Share

Bab 2

Author: Ranti
Setelah meninggalkan hotel, Amelia terlebih dahulu pergi ke rumah sakit untuk melunasi biaya pengobatan yang sempat tertunggak.

Baru kemudian, Amelia kembali ke rumah kecil dan sederhana yang terletak di belakang kediaman Keluarga Amarta.

Itulah rumah Amelia. Sinar matahari yang datang, sepenuhnya terhalang oleh vila mewah dan megah Keluarga Amarta yang berdiri di depannya. Akibatnya, suasana tempat itu selalu dingin dan suram sepanjang tahun.

Ayah Amelia, yaitu Heru Herdian, adalah sopir Pak Malik. Sementara ibu Amelia, Wulan Nugraha, adalah pembantu di Keluarga Amarta.

Setelah ayahnya meninggal, Amelia dan ibunya pindah ke rumah kecil yang reyot ini.

"Amelia!" Saat melewati vila, Pak Irsan membentak Amelia dengan marah. "Pagi-pagi begini, kamu dari mana saja? Cepat ke sini, siangi sayurannya!"

Di Keluarga Amarta, Amelia hanyalah seorang pembantu rendahan, yang bisa disuruh-suruh oleh siapa saja.

Amelia menjawab dengan singkat, lalu berjalan menuju dapur.

Pak Irsan menatap wajah Amelia yang putih dan bersih itu. Dia pun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening. "Kenapa nggak pakai masker? Kamu sengaja mau bikin Bu Rissa marah?"

Lantaran Amelia dan Rissa terlalu mirip, Rissa pun membuat peraturan. Amelia wajib mengenakan masker, tiap kali berada di kediaman Keluarga Amarta. Jika tidak, Amelia akan ditampar jika berani menunjukkan wajahnya.

Amelia buru-buru mengeluarkan masker dari sakunya dan memakainya. Wajahnya yang mungil menjadi tertutup setengahnya dan hanya menyisakan sepasang matanya yang besar dan cerah itu.

Pak Irsan, si kepala pembantu, melotot tajam pada Amelia. Dia baru beranjak pergi setelah melihat Amelia bekerja dengan tekun.

Sementara itu, sebuah sedan mewah berhenti di depan kediaman Keluarga Amarta.

Seorang pria dengan setelan jas berwarna abu-abu asap yang dirancang khusus untuknya, keluar dari mobil. Bros mahal yang tersemat di dadanya, berkilauan di bawah sinar matahari. Tubuhnya tegap, wajahnya tampan dan auranya begitu memikat.

Begitu keluar dari dapur, mata Pak Irsan yang tajam langsung melihat pria itu. Dia pun bergegas menyambutnya dengan penuh semangat. "Pak Jody, kenapa Anda datang ke sini?"

Orang yang datang itu tidak lain adalah Jody Bramantya. Jody adalah putra keempat Keluarga Bramantya. Keluarga Bramantya merupakan keluarga paling terkemuka, terkaya, juga paling berkuasa di Kota Areta. Kekayaan mereka mencapai ratusan triliun.

Sambil berkata seperti itu, Pak Irsan dengan hormat mempersilakan Jody untuk masuk. Kemudian, dia memberi perintah kepada para pembantu, "Cepat, panggil Pak Malik dan Bu Rissa. Juga, suruh orang dapur untuk menyajikan teh."

Di ruang tamu Keluarga Amarta.

Jody duduk di sofa dan menyilangkan kakinya dengan santai. Aura keagungan bak seorang penguasa yang dimilikinya, membuat semua orang di ruang tamu itu merasakan tertekan.

Amelia membawakan teh sambil menundukkan kepala. Kemudian, dia meletakkan nampan teh di atas meja kopi dengan lembut.

Tanpa sengaja, Amelia mengangkat pandangan dan melihat wajah Jody. Seketika, seluruh tubuhnya membeku.

Itu dia!

Adegan demi adegan ketika pria itu menciumnya semalam langsung menghantam pikiran Amelia bagai gelombang pasang. Bahkan, Amelia bisa merasakan dengan jelas rasa sakit yang masih tersisa di tubuhnya.

Di telinga Amelia, seakan terdengar suara dalam dan serak dari pria itu, "Aku akan bertanggung jawab padamu!"

Amelia langsung panik. Tangannya juga ikut gemetar.

Teh yang dipegang Amelia sedikit tumpah. Refleks, Amelia mencoba melindungi cangkir itu dengan tangannya. Telapak tangannya langsung terasa perih. Akan tetapi, tetap saja ada beberapa tetes yang memercik ke celana pria itu.

Pria itu langsung memicingkan matanya dengan dingin.

Dia menatap pelayan kecil yang agak ceroboh itu. Gadis itu menundukkan kepala, mengenakan masker tebal, memakai kemeja putih dan celana jin. Tubuhnya kurus dan rapuh.

Gadis itu jelas-jelas hanya seorang pembantu. Akan tetapi, entah mengapa gadis itu terlihat agak familier baginya.

"Amelia, kamu itu kenapa?" hardik Pak Irsan dengan dingin. Kemudian, Pak Irsan buru-buru meminta maaf kepada Jody. "Maaf Pak Jody, pembantu baru ini masih belum tahu tata krama. Aku pasti akan mendidiknya dengan baik nanti."

Tatapan tajam itu tertuju pada Amelia. Amelia merasa bagian leher dan tulang selangkanya, tempat-tempat yang pernah digigit dan diisap pria itu, mendadak menjadi terasa begitu panas.

Amelia menundukkan kepalanya. Bahunya yang ramping sedikit bergetar. Bahkan, rasa perih di telapak tangannya akibat tersiram air panas pun tak lagi dihiraukannya.

Jody tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melirik Amelia dengan datar.

Pak Irsan yang pandai membaca situasi, buru-buru berkata, "Amelia, cepat ucapkan terima kasih pada Pak Jody karena nggak mempermasalahkan kelakuanmu!"

"Terima kasih, terima kasih Pak Jody," kata Amelia dengan suara pelan.

Amelia menundukkan kepala. Kemudian, dia cepat-cepat mengambil tisu dari meja kopi, lalu membungkuk untuk menyeka noda air di celana pria itu.

Setelah selesai, Amelia menghela napas lega dan buru-buru mengangkat nampan teh untuk pergi.

Akan tetapi, seiring gerakan Amelia, tercium aroma bunga melati yang familier, yang sama persis dengan aroma di tubuh "Rissa" pada malam itu.

Mata Jody langsung memicing. "Berhenti!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 50

    "Apa yang perlu ditakutkan? Ambar juga nggak ada di sini. Lihat saja tingkahnya hari ini yang begitu sombong, merasa di atas angin cuma karena putrinya menikah dengan Keluarga Bramantya. Lihat, betapa angkuh dirinya."Ambar menarik Amelia ke sudut yang agak sepi. Belum sempat Ambar menginterogasinya, Amelia sudah bertanya dengan nada yang tajam, "Apa kamu yang membawa ibuku pergi? Bukankah kamu sudah janji padaku, selama aku menggugurkan kandungan ini, kamu akan mencarikan donor ginjal untuk ibuku?"Ambar memasang wajah tanpa dosa. "Donornya sudah ditemukan, operasinya bisa segera dilakukan. Memindahkannya ke rumah sakit lain juga demi pengobatan yang lebih baik untuknya ke depan. Apa yang kamu cemaskan?""Di mana ibuku sekarang?" Amelia sama sekali tidak memercayai omong kosong wanita ini.Ambar mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video.Di dalam video tersebut, Wulan tampak berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di tubuhnya, tetapi kondisinya ter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 49

    Memikirkan hal tersebut, Amelia segera menelepon Ambar. Namun, Ambar sama sekali tidak mengangkatnya.Amelia lalu mencegat taksi dan melaju kencang menuju kediaman Keluarga Amarta. Dengan perasaan kalut, Amelia berlari masuk ke vila. Begitu melihat Pak Irsan, Amelia langsung bergegas maju dan bertanya, "Mana Ambar? Mana dia?"Pak Irsan mengerutkan kening dan membentak Amelia, "Lancang sekali kamu, beraninya menyebut nama Bu Ambar secara langsung!"Amelia berbalik. Sepasang matanya yang biasanya terlihat rendah hati dan polos, kini hanya menyisakan kemarahan yang dingin. "Cepat katakan!"Tatapan Amelia yang begitu dingin itu seketika membuat Pak Irsan tertegun dan gentar."Di, di Hotel Zaira," jawab Pak Irsan terbata-bata. Pak Irsan sendiri tidak tahu mengapa, tetapi saat menatap mata dingin Amelia, tiba-tiba muncul rasa takut di lubuk hatinya. "Hari ini Pak Jody menyiapkan pesta ulang tahun untuk Bu Rissa. Pak Malik, Bu Ambar dan Bu Rissa, semuanya ada di sana…"Belum sempat kata-kata

