Home / Romansa / Ibu Sang Pewaris / Bab 1 Kejutan Takdir

Share

Ibu Sang Pewaris
Ibu Sang Pewaris
Author: Jewellrytion

Bab 1 Kejutan Takdir

Author: Jewellrytion
last update Huling Na-update: 2022-12-13 14:29:29

"Dikasih kerjaan enak kok nolak sih, Jasmine? Nyari kerja sekarang susah, Mbak. Ayu-ayu ‘kok ya ndak bisa diajak memanfaatkan potensi. Rugi kamu!" ketus pemilik travel sambil mematikan rokoknya dengan wajah sinis.

Jasmine menghela nafas panjang. Bukannya dia tidak memikirkan bagaimana nasibnya ke depan, tapi jika terus bekerja di lingkungan yang toxic, rasanya Jasmine tak sanggup. Lebih baik mencari pekerjaan lain daripada harus mengorbankan harga dirinya. Apalagi wanita itu kerap dikerjai teman kantornya.

Namun bukankah cekcok pertemanan dalam duni kerja adalah hal biasa? Tapi tidak bagi Jasmine, kali ini sudah keterlaluan. Puncaknya ketika wanita itu hampir saja dijual beberapa hari yang lalu oleh temannya sendiri kepada tamu yang menggunakan jasa travel agent mereka.

Parasnya yang cantik, senyumnya yang menawan, tubuh yang tinggi ideal, kulitnya yang bersih serta suara yang lembut membuat temannya ingin memanfaatkan wanita 30 tahun itu agar bisa menghasilkan banyak uang.

Parahnya, bos tempatnya bekerja pun mendukung ide brengsek tersebut. Katanya, jika itu bisa menaikkan pendapatan kantor, ia setuju saja meski dengan cara culas seperti itu. Bahkan Jasmine akan diberikan bonus nanti jika klien mereka puas. Gila.

Jasmine tak habis pikir, salah apa dia, sampai mereka tega. Jasmine tau akan kehilangan pekerjaan, tapi di sisi lain, ia juga sadar butuh uang untuk membesarkan Zico–putranya–seorang diri. Anak tu akan masuk Sekolah Dasar tahun ini.

"Hei, kamu dengar tidak?! Jadi orang harus fleksibel kalau mau maju, Jasmine," sentak pria itu sembari mencondongkan tubuh ke arah depan, memberi tatapan menusuk.

Tidak ada pergolakan batin, Jasmine teguh pada pendiriannya. "Saya bukan orang seperti itu."

"Alaah, kayak kamu nggak butuh uang aja. Anakmu itu loh, mau dikasih makan apa? Suami nggak ada, kerjaan nggak punya, nggak usah munafik lah jadi orang." Pria tua bangka itu malah memancing emosi Jasmine. Berani-beraninya mengungkit masalah pribadinya untuk mengintimidasi.

Jasmine benar terusluut. "Dengar ya Pak, walaupun saya single parent tapi saya tetap punya harga diri! Saya memang butuh uang, tapi tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, apalagi dengan menjual diri! Jadi mulai detik ini saya berhenti!"

Jasmine dengan tegas ia mempertahankan diri. Dia menggebrak meja bosnya dengan mata penuh kliatan amarah. Biarkan saja dia keluarkan emosinya saat itu.

Pria tua itu terkejut. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga mendorong kursinya membentur dinding.

"Kamu serius mau berhenti?" ucapnya pelan, karena tak menyangka Jasmine yang dikenal lembut bisa menakutkan juga.

Jasmine mengambil jarak, berdiri tegak dengan tatapan dingin. "Saya tidak pernah seserius ini. Terima kasih atas pengalaman yang saya dapat di sini. Saya berhenti!" 

Tak ada yang dapat mengintervensinya lagi. Karena mulai detik itu, Jasmine bukan lagi bagian dari mereka. Tanpa mempedulikan panggilan dari serigala kapitalis di belakangnya, dan dengan harga diri yang masih tersisa, ia mantap melangkah keluar dari ruangan itu. Dirinya puas melihat ekspresi terkejut mantan bosnya.

***

Ibu muda satu anak itu berjalan gontai. Sorot matanya kosong, namun tetap menyusuri selasar pertokoan kota Malang, berharap melihat iklan lowongan pekerjaan. Sebab beberapa menit lalu, dirinya resmi sebagai pengangguran.

Pikirannya lantas tertuju pada Zico. Anak itu mulai masuk sekolah bulan ini. Uang pangkal untuk masuk sekolah pilihan bukanlah jumlah yang sedikit. Baginya tidak ada kompromi jika menyangkut pendidikan putranya.  Jasmine ingin menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik, meski harus menguras tabungannya. Dengan satu harapan, Zico memiliki masa depan yang cemerlang.

"Ya Tuhan, bantulah aku." 

Di tengah pikirannya yang kalut, Jasmine justru bertemu dengan calon tamu travel yang akan membeli dirinya. Pria itu berdiri beberapa meter tepat dihadapannya dengan seringai iblis. Di belakang pria itu ada dua orang pengawal yang terlihat sama brengseknya.

"Halo Jasmine, ternyata kita ketemu di sini ya. Mau kemana, cantik? Biar Mas antar," ucapnya genit sembari mendekat.

Tawaran itu terdengar mengerikan. Kaki Jasmine mendadak beku di tempat.

"Mau apa kamu?!" Tangannya terangkat mencegah.

"Tenang dong cantik, jangan panik begitu. Mas kan cuma tanya, adinda mau ke mana? Biar Mas yang antar ke mana adinda pergi," ujar pria hidung belang yang semakin menggodanya.

Jantung Jasmine berdetak cepat, dia benar-benar takut. Pria hidung belang itu adalah alasan terbesar kenapa Jasmine berhenti kerja.

"Jangan ganggu saya. Saya sudah nggak kerja di travel itu. Jadi Anda tidak ada urusan dengan saya," jawabnya sembari menguatkan diri dengan menatap nyalang pria itu.

"Wah, yo ndak bisa begitu to. Mas kan sudah bayar ke bosmu yang gendut itu untuk pakai jasamu. Ya kamu harus bisa melayani tamu dengan baik sesuai perjanjian, to? Ayolah cantik ..."

Tidak, Jasmine tidak punya urusan lagi dengan bos brengsek itu dan tamu hidung belang ini. Dia pun baru tahu kalau mantan bosnya sudah menerima uang dari pria itu. Brengsek!

"Tidak! Itu urusanmu dengan tua bangka itu. Saya tidak ada urusandengannya, apalagi dengan Anda!" tegas Jasmine lantas pergi. Walau pria itu mencegahnya, tapi Jasmine bisa lari menyelamatkan diri.

Jasmine dikejar oleh ketiga pria itu. Ia terus berlari, sesekali menoleh ke belakang, memastikan diri aman dari kejaran mereka. Wanita itu lari tanpa arah, ke manapun asalkan selamat dari kejaranpria hidung belang haus wanita itu.

Namun karena panik Jasmine tak memperhatikan sekitar. Wanita bersurai gelap itu menyebrang jalan sembarangan, hingga ...

Tiiiiiiiiiiiiin!!

Suara klakson panjang dari mobil sedan hitam yang melintas terdengar nyaring menyentak. Kakinya mendadak beku tak dapat bergerak. Wanita itu menoleh, melihat mobil sedan itu melaju kencang ke arahnya. Jasmine lantas menutup mata. Pasrah jika memang harus tertabrak.

Jewellrytion

Hai, ini Jewellrytion! Naskah ini telah mengalami revisi, dan inilah versi terbaru. Semoga suka ya :) follow akunku dan IG jewellrytion ya.. thank's dear.

| Like
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ibu Sang Pewaris   Bab 48. Konfrontasi Kedua

    "Nak ... ini Papa." Untuk pertama kali Kemal menyebut dirinya Papa. Matanya terpejam karena kalimat itu menusuk batinya begitu tajam. Papa, satu kata singkat namun efeknya mampu mengguncang dunianya."Ini Papa," katanya lagi. Kemal berhenti sesaat, karena emosi ini terlalu kuat. Kemal belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.Bagaimana tidak emosional, seharusnya Kemal ada di sana, mendampingi Jasmine mengandungnya, menemani proses kelahirannya dan menyaksikan tumbuh kembangnya. Tapi Kemal tidak melalui semua itu, bahkan Kemal tidak mengetahui bahwa anak ini ada.Tapi Tuhan mempertemukan keduanya dengan jalan yang luar biasa. Melalui pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan logika dan kata-kata."Zico ... itu namamu?" Kemal mengambil satu tangan Zico yang bebas dari selang infus. "Terima kasih sudah datang dalam mimpi Papa." Air mata Kemal jatuh saat ia mencium perlahan punggung tangan Zico.Hatinya bergetar hebat, air mata itu luruh juga bersamaan dengan suara 'bip .

  • Ibu Sang Pewaris   Bab 47. Konfrontasi Pertama

    Kemal memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dirinya ingin segera tiba di rumah sakit. Rasa rindu yang awalnya belum ada namanya pada anak itu terkuak sudah. Semua tindakan spontan pengorbanan dan rasa takut kehilangan anak itu ternyata bukan lain karena dia adalah darah dagingnya.Lima belas menit mengendarai mobil, Kemal kini tiba di tujuan. Mobilnya memasuki area parkir utama rumah sakit dan melihat mobil sedan mewah berwarna hitam itu sudah terparkir rapih di sana. Itu adalah mobil Zacky."Sial, aku sudah keduluan!" umpatnya sambil memukul setir.Dengan langkah lebar Kemal memasuki lobi rumah sakit. Ayunan kakinya terhenti karena baru menyadari bahwa ia tidak mengetahui ruang tempat anak itu di rawat. Pasti sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat, kan? Heru tadi bilang Zico sudah pindah ruangan. Tapi bodohnya, Kemal tidak mendengar semua penjelasan Heru. Karena terbawa emosi, Kemal pergi begitu saja, membawa surat hasil tes paternitas yang telah di print out."Permis

