共有

Bab 7

作者: UmaMe
last update 公開日: 2026-08-23 23:46:04

Luka di Dahi dan Perjuangan yang Tak Berhenti

Pagi itu, Danindra kembali berangkat lebih awal, persis seperti hari-hari sebelumnya. Berkali-kali Bik Wati memanggilnya untuk sarapan, namun Danindra hanya menyempatkan diri sebentar, tak tenang jika berlama-lama di rumah. Di depan teras, Pak Andi sudah menunggu dengan mobil sedan hitamnya, siap mengantarnya ke kampus. Danindra sudah menyiapkan kebohongan di kepalanya—ia akan bilang ada kegiatan sore ini agar sopir itu tidak menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi bekerja setelah kelas selesai.

Sesampainya di kelas, hal yang sama terulang. Angel sudah menunggunya, dan segera menyambutnya dengan ejekan serta kata-kata yang menjatuhkan. Danindra yang biasanya diam, hari ini merasa kesabarannya menipis.

"Angel, bisakah satu hari saja mulutmu diam?" ucap Danindra pelan namun tegas.

Angel tertawa sinis. "Tidak bisa. Kenapa? Tidak suka?" Matanya menyala penuh kemenangan.

"Kamu memang gila," jawab Danindra singkat, lalu berniat pergi meninggalkannya.

Belum sempat melangkah jauh, Angel tiba-tiba menarik lengan Danindra dengan kasar. Danindra kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.

Buk!

Kepalanya menghantam dinding tembok dengan cukup keras. Seketika itu juga, darah mulai mengalir dari luka di dahinya.

"Danindra!" Diana yang kebetulan lewat melihat kejadian itu, langsung berlari menghampiri. Ia tak menyangka sahabatnya terluka. Melihat darah yang menetes di dahi Danindra, Diana langsung menatap Angel dengan marah. "Kamu gila ya, Angel?!"

"Bukan salahku! Dia sendiri yang jatuh!" bantah Angel, wajahnya pucat namun tetap membela diri. Banyak mahasiswa yang melihat kejadian itu dan berbisik-bisik, semua tahu siapa yang sebenarnya bersalah. Angel semakin marah dan membentak mereka untuk pergi.

Diana tak mempedulikan Angel, segera menuntun Danindra berdiri dan membawanya ke Ruang Kesehatan Kampus. Di sana, perawat kampus segera membersihkan luka dan menempelkan plester di dahi Danindra. Diana tetap menemaninya sampai selesai.

"Pusing tidak?" tanya Diana cemas.

Danindra mengangguk pelan sambil memijat pelipisnya. "Sedikit..."

"Lebih baik kamu pulang saja, istirahat di rumah," saran Diana.

"Iya, nanti aku pulang," jawab Danindra.

"Kamu istirahat dulu di sini, nanti aku izinkan ke dosen dan absen untuk kita berdua," kata Diana sebelum pamit kembali ke kelas.

Setelah setengah jam berbaring dengan mata terpejam, rasa pusing itu mereda. Danindra berpamitan pada petugas UKS yang juga memberinya obat penenang dan pesan untuk langsung diminum jika sakit kepala berlanjut. Namun Danindra tidak pulang ke rumah Angga. Langkah kakinya justru mengarah ke luar kampus, menuju restoran Madam Ane. Ia tidak bisa berhenti bekerja, uang kuliah masih harus dibayar.

Begitu masuk restoran, Rara yang sedang menyiapkan meja langsung menyapanya. Matanya tertuju pada plester di dahi Danindra. "Itu kenapa?"

"Hanya insiden kecil di kampus tadi. Tidak apa-apa," jawab Danindra sambil tersenyum tipis, lalu berjalan ke loker untuk berganti pakaian kerja.

Ia kembali melayani tamu, mengantar makanan dan minuman dari satu meja ke meja lain. Meski kepalanya terasa berat dan tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya, Danindra tetap berusaha sekuat tenaga. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat restoran tutup. Danindra berkemas dan berjalan menuju halte bus. Hari ini rasanya sangat lelah—entah karena benturan di kepala tadi, atau karena pelanggan yang jauh lebih banyak dari biasanya.

Sesampainya di halte dekat rumah Angga, ia berjalan pelan menuju gerbang besar itu. Lampu-lampu rumah sudah padam, tanda semua orang sudah beristirahat. Namun begitu ia masuk, Bik Wati ternyata masih menunggunya di ruang tengah.

"nyonya Danindra baru pulang? Mari makan dulu, makanannya sudah saya siapkan," sapa Bik Wati lembut. Namun tatapan Bik Wati tertahan pada plester di dahi Danindra. Wajahnya berubah cemas. "Ya Tuhan... dahi nyonya Danindra kenapa?"

Danindra tersentak, lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Bik. Hanya insiden kecil di kampus tadi. Sudah diobati, tidak sakit lagi kok."

Bik Wati menggeleng tidak yakin. "Sebaiknya saya panggilkan dokter keluarga, nyonya. Biar diperiksa."

"Tidak perlu, Bik. Terima kasih sudah khawatir," tolak Danindra halus. Ia mengambil piring berisi nasi dan lauk yang sudah disiapkan Bik Wati. "Saya makan dulu, lalu naik ke kamar ya."

"Silakan, nyonya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan panggil Bik Wati saja ya," pesan Bik Wati sebelum Danindra menaiki tangga menuju kamarnya.

Danindra menutup pintu kamar, lalu duduk di tepi tempat tidur. Luka di dahinya terasa berdenyut pelan, tapi hatinya terasa jauh lebih berat. Ia berbaring, menatap langit-langit kamar yang luas itu. Berapa lama lagi aku harus begini? batinnya. Namun tak ada jawaban, hanya keheningan malam yang menyelimuti—dan tekad yang belum luntur, walau lelah mulai merayap pelan-pelan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 12

    Hadiah dan PenghinaanMatahari sudah naik tinggi, menyinari jendela kaca ruang rawat yang luas itu. Namun dua orang yang sedang beristirahat di sana belum juga bergerak. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun baik Angga maupun Danindra belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka perlahan. Bi Wati masuk dengan langkah berhati-hati, membawa kotak makan di tangannya. Ia berjalan mendekati ranjang Danindra, meletakkan kotak makan itu di meja samping tempat tidur, lalu berbalik menghampiri Angga yang sedang tidur di sofa.Dengan ragu-ragu, Bi Wati menyentuh bahu Angga pelan. "Tuan... Tuan, mohon maaf lancang membangunkan."Angga mulai terusik, perlahan membuka matanya. Ia duduk tegak, menatap jam di dinding, lalu menatap Bi Wati."Sudah pagi sekali, Tuan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh," ucap Bi Wati dengan sopan. "Saya takut Tuan ada rapat penting dan terlambat.""Tidak apa-apa, Bi," jawab Angga suaranya masih berat namun t

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 11

    Bayang Perhatian yang Mulai Tumbuh Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat Angga melangkah keluar dari rumah sakit. Langkahnya tenang, namun di dalam hatinya ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—siapa sebenarnya gadis yang berani melukai Danindra hingga harus dirawat di rumah sakit? "Rendra," panggil Angga saat masuk ke dalam mobil, suaranya datar namun tegas. "Cari semua informasi tentang Angel. Keluarganya dari mana, seberapa kaya mereka, apa saja latar belakangnya. Aku ingin tahu semuanya sampai ke akar-akarnya. Berani sekali dia melukai orang di bawah tanggung jawabku." "Baik, Tuan. Segera aku kerjakan," jawab Rendra sambil mencatat perintah itu di ponselnya. Sesampainya di kantor, jadwal Angga sangat padat. Tumpukan berkas menumpuk di atas meja kerjanya, diikuti satu per satu rapat penting yang tak bisa ia tinggalkan. Salah satu rapat terbesarnya hari ini membahas proyek kerjasama yang bernilai triliunan rupiah—dan di situlah ia harus berhadapan dengan Pak Haris,

