang pintu yang dingin, yang terasa lebih dingin dari biasanya dan sama sekali tidak

  • Ibu Anak Sang Miliarder   50

    Dante mengantarku ke kamarku dengan tanganku yang melingkar di lengannya, dan seperti tadi malam, aku merasa takut saat kami semakin dekat dengan kamarku. Sekali saja, kenapa waktu tidak bisa menuruti keinginanku? Aku hanya ingin berada di sisi Dante—nggak perlu bicara, nggak perlu melakukan apa-apa, hanya ingin dia memelukku erat. Apa itu terlalu banyak untuk diminta?‘Aku cuma ingin dia memeluk dan mendekapku, dan mungkin kalau suasananya tepat, dia bisa memberiku salah satu ciumannya yang luar biasa—aku bersumpah kau benar-benar sudah gila, Olly. Gila banget, karena kalau tidak, kau nggak mungkin memikirkan semua hal aneh ini tentangnya.’ Aku menyelipkan pikiran-pikiran konyol itu ke sudut tergelap kepalaku sebelum semuanya menjadi satu-satunya hal yang bisa kupikirkan, lalu mencari pengalih perhatian dengan cepat.Tatapanku beralih kepada Dante, dan aku mengamatinya sebisa mungkin tanpa terlihat mencolok. Dia masih santai, dan ada kehangatan di sekelilingnya yang membuatku ingin m

  • Ibu Anak Sang Miliarder   49

    Ini adalah kedua kalinya aku mendengar tentang ayah Eve, dan aku tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan, tetapi dia sepertinya sangat suka mengontrol dan terlalu protektif. Eve tidak terdengar seperti membencinya, jadi bisa kusimpulkan dia melakukannya dengan niat baik, tetapi sudah sangat jelas bahwa Eve sudah lelah menghadapinya.“Tapi berjanjilah padaku, kalau kau butuh babysitter dan aku sedang berada di L.A., kau akan meneleponku pronto. Tolong?” pintanya, memasang tatapan mata memelas dan bibir cemberut.“Tentu. Kau akan menjadi orang pertama yang terpikir olehku.” Aku tersenyum. Dan aku sama sekali tidak berbohong tentang apa yang kukatakan. Aku dengan senang hati akan mempercayakan anak-anakku kepadanya.“Thankie! Kau baikkkk bangettt!!” serunya sambil melompat-lompat di tempat. “Aku harus pulang sekarang. Levi di mana? Seharusnya dia yang mengantarku.”“Dia tidak bilang padamu? Dia pergi sebelum pestanya selesai.” Dante mengerutkan kening, dan Eve menggeleng.“Nggak.”

  • Ibu Anak Sang Miliarder   48

    ‘Apa aku dengar apa yang kukira baru saja dia katakan?! Dia akan membiarkanku pergi?!’ Otakku berusaha memahami perkataannya, tetapi tidak bisa.“Kau serius?” bisikku, menatapnya seolah-olah kepalanya baru saja ditumbuhi kaki. “Kau akan membiarkanku pergi bersama anak-anak? Kau tidak menyayangi mereka?”Aku benar-benar tidak bisa memahami dirinya. Aku sama sekali tidak bisa memahaminya. Bukankah dia menyayangi mereka? Bagaimana dengan semua omongannya tentang memiliki sebuah keluarga? Bukankah dia ingin mereka menjadi bagian dari keluarganya? Apa dia berencana menikahi wanita lain, membangun keluarga dengannya, dan meninggalkan kami—maksudku, anak-anaknya?“Aku menyayangi anak-anakku, dan aku tidak ingin mereka pergi. Tapi aku tidak mau kau berada di sini hanya karena aku memaksamu untuk tinggal,” jawab Dante, dan sebersit rasa sakit menari di mata birunya.“Setelah aku membereskan urusan Laura, kau bebas pergi. Tentu saja, kita akan menentukan hari-hari aku akan mengunjungi mereka, a

  • Ibu Anak Sang Miliarder   47

    “Jadi, sekarang apa pendapatmu tentangku?” bisik Dante, hampir seperti dia takut dengan apa yang akan kukatakan, dan aku meletakkan tanganku di wajahnya. Sensasi kulitnya dan janggut tipis yang bergesekan dengan telapak tanganku terasa begitu menyenangkan, dan aku tak bisa menahan diri untuk mengusap pipinya dengan lembut.“Di balik kepribadianmu yang dingin, mengintimidasi, dan tampaknya kejam, ada sisi penyayang, suka bermain-main, percaya diri dengan cara yang menawan, dan sabar yang tersembunyi. Selama beberapa minggu kita menghabiskan waktu bersama, aku belajar melihat melewati sisi luarmu yang dingin dan mengenal bagian dirimu itu, dan aku mencin—maksudku, menghargainya. Aku benar-benar menghargainya.” Aku tersenyum dan hampir menampar diriku sendiri karena kesalahan yang hampir saja kuucapkan.‘Cinta? Serius, Olly? Aku cuma berharap dia tidak menyadarinya.’“Kau ingin mengatakan cinta, kan?” Bibirnya melebar menjadi seringai, dan matanya yang tadi terlihat lesu kini berbinar pe

  • Ibu Anak Sang Miliarder   46

    “Kenapa tidak?” Dante memiringkan kepalanya. “Semua yang dia katakan tentangmu itu tidak benar.”“Aku tidak mengerti dirimu, Dante.” Aku menghela napas dan menggelengkan kepala.“Apa yang tidak bisa kau mengerti dariku?” tanyanya.“Yah…” Aku menggantung kalimatku dan meremas kedua tanganku.‘Ini dia, Olly. Saatnya tahu di mana sebenarnya posisimu dalam hidupnya.’“Jelaskan saja terus terang karena aku sudah mencoba memahaminya, tapi aku tidak bisa. Jadi katakan padaku, Dante, apa artinya aku bagimu?” tanyaku. Suaraku nyaris lebih keras daripada bisikan, tapi cukup tegas dan terdengar jelas olehnya.“Maksudku, menurutmu aku ini orang baik atau orang jahat? Karena terkadang aku merasa kau menganggapku orang jahat, tapi caramu memperlakukanku tidak terasa seperti itu. Dan aku benar-benar bingung. Saat pertama kali kita bertemu, kau tidak segan-segan mengatakan bahwa kau mengira aku sudah merencanakan apa yang terjadi di antara kita lima tahun lalu dan bahwa aku mengincar uangmu. Kau bahk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status