Share

Bab. 2

Author: Kalista Aruna
last update Huling Na-update: 2025-10-07 17:26:11

Kalimat itu terucap bersamaan, spontan keluar dari mulut mereka berdua.

“Sial!” umpat Alvin, rahangnya mengeras. Tatapannya menusuk lurus ke arah Mutiara.

Mutiara terpaku. Umpatan itu seperti tamparan yang membuat dadanya bergetar. Ia menunduk, tidak percaya Alvin—pria yang dulu begitu lembut—bisa menatapnya sekejam itu.

Danang, asisten sekaligus sopir Alvin, buru-buru menenangkan. “Bos, tenang dulu. Orang-orang lihat, Bos.”

Beberapa pengunjung rumah sakit memang mulai memperhatikan. Alvin mengepalkan tangan, lalu mengembuskan napas berat. Setelah melihat isyarat tegas Danang agar ia menjauh, Alvin akhirnya berbalik pergi, masih dengan wajah tegang.

Danang menatap Mutiara yang mematung di tempat. Dengan sopan ia menunduk.

 “Silakan Ibu pergi dulu. Maafkan Bos saya,” katanya pelan.

Mutiara hanya mengangguk, suaranya hilang di tenggorokan. Ia segera melangkah pergi dengan langkah gontai, masih gemetar oleh pertemuan tak terduga itu.

Di ruang pemeriksaan, Suster Rini tengah memeriksa hasil tes di layar komputer. Mutiara duduk di kursi seberang, menunduk, mencoba mengatur napas. Kepalanya masih penuh bayangan Alvin—tatapan marahnya, caranya menyebut namanya dengan getir.

“Bagaimana hasilnya, Sus?” tanyanya cemas.

Suster Rini tersenyum setelah membaca layar. “Berdasarkan hasil lab dan wawancara, semuanya bagus. Ibu lolos untuk menjadi pendonor ASI.”

“Syukurlah...” suara Mutiara pecah. Air matanya mengalir deras, kali ini bukan karena takut, tapi karena lega. Namun di balik senyum itu, pikirannya tak berhenti berputar: Brigitta. Alvin. Apakah mungkin...?

Ia mencoba menepis bayangan itu—sampai akhirnya lidahnya tak tahan untuk bertanya.

 “Sus... apakah benar bayi itu... Brigitta... putri dari Alvin Bramantio?”

Suster Rini menatapnya heran, lalu mengangguk. “Iya, betul. Saya akan panggil perwakilan keluarganya sekarang.”

Deg. Dunia Mutiara seolah berhenti berputar.

Jadi benar... Alvin.

 Napasnya tersengal. Dalam hati ia bimbang—antara mundur atau tetap melanjutkan. Tapi Lila membutuhkan biaya operasi, dan kesempatan ini satu-satunya jalan.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Langkah kaki perlahan mendekat.

“Ibu Mutiara, ini nenek dari Brigitta,” ujar suster, lalu meninggalkan mereka berdua.

Mutiara perlahan menoleh. Seketika tubuhnya kaku.

 “Bu Sulastri...” bisiknya lirih.

Perempuan paruh baya itu tampak terkejut. “Kamu?” suaranya tercekat, matanya memerah karena amarah dan luka lama.

“Iya, Bu...” jawab Mutiara nyaris tak terdengar.

Sulastri menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Saya tidak tahu apakah Alvin akan setuju atau tidak. Tapi cucu saya butuh ASI. Kalau Alvin menolak, saya harus mencari orang lain. Dia tidak mau susu dari botol.”

“Tapi... Bu, saya butuh uang itu untuk operasi Lila,” ucap Mutiara dengan suara bergetar.

“Lila?” alis Sulastri berkerut.

“Anak saya, Bu. Tiga minggu umurnya. Dokter bilang harus dioperasi segera.” Tangisnya pecah.

“Bagaimana dengan suamimu?”

 “Sudah... cerai,” jawabnya, hampir berbisik.

Sulastri terdiam. Ada iba di matanya, tapi juga luka lama yang belum sembuh. Ia masih ingat bagaimana anaknya, Alvin, nyaris mati setelah ditinggalkan Mutiara—luka yang membuatnya membenci sekaligus iba pada perempuan di hadapannya sekarang.