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 10

    Pagi yang Tak Terduga & Kedatangan Orang-Orang TerdekatHari masih terlalu pagi saat Danindra terbangun. Rasa berdenyut di kepalanya sudah hilang, hanya tersisa rasa pegal yang samar. Ia duduk di tepi ranjang rawat, matanya menyapu sekeliling ruangan—dan seketika terpaku pada sofa di sudut ruangan. Angga masih tertidur di sana, wajahnya tenang tanpa garis ketegangan yang biasanya selalu ada.Danindra turun dari ranjang perlahan, berjalan berjinjit mendekati sofa itu. Hatinya berdebar pelan. Dia menungguku semalaman? batinnya tak percaya. Ia berjongkok di samping sofa, menyamakan ketinggian wajah mereka. Dari dekat, Angga terlihat begitu tampan—namun dingin. Tampan, tapi dingin. Mulutnya juga bikin sakit hati, gumamnya pelan tanpa sadar. Tangan Danindra terulur perlahan, ingin menyentuh hidung mancung pria itu.Belum sampai jari-jarinya menyentuh kulit, Angga tiba-tiba membuka mata. Tatapan mereka bertemu. "Sedang apa kau berjongkok di depanku?" tanyanya serak, baru bangun tidur.Danin

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 9

    Pertanyaan yang Tak Diharapkan dan Penjagaan yang DiamKeheningan di ruang rawat itu terasa begitu pekat. Danindra berbaring diam di atas kasur, matanya terpejam namun pikirannya berputar tak menentu. Di sudut ruangan, Angga masih duduk di sofa, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak ada yang berniat memulai percakapan. Danindra berharap keheningan ini berlangsung terus hingga ia tertidur, namun tiba-tiba suara berat dan rendah memecah kesunyian malam ini."Kenapa dahimu bisa terluka?" tanya Angga.Danindra tersentak, matanya terbuka lebar menatap pria di hadapannya. Ia tak menyangka laki-laki sedingin Angga akan menanyakan hal sepele seperti ini. "Hah?" ucap Danindra tiba-tiba.Angga mengernyit, nada suaranya meninggi sedikit karena kesal. "Kamu tuli?"Belum berubah juga mulutnya yang kejam itu, batin Danindra. Ia segera menjawab singkat, "Hanya.... insiden kecil di kampus tidak perlu di pikirkan kok." "Kecil?

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 8

    Gegar Otak Ringan & Kehadiran yang Tak DiharapkanHari itu Danindra bangun jauh lebih siang dari biasanya. Bukan karena libur kuliah, melainkan kepalanya berdenyut hebat, disertai rasa pening yang membuatnya sulit membuka mata. Dengan susah payah ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur, jari-jarinya gemetar saat mencari nama Diana—sahabatnya yang akan memberitahu dosen bahwa ia tak bisa masuk kuliah hari ini.Danindra bangkit perlahan, wajahnya mengernyit menahan nyeri yang berdenyut di pelipis. Ia duduk sebentar di tepi kasur sampai rasa pening itu sedikit mereda, lalu berjalan keluar kamar tanpa mandi, menuruni tangga sambil berpegangan erat pada sandaran tangan. Setiap langkah terasa berat, seakan kepalanya berputar pelan namun terus-menerus."Nyonya Danindra?" Bik Wati yang sedang menyapu di ruang tengah segera berhenti dan menghampirinya dengan cemas. "Mau kemana, Nyonya? Terlihat sekali Bu sedang tidak enak badan.""Turun ke bawah... ingin makan, Bik," jawab Danindra pel

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 7

    Luka di Dahi dan Perjuangan yang Tak Berhenti Pagi itu, Danindra kembali berangkat lebih awal, persis seperti hari-hari sebelumnya. Berkali-kali Bik Wati memanggilnya untuk sarapan, namun Danindra hanya menyempatkan diri sebentar, tak tenang jika berlama-lama di rumah. Di depan teras, Pak Andi sudah menunggu dengan mobil sedan hitamnya, siap mengantarnya ke kampus. Danindra sudah menyiapkan kebohongan di kepalanya—ia akan bilang ada kegiatan sore ini agar sopir itu tidak menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi bekerja setelah kelas selesai. Sesampainya di kelas, hal yang sama terulang. Angel sudah menunggunya, dan segera menyambutnya dengan ejekan serta kata-kata yang menjatuhkan. Danindra yang biasanya diam, hari ini merasa kesabarannya menipis. "Angel, bisakah satu hari saja mulutmu diam?" ucap Danindra pelan namun tegas. Angel tertawa sinis. "Tidak bisa. Kenapa? Tidak suka?" Matanya menyala penuh kemenangan. "Kamu memang gila," jawab Danindra singkat, lalu berniat perg

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status