  • Ibu Sang Pewaris   Bab 46. Hasil Paternitas

    Klik!Suara tajam dari mouse mengalirkan getaran aneh pada pria bermata coklat terang itu. Kemal melihat tajam, dan fokus pada layar laptop. HASIL TES PATERNITAS adalah judul yang pertama ia baca. Kemudian bacaannya turun pada badan surat yang berisi keterangan pengantar dilakukannya tes kecocokan DNA.'Variasi alel dilaporkan sebagai angka dari jumlah kopi unit pengulangan nukleotida marka 13 loci STR seperti terlihat pada tabel di bawah ini ...'Telunjuknya menarik scroll wheel pada mouse ke bawah untuk menggulir bacaan berikutnya. Di sana terdapat tabel berupa anka-angka hasil uji kecocokan DNA. Banyak angka dan penjelasan dalam istilah medis yang tidak Kemal pahami sepenuhnya. Kedua alisnya berkerut, istilah-istilah yang ditertera terasa asing baginya."Sulit sekali bacanya," katanya mengeluh.Tak sabaraan, Kemal langsung beralih pada bagian akhir surat tersebut dan mendapati keterangan,'Hasil analisa menunjukkan bahwa tiga belas alel loci marka STR terduga ayah cocok dengan alel

  • Ibu Sang Pewaris   Bab 45. Harus Kuat

    "Atau ... dia bukan ayahnya."Ucapan Heru sedikit banyak memengaruhi pikiran Kemal. Isi kepala pria itu bagai diteror banyak pertanyaan yang belum dapat ia jawab. Ia harus mencari tahu sendiri. Kemal benar-benar diuji, baik kesabaran maupun kewarasannya.Empat hari berlalu sejak kecelakaan itu, Kemal sudah kembali bekerja seperti biasa walau pikirannya kacau. Ditambah kali ini Kemal memegang langsung operasional kantor di Surabaya yang seharusnya bisa dijalankan oleh Direktur baru, tapi karena ide gilanya mengejar Jasmine, Kemal harus menanggung konsekuensinya. Hal itu tentu menambah beban dan membuatnya lelah.Bukan lelah karena lot kerjanya yang padat, Kemal sudah terbiasa akan hal itu. Tapi lelah dengan rasa sakit yang ditahannya karena harus menahan diri dari Jasmine. Ia mulai berpikir untuk kembali fokus di kantor induk saja. Dari sana ia bisa memantau semua perusahaan dibawah pimpinannya, termasuk di Surabaya.Di ruang kerjanya, Kemal berdiskusi dengan Heru yang baru saja tiba d

  • Ibu Sang Pewaris   Bab 44. Sebuah Sinar Terang

    Jasmine membekap mulutnya, dokter membentangkan hasil rontgen dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan untuk Zico. Meski kondisi Zico masih kritis, Zico harus segera dioperasi. Dengan izin orangtuanya, Zico segera dibawa ke ruang operasi. Proses operasi berlangsung sekitar dua jam. Selama itu pula Jasmine dan Zacky diliputi cemas yang tak bertepi. Doa-doa dipanjatkan. Masing-masing saling menguatkan. Sementara Kemal, pria itu seorang diri ketika membuka matanya. Tadi Heru pergi untuk bicara dengan dokter.Sepi, tapi hatinya terasa penuh. Kemal butuh penyesuaian dari alam bawah sadar ke alam kenyataan. Sinar lampu rumah sakit yang terang tak sama silaunya dengan cahaya terang yang tadi dilihatnya. Iya, Kemal mengalami pengalaman spiritual yang menakjupkan.Sebelum sadar dari pingsannya, Kemal berada di sebuah ruang gelap tak berujung. Di tengah kebingunan, muncullah setitik cahaya terang dari kejauhan yang lama-lama mendekat. Cahaya itu semakin lebar dan semakin terang, hingga Kem

  • Ibu Sang Pewaris   Bab 43. Code Blue

    Tiba-tiba Kemal merasa mual dan sangat pusing, tubuhnya mendadak lemah seakan kehilangan tenaga. Melihat ada yang tidak beres, Heru cepat berjalan di samping Kemal. "Anda baik-baik saja?" Ia khawatir dengan kondisi Kemal."Yeah, i'm fine," jawab Kemal yang masih berusaha berjalan. Bos perusahaan multinasional itu tak ingin dibantu Heru, gengsi karena ada Jasmine dan pria itu di sana. Namun gengsinya tak berlangsung lama, Kemal limbung. "Pak Bos!""Kemal!" Jasmine spontan berdiri, lantas bergerak maju ingin menahan tubuh Kemal agar tidak terjatuh. Tapi terlambat, Kemal ambruk. Wanita itu hanya mematung melihat Kemal jatuh di hadapannya.Meski ambruk, namun Kemal tetap dalam kesadaran. Ia hanya kehabisan tenaga untuk berdiri dan berpikir. Semakin ia berpikir, kepalanya semakin pusing. Perawat datang mendorong bed pasien untuk Kemal. Heru dan satpam rumah sakit dengan cekatan membantu Kemal untuk merebah di tempat tidur pasien. "Bos saya kenapa, Sus?" tanya Heru khawatir melihat wajah K

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status