Share

Bab 2

Author: Gold
Begitu pikiran untuk mati itu muncul, anehnya langkah kakiku malah terasa ringan.

Aku bahkan mulai memikirkan cara mati seperti apa yang tidak merepotkan orang lain dan tidak meninggalkan jejak.

Tetapi rencana itu gagal di tengah jalan. Aku ditangkap polisi yang sedang patroli dan diantar pulang.

Ibuku yang membukakan pintu.

Setelah pintu tertutup, aku menundukkan kepala dan tidak berani menatapnya. Aku hanya mendengar suaranya yang dingin.

“Kenapa tidak sekalian mati di luar saja?”

Aku refleks ingin membalas, tetapi tenggorokanku tercekat dan terpaksa kutelan kembali perkataanku.

Namun begitulah sifat manusia, rendahan. Melihat punggungnya, aku bertanya dengan ragu,

“Kalau … maksudku, kalau aku benar-benar … mati, apa yang kamu rasakan?”

Apa kamu akan merasa sedih walaupun hanya sedikit?

“Cih. Cepat matilah kalau memang berani. Aku pasti senang sekali.”

Dia langsung masuk ke kamar adik-adikku tanpa menoleh dan menutup pintu.

Aku berdiri di ruang tamu sangat lama. Akhirnya aku mengusap wajahku dengan canggung lalu tertawa.

Benar, kan.

Ibuku pasti menyukai hadiah ulang tahun yang akan kuberikan.

Jordan, teman memulungku, adalah anak yatim piatu yang hidup dari belas kasihan orang-orang.

Dia sangat pintar. Selalu bisa menemukan cara untuk mencari uang dari seluk-beluk jalanan.

Jadi sepulang sekolah, aku membelikannya es lilin.

Aku jongkok di pinggir jalan, menurunkan suara dan bertanya padanya bagaimana cara seseorang bisa mati tanpa meninggalkan jejak.

Jordan melirikku dengan aneh, lalu menyelipkan es lilin yang tersisa setengah ke tanganku.

“Menjauhlah dariku. Aku tidak mau melakukan hal yang melanggar hukum.”

Aku terkejut sambil memegang dua es lilin.

“Hah? Apa maksudmu?”

“Sudahlah, setidaknya beri tahu cara seseorang mati secara tidak sengaja.”

“Yang … tidak terlalu menyakitkan. Orang itu sepertinya takut sakit.”

Jordan menarik napas dingin dan langsung berdiri ingin kabur.

Tanpa memedulikan es lilin di tanganku, aku menariknya seperti menyeret babi yang ingin disembelih.

“Aku tidak peduli! Kalau sudah makan makananku, berarti kamu berada di pihakku!”

“Kamu harus membantuku memikirkan caranya!”

Jordan tak bisa melepaskan diri, akhirnya dia duduk terjerembap di tanah.

“Bukan begitu, kak. Saudaraku … Kamu itu masih punya ayah dan ibu, kenapa harus nekat begitu?”

“Benar, kamu memang sering dipukuli, tetapi mereka tidak pernah membuatmu kelaparan. Lihat lenganmu, lebih kekar dari punyaku!”

Napasku tercekat. Aku terdiam dan tersedak dengan menyedihkan.

Aku ingin bilang, justru karena mereka itu berada di tengah-tengah, tidak sepenuhnya baik tetapi juga tidak sepenuhnya jahat, jadi aku merasa sesak seperti ini.

Terutama setelah mengetahui asal-usulku. Bahkan kebencian yang selama ini penuh luka dan rasa tidak adil pun tidak lagi punya alasan untuk berdiri kokoh.

Aku sudah tidak sanggup hidup lagi.

Tetapi mengatakan itu hanya akan menambah masalah bagi ibuku. Jadi aku menjawab Jordan dengan suara keras,

“Tidak usah ikut campur! Jawab saja, kamu mau bantu atau tidak?!”

