共有

Bab 3

作者: UmaMe
last update 公開日: 2026-07-23 12:01:23

Janji Suci yang Palsu

Pulang dari kampus, ponsel Danindra bergetar berkali-kali. Pesan dari ayahnya muncul jelas di layar—alamat gedung pernikahan, beserta peringatan agar segera datang. Danindra berdiri sendirian di halte bus, menatap layar ponsel itu lama, lalu menghela napas panjang, begitu dalam hingga dadanya terasa sesak. Rasanya seolah udara di sekitarnya pun ikut berduka atas nasibnya.

Bus yang ditunggunya datang perlahan. Danindra naik, duduk di kursi pinggir, dan menatap ke luar jendela. Pemandangan kota berlalu begitu saja, namun matanya tak benar-benar melihatnya. Pikirannya melayang jauh, entah ke mana. Perjalanan terasa lama, seolah waktu sengaja berjalan lambat untuk menyiksanya lebih lama. Hingga akhirnya bus berhenti di halte tujuannya.

Danindra turun, berjalan perlahan menuju bangunan megah yang menjulang di hadapannya. Pintu-pintu kaca besar, hiasan bunga putih yang berjejer rapi, lampu gantung yang berkilau—semuanya begitu indah, namun bagi Danindra, gedung itu terasa seperti istana yang akan mengurungnya selamanya. Belum sempat ia mengagumi kemewahan itu, langkahnya terhenti saat Pak Haris tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Kau sudah sampai! Cepat ikut aku, sebentar lagi acara dimulai!" suara ayahnya terdengar cemas sekaligus mendesak, tanpa sedikit pun bertanya kabar atau perasaannya.

Pak Haris memberi isyarat kepada seorang pelayan yang berdiri di dekatnya. "Antar Nona Danindra ke ruang ganti, pastikan semuanya siap dengan cepat!"

Danindra dibawa masuk ke sebuah ruangan luas yang dihiasi lemari kaca dan cermin besar. Di sana sudah menunggu tim penata rias, dan di sebelah kanan ruangan itu, tergantung sebuah gaun pengantin putih berpayet berkilau yang begitu mewah. Ia duduk diam, membiarkan tangan-tangan asing itu menyentuh wajahnya, menata rambutnya, menutupi jejak kesedihannya dengan lapisan-lapisan bedak dan perona pipi.

Setelah riasan selesai, tibalah saatnya memakai gaun itu. Dua asisten wanita membantu Danindra berdiri. Namun saat gaun itu disampirkan ke tubuhnya, keduanya saling berpandangan. Gaun itu kebesaran—terlalu besar untuk tubuh Danindra yang kurus. Bahu gaun itu jatuh, bagian pinggang terlepas begitu saja.

"Maaf, Nona... sepertinya ukurannya tidak pas," ujar salah satu asisten dengan cemas. "Gaun ini sepertinya sudah disiapkan untuk Nona Gladys."

Tanpa menunggu lama, mereka mengambil jarum dan benang. Di tengah ruangan itu, di hadapan cermin besar, mereka menjahit gaun itu secara manual, mengecilkan bagian pinggang dan bahu agar pas di tubuh Danindra. Danindra berdiri diam, menatap bayangannya sendiri di cermin. Gaun yang begitu indah, begitu megah, namun terasa asing di kulitnya.

Gaun ini bukan milikku, batinnya tersenyum kecut, matanya memanas namun tak ada air mata yang jatuh. Semua ini bukan milikku. Aku hanya... pengganti.

Tiba-tiba pintu diketuk cukup keras. Salah satu asisten membukanya sedikit. Di sana berdiri Pak Haris dengan wajah gelisah.

"Sudah selesai belum? Tamu-tamu sudah mulai duduk, acara akan segera dimulai!"

"Mohon maaf, Tuan Haris, sebentar lagi selesai. Kami sedang menjahit bagian gaunnya karena ukurannya agak kebesaran," jawab asisten itu dengan sopan namun terburu-buru.

"Cepatlah!" tegur Pak Haris lalu berbalik pergi.

Tak lama kemudian, jahitan pun selesai. Gaun itu kini pas di tubuhnya, meski tetap terasa asing. "Ayo, Nona, kita harus segera keluar," ajak salah satu asisten. Ketiganya berjalan keluar ruangan, menuju lorong utama yang menuju aula utama.

Pak Haris sudah menunggu di depan pintu masuk aula, wajahnya tampak tak sabar. "Cepat, Danindra, semua sudah menunggu!" Ia meraih lengan putrinya dan menggandengnya masuk.

Saat mereka berjalan masuk, suara bisik-bisik langsung terdengar di sepanjang lorong. Ratusan pasang mata tertuju padanya.

"Bukankah yang seharusnya menikah itu Gladys?"

"Siapa dia? Kakaknya?"

"Katanya Gladys kabur, jadi dia yang menggantikan."

"Entah... mungkin saja dia sengaja menginginkan posisi ini."

