LOGINAku menggenggam tangan Alya yang masih di posisi semua. Belum ada kemajuan, tetapi tidak ada penurunan kondisi. Sama.
“Tuhan, aku memang bukan orang sempurna, tetapi aku selalu berusaha tidak merugikan orang lain. Yang aku minta satu, berilah kesempatan aku bersama dengan anakku dalam kesehatan dan kebahagiaan. Terima kasih atas cintai dan kesempatan yang Kau berikan. “
Tangan dingin Alya terasa di ujung hidungku. Kerinduan pada kehangatannya semakin pekat, tapi ini tidak kunjung terjawab. Matanya masih terpejam dengan masker oksigen yang menghalangi wajahnya yang cantik.
“Alya, Sayang. Maafkan ibu sudah membuatmu sakit. Namun ketahuilah itu ibu lakukan untuk kebaikanmu. Ibu janji setelah kamu sadar akan lebih banyak mendengarkan kamu. Cepat pulih, ya, Sayang.”
Pintu terbuka. Aku beranjak memberikan ruang untuk perawat yang melakukan pemeriksaan rutin. Setelah selesai, aku diminta ke ruangan dokter.
“Laporan visum sudah selesai. Sebelumnya saya bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada anak ibu?”
Kuceritakan penganiayaan yang menyebabkan Alya sampai dilarikan ke rumah sakit. Dokter itu mengangguk dengan menyorotkan pandangan iba.
“Jadi yang ibu ketahui penganiayaan terjadi di hari itu?”
“Iya. Betul.”
Dokter itu menyodorkan laporan visum dan membuka sambil menjelaskan isinya. Kedua tanganku mengepal erat seiring dengan kerutan dahi yang semakin dalam. Ini di luar dugaan.
“Maksud, Dokter apa?”
Pandanganku mengikuti gerakan jari di atas laporan itu. “Luka-luka ini bukan luka baru, Bu. Ini jejak penganiayaan sebelumnya.”
Kaki ini seakan tidak menjejak bumi, ketika hasil berikutnya dibacakan. “Dari pemeriksaan, ini bukan kehamilan pertama putri ibu.”
Tubuhku lunglai seketika. Apa yang terjadi sebenarnya pada Alya? Kenapa aku sebagai ibunya dan satu-satunya keluarga tidak tahu apa yang menimpanya?
Meskipun begitu, tetap aku tidak terima dengan perlakukan Malik kepada Alya. Tanpa membuang waktu, laporan visum ini harus segera aku teruskan ke polisi. Malik harus mempertanggungjawabkan kejahatannya.
“Nomor telpon Bu Sari sudah saya catat. Perkembangan penyelidikan akan segera diinformasikan.”
“Perkembangan? Maksud bapak pelaku tidak langsung ditangkap?”
“Maaf, Bu. Kasus yang harus kami tangani bukan hanya kasus ini. Mohon bersabar.”
“Tapi, Pak.”
“Saya ikut prihatin. Ini saya usahakan dipercepat. Apalagi, keberadaan pelaku tidak diketahui, kan. Kami minta waktu lebih___”
“Kalau saya menemukan pelaku dan membawa kesini, hukuman akan segera dilakukan, kan?”
Laki-laki berseragam itu tersenyum dan mengangguk.
Aku menghela napas sambil memejamkan mata. Ini tidak ada jalan lain selain menggunakan cara lama. Tanpa membuang waktu, aku mengirim pesan melalui taxi online.
[Seret orang itu ke polisi. Apapun caranya!]
[Siap laksanakan, Bu Sari]
Sekarang tinggal menunggu pembuktian kesungguhan mereka menerima perintahku.
Benar, belum sampai dua puluh empat jam, Malik ditemukan dan langsung digiring ke polisi. Segera aku menyusul ke sana. Gombloh dan anak buahnya pun masih berjaga menunggu kedatanganku.
“Janji kami sudah selesai. Kami semua menunggu keputusan, Bu Sari,” ucapnya sebelum mengundurkan diri.
Perasaanku lega melihat laki-laki itu berada dalam ruangan sel. Penampilannya berantakan sisa jejak perlakuan Gombloh dan rekan-rekannya.
“Yang menganiaya anak saya sudah ditangkap. Berapa lama hukuman untuknya?”
“Pelaku terjerat UU PKDRT No 23/2005 dengan ancaman penjara lima sampai sepuluh tahun.”
“Maksimal sepuluh tahun saja? Padahal trauma anak saya ditanggung seumur hidup, Pak. Ini tidak adil!” seruku tidak terima.
“Ini tergantung keputusan pengadilan, BU.”
“Pengadilan? Kenapa hukumannya tidak mulai berlaku?”
Pak petugas itu tersenyum. “Ada prosesnya, Bu. Berkas penyidikan kami serahkan kepada Jaksa Penuntut Umum untuk diperiksa sebelum dilimpahkan kepada pengadilan.”
Aku menghela napas. “Apa lagi yang harus diperiksa, Pak? Korban ada, bukti lengkap, bahkan tersangka pun sudah saya bantu tangkap.”
“Betul, Bu. Kami usahakan cepat.”
“Berapa lama dan kapan selesai?”
“Saya jelaskan. Setelah itu persidangan, kemudian putusan hakim. Saat itulah yang menentukan berapa hukuman yang dia terima.”
“Ja-jadi tidak ada kepastian waktu?!” tanyaku mulai kesal.
“Maaf. Biarlah proses hukum berjalan. Tetapi bukankah seharusnya ibu tidak kawatir karena pelaku sudah ditangkap?”
Betul ucapan pak petugas ini. Yang penting laki-laki ini sudah di dalam sel. Urusan berapa lama dia dihukum, itu tugas pengadilan.
“Baik. Saya akan mengikuti prosesnya. Namun, bolehkah saya menemui pelaku?”
Aku diberi waktu tidak lama. Ingin rasanya meremat mulut lelaki itu yang menyunggingkan senyuman. Tidak ada jejak penyesalan saat berhadapan denganku. Malik justru memantik bara yang selama ini aku tahan.
“Kamu memang yang melahirkan Alya. Tapi dia sudah berada dalam genggamanku” ucapnya sambil tersenyum miring. Dia menelengkan kepala, mendekat ke jeruji. “Kamu tahu rasanya saat dia di bawahku? Meskipun dia meringis sakit, dia tetap melakukannya. Karena aku sudah memilikinya penuh.”
“Brengsek kamu, Malik! Laki-laki miskin moral!”
Dia justru tertawa mengejek. “Meskpun begitu, anak kamu rela menjadi budakku, kok. Tunggu saja, Alya akan kembali kepadaku.”
“Tidak akan!”
Tanganku sudah terayun. Beruntung ada petugas yang menenangkanku. Sungguh, seandainya tidak terhalang teralis besi, aku pasti menerjang dan mencabiknya meskipun harus menggunakan gigi.
Meskipun belum puas, aku harus kembali pulang. Seharian aku berkutat dengan urusan toko sembari mengontrol Alya melalui perawat yang aku sewa.
“Ya, Tuhan. Terima kasih sudah memberiku kesempatan melewati hari ini.” Aku merebahkan diri di sofa. Untuk sementara aku memberikan hak untuk tubuh ini.
Baru terlelap sebentar, ponselpun berbunyi. Kabar yang aku dengar ini membuatku benar-benar marah.
“Bu Sari, tersangka bebas dengan jaminan.”
***
POV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi
POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber
POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa
POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent
“Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka
“Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema
Semalaman aku memikirkan langkah apa yang harus aku ambil. Malik sudah bermain kasar. Kalau aku tetap diam, bisa jadi dia akan lebih semena-mena. Semut yang kecil saja kalau diinjak akan menggigit balik. Iya, kan?"Ini kopinya, Bu. Kopi hitam tanpa gula. Dan ini pisang gorengnya. Masih panas." Ucapa
~ JANGAN COBA-COBA MENCARIKU. KECUALI SIAP HIDUPMU HANCUR SEPERTI TOKOMU SEKARANG. CAMKAN! ~ Pesan ancaman tanpa inisial. Meskipun begitu, aku tahu siapa dia. Pasti si brengsek Malik. Pandanganku mengitari ke sekeliling. Kue yang semula tertata rapi sekarang berantakan bercampur dengan serpihan k
Kesabaranku tidak berbanding lurus dengan proses hukum. Meskipun sudah dijelaskan kebebasan Malik dalam pengawasan, aku tetap tidak terima. Enak saja anakku masih belum sadar di rumah sakit, tapi dia sudah menghirup udara bebas.“Sabar, Sari. Ikuti prosesnya dan belajarlah bersabar,” bisik hatinya
“Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam







