Share

Nasihat Faridz

"Jadi apa yang mau lo ceritain?" tanya Faridz.

"Akhir-akhir ini istri gue terlihat gak menarik. Dia jarang dandan dan selalu dasteran. Tiap ketemu pasti dia beraroma minyak telon."

"Sebenarnya ada banyak alasan mengapa istri lo seperti itu."

"Maksud lo?"

"Dia kan baru aja ngelahirin, dia pasti sibuk ngurus bayinya. Ngomong-ngomong lo punya pembantu atau lo suka bantuin kerjaan istri lo gak?"

"Gue gak punya pembantu, bantuin istri kadang-kadang kalau lagi mood," jawab Rudi.

"Gue waktu istri gue baru melahirkan belum mampu membayar pembantu, jadi gue dan nyokap gue yang ngurus dia. Selama dua minggu dia benar-benar gak boleh mengerjakan apapun kecuali mengurus bayinya."

"Wah, yang bener?"

"Iya, udah dibantu aja istri gue masih suka nangis, katanya dia kesulitan menyusui, terus kesulitan ngurus bayi kami, malah dia juga sempet demam karena tiap malam begadang, padahal gue dan nyokap sering gantian ngurus bayi kami."

Rudi terhenyak mendengar penuturan Faridz, karena ia membiarkan istrinya mengerjakan semuanya setelah melahirkan.

"Gue jadi inget kakak gue, dia tinggal di rumah mertuanya, dua Minggu setelah melahirkan dia dirawat di rumah sakit, malah sampai baby blues. Usut punya usut, ternyata dia langsung mengerjakan semuanya sehari setelah melahirkan, karena suami dan mertuanya sama sekali gak peka sama dia."

"Kan istri gue melahirkan normal gak caesar."

"Memangnya siapa yang bahas caesar? Justru wanita yang melahirkan secara normal harus istirahat total beberapa hari setelah melahirkan, gimana sih, lo, kok gue jadi gemes ya ngobrol sama lo, jadi ingat kakak ipar gue yang sedeng."

"Santai, Bro, gue kan baru pertama kali punya anak, jadi ya gue belum tau banyak hal."

"Jadi, lo membiarkan istri lo mengerjakan semuanya setelah melahirkan?" tanya Faridz.

Rudi mengangguk.

"Istri lo sakit gak? Demam gitu atau marah-marah dan uring-uringan, nangis tanpa sebab atau gimana gitu?"

"Istri gue fine-fine aja, dia bisa mengerjakan semuanya, dia sehat, dia selalu ceria, dia gak pernah ngeluh."

"Fiks, istri lu kemungkinan keturunan Bidadari. Wah, parah sih kalau dia malah punya suami yang sedeng kayak lu."

Rudi sedikit termenung mendengar ucapan Faridz. Namun, ia sering mendengar ucapan ayahnya yang mengatakan bahwa suami memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan istri. Jadi, seorang istri memiliki kewajiban untuk mengabdikan hidupnya pada suami.

"Lo ngomong kayak gitu karena lo tipe suami yang takut istri, kan? Gue lihat-lihat lu kayak gak ada harga dirinya, masa dia pergi ke salon sementara anak-anak lu dibiarkan gitu aja."

"Gue melakukannya karena gue sayang sama istri gue. Lihat buktinya, istri gue cantik, muda dan menarik. Malah jauh lebih cantik dari sebelum kami menikah."

Rudi terdiam memikirkan ucapan Faridz, ia mengakui bahwa istri Faridz kini sangat cantik, padahal dulu setahunya wanita itu tampak sangat sederhana dan gak terlalu menarik.

"Istri lo hobby ke salon, ya pantas aja jadi cantik."

"Sebenarnya bukan hanya karena salon juga sih. Ada pepatah yang mengatakan bahwa istri yang bahagia itu aura kecantikannya terpancar."

Setelah berbincang lumayan banyak, akhirnya Rudi mulai mengerti semua kesalahannya. Ia lalu segera pamit, terlebih karena kedua anak Faridz terus merengek.

Setibanya di rumah, Anisa tampak tengah menimang-nimang bayinya sembari berderai air mata.

"Kamu kenapa, Nis?" tanya Rudi hingga mengejutkan istrinya yang tengah menimang bayinya di teras rumah, tampaknya sejak tadi Anisa melamun hingga tak menyadari suara motor suaminya.

"Aku gak enak badan, Mas, kepalaku sakit banget, sementara Bintang sejak tadi rewel dan gak mau menyusui."

"Sini biar mas gendong Bintang, kamu tidur aja, ngomong-ngomong udah makan belum?"

"Aku belum sempat masak, Mas, soalnya Bintang terus rewel."

Sementara itu Bintang terus menangis saat digendong Rudi, padahal sebelumnya ia sempat terlelap saat ditimang-timang oleh Anisa.

"Bintang Sayang, kamu pasti marah ya sama Papa?" ujar Rudi sembari menimang-nimang bayinya dengan lembut.

"Papa janji mulai sekarang akan menjaga Bintang juga mama." Ajaibnya seketika tangis bayinya mereda, lalu bayi mungil itu langsung terlelap.

Sementara Anisa hanya menatapnya sembari tersenyum saat Rudi mengatakan hal tersebut. Beberapa saat kemudian, setelah Bintang benar-benar terlelap, Rudi segera menidurkan bayinya lalu bergegas menuju dapur. Tampak dapur masih berantakan dan belum ada nasi maupun lauk. Padahal biasanya Anisa selalu gesit dalam pekerjaannya.

Awalnya Rudi merasa kesal, tetapi ia mencoba mengikuti ucapan Faridz. Ia langsung mencuci beras dan berniat untuk memasak nasi.

"Nis, ini airnya segimana?" tanya Rudi sembari menunjukan telflon mejikom berisi beras.

Namun, Anisa tak juga menjawab, ia malah menggigil dan berkeringat. Matanya terpejam dan terus memanggil nama ibunya. Tanpa berlama-lama Rudi langsung tancap gas untuk menjemput ibunya.

"Anisa sakit, Bu, ayo kita kesana!"

Tanpa banyak bicara ibunya langsung mengangguk dan berjalan menuju motor Rudi. Setelah itu mereka meluncur pergi.

"Rud, kita ke apotik dan ke minimarket buat beli obat demam dan susu formula."

Rudi mengangguk lalu membeli semua yang ibunya katakan, setelah itu mereka bergegas menuju kontrakan Rudi. Setibanya di rumah, tampak Bintang terus menangis, sementara Anisa tengah mencoba menyusuinya sembari berderai air mata menahan sakit di kepalanya.

"Sepertinya air susunya gak enak karena kamu sakit dan belum makan, makanya Bintang gak mau menyusu," ujar ibu mertuanya sembari menggendong Bintang, setelah itu menyuruh Rudi membuatkan susu formula.

Anisa tak menjawab ucapan ibu mertuanya, karena kepalanya terasa sangat sakit, ia merasa ada batu besar yang melayang dan terus menghantam kepalanya.

"Rud, ambilkan nasi, suapi Anisa lalu beri dia obat," ujar Bu Aminah sembari memberikan susu formula pada Bintang.

"Tapi belum ada nasi, Bu."

"Beli bubur ayam sana, kalau gak ada beli nasi aja ke warung nasi.

Rudi mengangguk lalu bergegas ke warung bubur ayam. Untunglah di warung itu selalu tersedia bubur ayam dari pagi sampai malam, karena kalau tukang bubur ayam gerobak biasanya hanya ada di pagi hari saja. Beberapa saat kemudian ia langsung kembali dan segera menyuapi Anisa, lalu setelah itu memberinya obat demam yang aman untuk ibu menyusui.

"Nisa, ibu kan sudah bilang, jangan banyak pikiran, jangan kecapekan, ini yang ibu takutkan," ujar Bu Aminah setelah Bintang terlelap.

"Sebenarnya dari semalam kepala Nisa sudah terasa pusing, apalagi saat melihat Mas Rudi pagi-pagi sekali sudah rapi padahal ini hari libur."

Bu Aminah langsung membulatkan mata pada Rudi.

"Sumpah demi Allah, tadi aku dari rumah Faridz, nih HP aku, telpon aja Faridz."

Bu Aminah tak lantas mempercayai ucapan Rudi, ia langsung meraih ponselnya lalu menelpon Faridz.

"Faridz, ini saya ibunya Rudi, tadi dia habis ngapain ke rumah kamu?"

"Oh, tadi Rudi mau belajar bagaimana caranya untuk menjadi suami yang baik dan selalu siaga pada istrinya."

Rudi menghela napas lega saat Faridz mengatakan hal itu, ia memang sahabat yang bisa diandalkan.

Setelah itu Bu Aminah mengakhiri telpon.

"Ya sudah kalau begitu sekarang juga kamu praktekan apa yang kamu pelajari di rumah Faridz."

"Kalau nyuci piring dan nyuci pakaian sih Rudi bisa, kalau masak nasi dan lauknya Rudi gak bisa."

"Ayo ibu bantu!"

Setelah itu Rudi dan ibunya bergegas menuju dapur untuk mengerjakan semuanya. Sementara Anisa kembali berderai air mata, karena sebenarnya penyebab ia tiba-tiba sakit adalah telpon dari Miranda yang mengatakan bahwa Rudi berniat menceraikan dirinya dan akan menikah dengan Miranda.

Bersambung.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Fatma Wati
asyik ceritanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status