Jordan meraung, “Kak! Kamu mau membunuh ibumu! Bagaimana aku harus membantumu?!”

Aku tertegun, lalu menunduk menatap Jordan yang duduk di tanah dengan wajah tak percaya.

Kapan aku bilang mau membunuh ibuku?

Belum sempat aku membantah, terdengar tangisan nyaring dan sangat familiar dari kejauhan.

“Wah! Orang jahat yang mau membunuh Mama!”

Kepalaku langsung kosong. Aku perlahan menoleh ke arah suara itu.

Dia adalah adikku yang bodoh itu.

Dia berlari terbirit-birit sampai kehilangan sebelah sepatunya sambil menangis dan berteriak.

Malam itu, suara tamparan bergema di rumah hampir sepanjang malam.

Ibuku mengayunkan sapu dan menghantam tubuhku tanpa ampun. Tatapannya padaku seperti sedang melihat musuh, penuh kebencian.

Tetapi aku melihatnya. Air mata jatuh dari sudut matanya.

Tangisan seperti ini sebenarnya pernah kulihat beberapa kali. Tetapi dulu aku selalu mengira itu hanya air mata buaya. Aku menubruk perutnya dengan kepalaku, menantangnya untuk menunggu hari ketika aku dewasa dan membunuhnya.

Dan sekarang, aku hanya meringkuk di lantai keramik yang dingin dan tidak bergerak sama sekali.

Akhirnya, dia kelelahan.

Sapu itu jatuh ke lantai dengan keras.

Dia tidak melihatku lagi. Hanya terhuyung-huyung berbalik dan masuk ke kamar.

Setelah lama terdiam, aku perlahan bangkit. Tiba-tiba terdengar tangisan yang tertahan dari kamar, seolah mulutnya dibekap, namun tetap pecah.

Tangisan itu seperti sebuah pisau yang berulang kali mengiris dadaku.

Wajahku terasa panas dan perih. Tubuh yang baru saja kuangkat kembali jatuh menghantam lantai.

Aku menutupi mataku dengan satu tangan. Punggung tanganku langsung terasa basah.

Bukan karena air mata, tetapi darah bercampur debu.

Sama seperti diriku.

Sangat kotor.

“Ibumu, waktu dia berusia sembilan belas tahun, juga terbaring seperti itu sambil menangis.”

Aku mendongak tajam.

Entah sejak kapan nenek berdiri di ambang pintu. Mata keruhnya seperti menatapku, namun seperti menembus waktu dan melihat orang lain di masa lalu.

“Malam itu bajunya robek. Tubuhnya juga … penuh lebam.”

“Dia tidak mengeluarkan suara tangis, hanya menggigit bibirnya hingga berdarah.”

Aku tak bisa bernapas.

“Dia pernah ingin menggugurkanmu, tetapi tubuhnya tidak mengizinkan.”

“Setelah kamu lahir, aku membuangmu. Tetapi keesokan paginya polisi datang sambil menggendongmu.”

“Mereka bilang membuang anak adalah kejahatan dan bisa masuk penjara. Mereka akan datang untuk mengecek lagi.”

Hidupku sungguh ironis dan menyedihkan.

Tidak ada satu pun yang menyambut kelahiranku, tetapi aku masih bersikeras bertahan hidup sampai usia dua belas tahun.

Seperti biasa, nenek mengobati lukaku.

Dengan wajah tua dan suara bertele-tele dia berkata, “Jangan salahkan ibumu. Hatinya sangat menderita. Dia tidak pernah benar-benar bisa melepaskannya.”

Aku menunduk dan tersenyum.

“Nek, sekarang aku tidak menyalahkannya lagi.”

Aku tidak lagi membenci ibuku. Tetapi ibu masih membenciku, sampai-sampai dia ingin aku mati.

Saat menekan wajahku dengan bantal, dia tidak tahu kalau aku sebenarnya masih sadar.

Aku bahkan bisa merasakan bantal itu bergetar karena gemetar tangannya.

Aku tidak melawan, hanya memejamkan mata dan menunggu dengan tenang.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 8

    Petugas itu tertegun.“Kamu sudah memikirkannya dengan baik? Meski memutar balik waktu, yang tercipta hanya dunia paralel. Itu tidak ada kaitannya dengan dirimu yang sekarang.”“Dan begitu realitas berubah, kamu akan menghilang. Poin yang sudah kamu pakai juga tidak bisa dikembalikan.”Aku mengangguk mantap.Di detik berikutnya pandanganku berkunang-kunang, lalu aku muncul di depan sebuah ladang jagung.“Pergi! Tolong! Aku mohon, aku akan memberikanmu uang! Lepaskan aku!”Aku terhuyung-huyung menembus batang jagung yang lebih tinggi dariku dan berlari ke arah suara itu.Benar saja, wajah yang sangat kukenal muncul di hadapanku.Dengan amarah membara, aku memukul pria yang membelakangiku itu menggunakan tongkat tulang yang kubawa dari alam baka.Aku tak tahu sudah berapa kali memukulnya, aku hanya merasakan sebuah tangan yang basah oleh keringat menggenggam tanganku dengan gemetar.Napasku terengah-engah, kepalaku mendidih dan pandanganku memerah.Aku menunduk dan beradu pandang dengan

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 7

    Beberapa hari kemudian di suatu pagi yang gerimis, ibuku datang sendirian ke makamku.Itu hanya sebuah gundukan tanah kecil di desa, terlalu sederhana dan terlihat asal-asalan.Dia berdiri di sana sangat lama.Hujan membasahi rambut dan pakaiannya, tetapi dia seakan tidak menyadarinya.Akhirnya, dia perlahan berjongkok, mengulurkan tangannya yang gemetar, dan menyentuh nisan yang dingin itu dengan lembut.“Maaf.”“Sebenarnya aku sudah sangat membencimu sejak kamu masih di dalam perutku.”Suaranya sangat pelan, seperti sedang mengungkap rahasia yang telah lama disembunyikan.“Gerakanmu di dalam perut seperti raja iblis kecil. Tendangan demi tendangan membuat dadaku gelisah … waktu itu aku berpikir, kamu adalah anak penagih utang yang datang hanya untuk menyiksaku.”Jarinya berulang-ulang menyusuri nama yang begitu familiar di batu nisan itu.“Setelah tumbuh besar pun kamu tetap nakal dan tidak membuatku tenang. Berkelahi, membuat masalah dan pulang dengan tubuh penuh luka, lalu menatapk

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 6

    Saat itu ibuku sedang menyuapi adikku yang bodoh itu.Begitu pintu terbuka, Jordan langsung menerobos masuk dan menghantam adikku ke lantai, memukulinya habis-habisan.Pukulannya keras dan brutal, suaranya bergetar menahan tangis.“Semua karena dirimu! Kamu pembawa sial!”“Kalau bukan karenamu, mana mungkin saudaraku mati!”Adikku babak belur dan menangis meraung-raung.Mangkuk di tangan ibuku terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.Dia mencoba menarik Jordan, tetapi Jordan mengibaskan tangannya.Wajah Jordan penuh air mata dan ingus. Dia menatap ibuku dan tiap kata keluar seolah menguras seluruh tenaganya. “Bibi, sejak kecil kami selalu bermain di waduk itu … hari itu, saat dia melangkah ke air ....”“Dia menoleh ke arahku! Dia menoleh ke arahku, Bi! Tatapan itu … tatapan itu ....”Seolah tenggorokannya tersumbat, Jordan terengah-engah lalu akhirnya meledak.“Dia memang berniat mati di sana!”“Sebelumnya dia pernah bertanya padaku, bagaimana caranya seseorang bisa mati tanpa j

