Compartilhar

BAB 47

Autor: Fredy_
last update Data de publicação: 2025-08-07 13:07:33

Telepon berakhir. Leo menurunkan ponsel perlahan, tapi pikirannya terus berputar. Ucapan Matilda barusan bikin kepalanya berdenyut lagi. Baru saja merasa lega atas kesembuhan Matteo, sudah datang tantangan baru lagi.

Apa yang harus ia katakan kepada Nayla? Menyuruhnya menikah tiba-tiba begini jelas bisa menyinggung perasaanya. Dia pasti akan dianggap pria sok kaya, sok berkuasa, yang mudah saja membeli harga diri seorang wanita dan mengikatnya dalam pernikahan.

Astaga! Leo meraup wajahnya, lalu
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 244

    Nayla mengajak Davina—atau yang akrab dipanggil Davi—berkeliling vila. Ia mengenalkan satu per satu ruangan di dalam bangunan utama, dari ruang keluarga hingga kamar-kamar tamu, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. “Nah, Davi... kamar ini nggak boleh dibuka sembarangan," ujar Nayla sambil tersenyum tipis. “Kamar ini khusus keluarga kami kalau menginap. Banyak barang-barang saya dan Oma Matilda." Davina mengangguk kecil, mencatat setiap informasi dalam benaknya. Tur singkat itu berakhir di bagian belakang vila. Angin sejuk menggerakkan dedaunan, menciptakan riak halus di permukaan kolam renang yang memantulkan cahaya matahari pagi. Suasananya tenang yang memancing Davina tersenyum tipis. “Bagian ini yang paling saya suka,” kata Nayla sambil berhenti di depan deretan pot bonsai. Setiap pot sudah ia beri nama—Jeger yang kokoh dan menjulang, Ratu yang ramping dengan lekuk cabang penuh cerita. “Sebagian saya bentuk sendiri,” lanjut Nayla, “sebagian lagi sudah cantik

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 243 - BONUS CHAPTER

    Dua tahun berlalu seperti hembusan napas, Pagi itu, keceriaan menaungi vila milik Nayla yang berdiri anggun di bawah sinar matahari. Bangunan lama yang penuh kenangan itu sudah berubah dengan sentuhan modern—jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya masuk bebas, dan warna-warna dinding yang lembut menenangkan. Semua dirancang Nayla sendiri, sebagai bagian dari perjalanan barunya menempuh pendidikan sebagai desainer interior. Dari dapur, aroma roti panggang dan omelete menyebar. Nayla bergerak ringan, rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya cerah. Sesekali ia melirik ke ruang tamu melalui pintu kaca yang terbuka lebar. Di ruang tamu, Matteo berlari kecil dengan tawa riang, menendang bola plastik ke sana kemari. “Adeee… liat!” serunya lantang, sengaja menendang bola pelan agar jatuh tak jauh dari kakinya sendiri. Helena yang sedang belajar berjalan, bersorak kecil. Tangannya bertepuk-tepuk, mulutnya terbuka lebar menampilkan senyum tanpa gigi yang sempurna. “Ta… ta!” serunya tak je

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 242

    Di ranjang pasien, Nayla berbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya basah oleh keringat, menempel di pelipis dan leher. Napasnya pendek-pendek, terputus-putus, setiap tarikan terasa seperti perjuangan melawan nyeri yang datang bergelombang tanpa ampun. Tangannya terangkat gemetar, meraba udara—mencari sesuatu… seseorang. “Ti…” suaranya nyaris mencicit lemah. “Iya, Nay. Aku di sini.” Surti segera meraih tangan itu, menggenggamnya erat. Kulit Nayla dingin, jari-jarinya bergetar hebat, menahan sakit dan takut yang merundungnya. Nayla menatap Surti. Matanya berkaca-kaca, merah, dan terbuka lebar. “Ti… aku bakal baik-baik aja, kan?” tanyanya lirih. Surti mengangguk cepat, meski dadanya terasa diremas. “Pasti, Nay. Pasti,” jawabnya terbata, seakan menenangkan dirinya sendiri. “Selesai operasi, kita langsung ketemu lagi, ya. Aku tunggu di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Nayla meringis ketika perutnya kembali menegang. Rintihannya lolos begitu saja. “Aku takut, Ti…” napasnya tersengal.

