LOGIN“Yah, kita akan menyelesaikannya selama sepuluh menit seperti yang kau bilang.”Setelah itu Harris fokus meneliti dokumen yang diberikan oleh asistennya.Sepuluh menit kemudian, Harris benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan secepat kilat seperti yang sudah ditebak oleh sang asisten.Harris melihat jam di tangannya sekilas lalu berdiri dan mengambil jas yang tersampir di sandaran kursinya.“Mari kita berangkat,” kata Harris kepada asistennya. “Aku sudah berjanji padanya untuk datang tepat waktu. Aku harus menyambutnya sendiri.”Asisten itu mengikuti di belakang Harris yang berjalan cepat dan stabil menuju lif.“Apakah Anda memiliki janji temu dengan seseorang di luar jadwal yang sudah saya susun?” tanya si asisten. Seingatnya, Tuan Harris tidak pernah memiliki janji temu di luar gedung kantor seperti ini.Sangat jarang ada klien yang meminta bertemu di luar. Sebab takut dengan terbongkarnya percakapan mereka dengan sang pengacara.Harris menunggu angka lif turun dengan cepat sam
Amarah Sarah langsung reda saat itu juga. Sekarang perasaannya justru diliputi rasa bersalah.Dia membentak klien besarnya sendiri!Memikirkannya saja sudah membuat Sarah meringis di dalam hatinya.Sarah terbatuk sebagai bentuk menyembunyikan rasa malunya karena membentak orang yang salah. Dia juga mencoba menenangkan diri agar bisa menjawab dengan tenang.“Ah, maafkan saya Tuan Harris. Sebelumnya ada masalah sedikit, jadi saya terbawa suasana,” kata Sarah setelah bisa mengontrol diri.“Tidak apa-apa,” jawab Harris dari seberang telepon. “Tapi saya harap kau tidak melakukan itu di pekerjaanmu.”Sarah mengernyit tidak mengerti, “Maksudnya?”“Kalau kau marah ketika menganalisis saham, apakah kau akan memaki perusahaan?”Akhirnya Sarah mengerti. Ini adalah teguran dari klien besarnya sendiri. “Saya jamin saya adalah orang yang profesional dalam pekerjaan. Pembawaan emosi di beberapa waktu tidak akan mempengaruhinya.”Ada jeda di ujung sana, tapi akhirnya Harris menjawab, “Oh, saya lupa
"Aku harap tebakanmu benar, Clara." Sekretaris dengan nama Clara itu menundukkan pandangannya dan menjawab singkat, "Saya yakin dengan apa yang saya katakan." Pria itu tersenyum miring, lalu berjalan kembali ke meja kerjanya yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Di atas meja kayu jati solid, terdapat nama sang pria dengan kedudukannya. Rogan Durant, Direktur Utama. Rogan duduk dan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai sambil masih memperhatikan Clara. Dalam tatapan diam tanpa bicara, Clara maju dan meletakkan map yang sejak tadi dia pegang. "Ini adalah kontrak dan tawaran yang sudah kami susun dan sudah Anda setujui sebelumnya," ujar Clara menjelaskan. "Aku tidak akan melihatnya lagi," ujar Rogan dengan malas. "Apakah kau memiliki potret orang itu?" "Aku ingin melihatnya." Clara tahu yang dimaksud oleh Rogan. Dia adalah sosok yang diincar oleh Rogan agar bekerja di bawah kekuasaannya. "Untuk saat ini belum ada, Tuan." Setelah balasan Clara selesai diuca
"Meskipun mereka hanya melihat dari jauh, keterlibatan mereka dengan keluarga yang aku jatuhkan dulu pasti sempat membuat mereka menderita." "Tapi tetap saja—" Devan seperti kehilangan kata-kata. Sebelum Sarah bersembunyi, dia memang menjatuhkan rahasia sebuah keluarga besar di masa lalu. Apalagi ditambah dengan banyaknya musuh keluarga itu, membuat skandal itu menjadi besar dan bisa membuatnya leluasa untuk pergi. Keluarga Durant hanyalah salah satu dari beberapa keluarga yang menderita kerugian waktu itu. Namun, yang tidak Devan mengerti, kenapa Sarah mau membantu salah satu keluarga yang dulu pernah menjatuhkan hidupnya juga? Bahkan jika mereka hanya diam tanpa mencoba menjatuhkannya, mereka tetaplah tutup mata dengan apa yang terjadi. "Mereka sekarang sudah menjadi keluarga yang besar, sangat besar sampai mungkin kau akan sulit menembusnya," kata Devan setelah terdiam sejak tadi. Devan merasa keterlibatan Sarah dengan keluarga itu tidaklah sederhana, jadi dia membuat p
Dion mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya, “Ibu yakin aku bisa bersekolah seperti biasa?”Sarah bisa merasakan ketidaknyamanan dari nada suara Dion. Memiliki anak yang bisa berbagi perasaan khawatir seperti ini sungguh melegakan, tapi juga mengkhawatirkan. Tidak seharusnya anak sekecil itu berbicara penuh kekhawatiran seperti orang dewasa.Sarah duduk di sofa ruang tamu untuk melepas, lalu berkata, “Ibu sudah mengatakannya sebelumnya, kan?”“Pekerjaan ibu memang beresiko tinggi. Jadi, permintaan ibu pada klien sebelumnya itu bisa diterima. Keluarga mereka juga terkenal memegang kata-katanya, jadi kamu tidak perlu khawatir.”“Bukan itu yang kumaksud.”Dion menundukkan kepala, “Justru karena pekerjaan ibu beresiko, apakah nantinya kita akan mengalami hal seperti sebelumnya?”Sarah memandangi Dion yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Entah pahala apa yang dia miliki sebelumnya sampai bisa mendapatkan anak yang berbakti seperti ini. Dion sangat pengertian.Sarah menjadi me
“Tolong maafkan kekasaran saya sebelumnya,” ujar Harris sambil membungkukkan badannya sedikit. Sikapnya itu bahkan mengejutkan sang asisten yang sudah lama bersamanya.“Saya seharusnya tidak bersikap picik seperti itu,” lanjutnya sambil menatap Sarah. “Jika berkenan, bolehkan saya mengetahui permintaan Anda lebih lanjut?”“Saya akan menyesuaikan isi kontraknya setelah ini sesuai kemampuan kami.”Sarah terdiam di tempatnya, agak terkejut karena Harris mau menurunkan egonya hanya untuk mempertahankannya. Padahal Sarah mengira Harris adalah orang yang sombong dan tidak mau mengalah. Namun, Sarah juga menyukai pendekatan yang seperti ini.Sarah bertingkah seolah mempertimbangkan tawaran itu, lalu menoleh ke arah Harris dengan senyum yang memperlihatkan kemenangannya tanpa terselebung. “Kalau begitu, kita bisa melanjutkannya.”Harris mengangguk dan mereka kembali duduk di tempat semula. Dalam hati Harris mengakui, Sarah memang pemenangnya di sini. Dia terlalu sibuk menikah Sarah sampai lu