Air mata jatuh di pipi Sulastri. Ia menutup mata, menahan emosi. Mutiara, yang tak kuat melihatnya, akhirnya berlutut di depannya.

 “Maafkan saya, Bu... maafkan saya.”

Sunyi. Hanya suara tangisan kecil di antara mereka.

Akhirnya Sulastri menarik napas panjang. “Duduklah, Tiara. Kita... coba dulu.”

Mutiara menurut, duduk sambil mengusap air mata.

 “Terima kasih, Bu,” ucapnya lirih.

Sulastri pun berkata pelan, “Brigitta kelaparan. Semalam terakhir ia menyusu dari ibunya... pagi ini, ibunya meninggal.”

Mutiara menunduk. “Saya turut berduka.”

Sulastri menyeka air matanya. “Saya khawatir dengan Alvin. Dia belum siap kehilangan Monica.”

Suara langkah berat tiba-tiba terdengar di belakang mereka. Keduanya serempak menoleh.

Alvin berdiri di ambang pintu.

 Wajahnya gelap, matanya merah.

 Keheningan menggantung.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 84

    Alvin tersungut-sungut,. Hingga sore hari Randi belum juga datang ke kantor. Danang hanya terdiam, ia ragu memberikan pendapat. Sementara Mutiara yang turut menyertainya pun hanya duduk memainkan gawenya.Masih ada harapan kalau tuduhannya terhadap Randi itu tidak lah benar. Alvin tidak bisa membayangkan kalau Randi pelakunya makai a harus bertindak tegas untuk memecatnya. Bagaimana nasib Perusahaan ke depannya.Sejak Randi bergabung di Perusahaan Alvin Karya, ia telah mampu mensejajarkan dengan Perusahaan menengah yang paling kompetitif. Bahkan jika proyek-proyek yang sedang dirancang bisa terwujud maka Perusahaan Alvin Karya bisa disebut salah satu Perusahaan terbesar di negri ini.“Aku harus tegas!”ucapnya ragu.“Tapi Bos, Perusahaan kita sangat bergantung padanya,” keluh Danang.Mutiara tergelitik untuk memberi komentar, “apalah artinya jika sebuah kapal ada penghianat di dalamnya. Cepat atau lambat kapal itu akan karam juga.”“Euhm, Sayang … aku setuju dengan pemikiranmu. Kenapa

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 83

    “Baik, Nona.”Melinda kembali menaiki mobil, namun kali ini Farel yang membawanya. Mereka mengarah pada sebuah pemukiman mewah di mana Alvin dan Mutiara tinggal. Rumah-rumah mewah nan megah berderet begitu anggun.“Kamu lihat rumah dengan gerbang yang sangat besar dan terdapat beberapa pengawal, di sanalah mereka tinggal.”“Sepertinya saya akan kesulitan untuk menembus pengawalan mereka, Nona.”“Ya ….” Melinda menghempaskan napas dengan kasar.Menyaksikan pemandangan itu membuat emosi Farel terpantik. Hingga seluruh tubuh Farel bergetar tiba-tiba. Mobil yang dikendarai Farel Arfando oleng tepat di hadapan para pengawal. Hingga membuat para pengawal terkesiap.“Farel! Kabur!” perintah Melinda sambil berteriak.Mobil pun langsung melaju kencang. Hingga para pengawal tidak mampu mencegatnya. Farel merasa lega telah lolos dari mereka. Berbeda dengan Melinda yang kesal atas keteledoran Farel.“Gila kamu ya, kita nyaris mati ditangan mereka,” omel Melinda.“Maaf Nona,” ucapnya pelan nyari

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 82

    “Tuan, anda tidak apa-apa? … Wawan ambilkan salep untuk luka bakar di kotak P3K!” Teriak seorang pelayan yang melihat kejadiaan penyiraman kopi panas.Tanpa merasa bersalah Melinda bergegas pergi dengan menenteng tas yang didalamnya HP merekam sebuah perciakapan keduanya. Ia mempercepat langkahnya, kala mendengar langkah kaki seseorang sedang mengikutinya.“Nona, anda belum bayar.”Melinda menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya. Ia berusaha mencari beberapa lembar uang di dalam tasnya, setelah mendapatkannya, ia melempar beberapa lembar uang.“Itu lebih dari cukup untuk orang miskin seperti kamu.”“Kami memang tidak kaya, tapi kami punya aturan. Ambil uangmu dan bayar ke kasir. Kalau anda tidak melakukannya, rekaman CCTV dari café kami akan diviralkan. Apa lagi saya mengenal anda sebgai pembisnis handal.”“Aah … jangan banyak ngomong.”Melinda segera memungut uang-uang yang berserakan di lantai. Ia terpaksa kembali lagi ke kafe. Tampak Randi sedang membersihkan bajunya yang

