Share

Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku
Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku
Author: Gold

Bab 1

Author: Gold
Hari sudah gelap saat aku terpincang-pincang sampai di rumah nenek.

Melihat tubuhku yang penuh darah dan kotor, nenek sama sekali tidak terkejut.

Seolah sudah terbiasa, dia mengambil kotak obat kecilnya untuk mengobatiku, lalu membuatkan semangkuk mi sayur.

Biasanya, aku akan memakan mi itu dengan penuh amarah sambil berteriak bahwa besok aku akan membalas mereka.

Tetapi kali ini, aku hanya menatap kuah mi yang bening itu dan bertanya pelan, “Nek … aku bukan anak ayahku, kan?”

Nenek tidak menjawab. Tetapi sorot matanya yang mendadak penuh penolakan dan jijik sudah menjawab semuanya.

Dia langsung berdiri dan berulang kali mengelap meja tempat kotak obat tadi diletakkan dengan sehelai kain lap tua.

Saat itu aku mengerti. Darah di tubuhku ini kotor.

Aku adalah anak seorang pemerkosa.

Pantas saja ibuku membenciku.

Rasa mual yang asing naik ke tenggorokanku. Aku berlari keluar, bersandar pada pagar kecil di halaman dan terus-menerus muntah.

Angin malam berhembus, dan luka di wajahku terasa sangat perih.

Dulu saat ibu memukuliku, aku merasa luka-luka ini adalah sebuah hutang. Cepat atau lambat pasti akan kutagih kembali.

Sekarang, rasanya aku bahkan tidak punya keberanian untuk menatapnya.

Aku tidak kembali ke rumah nenek. Dan tentu saja, nenek juga tidak keluar mencariku.

Aku terpincang-pincang menyusuri jalan dan berkeliaran tanpa tahu harus ke mana.

Sampai ketika aku melihat sebuah restoran. Di dalam sana, ada satu keluarga sedang berkumpul merayakan ulang tahun dengan hangat.

Yang di tengah kerumunan itu pasti adalah sang ibu. Senyum bahagianya membuatku tanpa sadar mundur selangkah.

Tahun lalu saat ulang tahun ibuku, sebelum dia melihatku wajahnya juga tersenyum seperti itu.

Tetapi begitu dia melihatku masuk, senyum itu langsung berubah menjadi tatapan jijik.

Seingatku, dulu ada tugas mengarang dengan judul Ibuku.

Di dalam karanganku, aku menggambarkan ibu sebagai sosok iblis yang kejam.

Guru bahasa memanggilku ke ruangannya dan memarahiku sepanjang satu jam pelajaran.

Aku tidak ingat apa saja yang dia katakan. Aku hanya ingat satu kalimatnya.

Dia bilang, di dunia ini tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya.

Aku pun percaya.

Aku membeli sebuah kue ulang tahun untuk ibu dengan uang hasil menjual barang bekas yang kukumpulkan sedikit demi sedikit.

Aku hanya ingin dipeluk, seperti dia memeluk adikku.

Tetapi tatapan dinginnya menusukku lagi, aku yang membawa kue itu terlihat seperti orang bodoh.

Kepalaku langsung dipenuhi amarah. Saat mereka lengah, aku menangkap beberapa kodok di halaman dan memasukkannya ke dalam kue.

Aku masih ingat teriakan ibuku ketika kodok-kodok itu melompat keluar.

Saat itu, muncul kepuasan yang aneh di dalam hatiku. Aku merasa dia tidak pantas menjadi seorang ibu.

Dia pantas mendapatkannya.

Tetapi sekarang, aku mengerti.

Yang tidak pantas itu aku.

Keberadaanku sendiri adalah luka baginya.

Aku menatap senyum ibu di restoran itu, dan membuat sebuah keputusan di dalam hatiku.

Di ulang tahun ibu tahun ini, aku akan memberikan hadiah yang pasti disukainya.

Hadiah yang bisa membuatnya bebas sepenuhnya.

Aku memutuskan untuk mati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 8

    Petugas itu tertegun.“Kamu sudah memikirkannya dengan baik? Meski memutar balik waktu, yang tercipta hanya dunia paralel. Itu tidak ada kaitannya dengan dirimu yang sekarang.”“Dan begitu realitas berubah, kamu akan menghilang. Poin yang sudah kamu pakai juga tidak bisa dikembalikan.”Aku mengangguk mantap.Di detik berikutnya pandanganku berkunang-kunang, lalu aku muncul di depan sebuah ladang jagung.“Pergi! Tolong! Aku mohon, aku akan memberikanmu uang! Lepaskan aku!”Aku terhuyung-huyung menembus batang jagung yang lebih tinggi dariku dan berlari ke arah suara itu.Benar saja, wajah yang sangat kukenal muncul di hadapanku.Dengan amarah membara, aku memukul pria yang membelakangiku itu menggunakan tongkat tulang yang kubawa dari alam baka.Aku tak tahu sudah berapa kali memukulnya, aku hanya merasakan sebuah tangan yang basah oleh keringat menggenggam tanganku dengan gemetar.Napasku terengah-engah, kepalaku mendidih dan pandanganku memerah.Aku menunduk dan beradu pandang dengan