Kata-kata itu menusuk telinga Danindra satu per satu, namun ia tak berhenti, tak menoleh, tak berani menunjukkan rasa sakitnya. Ia terus berjalan di samping ayahnya, menatap lurus ke depan, menuju sosok yang berdiri di ujung lorong itu.

Di sana, di bawah hiasan bunga putih yang melambai, berdiri Angga Pratama. Tampan dalam setelan jas putih yang serasi, namun wajahnya datar, dingin, tak ada sedikit pun kehangatan di matanya. Ia menatap ke depan, seolah sosok yang berjalan mendekat itu bukan calon istrinya, melainkan sekadar benda yang harus ia miliki demi kesepakatan.

Sampailah Danindra di samping Angga. Tangan mereka disatukan, namun genggaman itu terasa dingin dan kaku. Di hadapan pendeta dan semua tamu, mereka mengucap janji suci—janji untuk saling mencintai, menjaga, menemani dalam suka maupun duka. Kata-kata yang begitu indah, namun terasa begitu palsu di bibir Danindra. Dan Angga... ia mengucapkannya tanpa menatap mata Danindra sedikit pun.

Setelah upacara selesai, Angga melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Danindra sendirian di pelaminan. Para tamu masih berbisik, masih menatapnya dengan tatapan aneh, namun Danindra hanya berdiri diam, membiarkan semuanya berlalu.

Pesta pun berlangsung, namun tak terasa meriah. Danindra tersenyum ketika harus tersenyum, mengangguk ketika disapa, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping. Tepat pukul dua belas malam, acara berakhir. Pak Haris dan Melda menghampirinya.

"Kami pamit dulu, Danindra. Istirahatlah," ucap Pak Haris singkat, lalu berbalik pergi bersama istrinya, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.

Danindra berdiri sendirian di sudut ruangan yang mulai sepi, tak tahu harus pergi ke mana. Tiba-tiba seorang pria berjas hitam rapi mendekatinya. Wajahnya tegas namun sopan.

"Selamat malam, Nyonya Pratama. Nama saya Rendra, asisten pribadi Tuan Angga. Saya diperintahkan untuk menjemput dan mengantar Anda ke rumah Tuan Angga," ucapnya rendah hati.

Danindra hanya mengangguk pelan. "Baik. Terima kasih."

Ia berjalan di belakang Rendra, keluar dari gedung itu menuju sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir di depan pintu utama. Rendra membukakan pintu untuknya. Danindra masuk, duduk di kursi belakang, dan mobil pun melaju membelah jalanan malam yang sepi.

Perjalanan berlangsung dalam keheningan. Mobil melaju kencang, lalu perlahan melambat ketika mendekati sebuah gerbang tinggi yang menjulang megah di antara pepohonan. Pagar besi besar itu terbuka sendiri saat mobil mendekat. Mobil melaju masuk melewati halaman yang luas dan tertata rapi, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama rumah yang besar dan megah.

"Kita sudah sampai, Nyonya. Silakan turun," ucap Rendra sambil membukakan pintu.

Danindra melangkah keluar, berdiri di depan rumah itu yang tampak begitu indah namun begitu sunyi. Ia menatap pintu besar di hadapannya, menyadari bahwa di sinilah tempatnya tinggal mulai hari ini—di rumah milik pria yang tak mencintainya, di dalam pernikahan yang tak diinginkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 12

    Hadiah dan PenghinaanMatahari sudah naik tinggi, menyinari jendela kaca ruang rawat yang luas itu. Namun dua orang yang sedang beristirahat di sana belum juga bergerak. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun baik Angga maupun Danindra belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka perlahan. Bi Wati masuk dengan langkah berhati-hati, membawa kotak makan di tangannya. Ia berjalan mendekati ranjang Danindra, meletakkan kotak makan itu di meja samping tempat tidur, lalu berbalik menghampiri Angga yang sedang tidur di sofa.Dengan ragu-ragu, Bi Wati menyentuh bahu Angga pelan. "Tuan... Tuan, mohon maaf lancang membangunkan."Angga mulai terusik, perlahan membuka matanya. Ia duduk tegak, menatap jam di dinding, lalu menatap Bi Wati."Sudah pagi sekali, Tuan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh," ucap Bi Wati dengan sopan. "Saya takut Tuan ada rapat penting dan terlambat.""Tidak apa-apa, Bi," jawab Angga suaranya masih berat namun t

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 11

    Bayang Perhatian yang Mulai Tumbuh Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat Angga melangkah keluar dari rumah sakit. Langkahnya tenang, namun di dalam hatinya ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—siapa sebenarnya gadis yang berani melukai Danindra hingga harus dirawat di rumah sakit? "Rendra," panggil Angga saat masuk ke dalam mobil, suaranya datar namun tegas. "Cari semua informasi tentang Angel. Keluarganya dari mana, seberapa kaya mereka, apa saja latar belakangnya. Aku ingin tahu semuanya sampai ke akar-akarnya. Berani sekali dia melukai orang di bawah tanggung jawabku." "Baik, Tuan. Segera aku kerjakan," jawab Rendra sambil mencatat perintah itu di ponselnya. Sesampainya di kantor, jadwal Angga sangat padat. Tumpukan berkas menumpuk di atas meja kerjanya, diikuti satu per satu rapat penting yang tak bisa ia tinggalkan. Salah satu rapat terbesarnya hari ini membahas proyek kerjasama yang bernilai triliunan rupiah—dan di situlah ia harus berhadapan dengan Pak Haris,

