Home / Romansa / Ibu Kost yang menggoda / Bayang-bayang Masa Lalu

Share

Bayang-bayang Masa Lalu

last update Last Updated: 2025-08-12 19:29:26

Hujan deras yang mengguyur sejak sore tadi masih enggan reda ketika Arven dan Ravika duduk di ruang interogasi kantor polisi. Ruangan itu dingin, berbau kertas lembap bercampur kopi basi. Lampu neon di atas kepala berkelip sesekali, menambah kesan muram dan penuh tekanan.

Arven duduk tegak di kursi besi, kedua tangannya terkunci erat di atas meja. Meski ia berusaha terlihat tenang, sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Ravika, di sisi lain, duduk agak menyamping. Pundaknya kaku, jemarinya mencengkeram tali tas di pangkuannya seakan benda itu satu-satunya pegangan hidupnya malam itu.

Seorang penyidik bertubuh tegap menatap mereka dengan wajah keras. Tanpa basa-basi, ia menyodorkan sebuah foto ke arah mereka. Foto seorang pria bertopeng hitam, dengan mata yang tajam dan penuh ancaman.

“Ini yang kalian lihat malam itu?” tanyanya, nada suaranya tegas, bahkan menusuk.

Arven menunduk, menatap foto itu dengan seksama. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia mengangguk mantap.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ibu Kost yang menggoda   Tidak ada Garis Akhir

    Tidak ada yang berubah saat angka di kalender bergeser.Ravika menyadarinya pagi itu, ketika ia berdiri di dapur dengan gelas air di tangan, menatap jendela yang sama, cahaya yang sama, dan suara pagi yang sama. Tidak ada sensasi “bab baru.” Tidak ada penanda tak kasatmata yang memberi tahu bahwa sesuatu telah selesai.Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencarinya.Ia minum air sampai habis, meletakkan gelas di wastafel, lalu membilasnya tanpa niat berlebihan. Air mengalir. Tangan bergerak. Pagi berjalan.Manajer hadir, hampir tak terasa.Parameter stabil. Tidak ada kebutuhan intervensi.“Ya,” gumam Ravika. “Gue juga ngerasa.”Ia bersiap seperti biasa. Baju yang bersih. Sepatu yang itu-itu lagi. Tas yang isinya tidak berubah signifikan. Tidak ada keputusan simbolik. Tidak ada “mulai hari ini.”Di luar, jalanan sedikit lebih ramai. Ada sekolah yang baru masuk lagi. Anak-anak berseragam berjalan berkelompok, suara mereka memecah pagi. Ravika melambat sebentar agar tidak memotong jalan

  • Ibu Kost yang menggoda   Hari yang Tidak Perlu Dijelaskan

    Pagi datang tanpa sisa kemarin.Itu bukan karena Ravika melupakan apa yang terjadi, tapi karena tubuhnya tidak lagi menyimpannya sebagai beban. Ia bangun sebelum alarm, mematikannya tanpa suara, lalu duduk sebentar di tepi kasur. Tidak ada jeda panjang. Tidak ada dorongan untuk mengecek apa yang ia rasakan.Ia hanya bangun.Di kamar mandi, air mengalir seperti biasa. Ia menyikat gigi, membasuh wajah, dan menyadari satu hal kecil: bahunya tidak setegang dulu. Bukan rileks sepenuhnya—hanya tidak terangkat tanpa alasan.Manajer hadir samar.Kondisi baseline stabil.“Ya,” gumam Ravika. “Kayaknya gue mulai kenal rasanya.”Sarapan berlangsung cepat. Nasi sisa semalam, lauk seadanya. Ia makan sambil berdiri, lalu mencuci piring tanpa menunda. Tidak ada alasan khusus. Hanya alur yang jalan.Di luar, udara pagi sedikit lebih dingin. Ravika mengenakan jaket tipis, menyalakan motor, dan melaju. Jalanan masih lengang. Lampu hijau terasa lebih lama. Lampu merah tidak terasa menghalangi.Di satu ti

  • Ibu Kost yang menggoda   Setelah Semua Tetap Bergerak

    Sore menyusul siang tanpa jeda yang jelas.Ravika pulang lebih cepat pada hari itu, bukan karena izin khusus, tapi karena pekerjaannya memang sudah selesai. Ia menutup laptop, merapikan meja seperlunya, lalu berdiri tanpa melihat ke belakang. Tidak ada dorongan untuk memastikan semua rapi. Besok masih ada.Di luar gedung, panas mulai turun. Udara terasa jauh lebih ringan, meski debu tetap ada. Ravika menarik napas panjang saat helm terpasang—bukan ritual, hanya refleks tubuh yang ingin mengisi paru-paru sebelum bergerak.Manajer tidak berbicara.Perjalanan pulang terasa datar, tapi tidak hampa. Lampu lalu lintas berganti seperti biasa. Ada pengendara yang terburu-buru, ada yang santai. Ravika berada di tengah-tengah, mengikuti arus tanpa melawan.Di satu lampu merah, ia teringat percakapan tadi siang. Bukan dialognya, tapi rasanya. Tidak ada sisa panas. Tidak ada kebutuhan untuk mengulang atau memperbaiki.Ia tidak menyimpannya sebagai kemenangan.Ia juga tidak menekannya sebagai kega

  • Ibu Kost yang menggoda   Meja ditengah Hari

    Siang tidak pernah dramatis.Itu hal pertama yang Ravika sadari saat ia memarkir motor di bawah pohon yang daunnya jarang, bayangannya terputus-putus di aspal. Matahari tepat di atas kepala, membuat segala sesuatu terlihat apa adanya—tidak disembunyikan oleh gelap, tidak dilembutkan oleh pagi.Ia datang sepuluh menit lebih awal. Bukan karena ingin siap, tapi karena tubuhnya memilih begitu. Kafe kecil itu hampir kosong. Dua meja terisi. Musik diputar pelan, lagu yang tidak ia kenal dan tidak ingin ia kenali.Ravika memilih meja di dekat jendela. Bukan sudut, bukan tengah ruangan. Posisi netral.Ia duduk, menaruh ponsel di atas meja, lalu memindahkannya ke dalam tas. Tidak ada yang perlu dicek sekarang. Tidak ada yang perlu disiapkan.Manajer hadir tipis, seperti biasa akhir-akhir ini.Detak jantung meningkat ringan. Dalam batas.“Ya,” gumam Ravika. “Gue juga ngerasa.”Ia memesan minuman sederhana. Teh. Tanpa gula. Pelayan mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut.Waktu berjalan lambat de

  • Ibu Kost yang menggoda   Ruang diantara Respons

    Pagi datang dengan suara motor tetangga yang terlalu dini. Ravika terbangun bukan karena kaget, tapi karena tubuhnya memang sudah tidak ingin tidur lebih lama. Ia menatap langit-langit beberapa detik, memastikan tidak ada sisa mimpi yang perlu dikejar.Tidak ada.Ia bangun, merapikan kasur seadanya. Tidak simetris. Tidak rapi. Cukup.Di kamar mandi, air dingin menyentuh wajahnya dan membuatnya sedikit terjaga. Ia menyikat gigi sambil menatap pantulan dirinya, lalu berpaling sebelum pikiran sempat mencari-cari makna.Manajer muncul samar.Level kesiapan hari ini moderat.“Kayaknya semua hari juga gitu,” gumam Ravika.Di dapur, ia memanaskan sisa nasi semalam. Telur dadar sedikit gosong di pinggir. Ia tetap memakannya. Pagi tidak menuntut kesempurnaan.Ponsel bergetar. Satu notifikasi email. Bukan dari nama itu. Ia membaca cepat, lalu membalas dengan satu kalimat. Tidak ada beban.Berangkat kerja, jalanan lebih lengang. Angin pagi dingin. Ia membuka sedikit resleting jaket. Ada rasa rin

  • Ibu Kost yang menggoda   Percakapan yang Ditunda

    Ravika bangun dengan sisa mimpi yang tidak utuh.Bukan jenis mimpi yang meninggalkan rasa, hanya fragmen: suara langkah di koridor panjang, cahaya lampu yang mati–menyala, dan kalimat yang berhenti di tengah. Saat ia duduk, fragmen itu luruh tanpa perlawanan. Ia tidak mencoba mengingatnya.Pagi berjalan seperti kemarin. Air keran. Wajah di cermin. Kopi yang rasanya masih sama—sedikit pahit, sedikit hangus. Ia mengaduknya dua kali, bukan tiga. Entah kenapa, dua terasa cukup.Manajer hadir tipis.Tidur tidak optimal, tapi restoratif.“Kayaknya gue setuju,” kata Ravika sambil mengenakan sepatu.Di jalan, hujan semalam meninggalkan sisa genangan. Motor melaju hati-hati. Ada pengendara lain yang memotong jalur, membuatnya mengerem mendadak. Jantungnya naik sebentar, lalu turun. Ia mengumpat pelan, tidak kreatif, lalu melanjutkan.Tidak ada efek lanjutan. Tidak ada narasi “ini pertanda.”Di kantor, hari terasa padat tanpa berat. Pekerjaan datang berlapis, tapi bukan menumpuk. Ravika menyele

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status