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 48

    "Aaah…"Peralatan medis yang dingin mulai masuk merobek. Rasa sakit yang luar biasa datang menghujam.Wajah Amelia pucat pasi bagaikan kertas. Pupil matanya bergetar hebat.Anak…Anaknya…Amelia baru saja mengetahui kehadiran anak itu, tetapi sekarang dia harus kehilangan anak itu.Rasa sakit yang menusuk tulang berpadu dengan kepedihan di dalam hati Amelia.Amelia pun memejamkan mata, lalu jatuh pingsan…Amelia bermimpi. Dalam mimpinya, dia mendekap seorang bayi yang berlumuran darah. Suara tangis bayi itu seolah menembus langsung ke ulu hatinya.Dalam sekejap mata, bayi itu menghilang. Kini yang berdiri di hadapannya adalah Jody dengan wajah sedingin es. Amelia berlari terhuyung-huyung ke arahnya. Suaranya parau terisak, "Aku mohon... aku mohon, selamatkan anak kita."Namun, pria itu tidak bergeming. Pada akhirnya, Jody bahkan mendorong Amelia dengan kasar dan mencengkeram lehernya. "Memangnya kamu itu siapa sampai merasa layak melahirkan anakku?"Amelia tertegun. Dia diliputi kepani

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 47

    Mobil Ambar melaju kencang, membuntuti sebuah taksi di depannya. Pengawalnya berkata, "Bu Ambar, dia menuju ke arah Vila Adara."Hati Ambar langsung mencelos, gawat!Jika Jody sampai mengetahui tentang skandal Keluarga Amarta yang menukar pengantin saat pernikahan…Serta fakta jika Amelia sedang hamil…Tamatlah riwayat Keluarga Amarta.Lalu, putri kandungnya yang sudah bersusah payah menjadi istri Jody, akan direbut posisinya oleh wanita murahan itu.Di kalangan elite, latar belakang keluarga yang bersih adalah satu hal. Namun, begitu ada anak yang terlibat, itu urusan lain lagi.Bola mata Ambar berputar dengan cepat. Tiba-tiba, Ambar tersenyum tipis. Dia segera menelepon Amelia, tetapi tidak diangkat. Ambar tidak marah. Dia langsung mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Amelia.[Aku tahu, kamu selama ini mencari donor ginjal yang cocok untuk ibumu. Aku bisa membantumu, asalkan kamu setuju untuk menggugurkan kandungan itu dan menjaga rahasia ini. Ibumu bisa menjalani operasi transpla

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 46

    Menyadari adanya kemungkinan lain, Ambar segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rissa. "Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ibu?""Nggak ada, Ibu.""Masih berani membohongiku? Amelia hamil. Usia kandungannya sudah delapan minggu. Rissa, apa yang sebenarnya terjadi?""Apa?" Rissa terkejut di dalam hati.Langsung hamil hanya dalam satu malam? Keberuntungan macam apa yang dimiliki Amelia ini?"Rissa, apa kamu berniat menyembunyikannya dari Ibu?" Ambar menyadari ada yang tidak beres dari nada suara putrinya. Dia pun melunakkan bicaranya.Rissa tidak berani memberi tahu Ambar jika dialah yang memberikan obat dan fakta jika dirinya sudah tidak perawan lagi. Rissa pun berkata dengan mencampurkan antara fakta dan kebohongan, "Orang yang bersama Jody di hotel malam itu adalah Amelia. Kebetulan aku memergokinya. Jadi, aku menyuruh Amelia merahasiakannya agar aku bisa berpura-pura menjadi dirinya.""Kamu… Kenapa masalah ini nggak kamu beritahukan pada Ibu sejak dulu?""Ibu, aku, aku

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 45

    Rissa akhirnya keluar dari rumah sakit tepat sebelum Jody kembali ke tanah air.Alergi Rissa sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada bekas luka yang tertinggal di tubuh maupun wajahnya.Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kediaman Keluarga Amarta. Begitu Rissa turun dari mobil, Ambar langsung memeluk putrinya itu. "Biarkan Ibu melihatmu. Syukurlah kalau kamu sudah nggak apa-apa. Kamu benar-benar membuat Ibu khawatir.""Ibu, aku janji nggak akan bertindak sembarangan lagi ke depannya."Di samping mereka, Malik dengan wajah serius memanggil Rissa ke ruang kerja dan berkata dengan nada yang tegas, "Masalah ini cukup sampai di sini. Nanti, setelah kamu masuk ke Keluarga Bramantya, sebaiknya kamu simpan baik-baik sifat manjamu itu. Juga… kali ini Amelia sudah membantumu. Pergilah dan ucapkan terima kasih padanya dengan baik.""Aku mengerti, Ayah," jawab Rissa. Namun, dia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati.Menyuruhnya berterima kasih pada Amelia?Jangan mimpi.Malik menggelengka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status