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 81

    Di sebuah café penggiran kota, waktu menunjukan pukul sebelas malam. Randi duduk di pojokan. Ia sengaja memilih tempat itu untuk menghindari perhatian pengunjung lain.Dari pintu masuk tampak Melinda berjalan menuju ke arahnya. Tanpa ragu ia menyunggingkan senyum. Kemudian ia duduk berhadapan dengan Randi yang dipisahkan oleh meja.“Suadah lama Menunggu Pak Randi?” tanya Melinda sembari tersenyum.Randi pun menggeleng. “Oh tidak, aku baru lima belas menit.” Matanya melihat jam sembari mengangkat tanggannya. “ya … kurang lebih.”Senyum getir tampak di bibirnya. Ia tidak menyangka akan mengkhianati Alvin sampai sejauh ini. Rasa sesal tidak mampu ia abaikan.“Tampaknya ada sesuatu yang penting, hingga Nona Melinda memintaku untuk datang ke sini di Tengah-tengah kesibukan anada.”“Ya, begitulah.”Melihat Randi yang tampak tertekan Melinda pun mencari tahu. “Apa Tuan Randi menyesal datang ke tempat ini?”Senyum simpul dari bibir Randi, menyiratkan jawaban yang dibutuhkan oleh Melinda. Ya,

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 80

    “Kenapa aku harus sejauh ini mengkhianati Pak Alvin. Dia sudah terlalu baik padaku dan keluargaku,” gumamnya dengan lirih.Di dalam ruangannya ia duduk mematung. Ia tampak terpuruk. Tanpa menyalakan AC, keringat bercucuran karena suhu ruagan yang panas bercampur dengan keringat yang mengalir karena berbuat kecurangan.Sebuah dering telpon membuyarkan lamunannya, namun tak sedikitpun ia berniat mengangkat panggilan telpon itu. Ia telah membuat keputusan untuk resigne dari Perusahaan Alvin Karya.Ia bisa saja mengabaikan permintaan Melinda untuk tetap setia pada Alvin, toh semua video dan foto-fotonya yang diambil oleh stevani, telah ia hapus bahkan di HP Melinda pun sudah dipastikan tidak ada. Namun ia menghargai usaha Melinda membantunya menghilangkan jejak digital perselingkuhannya.“Emang aku bodoh.” Tangan Randi megepal dan memukul meja dengan keras. Mulutnya mengatup dengan kuat.Dengan langkah gontai ia meninggalkan kantor. Hawa dingin diparkiran menampar wajahnya. Seakan alam pu

  • Ibu Susu untuk Bayi Sang Mantan   Bab 79

    Alvin membawa baran-barang bawaan Mutiara di tangan kirinya dan menggendong tas untuk laptop dan berkas-berkas penting. Tangan kannya merangkul Mutiara sembari berjalan di Lorong kantor. Saat melewati ruangan Randi terasa ada kejanggalan. Pintu yang sedikit ternganga, tapi lampu masih menyala.“Kenapa ruangan Randi tidak ditutup?” gerutu Alvin, dahinya mengerut. Lalu ia melepaskan rangkulan tangganya untuk menutup ruangan Randi.“Mungkin dia lupa sayang. Jangan terlalu dipikirkan,” bujuk Mutiara.Alvin mengangguk. “Ya, mungkin aku sedikit terpengaruh dengan ucapanmu.”Di parkiran, kedua mata Randi melotot, kala melihat kedatangan Alvin dan Mutiara yang tiba-tiba. Dengan senyum yang di paksakan ia menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Ia pun menyapa Alvin dan Mutiara.“Oh … Tuan Alvin dan Nyonya Melinda, sudah mau pulang?”Melihat sikap Alvin yang berbeda dari biasanya membuat Alvin menerka-nerka apa yang sedang ia rencananakan di belakangnya. Saat ini ia tidak bisa menyimpulkan. Un

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status