共有

Bab 4

作者: Astika Buana
last update 公開日: 2026-04-21 11:56:48

“Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.

”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam gelas menguarkan aroma kopi pekat yang membebaskan kepalaku dari pikiran penat.

Sambil menyesap kopi, aku mengingat masa saat ayahnya Alya masih ada. Kehidupanku berbanding terbalik dengan sekarang. Apapun yang aku inginkan tinggal tunjuk. Dunia seakan dalam genggaman karena suamiku lah yang menjadi penguasa dunia malam di kota ini.

Aku tidak ingin Alya tercemar dengan dunia yang menganut hukum rimba. Itulah yang menyebabkan aku melepas semua dan berpindah kota dan memilih menjadi orang biasa.

Sambil membawa berkas laporan polisi, aku menuju kamar Alya. Tepatnya bekas kamar anakku yang masih tetap dengan tatanan seperti dulu. Buku-buku tertata rapi, begitu juga sprei kesukaannya yang berwarna biru. Di kamar ini tidak ada yang menandakan dia anak pemberontak yang demi laki-laki pergi dari rumah. Bahkan mulutnya tega tidak menganggapku ibunya. 

“Apa aku melakukan kesalahan?”

Kepala ini memutar memori. Semua merujuk aku yang begitu memanjakan dan memberikan banyak fasilitas. Bukankah ibu lain juga seperti itu? Namun anaknya berhasil. Kenapa Alya berakhir seperti ini?

Denting tanda pesan masuk pun berbunyi. Senyumku terbit seiring harapan yang bersemi. Kemarin sudah aku ceritakan masalah Alya kepada Gombloh. Dia dulu tangan kanan suamiku. Awalnya mereka akan bergerak menghabisi Malik. Namun, membiarkan mereka bertindak, sama saja aku kembali ke masa lalu. Aku enggan, meskipun meminjam sebentar kemudahannya.

[Bu Bos. Orang itu melarikan diri. Tapi ini ada barang yang ditemukan dari kamarnya] balasan pesan disertai foto. Sebuah kotak kayu berwarna oranye bertuliskan: Alya property.

Apa ini? Aku harus mengambilnya. Mungkin saja ada jawaban untuk segala pertanyaanku.

[Saya ambil di tempat biasanya. Dua jam saya sampai]

Menggunakan taxi online, aku pun tiba di tempat tujuan. Pengemudi menghentikan mobil dengan ragu.

“Bu, hati-hati. Sepertinya keadaan sedang gawat,” ucapnya setelah menerima pembayaran.

Pandanganku mengikuti arah gerakan kepalanya. Di depan kedai kopi berjajar laki-laki bertubuh gempal dalam posisi siap. Mereka masih melakukan adat lama.

Aku tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan.”

Saat aku membuka pintu, mereka bergerak mendekat. Namun, satu kode jariku membuat niat mereka urung.

“Malam, Bu Bos!” seru mereka bersama.

“Kalian ini tidak berubah.” Aku mengulas sedikit senyuman dan melanjutkan langkah.

Di dalam penuh dengan mantan anak buah suamiku. Mereka bergegas berdiri dan memberi hormat.

“Tidak usah berlebihan. Aku  ke sini hanya untuk mengambil barang yang kamu tunjukkan.  Mana?”

Gombloh menunjuk ke meja bundar. “Tapi, Bu bos. Kami memerlukan Bu Bos untuk memimpin kami.”

“Tidak. Kamu saja yang menjalankan. Aku sudah damai dengan duniaku sekarang. Dan tolong jangan panggil aku  bu bos. Aku bukan bos kalian lagi.”

“Tidak. Bagi kami selamanya, Bu Bos adalah bos kami. Pimpinan kami.”

“Huuf. Kalian ini keras kepala.”

“Bu Bos ….”

“Ini perintah!”

Aku memesan taxi online, kemudian memberi perintah kepada mereka untuk mengosongkan penjagaan di depan.

“Jangan panggil aku bu bos, dan jangan berlebihan saat bertemu. Kita sebatas terhubung dengan masa lalu. Masa sekarang, Gombloh yang memimpin kalian. Ini perintah!”

Mereka mematuhi ucapanku. Hanya Gombloh yang mengantarkan aku menunggu taxi online.

“Kami melanjutkan pencarian orang itu, Bu Sari. Sebenarnya kami hanya mematuhi perintah pimpinan. Ini kami lakukan demi masa lalu,” ucap lelaki tinggi kurus itu kemudian mempersilakan aku masuk ke dalam mobil.

Ucapannya jelas. Ini kali terakhir mereka melakukan perintahku, kecuali aku bersedia kembali menjadi bagian mereka.

Sekarang aku di kamar Alya. Menatap kotak kayu di bawah lampu belajar. Di kamar yang berwarna dominan biru, hanya kotak itu yang berwarna lain. Oranye.

