LOGIN~ JANGAN COBA-COBA MENCARIKU. KECUALI SIAP HIDUPMU HANCUR SEPERTI TOKOMU SEKARANG. CAMKAN! ~
Pesan ancaman tanpa inisial. Meskipun begitu, aku tahu siapa dia. Pasti si brengsek Malik. Pandanganku mengitari ke sekeliling. Kue yang semula tertata rapi sekarang berantakan bercampur dengan serpihan kaca. Semua hancur. “Kalian berkemas dan pulang saja. Untuk sementara kalian libur sampai keadaan tenang. Dan jangan kawatir, kalian tetap menerima gaji bulanan,” ucapku berusaha tenang. Para karyawan yang masih terlihat ketakutan mengangguk mengerti. Aku mengambil tempat duduk di teras tempat biasanya tamu menikmati pesanan, sambil menatap mereka yang merapikan toko. Tukang langganan pun sudah datang memasang terpal penutup sementara estalase yang pecah tadi. Tidak aku sangka, lima belas tahun kedamaian yang aku bangun selama ini lenyap seketika. Kenapa begitu susah hidup damai seperti orang kebanyakan? “Bu Sari, silakan minum.” Satu botol mineral dingin diletakkan di meja. “Terima kasih, Bima. Maaf kamu jadi terikut masalah ini.” Pemuda itu mengangguk. “Tidak apa-apa, Bu Sari.” Bima menarik kursi dan duduk di seberangku. “Maaf. Bu. Bukankah kejadian sekarang ini harus dilaporkan ke polisi?” Aku menghela napas dan tersenyum kecut. “Seharusnya begitu, sih. Tapi apakah itu ada pengaruhnya? Bisa jadi justru memicu mereka semakin menjadi-jadi.” “Lalu, apa yang harus dilakukan?” Kepala ini menggeleng. Kalau dulu ketika Mas Arya berjaya, kami bisa mengandalkan mereka-Elang Hitam. Preman yang dipimpin suamiku. Mereka berkutat di dunia hitam, lebih tepatnya menjaga kota tanpa prosedur yang penuh basa-basi. Karenanya, kota ini dulu aman. Itu dulu, sebelum suamiku meninggal. “Hmm…. Ini bahaya, Bu. Karena itu saya menawarkan diri untuk menjadi pengawal Bu Sari. Melihat pelaku yang sudah sangat berani, ini mengancam keselamatan Bu Sari.” Bima menatap menyiratkan harapan. Aku tersenyum. Pemuda ini tidak tahu apa-apa tentang aku. Mungkin di pikirannya, aku seperti ibu lainnya yang akan ketakutan hanya karena ancaman picisan. Justru sekarang ketakutan terbesarku adalah diriku sendiri. Aku takut kembali terjebak amarah dan bertindak seperti di masa lalu dengan cara lama. Aku berusaha keras tidak menghubungi Gombloh-tangan kanan suamiku yang sekarang memagang Elang Hitam. “Apa yang bisa dijadikan alasan kalau kamu layak menjadi pengawalku?” Pemuda itu menengakkan diri. “Saya sabuk hitam taekwondo, menjuarai di beberapa event, juga aktif melakukan parkour. Saya yakin mampu menjaga Bu Sari. Dalam pikiranku, tidak ada salahnya aku menerima tawaran pemuda ini. Keadaan sekarang, dua kepala, lebih baik daripada tidak ada aku sendirian. “Baiklah. Tapi kamu mau menanggung resikonya, kan? Mereka bisa bertindak kasar dan aku tidak bisa membayar kamu mahal.” “Saya siap. Daripada menjadi pengangguran.” “Ok, deal!” Langkahku sedikit lebih ringan. Meskipun di kepala sudah berputar berbagai rencana. Setelah semua beres, aku pulang sebelum menuju ke rumah sakit. Seperti sebelumnya, Alya belum ada perubahan. Wajahnya terlihat segar. Bukan tanda membaik, tetapi karena asupan makanan yang mengalir lewat hidung. Aku membawa beberapa buku bacaan. Katanya, meskipun belum sadar, pendengarannya bisa jadi masih menangkap suara. Tadi aku membongkar kardus di gudang. Buku-buku bacaan masa kecil Alya aku bawa. Ini buku dongeng yang selalu aku baca sebelum dia tidur. "Ibu sangat menyayangi kamu, Alya. Apapun yang terjadi. Bangunlah. Ibu akan selalu menjagamu." Aku mencium tangannya yang pucat. Dingin. Tanpa pergerakan dan tenaga. "Alya, Sayang. Ibu janji, saat kamu sadar nanti akan mendengarkan apa yang kamu inginkan. Kita akan rombah kamar sesuai keinginanmu. Begitu juga Ibu akan mengurangi kesibukan supaya bisa menemanimu. Bangun ya, Sayang." Tidak ada suara selain ucapanku yang menggema seiring bunyi mesin pemantau. Sunyi. Bahkan helaan napasku pun terdengar jelas. Aku meletakkan buku yang tadi sudah kubaca. Meregangkan tubuh yang terasa kaku. Ponselku bergetar tanda pesan masuk. [Bu Sari. Apakah keadaan baik? Orang kita melihat toko Bu Sari diserang seseorang] [Kami siap menunggu perintah untuk balasan] Tangan kanan Mas Arya masih seperti dulu. Kalau ada kesempatan untuk berkelahi, dia selalu menjadi terdepan. Pertanyaannya, apakah semua akan selesai dengan bertikai? Dulu Mas Arya hanya bertindak kasar kalau terpaksa. Semua anggota akan tunduk perintah dan larangan suamiku itu. Namun sekarang, Elang Hitam yang dulu solid pun terpecah sesuai kepentingan yang semakin liar, kemudian berakhir memudar tertinggal nama. ponsel bergetar lagi. Kali ini panggilan telpon darinya. Ini seperti godaan mengambil jalan pintas. Memang cepat, tapi aku tidak mau masalahku semakin membesar. Kembali ini seperi di persimpangan saat menatap putriku yang tak bergerak. Apakah aku tetap diam menunggu proses hukum yang belum tentu berujung? Lagi-lagi panggilan telpon berulang. "Apa tidak cukup ketika saya diam berarti belum ada perintah? Kalian bersiap tunggu aba-aba dari saya. Mengerti?!" ucapku sebelum dia yang di seberang berucap. Sementara itu, isi kepalaku semakin mematangkan rencana. ***POV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi
POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber
POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa
POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent
“Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka
“Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema
Semalaman aku memikirkan langkah apa yang harus aku ambil. Malik sudah bermain kasar. Kalau aku tetap diam, bisa jadi dia akan lebih semena-mena. Semut yang kecil saja kalau diinjak akan menggigit balik. Iya, kan?"Ini kopinya, Bu. Kopi hitam tanpa gula. Dan ini pisang gorengnya. Masih panas." Ucapa
Kesabaranku tidak berbanding lurus dengan proses hukum. Meskipun sudah dijelaskan kebebasan Malik dalam pengawasan, aku tetap tidak terima. Enak saja anakku masih belum sadar di rumah sakit, tapi dia sudah menghirup udara bebas.“Sabar, Sari. Ikuti prosesnya dan belajarlah bersabar,” bisik hatinya
Aku menggenggam tangan Alya yang masih di posisi semua. Belum ada kemajuan, tetapi tidak ada penurunan kondisi. Sama.“Tuhan, aku memang bukan orang sempurna, tetapi aku selalu berusaha tidak merugikan orang lain. Yang aku minta satu, berilah kesempatan aku bersama dengan anakku dalam kesehatan dan
“Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam







