Share

Suami Toxic

"Loh, kok kamu pulang kesini?" tanya Bu Aminah saat melihat Rudi yang pulang ke rumahnya dengan wajah masam.

"Memangnya kenapa sih, Bu? Emangnya gak boleh ya kalau aku pulang ke sini, aku kangen sama masakan Ibu."

"Tapi istri kamu pasti nungguin kamu pulang, mungkin saja dia sudah bela-belain masak makanan kesukaanmu."

"Asal Ibu tau, tadi pagi dia malah menyusui sambil tidur, padahal seharusnya dia membuatkan sarapan untukku."

"Sekali-kali kamu dong yang membuatkan sarapan untuknya."

"Asal Ibu tau, semalam aku gak bisa tidur gara-gara bayi kami terus menerus menangis. Setiap menit sekali kudengar suara tangisnya."

"Oh jadi semalam kamu ikut menemani Anisa bergadang?"

"Ya enggaklah, Bu, aku langsung keluar dari kamar lalu tidur di kursi."

Plaaaaak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Rudi. Lelaki berusia 25 tahun itu terkejut dengan apa yang dilakukan ibunya, karena selama ini ibunya begitu lemah lembut dan tak pernah bersikap kasar padanya.

"Kenapa Ibu menamparku?"

"Asal kamu tau, semalaman Anisa pasti kesusahan mengurus dan menyusui anakmu, biasanya ASI belum keluar dengan deras jika baru dua hari, sementara bayimu terus menerus ingin menyusu, makanya semalaman bayimu terus menangis sehingga Anisa harus bergadang."

"Salah dia sendiri, aku menawarkan untuk membeli susu formula, tapi dia tolak."

"Karena dia menuruti saran ibu untuk memberikan ASI eksklusif."

"Masa setiap malam aku harus bergadang, aku butuh istirahat karena esoknya harus bekerja."

"Jika tidak bisa membantunya mengurus bayi, setidaknya kamu membiarkan jika dia ketiduran. Kamu kan bisa membuat sarapan sendiri, lalu mencuci pakaian sebelum berangkat kerja."

"Mengapa aku harus melakukan pekerjaan wanita? Aku tidak pernah melihat Ayah melakukan itu."

"Jadi kamu mau mengikuti sifat ayahmu?!" tanya ibunya setengah berteriak, sementara ayahnya hanya diam sembari pura-pura fokus menonton televisi.

"Bang Rudi ada benarnya juga Bu, dia kan harus capek kerja, masa dia harus mengerjakan pekerjaan perempuan, lalu apa gunanya dia menikah?" Dua orang gadis berusia 19 dan 17 tahun menyahuti ucapan ibunya secara serentak.

"Apa sih, lo, ikut-ikutan aja ucapan gue?" ucap gadis berambut ikal.

"Kakak yang ngikutin gue!" Gadis berambut sebahu itu menyahut.

"Berisik kalian! Memangnya kalian kalau punya suami mau kayak Ayah dan Abang kalian? Nauzubillah summa nauzubillahi min dzalik." Bu Aminah menyahut.

"Kok Ibu bawa-bawa ayah? Padahal ayah gak ikut-ikutan, loh," ujar suaminya yang sejak tadi fokus menonton televisi.

"Lalu apa tanggapan Ayah dengan sikap Rudi?" Bu Aminah kembali bertanya.

"Turuti saja semua ucapan ibumu, Rud, jangan berani-berani menentangnya."

"Jadi sekarang aku harus bagaimana? Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu mendengarkan ucapan Ibu."

"Sayangi dan hargai istrimu, jika kamu menyakitinya, maka sama saja kamu menyakiti ibu."

"Anak Ibu itu aku, bukan Anisa, kenapa Ibu selalu membelanya?"

"Selama dia benar, ibu akan selalu membelanya. Karena ibu pernah berada di posisinya, ibu tau bagaimana repotnya mengurus anak juga rumah, apalagi suami yang tidak pernah peka dan egois." Bu Aminah melirik ke arah suaminya.

"Bu, jajan martabak, yuk!" Pak Arman mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ayo!" ujar Bu Aminah yang langsung bersemangat, karena martabak adalah makanan favoritnya sejak masih muda.