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 7

    Beberapa hari kemudian di suatu pagi yang gerimis, ibuku datang sendirian ke makamku.Itu hanya sebuah gundukan tanah kecil di desa, terlalu sederhana dan terlihat asal-asalan.Dia berdiri di sana sangat lama.Hujan membasahi rambut dan pakaiannya, tetapi dia seakan tidak menyadarinya.Akhirnya, dia perlahan berjongkok, mengulurkan tangannya yang gemetar, dan menyentuh nisan yang dingin itu dengan lembut.“Maaf.”“Sebenarnya aku sudah sangat membencimu sejak kamu masih di dalam perutku.”Suaranya sangat pelan, seperti sedang mengungkap rahasia yang telah lama disembunyikan.“Gerakanmu di dalam perut seperti raja iblis kecil. Tendangan demi tendangan membuat dadaku gelisah … waktu itu aku berpikir, kamu adalah anak penagih utang yang datang hanya untuk menyiksaku.”Jarinya berulang-ulang menyusuri nama yang begitu familiar di batu nisan itu.“Setelah tumbuh besar pun kamu tetap nakal dan tidak membuatku tenang. Berkelahi, membuat masalah dan pulang dengan tubuh penuh luka, lalu menatapk

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 6

    Saat itu ibuku sedang menyuapi adikku yang bodoh itu.Begitu pintu terbuka, Jordan langsung menerobos masuk dan menghantam adikku ke lantai, memukulinya habis-habisan.Pukulannya keras dan brutal, suaranya bergetar menahan tangis.“Semua karena dirimu! Kamu pembawa sial!”“Kalau bukan karenamu, mana mungkin saudaraku mati!”Adikku babak belur dan menangis meraung-raung.Mangkuk di tangan ibuku terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.Dia mencoba menarik Jordan, tetapi Jordan mengibaskan tangannya.Wajah Jordan penuh air mata dan ingus. Dia menatap ibuku dan tiap kata keluar seolah menguras seluruh tenaganya. “Bibi, sejak kecil kami selalu bermain di waduk itu … hari itu, saat dia melangkah ke air ....”“Dia menoleh ke arahku! Dia menoleh ke arahku, Bi! Tatapan itu … tatapan itu ....”Seolah tenggorokannya tersumbat, Jordan terengah-engah lalu akhirnya meledak.“Dia memang berniat mati di sana!”“Sebelumnya dia pernah bertanya padaku, bagaimana caranya seseorang bisa mati tanpa j

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 5

    Setelah pemakaman, rumah kembali tenang.Aku hanyalah orang yang tak penting. Ada atau tidaknya diriku, hidup tetap berjalan sama.Perbedaannya hanya satu, aku hidup di rumah ini seperti hantu.Aku memperhatikan punggung ibuku yang sibuk dan selalu merasa ada yang berbeda dari dirinya.Tetapi aku tidak tahu persis apa yang berubah.Sampai pada suatu larut malam, ketika semua orang sudah tertidur,Ibuku mendorong pintu dan masuk ke kamarku.Saat itu aku sedang duduk di tepi jendela, memaki takdir dalam diam.Ia memberiku asal-usul yang tercela, dan bahkan setelah mati pun aku tak diberi ketenangan.Ibuku masuk begitu saja.Dia tidak menyalakan lampu, berjalan perlahan ke sisi ranjang dan mengusap seprai yang rapi, lalu duduk di sana.Dia hanya duduk, membelakangiku, seperti patung yang membeku.Aku tak kuasa meliriknya dan bersembunyi di dalam bayangan.Dia tidak menangis.Bahkan lingkar matanya pun tidak memerah.Aku melirik lagi.Dia tetap seperti itu, tak bergerak, dan hanya gerakan

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 4

    Air terciprat ke segala arah. Lengan kurusnya beberapa kali mengibas dengan panik, lalu tubuhnya tenggelam. Yang tersisa hanya rangkaian gelembung …Otakku bahkan belum sempat berpikir.Tubuhku sudah lebih dulu bereaksi.Aku berlari dan melompat masuk.Air waduk yang dingin langsung menyelimuti tubuhku. Rasa dingin menusuk tulangku dan merayap masuk ke setiap pori-pori.Aku melihat adikku yang masih berjuang di dalam air.Matanya terbuka lebar, penuh ketakutan.Aku berenang sekuat tenaga ke arahnya, mengerahkan seluruh kekuatan dan mendorongnya ke arah tepi.Dia mencengkeram erat-erat tanah tepi waduk, tersedak-sedak, menangis dan berteriak minta tolong.Sementara aku, terdorong balik oleh tenaga itu dan meluncur menuju pusat air yang semakin dalam dan gelap.Air menelan kepalaku. Dunia seketika menjadi sunyi dan lambat.Cahaya di permukaan air bergoyang-goyang, seperti pecahan kaca kristal.Rasa sesak itu menyiksa, paru-paruku terasa terbakar.Tetapi dibanding rasa sesak, suara dari t

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 3

    Saat paru-paruku terasa seperti terbakar, tiba-tiba ada tenaga kuat yang menarik ibu menjauhiku.Suara nenek terdengar serak dan bergetar, “Kamu sudah gila?!”“Demi dirinya, kamu mau mengorbankan hidupmu sekali lagi? Itu tidak sepadan! Sekali saja sudah cukup …”Ibuku terkulai lemas di pelukan nenek, menangis terisak-isak.“Ma! Ma! Aku sudah tidak tahan lagi! Dia … dia jahat seperti ayahnya, kan?”Nenek memeluk erat ibuku, tetapi matanya justru menoleh ke arahku.Untuk sesaat aku sempat mengira dia melihat mataku yang setengah terbuka.Tetapi dia hanya berbisik datar, “Tidurlah.”Isakan ibuku perlahan menghilang.Aku tetap berbaring di sana dan terengah-engah, kemudian menarik selimut menutup wajahku dan berbalik.Tak terasa waktu berlalu, ketika fajar hampir menyingsing, nenek masuk membawa mangkuk enamel besar yang berisi sup ayam panas.Meminum sup ayam di pagi hari terasa aneh.Dia menaruh mangkuk itu di samping ranjangku, dan berkata dengan tenang.“Minumlah.”Aku mengerti.Aku in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status