“Isi hati?” gumamku membaca tulisan latin di sampul buku tebal yang juga berwarna orange juga.

Kejutan demi kejutan aku dapatkan dari lembar yang aku buka. Rasa bersalah dan bodoh semakin pekat seiring dengan detak jam weker di sebelahku. Ternyata di setiap tulisan tangan Alya menunjukkan aku keliru, meskipun hal yang sepele seperti yang dia tulisan ini.

“Setiap aku ingin mengungkapkan keinginanku, aku merasa bersalah. Ibu selalu pulang kerja dengan wajah lelah.  Aku muak seperti rasaku pada warna biru, dan senyumku yang palsu saat menyambut senyumnya yang lebar disela peluh di dahi. ”   

Aku masih ingat. Saat itu, aku memberi kejutan saat dia ulang tahun. Dari pagi aku berkutat merombak kamarnya memanfaatkan waktu sekolah yang fullday. Memasang wall paper dinding dengan warna biru langit, begitu juga sprei dan tirai dengan warna senada. Kala itu, aku mencontohnya dari majalah remaja. Kupikir senyumannya karena dia senang, ternyata itu berarti sebaliknya.

Niatku, semua aku lakukan yang terbaik untuknya. Termasuk memberi fasilitas pendidikan yang terbaik. Aku memang tidak memiliki harta berlimpah untuk warisan, tapi menurutku pendidikan adalah warisan yang tepat untuk bekal hidup. Namun, penerimaan anakku ternyata lain.

“Sering kali aku tidak merasa cukup sebagai anak. Mungkin nilaiku hanya terletak pada angka di kertas ujian, sampai aku harus menghabiskan hari dengan les privat. Sebenarnya aku ini anaknya atau anak guru les privat? Aku bosan!”

Tak terasa air mata membasahi pipi. Rasanya tidak sanggup membuka lembaran-lembaran berikutnya. Akan tetapi ini harus. Terlebih saat dia menuliskan pertemuan dengan Malik.

“Habis gelap terbitlah terang. Akhirnya aku mendapatkan anugrah terindah selama hidupku. Mas Malik. Kamu seperti pangeran berkuda putih yang menyelamatkan aku dari menara berteralis.”

“Apapun aku rela demi bersama denganmu. Laki-laki pengertian, penyayang, dan selalu melindungi aku. Kamu seperti mengisi kekosongan hati ini.  Aku bersedia menjadi budakmu. Budak yang cantik dan dicintai tentunya. Mas Malik, I love you.”

“Bawalah aku, Mas Malik. Aku semakin muak di sini yang penuh aturan ini dan itu. Kemanapun. Yang penting tidak bersama dengan orang yang selama ini aku panggil ibu.”

Apakah aku sebegitu tidak layak sebagai ibu untuknya? Sampai dia lebih memilih menyerahkan hidupnya kepada orang lain dan membenciku?

Sungguh, rasa salah ini semakin menyesakkan dada.

Aku harus menebus kekeliruan ini.

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 91. Malam Indah

    POV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 90. Pengen Nangis

    POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 89. Nakalnya Alya

    POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 88. Hari jadi

    POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 86.  

    “Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 85. Lebih Dalam

    “Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 8

    Semalaman aku memikirkan langkah apa yang harus aku ambil. Malik sudah bermain kasar. Kalau aku tetap diam, bisa jadi dia akan lebih semena-mena. Semut yang kecil saja kalau diinjak akan menggigit balik. Iya, kan?"Ini kopinya, Bu. Kopi hitam tanpa gula. Dan ini pisang gorengnya. Masih panas." Ucapa

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 3

    “Tolong titip anak saya!” Aku segera beranjak mengejar kelebat lelaki itu.Malik melangkah tergesa sambil menangkup kepalanya. Bajunya pun juga ada noda darah. Sepertinya, pukulanku tepat di sasaran. Namun, ini tidak sebanding dengan perlakuannya kepada Alya ku.“Malik! Berhenti kau!”Laki-laki itu

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 2

    “Alya…?!”Gegas aku beranjak, tapi wanita itu keburu menaiki motor ojek.“Kejar ojek itu, Pak!”Beruntung taxi pesananku datang. Pandanganku tidak lepas dari wanita berambut merah itu. Meskipun berusaha mendekat, tetapi kami masih terhalang beberapa kendaraan lain.“Pokoknya ikuti. Jangan sampai lo

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 1

    “Mas Malik itu sayang sama aku, Bu. Dia melakukan semuanya juga demi anak Ibu. Kenapa Ibu jadi perhitungan begini? Memangnya Ibu nggak mau aku bahagia?”Aku terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut anakku sendiri gara-gara laki-laki yang baru dikenalnya selama beberapa bulan. Putriku yang ku

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status