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 10

    Pagi yang Tak Terduga & Kedatangan Orang-Orang TerdekatHari masih terlalu pagi saat Danindra terbangun. Rasa berdenyut di kepalanya sudah hilang, hanya tersisa rasa pegal yang samar. Ia duduk di tepi ranjang rawat, matanya menyapu sekeliling ruangan—dan seketika terpaku pada sofa di sudut ruangan. Angga masih tertidur di sana, wajahnya tenang tanpa garis ketegangan yang biasanya selalu ada.Danindra turun dari ranjang perlahan, berjalan berjinjit mendekati sofa itu. Hatinya berdebar pelan. Dia menungguku semalaman? batinnya tak percaya. Ia berjongkok di samping sofa, menyamakan ketinggian wajah mereka. Dari dekat, Angga terlihat begitu tampan—namun dingin. Tampan, tapi dingin. Mulutnya juga bikin sakit hati, gumamnya pelan tanpa sadar. Tangan Danindra terulur perlahan, ingin menyentuh hidung mancung pria itu.Belum sampai jari-jarinya menyentuh kulit, Angga tiba-tiba membuka mata. Tatapan mereka bertemu. "Sedang apa kau berjongkok di depanku?" tanyanya serak, baru bangun tidur.Danin

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 9

    Pertanyaan yang Tak Diharapkan dan Penjagaan yang DiamKeheningan di ruang rawat itu terasa begitu pekat. Danindra berbaring diam di atas kasur, matanya terpejam namun pikirannya berputar tak menentu. Di sudut ruangan, Angga masih duduk di sofa, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak ada yang berniat memulai percakapan. Danindra berharap keheningan ini berlangsung terus hingga ia tertidur, namun tiba-tiba suara berat dan rendah memecah kesunyian malam ini."Kenapa dahimu bisa terluka?" tanya Angga.Danindra tersentak, matanya terbuka lebar menatap pria di hadapannya. Ia tak menyangka laki-laki sedingin Angga akan menanyakan hal sepele seperti ini. "Hah?" ucap Danindra tiba-tiba.Angga mengernyit, nada suaranya meninggi sedikit karena kesal. "Kamu tuli?"Belum berubah juga mulutnya yang kejam itu, batin Danindra. Ia segera menjawab singkat, "Hanya.... insiden kecil di kampus tidak perlu di pikirkan kok." "Kecil?

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 8

    Gegar Otak Ringan & Kehadiran yang Tak DiharapkanHari itu Danindra bangun jauh lebih siang dari biasanya. Bukan karena libur kuliah, melainkan kepalanya berdenyut hebat, disertai rasa pening yang membuatnya sulit membuka mata. Dengan susah payah ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur, jari-jarinya gemetar saat mencari nama Diana—sahabatnya yang akan memberitahu dosen bahwa ia tak bisa masuk kuliah hari ini.Danindra bangkit perlahan, wajahnya mengernyit menahan nyeri yang berdenyut di pelipis. Ia duduk sebentar di tepi kasur sampai rasa pening itu sedikit mereda, lalu berjalan keluar kamar tanpa mandi, menuruni tangga sambil berpegangan erat pada sandaran tangan. Setiap langkah terasa berat, seakan kepalanya berputar pelan namun terus-menerus."Nyonya Danindra?" Bik Wati yang sedang menyapu di ruang tengah segera berhenti dan menghampirinya dengan cemas. "Mau kemana, Nyonya? Terlihat sekali Bu sedang tidak enak badan.""Turun ke bawah... ingin makan, Bik," jawab Danindra pel

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 7

    Luka di Dahi dan Perjuangan yang Tak Berhenti Pagi itu, Danindra kembali berangkat lebih awal, persis seperti hari-hari sebelumnya. Berkali-kali Bik Wati memanggilnya untuk sarapan, namun Danindra hanya menyempatkan diri sebentar, tak tenang jika berlama-lama di rumah. Di depan teras, Pak Andi sudah menunggu dengan mobil sedan hitamnya, siap mengantarnya ke kampus. Danindra sudah menyiapkan kebohongan di kepalanya—ia akan bilang ada kegiatan sore ini agar sopir itu tidak menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi bekerja setelah kelas selesai. Sesampainya di kelas, hal yang sama terulang. Angel sudah menunggunya, dan segera menyambutnya dengan ejekan serta kata-kata yang menjatuhkan. Danindra yang biasanya diam, hari ini merasa kesabarannya menipis. "Angel, bisakah satu hari saja mulutmu diam?" ucap Danindra pelan namun tegas. Angel tertawa sinis. "Tidak bisa. Kenapa? Tidak suka?" Matanya menyala penuh kemenangan. "Kamu memang gila," jawab Danindra singkat, lalu berniat perg

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status