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 241

    Wajah Leo menegang seketika saat suara Surti terdengar di ujung sambungan. Kalimat demi kalimat yang disampaikan wanita itu menghantam dadanya. Dunia di sekelilingnya seakan meredup, menyisakan satu titik terang yang berdenyut kencang di kepalanya—Nayla.Telepon itu berakhir dengan bunyi tut yang singkat. Leo menurunkan ponsel perlahan. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan di dada. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Putra, ia berbalik dan mengambil langkah ke arah berlawanan dari pintu keberangkatan.“Pak, mau ke mana?” suara Putra menyusul, terdengar panik.Leo tak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat.“Pulang!” suaranya tegas, terburu-buru. “Kamu pergi ke Switzerland sendiri aja, Put! Saya nggak ikut. Saya pulang."“Lho? Lho? Lho?” Putra berlari mengejar, koper besarnya terguncang-guncang. “Kenapa, Pak? Ada apa? Pak?"Leo pun akhirnya berhenti. Ia menoleh—hanya sesaat—namun cukup untuk membuat Putra tercekat. Matanya sudah berkaca-kaca, seperti menahan sesuatu yang hampir tumpa

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 240

    Nayla kembali membuka resleting tas besar berwarna krem itu, memastikan isinya sekali lagi. Popok bayi berbagai ukuran—cek. Selimut tipis—cek. Baju bayi yang sudah disetrika dan dilipat rapi—cek. Semua tersusun persis seperti daftar yang Matilda buatkan dengan tulisan tangan tegas, lengkap dengan tanda centang merah di pinggir kertas.Dua tas besar itu disusun di dekat lemari. Satu tas khusus perlengkapan persalinan, satu lagi berisi kebutuhan bayi, dan tas terpisah berisi pompa ASI, botol susu, dan kantong pendingin siap angkut. Nayla menghela napas panjang, lalu menutup tas terakhir dengan perasaan campur aduk—tegang, berdebar, sekaligus pegal yang ia tahan.Dari arah meja, Leo masih duduk di depan laptopnya. Layar menyala menampilkan jadwal penerbangan dan dokumen persiapan grand opening apartemen pertamanya di Switzerland. Namun sejak sepuluh menit lalu, tak satu pun baris benar-benar ia baca. Pandangannya berkali-kali melirik ke arah Nayla.“Nay…” Leo akhirnya menutup laptop itu

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 239

    Tamu-tamu mulai berdatangan dari segala penjuru kompleks perumahan itu. Selesai dengan dekorasi, Pak Dirman langsung sigap berdiri di dekat pintu gerbang yang sengaja dibuka lebar, menyambut setiap tamu dengan senyum ramah dan arahan singkat. Derai tawa anak-anak kecil yang datang bersama orang tua mereka memenuhi halaman rumah.Nayla memang sengaja mengundang semua anak di kompleks itu. Ia ingin ulang tahun pertama Matteo dipenuhi riuh suara dan langkah-langkah kecil yang berlarian, seolah ingin mengusir keheningan yang sudah terlalu lama bertamu di rumah mereka.Di ruang keluarga, Nayla berdiri menyambut para tamu dengan senyum terbaiknya. Gaun bertema Mesir itu sungguh tak bisa menyembunyikan perut buncitnya yang ikut menjadi pusat perhatian ibu-ibu. Bahkan sesekali, bayi di rahimnya bergerak aktif, seolah ikut merasakan keramaian, apalagi ketika ada ibu-ibu tetangga dengan gemas mengusap perut Nayla.“Ya Tuhan, bumilnya cantik banget,” ujar salah satu ibu sambil menyalami Nayla. “S

  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 101

    “Nih, kamu bisa tidur di sini, Ti. Dulu aku sama BuDe pakai kamar ini. Udah aku beresin sih pas BuDe dipecat Mama. Cuma spreinya pasang sendiri, ya,” ujar Nayla sambil mendorong pintu kamar pembantu dan menyalakan lampu. Surti melongok ke dalam, matanya berbinar. “Wih, makasih banget, Nay. Aku neka

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 104

    Suara deru mesin mobil Leo berpacu dengan detak jantungnya. Dua motor besar yang sedari tadi membuntuti makin liar, jaraknya semakin rapat. Dari kaca spion, Leo seperti bisa menangkap tatapan tajam mata elang pengendara di balik helm hitam. Leo bergegas menekan tombol handsfree di layar mobil, mene

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 97

    "Paket apa lagi ya? Kopi sama teh sudah… bedak bayi juga sudah…” gumam Nayla, alisnya bertaut, berusaha mengingat-ingat.“Sini aku ambilin, Nay,” ujar Leo sambil melangkah ke pintu menyongsong Pak Dirman. “Banyak, Pak, paketnya?” tanyanya.“Cuma satu, Pak.” Pria paruh baya itu menyerahkan sebuah ko

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Ibu Susu Polos Pak Boss   BAB 98

    Di dadanya, Matteo masih menyusu tenang, belum terganggu sama sekali dengan apa yang sedang melanda ibunya. Keterkejutan Nayla belum berhenti. Di dalam kotak itu, terselip pula selembar kertas kecil, terlipat kusut seperti sudah dibuka tutup berkali-kali.Dengan tangan gemetar, Nayla membukanya per

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status