共有

Bab 4

作者: UmaMe
last update 公開日: 2026-07-24 12:26:09

Tanda Tangan dan Ikatan Paksa

Danindra mulai membuka pintu besar itu pelan-pelan. Jantungnya berdegup kencang saat melangkah masuk ke rumah megah yang terasa begitu dingin dan asing itu. Dari kejauhan, matanya langsung menangkap sosok Angga yang duduk tegak di sofa ruang tamu, wajahnya kaku tanpa ekspresi, seolah sedang menunggu sesuatu yang sangat tidak ia inginkan.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki cepat dari belakangnya. Seseorang berjalan mendahuluinya—itu adalah Rendra, asisten pribadi Angga yang berpenampilan rapi dengan wajah datar tanpa senyum.

Danindra menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mendekati ruang tamu. Saat ia berhenti di depan sofa, Angga menoleh sekilas dan berkata dengan nada datar tanpa emosi: "Duduk."

Danindra pun duduk, tangannya saling meremas di atas pangkuan untuk menenangkan diri. Angga memberi kode pada Rendra. Lelaki itu segera maju dan menyerahkan sebuah map tebal berwarna cokelat tua kepada Danindra.

"Baca. Lalu tanda tangani," ujar Angga singkat, dingin dan tak terbantahkan.

Dalam keheningan yang menyesakkan, Danindra membuka map itu. Ada dua lembar kertas di dalamnya, semuanya tercetak rapi dengan tulisan yang jelas.

Lembar pertama berisi kontrak pernikahan. Pernikahan ini hanya berlaku sementara—berlangsung sampai kerjasama bisnis kedua keluarga selesai, atau sampai Gladys kembali.

Lembar kedua berisi peraturan tegas untuk Danindra. Ia tidak boleh ikut campur urusan apapun yang dilakukan Angga. Ia dilarang masuk ke kamar pribadi maupun ruang kerja Angga. Danindra hanya boleh berada di ruang yang ditentukan untuknya.

Setelah membaca semuanya dengan saksama, Danindra mengangkat wajah, menatap lurus ke arah Angga. Suaranya tenang namun tegas, memecah keheningan ruangan:

"Yang harus kamu ketahui, bukan aku yang memaksa ayahku untuk menikahkan aku denganmu. Jangan terlalu membenciku, karena kita sama-sama korban di sini. Jika aku bisa menolak, aku pasti akan menolaknya. Tapi sekeras apapun aku menolak, keputusan ayahku tetap tidak akan berubah."

Angga hanya diam. Tidak ada jawaban, tidak ada perubahan ekspresi. Hanya tatapan tajam yang masih menyimpan amarah tertahan.

Danindra mengambil pena, lalu tanpa ragu menandatangani ketiga lembar kertas itu. Setelah selesai, ia menyerahkan kembali map itu kepada Rendra. Rendra lalu membawanya dan menyerahkan kepada Angga.

Angga berdiri. Sebelum melangkah pergi, ia berkata pada Rendra: "Panggil Bu Wati."

Rendra mengangguk dan segera pergi. Angga berjalan menaiki tangga, masuk ke kamarnya tanpa menoleh sedikit pun.

Tak lama kemudian, Rendra kembali bersama seorang wanita paruh baya yang tersenyum ramah—Bu Wati, asisten rumah tangga di rumah itu.

"Nyonya, ini Bu Wati yang akan melayani Nyonya selama di sini," kata Rendra. "Beliau akan mengantar Nyonya ke kamar."

Danindra mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas Rendra."

Rendra mengangguk sopan lalu berpamitan. Bu Wati pun mengajak Danindra menaiki tangga yang luas dan megah itu. Danindra berjalan di belakang wanita itu, menatap punggung Bu Wati dengan perasaan campur aduk.

Bu Wati berhenti di depan sebuah pintu besar berukir indah. "Ini kamar Nyonya, kamar yang sudah disiapkan khusus untuk Nyonya baru kami," ucap Bu Wati lembut sambil membukakan pintu. Ruangan itu luas, tertata rapi dengan perabotan mewah, namun terasa sepi dan dingin.

"Terima kasih, Bu Wati," ucap Danindra tulus.

"Sama-sama, Nyonya. Jika ada yang dibutuhkan atau ingin ditanyakan, silakan panggil Bu Wati saja," pamitnya sebelum menutup pintu perlahan.

Danindra duduk di tepi tempat tidur yang empuk itu, menatap kosong ke depan. Pikirannya berputar tak menentu. Di satu sisi ia merasa bersalah pada Angga, di sisi lain ia tak punya pilihan.

Sementara itu, di ruang kerja yang tak jauh dari sana, Angga duduk bersandar di kursi kerjanya sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Kata-kata Danindra tadi terus berputar di kepalanya—kita sama-sama korban.

Apakah benar begitu? batin Angga. Ia merasa semakin bingung. Masalah yang baru saja dimulai ini ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Kepalanya semakin terasa berat, dan ia memutuskan untuk beristirahat.

Malam semakin larut. Angga sudah terlelap di kamarnya, dan Danindra pun akhirnya tertidur, terlelap di alam mimpi—sejenak melupakan kenyataan pahit yang baru saja ia masuki. Sebuah pernikahan tanpa cinta, yang terikat hanya demi nama baik keluarga dan bisnis.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 12

    Hadiah dan PenghinaanMatahari sudah naik tinggi, menyinari jendela kaca ruang rawat yang luas itu. Namun dua orang yang sedang beristirahat di sana belum juga bergerak. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun baik Angga maupun Danindra belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka perlahan. Bi Wati masuk dengan langkah berhati-hati, membawa kotak makan di tangannya. Ia berjalan mendekati ranjang Danindra, meletakkan kotak makan itu di meja samping tempat tidur, lalu berbalik menghampiri Angga yang sedang tidur di sofa.Dengan ragu-ragu, Bi Wati menyentuh bahu Angga pelan. "Tuan... Tuan, mohon maaf lancang membangunkan."Angga mulai terusik, perlahan membuka matanya. Ia duduk tegak, menatap jam di dinding, lalu menatap Bi Wati."Sudah pagi sekali, Tuan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh," ucap Bi Wati dengan sopan. "Saya takut Tuan ada rapat penting dan terlambat.""Tidak apa-apa, Bi," jawab Angga suaranya masih berat namun t

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 11

    Bayang Perhatian yang Mulai Tumbuh Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat Angga melangkah keluar dari rumah sakit. Langkahnya tenang, namun di dalam hatinya ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—siapa sebenarnya gadis yang berani melukai Danindra hingga harus dirawat di rumah sakit? "Rendra," panggil Angga saat masuk ke dalam mobil, suaranya datar namun tegas. "Cari semua informasi tentang Angel. Keluarganya dari mana, seberapa kaya mereka, apa saja latar belakangnya. Aku ingin tahu semuanya sampai ke akar-akarnya. Berani sekali dia melukai orang di bawah tanggung jawabku." "Baik, Tuan. Segera aku kerjakan," jawab Rendra sambil mencatat perintah itu di ponselnya. Sesampainya di kantor, jadwal Angga sangat padat. Tumpukan berkas menumpuk di atas meja kerjanya, diikuti satu per satu rapat penting yang tak bisa ia tinggalkan. Salah satu rapat terbesarnya hari ini membahas proyek kerjasama yang bernilai triliunan rupiah—dan di situlah ia harus berhadapan dengan Pak Haris,

