로그인Kesabaranku tidak berbanding lurus dengan proses hukum. Meskipun sudah dijelaskan kebebasan Malik dalam pengawasan, aku tetap tidak terima. Enak saja anakku masih belum sadar di rumah sakit, tapi dia sudah menghirup udara bebas.
“Sabar, Sari. Ikuti prosesnya dan belajarlah bersabar,” bisik hatinya di sudut sana.
Aku meletakkan kembali ponsel. Nyaris saja aku menghubungi Gombloh untuk menyelesaikan Malik dengan cara lama. Lebih baik aku berusaha sabar dan memulai hari.
Ingatanku bergulir pada ucapan suamiku dulu. Katanya, semakin kamu reaktif, maka kamu semakin dikendalikan karena tidak dengan jelas melihat jalan yang tepat.
“Bu Sari akan berangkat kerja?”
Senyum Bima menyambut saat aku menoleh ke pagar besi yang memisahkan rumah kami. Dia sedang membersihkan motor. Di sampingnya ada Bu Nunung, ibunya.
“Iya. Ini akan pesan ojek online.”
“Kenapa tidak ngojek ke Bima saja? Anak saya terima bulanan juga. Lebih murah dan diprioritaskan. Bisa pakai motor, bisa juga pakai mobil. Ya, kan Bim?” Bu Nunung menyenggol lengan Bima.
Aku mengernyit mempertimbangkan. Benar juga, lebih baik diantar orang dikenal daripada pengemudi dari antah berantah. Sebelumnya dia bisa diandalkan untuk membantuku.
“Boleh. Biayanya info, nanti saya bayar. Saya memilih motor untuk efisiensi waktu.”
Ini pilihan yang tepat. Aku seperti memiliki sopir pribadi. Tujuanku pertama ke café untuk menemui Pak Budiman. Selain ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menanggung biaya rumah sakit Alya, aku juga akan menelisik tetang Malik.
“Keadaan Alya tidak bisa dipastikan kapan dia sadar. Saya tidak masalah kalau Pak Budiman menghentikan menanggung biaya,” ucapku saat sudah berhadapan dengan lelaki berambut putih ini.
Ini sudah beberapa kali pertemuan kami. Karena Pak Budiman sudah menjadi langganan tetap di toko kueku jauh sebelum kami bekerja sama.
“Biaya yang saya keluarkan tidak sebanding dengan kerugian kamu. Ini juga tanda terima kasih karena tidak memancing keributan di café ini.”
“Keributan. Maksud Pak Budiman?” Aku mengernyitkan dahi.
“Kamu tidak tahu siapa Malik sebenarnya?”
Perhatianku semakin menajam menyimak ucapan Pak Budiman selanjutnya. Dia menjelaskan kalau Malik bukan sekadar pengguna obat telarang. Dia itu terkenal licik dan bergabung dalam jaringan kelompok dunia malam. Malik memang bukan penguasa, tetapi kelicikan menjadikan ucapannya selalu dipercaya.
“Dia bisa menghancurkan sesuatu dengan meminjam tangan orang lain. Karena itulah, aku tidak bisa berbuat banyak, meskipun tempat ini sering digunakannya untuk transaksi.”
Ada rasa tidak terima di dada ini. Meskipun laki-laki tua di depanku ini bukan pelaku, tetapi dia punya andil dengan membiarkan kejahatan berlangsung di tempatnya. Pasti selama ini tidak hanya anakku yang menjadi korban. Mungkin mereka tidak bersuara karena tidak ada kekuatan dan kesempatan, tetapi Alya mempunyai aku. Ibunya.
“Apa Pak Budiman tidak merasa bersalah?” Aku menatapnya tanpa kedip.
Laki-laki itu menghela napas kemudian berucap, “Pasti. Namun, ada banyak orang yang harus saya lindungi dan perjuangkan. Maaf.”
“Untuk mengurangi rasa itu, beri saya informasi tentang Malik dan mereka.”
Pemilik café ini mengangguk dan memulai bercerita. Malik tidak hanya aktif berjudi dan mengedarkan obat terlarang, dia juga berkecimpung di dunia prostitusi.
“Mereka berkerja di bawah permukaan. Tidak terlihat tapi mempunyai jaringan luas. Malik memanfaatkan ini.”
“Bagaimana saya menemukan dia?”
“Hati-hati. Karena mengejar Malik, bisa jadi kamu diadu domba dengan jaringan ini. Bisa jadi kamu tidak mendapatkan Malik, tapi justru menghadapi kekuatan yang tidak kamu bayangkan. Kamu yakin?”
“Sangat.”
Pak Budiman sesaat menatapku, selanjutkan mengangguk sebelum beranjak ke meja kerja. Memo yang berisi alamat disodorkan di depanku.
“Hanya ini yang bisa aku berikan. Informasi terakhir, Malik ada di sana.”
Aku berniat ke sana. Minimal mengetahui kalau dia tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Baru saja keluar dari café, ponselku menyala. Telpon dari toko.
“Bu Sari, Gawat! Ada yang melempar batu. Kaca di depan pecah!”
“Siapa? Anak-anak iseng?”
“Ti-tidak tahu, Bu. Ta-tapi mereka masih di luar. Sekitar ada lima orang membawa pentungan. Tolong saya!”
“Kamu dan yang lain masuk ke dalam gudang. Kunci. Saya segera ke sana!”
Sigap Bima bersiap. Sepeda motor dipacu dengan kecepatan penuh. Berselip di antara kendaraan lain dan tak lama kami pun sampai di toko.
Tempat usahaku berantakan. Pecahan kaca berceceran. Meskipun tidak mengenai estalase, tetapi ini tidak memungkinkan toko dibuka.
“Bu Sari. Ada kertas di batu yang dilempar tadi.”
Batu seukuran dua kepalan orang dewasa terbungkus kertas. Bima mengambil dan menyerahkan kepadaku. Tak sabar aku membuka kertas yang lusuh ini. Berulang kali aku baca dan ini menjadikan alasanku untuk menutup toko sampai keadaan tenang. Aku tidak mau karyawan menjadi korban karena urusanku.
“Surat ancaman?”
***
POV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi
POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber
POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa
POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent
“Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka
“Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema
Semalaman aku memikirkan langkah apa yang harus aku ambil. Malik sudah bermain kasar. Kalau aku tetap diam, bisa jadi dia akan lebih semena-mena. Semut yang kecil saja kalau diinjak akan menggigit balik. Iya, kan?"Ini kopinya, Bu. Kopi hitam tanpa gula. Dan ini pisang gorengnya. Masih panas." Ucapa
~ JANGAN COBA-COBA MENCARIKU. KECUALI SIAP HIDUPMU HANCUR SEPERTI TOKOMU SEKARANG. CAMKAN! ~ Pesan ancaman tanpa inisial. Meskipun begitu, aku tahu siapa dia. Pasti si brengsek Malik. Pandanganku mengitari ke sekeliling. Kue yang semula tertata rapi sekarang berantakan bercampur dengan serpihan k
Aku menggenggam tangan Alya yang masih di posisi semua. Belum ada kemajuan, tetapi tidak ada penurunan kondisi. Sama.“Tuhan, aku memang bukan orang sempurna, tetapi aku selalu berusaha tidak merugikan orang lain. Yang aku minta satu, berilah kesempatan aku bersama dengan anakku dalam kesehatan dan
“Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam







