LOGINHari-hari berikutnya berlalu jauh lebih cepat dari yang dibayangkan Ravika.Terlalu cepat.Seolah waktu tahu bahwa mereka sedang berusaha menikmatinya.Dan karena itu—waktu sengaja berlari.Satu minggu tersisa.Lalu lima hari.Empat hari.Dan setiap kali Ravika melihat kalender,lingkaran merah itu terasa semakin dekat.Namun anehnya—ia tidak lagi menghitung hari dengan kesedihan yang sama seperti sebelumnya.Karena setelah beberapa malam berpikir,ia menyadari satu hal.Jika terus fokus pada hari keberangkatan,ia akan kehilangan kesempatan menikmati hari-hari yang masih ada.Jadi ia memutuskan sesuatu."Mulai hari ini."katanya suatu pagi.Semua orang yang sedang sarapan langsung menoleh."Apa lagi?"tanya Bima curiga."Kita bikin minggu terakhir yang menyenangkan.""Definisi menyenangkan?""Pokoknya nggak boleh murung."Bima mengangkat tangan."Saya mendukung.""Lo bahkan belum dengar rencananya.""Saya mendukung secara emosional."Suasana langsung dipenuhi tawa.Dan sejak hari i
Setelah keputusan itu dibuat, semuanya terasa berbeda.Aneh.Padahal Arven masih ada di kos.Masih berangkat kerja dari tempat yang sama.Masih duduk di teras setiap malam.Masih membuat teh saat hujan turun.Namun sekarang—ada tanggal keberangkatan yang terus mendekat.Dan tanpa sadar,Ravika kembali melakukan kebiasaan lama.Menghitung hari.Pagi itu ia berdiri di depan kalender yang menempel di dinding dapur.Matanya berhenti pada satu tanggal yang sudah diberi lingkaran kecil.Dua minggu lagi.Hanya dua minggu."Kenapa lihat kalender terus?"Suara Arven membuatnya menoleh."Nggak kenapa-kenapa.""Bohong.""Sedikit."Arven tersenyum kecil.Karena sekarang ia sudah cukup mengenal Ravika.Kalau jawabannya "sedikit", biasanya artinya "banyak".Mereka akhirnya sarapan bersama seperti biasa.Namun kali ini Ravika lebih banyak diam.Bukan karena sedih.Lebih karena sedang berpikir.Tentang dua minggu yang tersisa.Tentang waktu yang terasa terlalu cepat.Dan tentang semua hal yang belum
Dua hari berlalu sejak pembicaraan itu. Dua hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Bagi Ravika. Bagi Arven. Dan entah kenapa— juga bagi Bima yang sama sekali tidak terlibat. "Aku ikut stres." katanya pagi itu. "Kenapa?" tanya Ravika. "Karena suasana kos kayak nunggu hasil ujian nasional." "Itu lebay." "Tapi bener." Dan untuk sekali ini— tidak ada yang membantah. Karena memang benar. Sebuah keputusan sedang menunggu. Dan semakin lama ditunda— semakin berat rasanya. Siang hari itu Arven dipanggil kembali oleh atasannya. Bukan rapat panjang. Bukan evaluasi. Hanya satu pertanyaan sederhana. "Sudah dipikirkan?" Arven duduk diam beberapa saat. Lalu mengangguk. "Sudah." "Dan?" Untuk sesaat— bayangan banyak hal melintas di kepalanya. Kos. Ruang tengah. Teras malam hari. Ravika yang selalu menunggunya pulang. Bima yang berisik setiap pagi. Dan juga masa depan yang sedang menunggu di depan sana. Arven menarik napas perlahan. "Saya terima." Kalimat itu
Setelah malam ketika Arven menceritakan tawaran penugasan itu, suasana kos berubah sedikit.Tidak ada yang mengatakannya secara terang-terangan.Namun semua orang tahu.Ada sebuah keputusan besar yang sedang menunggu.Dan keputusan itu bukan hanya akan memengaruhi Arven.Tapi juga Ravika.Dan sedikit banyak—seluruh kehidupan di kos.Pagi hari datang seperti biasa.Ada suara motor.Ada aroma kopi dari dapur.Ada Bima yang entah bagaimana sudah membuat keributan sebelum jam delapan.Namun kali ini—bahkan Bima pun terlihat lebih tenang."Jadi..."Ia duduk di depan Arven sambil membawa roti."Udah mutusin?""Belum."jawab Arven."Masih mikir."Bima mengangguk.Untuk ukuran dirinya—itu respons yang mengejutkan.Karena biasanya ia akan langsung mengeluarkan teori aneh.Namun kali ini tidak.Mungkin karena ia tahu masalahnya memang serius.Ravika yang sedang membuat teh hanya diam mendengarkan.Dan justru itulah yang membuat Arven semakin sulit membaca isi pikirannya.Karena sejak malam k
Malam itu terasa berbeda. Biasanya setelah Arven pulang kerja, suasana teras dipenuhi obrolan ringan dan candaan receh. Namun sekarang— kata-kata "tiga bulan" terus berputar di kepala Ravika. Tiga bulan. Kalau dipikir-pikir, itu tidak lama. Tapi kalau dijalani? Bisa terasa sangat panjang. "Di kota mana?" tanya Ravika pelan. Arven menyebut nama kotanya. Tidak terlalu jauh. Masih bisa ditempuh beberapa jam perjalanan. Namun tetap saja— itu berarti Arven tidak akan pulang setiap malam. Dan itu adalah hal yang selama ini menjadi pegangan Ravika. Selalu ada kepastian bahwa seberapa sibuk pun Arven— ia akan pulang. Sekarang? Belum tentu. "Aku belum jawab." kata Arven. Ravika menoleh. "Belum?" Arven menggeleng. "Mereka kasih waktu beberapa hari buat mikir." Sunyi. Entah kenapa mendengar itu membuat Ravika sedikit lega. Karena artinya keputusan belum diambil. Namun di saat yang sama— itu juga berarti akan ada pembicaraan yang sulit.
Beberapa minggu setelah itu, kehidupan kembali berjalan dalam ritmenya sendiri.Arven mulai semakin nyaman dengan pekerjaannya.Ravika semakin terbiasa mengelola kos tanpa terlalu bergantung pada bantuan Arven.Dan penghuni kos tetap sama berisiknya seperti biasa.Terutama Bima.Suatu pagi, suasana dapur sudah ramai bahkan sebelum jam delapan.Ada yang membuat kopi.Ada yang menggoreng telur.Ada yang terburu-buru berangkat kerja.Dan di tengah semua keramaian itu—Bima masuk sambil membawa ponsel dengan wajah panik."KABAR BURUK!"Semua langsung menoleh."Apa lagi?"tanya Ravika.Bima menunjuk layar ponselnya."Motor gue mogok."Sunyi.Lalu semua kembali melanjutkan aktivitas masing-masing."Itu bukan kabar buruk."kata seseorang."Itu kabar biasa.""Kurang ajar."Tawa langsung pecah.Namun beberapa menit kemudian—justru Arven yang menerima sebuah kabar yang benar-benar tidak terduga.Ponselnya bergetar saat sedang sarapan.Awalnya ia hanya membaca pesan itu sambil lalu.Lalu ekspre