Sementara Rudi dan kedua adiknya langsung tepuk jidat melihat semua itu. Setelah kedua orangtuanya pergi membeli martabak, Rudi langsung bergegas pulang.

Beberapa saat kemudian Rudi telah tiba di kontrakannya. Istrinya langsung menyambut kedatangannya lalu mencium punggung tangannya.

"Mas mau makan? Aku sudah masak ikan asam pedas untuk Mas."

Anisa sengaja memasak menu itu setelah mendengar pujian dari ibu mertuanya tadi siang.

"Iyalah, aku lapar banget," ujarnya.

Anisa langsung bergegas menuju dapur lalu menyiapkan makanan untuk suaminya.

"Gimana, Mas, enak gak?" tanya Anisa sembari menatap suaminya yang tengah mengunyah makanan yang ia hidangkan.

"Lumayan, tapi gak seenak masakan Ibu."

"Iya, Mas bener banget, masakan Ibu memang yang paling enak." Anisa menyahut.

"Ngomong-ngomong kamu udah mandi belum sih? Kucel banget kayak pembantu!"

"Seharian aku sibuk mengurus bayi kita dan masakin buat kamu, jadi belum sempat mandi."

"Ya sudah sana cepetan mandi, mumpung bayi kita sedang tidur!" bentak Rudi dengan wajah masam.

Anisa mengangguk, lalu bergegas ke kamar mandi. Sementara Rudi langsung menghela napas melihat istrinya yang kian berubah, padahal sebelum menikah Rudi sangat tergila-gila dengan kecantikan Anisa.

Tiba-tiba ponsel Rudi berdering, ia segera menghabiskan makanan yang hanya satu suap lagi lalu bergegas mencuci tangan lalu setelah itu mengangkat telepon.

"Iya, Bu, ada apa?" tanya Rudi setelah mengetahui bahwa yang menelpon adalah ibunya.

"Jaga Anisa baik-baik, jangan bersikap kasar, bantu dia kalau dia kerepotan. Jika dia tertekan, ibu khawatir ASInya mengering."

"I..iya, Bu," sahut Rudi sambil mengernyitkan dahi karena bingung dengan ucapan ibunya yang seolah mengetahui apa yang tengah dilakukannya pada Anisa.

"Jangan-jangan nyokap gue punya indra keenam," gumam Rudi sembari menggaruk kepala setelah selesai berbicara dengan ibunya di telepon.

Setelah itu Rudi segera bergegas menuju tempat cuci piring, sejak kecil ia tak pernah mau membantah ucapan ibunya, bahkan ia telah berjanji untuk selalu menuruti semua yang ibunya katakan.

"Ngapain kamu mandi tapi gak nutup pintu kamar mandi?" tanya Rudi saat melewati kamar mandi.

Belum sempat menjawab pertanyaan suaminya Anisa langsung bergegas menuju kamarnya padahal masih ada sedikit busa sampo di rambutnya.

"Hei kalau mandi yang bersih!" teriak Rudi sembari mengikutinya ke kamar.

Setibanya di kamar, Rudi melihat bayinya yang terbangun, padahal ia sama sekali tak mendengar suara tangisnya.

"Kok kamu bisa tau anak kita nangis?" tanya Rudi sembari mengernyitkan dahi.

"Tadi Bintang nangis, tapi gak terlalu kenceng." Anisa menyahut.

"Ya sudah, kalau gitu kamu lanjutkan aja dulu mandi, biar aku jagain Bintang," ujar Rudi sembari menggendong bayinya dengan hati-hati lalu menimangnya perlahan.

Beberapa saat kemudian Anisa telah berganti pakaian, ia lalu meraih bayinya dari Rudi lalu segera menyusuinya.

"Kenapa sih kamu harus dasteran terus? Kayak ibu-ibu tau gak sih? Mana wajah kamu kucel gitu kayak gak mandi!"

"Bintang sudah kehausan, Mas, dia mau menyusu, masa aku harus dandan dulu."

"Baru punya anak satu aja, kamu udah kelihatan gak menarik," gerutunya sembari bergegas keluar dari kamarnya.

Anisa hanya menghela napas, ia teringat pesan ibu mertuanya untuk tidak banyak pikiran. Ibu mertuanya mengatakan bahwa wanita yang sedang menyusui harus tenang dan tak boleh setress agar ASI terus mengalir dengan deras.

Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status