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 5

    Setelah pemakaman, rumah kembali tenang.Aku hanyalah orang yang tak penting. Ada atau tidaknya diriku, hidup tetap berjalan sama.Perbedaannya hanya satu, aku hidup di rumah ini seperti hantu.Aku memperhatikan punggung ibuku yang sibuk dan selalu merasa ada yang berbeda dari dirinya.Tetapi aku tidak tahu persis apa yang berubah.Sampai pada suatu larut malam, ketika semua orang sudah tertidur,Ibuku mendorong pintu dan masuk ke kamarku.Saat itu aku sedang duduk di tepi jendela, memaki takdir dalam diam.Ia memberiku asal-usul yang tercela, dan bahkan setelah mati pun aku tak diberi ketenangan.Ibuku masuk begitu saja.Dia tidak menyalakan lampu, berjalan perlahan ke sisi ranjang dan mengusap seprai yang rapi, lalu duduk di sana.Dia hanya duduk, membelakangiku, seperti patung yang membeku.Aku tak kuasa meliriknya dan bersembunyi di dalam bayangan.Dia tidak menangis.Bahkan lingkar matanya pun tidak memerah.Aku melirik lagi.Dia tetap seperti itu, tak bergerak, dan hanya gerakan

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 4

    Air terciprat ke segala arah. Lengan kurusnya beberapa kali mengibas dengan panik, lalu tubuhnya tenggelam. Yang tersisa hanya rangkaian gelembung …Otakku bahkan belum sempat berpikir.Tubuhku sudah lebih dulu bereaksi.Aku berlari dan melompat masuk.Air waduk yang dingin langsung menyelimuti tubuhku. Rasa dingin menusuk tulangku dan merayap masuk ke setiap pori-pori.Aku melihat adikku yang masih berjuang di dalam air.Matanya terbuka lebar, penuh ketakutan.Aku berenang sekuat tenaga ke arahnya, mengerahkan seluruh kekuatan dan mendorongnya ke arah tepi.Dia mencengkeram erat-erat tanah tepi waduk, tersedak-sedak, menangis dan berteriak minta tolong.Sementara aku, terdorong balik oleh tenaga itu dan meluncur menuju pusat air yang semakin dalam dan gelap.Air menelan kepalaku. Dunia seketika menjadi sunyi dan lambat.Cahaya di permukaan air bergoyang-goyang, seperti pecahan kaca kristal.Rasa sesak itu menyiksa, paru-paruku terasa terbakar.Tetapi dibanding rasa sesak, suara dari t

  • Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku   Bab 3

    Saat paru-paruku terasa seperti terbakar, tiba-tiba ada tenaga kuat yang menarik ibu menjauhiku.Suara nenek terdengar serak dan bergetar, “Kamu sudah gila?!”“Demi dirinya, kamu mau mengorbankan hidupmu sekali lagi? Itu tidak sepadan! Sekali saja sudah cukup …”Ibuku terkulai lemas di pelukan nenek, menangis terisak-isak.“Ma! Ma! Aku sudah tidak tahan lagi! Dia … dia jahat seperti ayahnya, kan?”Nenek memeluk erat ibuku, tetapi matanya justru menoleh ke arahku.Untuk sesaat aku sempat mengira dia melihat mataku yang setengah terbuka.Tetapi dia hanya berbisik datar, “Tidurlah.”Isakan ibuku perlahan menghilang.Aku tetap berbaring di sana dan terengah-engah, kemudian menarik selimut menutup wajahku dan berbalik.Tak terasa waktu berlalu, ketika fajar hampir menyingsing, nenek masuk membawa mangkuk enamel besar yang berisi sup ayam panas.Meminum sup ayam di pagi hari terasa aneh.Dia menaruh mangkuk itu di samping ranjangku, dan berkata dengan tenang.“Minumlah.”Aku mengerti.Aku in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status