แชร์

Bab 8

ผู้เขียน: Astika Buana
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-26 13:17:25

Semalaman aku memikirkan langkah apa yang harus aku ambil. Malik sudah bermain kasar. Kalau aku tetap diam, bisa jadi dia akan lebih semena-mena. Semut yang kecil saja kalau diinjak akan menggigit balik. Iya, kan?

"Ini kopinya, Bu. Kopi hitam tanpa gula. Dan ini pisang gorengnya. Masih panas." Ucapan ibu kantin rumah sakit menyadarkanku. Ini tempatku makan selama di rumah sakit menunggu Alya.

"Saya pesan."

Ibu itu tersenyum. "Sudah hapal. Dan pisang goreng untuk pelanggan pertama."

"Terima kasih."

Uap kopi menguar, mengendorkan syaraf-syaraf yang sedari tadi tegang. Menghidu uap pertama membuatku lebih segar. Setelah menyesap sedikit, kuletakkan cangkir di meja sebelah buku dongeng yang tak sengaja aku bawa. Mungkin karena bingungnya, aku membawa buku ini kemana-mana. 

Teringat tadi saat terbangun aku memeriksa Alya. Tetap sama. Setelah membersihkan diri, kembali aku membacakan buku kesukaan Alya ini. Harapanku, dia bangun dan melontarkan pertanyaan dan pernyataan aneh seperti saat kecil dulu. 

"Ibu, nenek sihir diganti saja dengan kakek sihir." Mata bening itu mengerjap. 

"Kenapa?"

"Karena nenek sihir jahat. Aku tidak mau ada orang jahat! Maunya pangeran saja, yang baik hati dan menolong putri dari sihir. Alya juga tidak mau ibu tiri!" 

Kala itu aku berpikir itu celotehan anak kecil belaka. Setelah aku pikir lama, bukankah itu menanamkan kalau perempuan identik dengan nenek sihir dan laki-laki adalah pangeran penolong? Saat kecil, dia menyukai kisah dongeng putri dan pangeran.

Bisa jadi Alya yang berumur 19 tahun belum berpikir dewasa dan masih termakan kisah dongeng ini. Dalam buku harian Alya pun mengatakan kalau si Malik brengsek itu pangerannya. Kalau begitu, bukankah aku mempunyai andil pada pemikiran keliru ini? 

Huft! Tanpa pikir panjang, kulempar buku itu ke keranjang di sudut ruangan. 

"Gara-gara ini putriku menjadi bucin dan tolol!"

Kisah cinta pangeran datang sebagai penolong hanya dongeng belaka. Zaman sekarang, yang terlihat seperti pangeran justru menyembunyikan belati dan siap dihujamkan. Senyum di wajah itu untuk menutupi wajah monster yang sebenarnya.

Selama ini aku baru mengejarkan indahnya dunia, tanpa sempat memberitahu di belahan sana banyak orang yang terjebak dalam kemalangan.

Kepalaku terasa akan pecah. Ingin berteriak sekeras-kerasnya mengurai sesak di dada. Kembali aku meruntuki diri sendiri. Semakin menelisik kenapa anak gadisku begitu tolol, semakin aku merasa bersalah.

Aku beranjak dari tempat duduk, tapi urung melangkah.

“Nasi bungkusnya sudah ada.” Ibu kantin membawa keranjang bambu berisi banyak nasi yang dibungkus daun pisang.

Aku melirik sebentar. “Terima kasih. Saya belum lapar.”

Meskipun tidak menoleh, dari pantulan jendela kaca terlihat dia menatapku heran. Meskipun kami tidak dekat, dengan wanita yang seumuran denganku ini kami sering saling menyapa. Dia mulai hapal kebiasaanku: kopi hitam tanpa gula dan nasi bungkus dua yang pakai sambal teri.

Sampai areal ruang inap, Bima sudah berada di depan kamar. Dia langsung berdiri menyambutku.

“Pagi, Bu Sari.”

“Kamu kenapa kesini? Bukankah saya belum memanggilmu?”

“Maaf. Saya kawatir ada apa-apa karena HP Bu Sari tidak bisa dihubungi.”

 “Oya?” Aku mengeluarkan ponsel dari saku. “Ternyata mati.”

Dengan sigap Bima mengeluarkan pengisi daya dan meminta ponselku. Kalau dipikir, pemuda ini tidak sekadar pengawal, tetapi juga aspri yang mengerti kebutuhanku.

Sambil menunggu ponsel bisa dinyalakan, dia menyodorkan bekalnya berisi beberapa arem-arem isi oncom. Katanya buatan Bu Nunung-ibunya.

“Ternyata banyak pesan yang masuk.” Jariku membuka satu persatu pesan. Yang menjadi perhatianku pesan dari Gombloh.

[Malik mempunyai rumah di luar kota] pesan yang dilampiri share lokasi.

[Kami siap meluncur. Menunggu perintah, Bu Sari]

Dadaku seketika bergemuruh, rasa ingin menghancurkan lelaki itu semakin pekat. Jempol dan jari telunjukku mencari tahu lokasi Malik. Tidak dekat, butuh waktu satu sampai dua jam. Di pinggiran kota.

“Kamu tahu daerah ini?” Aku menunjukkan ke Bima. Pemuda itu mengangguk. “Iya itu sedikit keluar dari batas kota. Itu dekat perkampungan nelayan.”

Lebih baik aku dan Bima saja yang ke sana. Kalau melibatkan Gombloh, itu sama saja menangkap ikan kecil menggunakan jaring besar.

[Terima kasih infonya, Gombloh. Saya akan selidiki sendiri. Kalian jangan bergerak. Ini perintah!] pesan terkirim.

“Habiskan makananmu. Kita ke sana sekarang.” Aku beranjak masuk kamar mengambil tas dan jaket. Tak lupa aku memastikan teser gun – alat kejut listrik. Ini untuk jaga-jaga.  

Menggunakan sepeda motor dengan kecepatan tinggi, satu jam lebih sedikit, kami tiba di lokasi. Lengang dan jarang ada hunian. Hanya ada beberapa rumah bambu seperti rumah singgah. Terdengar sayup-sayup suara ombak laut dan aroma amis pun menguar.

“Rumahnya yang itu!” seru Bima sambil memperhatikan peta di ponsel.

Pagar besi yang sudah karatan, dan halaman kotor dan rumput tinggi. “Apa ini bukan rumah kosong?”

“Sepertinya baru saja ada orang datang.” Bima menunjuk bekas roda mobil tepat di depan teras. Ada juga beberapa alas kaki yang diletakkan asal di depan pintu.

“Biarkan saya masuk.” Belum sempat aku jawab, Bima sudah melompati pagar dan mengendap mendekati bangunan. Dia menyelinap ke samping, sedangkan aku mengamati ke sekitar. Tidak ada satu orang pun yang lewat. Tempat ini cocok untuk persembunyian dan berbuat jahat.

“Tidak ada orang, Bu. Kita menunggu atau__”

“Aku masuk. Tempat ini mencurigakan. Aku ingin tahu apa yang ada di dalam.”

Kriet ….

Suara decit pintu besi menusuk telinga. Bima mengarahkan aku untuk melewati dari pintu belakang. Dengan mudah, Bima mencongkel dan kami pun masuk.

“Tempat apa ini?” ucapku dalam hati.

Dahi ini berkerut ketika melihat botol-botol minuman beralkohol kosong berjajar di meja dengan sampah bungkus makanan berserakan. Kain penutup sofa berantankan dan …. Aku menajamkan mata. Menggunakan sumpit, kuangkat celana dalam berenda berwarna merah. Lebih mengerikan di tempat sampah di sudut ruangan, berserakan bungkus bekas kondom.

“Bu Sari! Tolong lihat ke sini!” teriak Bima dari ruangan depan.

Mataku terbelalak menilik dua bilik yang disetting layaknya kamar tidur. Dengan kelambu berwarna putih dan lampu yang temaram. Mengejutkan lagi, ada kamera yang mengarah ke ranjang.

“Ini….”

“Iya. Sepertinya ini tempat pembuatan film begituan. Biasanya mereka merekam dan memperjual belikan.”

Aku membekap mulut. Tidak aku sangka, tempat seterpencil ini terjadi kegiatan bejat. Ini bukan sekadar prostusi yang satu kali berkegiatan, tetapi sudah menjadikan konsumsi dengan penikmat tidak terbatas jumlah dan jangkauan.

“Ka-kalau begitu ini pasti ada jejak digitalnya, kan? Yah minimal ada perangkat yang memproduksi film itu.”

Bima mengangguk. Pemuda itu menuju sekering dan mematikan aliran listrik. Kemudian dia mengernyit sambil menunjukkan tanda untuk diam. “Kita cek kamar itu!” Dia menempelkan telinga.

“Kemungkinan ada komputer dan sejenisnya di dalam. Ada bunyi tit-tit-tit. Itu suara penyimpan daya. Ini semakin mencurigakan karena digembok ganda. Tunggu saya cari alat untuk membukanya.”

Mendadak tangan dan kakiku berkeringat dingin. Kalau ini pelakunya Malik dan komplotannya, bukan tidak mungkin … Alya menjadi salah satu korbannya?

***

Astika Buana

Terima kasih sudah membaca kisah ini. Jangan lupa kasih komentar dan bintang lima. Love sekebon.

| 6
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 91. Malam Indah

    POV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 90. Pengen Nangis

    POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 89. Nakalnya Alya

    POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 88. Hari jadi

    POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 86.  

    “Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 85. Lebih Dalam

    “Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 3

    “Tolong titip anak saya!” Aku segera beranjak mengejar kelebat lelaki itu.Malik melangkah tergesa sambil menangkup kepalanya. Bajunya pun juga ada noda darah. Sepertinya, pukulanku tepat di sasaran. Namun, ini tidak sebanding dengan perlakuannya kepada Alya ku.“Malik! Berhenti kau!”Laki-laki itu

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 2

    “Alya…?!”Gegas aku beranjak, tapi wanita itu keburu menaiki motor ojek.“Kejar ojek itu, Pak!”Beruntung taxi pesananku datang. Pandanganku tidak lepas dari wanita berambut merah itu. Meskipun berusaha mendekat, tetapi kami masih terhalang beberapa kendaraan lain.“Pokoknya ikuti. Jangan sampai lo

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 1

    “Mas Malik itu sayang sama aku, Bu. Dia melakukan semuanya juga demi anak Ibu. Kenapa Ibu jadi perhitungan begini? Memangnya Ibu nggak mau aku bahagia?”Aku terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut anakku sendiri gara-gara laki-laki yang baru dikenalnya selama beberapa bulan. Putriku yang ku

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 7

    ~ JANGAN COBA-COBA MENCARIKU. KECUALI SIAP HIDUPMU HANCUR SEPERTI TOKOMU SEKARANG. CAMKAN! ~ Pesan ancaman tanpa inisial. Meskipun begitu, aku tahu siapa dia. Pasti si brengsek Malik. Pandanganku mengitari ke sekeliling. Kue yang semula tertata rapi sekarang berantakan bercampur dengan serpihan k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status