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 10

    Pagi yang Tak Terduga & Kedatangan Orang-Orang TerdekatHari masih terlalu pagi saat Danindra terbangun. Rasa berdenyut di kepalanya sudah hilang, hanya tersisa rasa pegal yang samar. Ia duduk di tepi ranjang rawat, matanya menyapu sekeliling ruangan—dan seketika terpaku pada sofa di sudut ruangan. Angga masih tertidur di sana, wajahnya tenang tanpa garis ketegangan yang biasanya selalu ada.Danindra turun dari ranjang perlahan, berjalan berjinjit mendekati sofa itu. Hatinya berdebar pelan. Dia menungguku semalaman? batinnya tak percaya. Ia berjongkok di samping sofa, menyamakan ketinggian wajah mereka. Dari dekat, Angga terlihat begitu tampan—namun dingin. Tampan, tapi dingin. Mulutnya juga bikin sakit hati, gumamnya pelan tanpa sadar. Tangan Danindra terulur perlahan, ingin menyentuh hidung mancung pria itu.Belum sampai jari-jarinya menyentuh kulit, Angga tiba-tiba membuka mata. Tatapan mereka bertemu. "Sedang apa kau berjongkok di depanku?" tanyanya serak, baru bangun tidur.Danin

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 9

    Pertanyaan yang Tak Diharapkan dan Penjagaan yang DiamKeheningan di ruang rawat itu terasa begitu pekat. Danindra berbaring diam di atas kasur, matanya terpejam namun pikirannya berputar tak menentu. Di sudut ruangan, Angga masih duduk di sofa, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak ada yang berniat memulai percakapan. Danindra berharap keheningan ini berlangsung terus hingga ia tertidur, namun tiba-tiba suara berat dan rendah memecah kesunyian malam ini."Kenapa dahimu bisa terluka?" tanya Angga.Danindra tersentak, matanya terbuka lebar menatap pria di hadapannya. Ia tak menyangka laki-laki sedingin Angga akan menanyakan hal sepele seperti ini. "Hah?" ucap Danindra tiba-tiba.Angga mengernyit, nada suaranya meninggi sedikit karena kesal. "Kamu tuli?"Belum berubah juga mulutnya yang kejam itu, batin Danindra. Ia segera menjawab singkat, "Hanya.... insiden kecil di kampus tidak perlu di pikirkan kok." "Kecil?

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 8

    Gegar Otak Ringan & Kehadiran yang Tak DiharapkanHari itu Danindra bangun jauh lebih siang dari biasanya. Bukan karena libur kuliah, melainkan kepalanya berdenyut hebat, disertai rasa pening yang membuatnya sulit membuka mata. Dengan susah payah ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur, jari-jarinya gemetar saat mencari nama Diana—sahabatnya yang akan memberitahu dosen bahwa ia tak bisa masuk kuliah hari ini.Danindra bangkit perlahan, wajahnya mengernyit menahan nyeri yang berdenyut di pelipis. Ia duduk sebentar di tepi kasur sampai rasa pening itu sedikit mereda, lalu berjalan keluar kamar tanpa mandi, menuruni tangga sambil berpegangan erat pada sandaran tangan. Setiap langkah terasa berat, seakan kepalanya berputar pelan namun terus-menerus."Nyonya Danindra?" Bik Wati yang sedang menyapu di ruang tengah segera berhenti dan menghampirinya dengan cemas. "Mau kemana, Nyonya? Terlihat sekali Bu sedang tidak enak badan.""Turun ke bawah... ingin makan, Bik," jawab Danindra pel

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 7

    Luka di Dahi dan Perjuangan yang Tak Berhenti Pagi itu, Danindra kembali berangkat lebih awal, persis seperti hari-hari sebelumnya. Berkali-kali Bik Wati memanggilnya untuk sarapan, namun Danindra hanya menyempatkan diri sebentar, tak tenang jika berlama-lama di rumah. Di depan teras, Pak Andi sudah menunggu dengan mobil sedan hitamnya, siap mengantarnya ke kampus. Danindra sudah menyiapkan kebohongan di kepalanya—ia akan bilang ada kegiatan sore ini agar sopir itu tidak menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi bekerja setelah kelas selesai. Sesampainya di kelas, hal yang sama terulang. Angel sudah menunggunya, dan segera menyambutnya dengan ejekan serta kata-kata yang menjatuhkan. Danindra yang biasanya diam, hari ini merasa kesabarannya menipis. "Angel, bisakah satu hari saja mulutmu diam?" ucap Danindra pelan namun tegas. Angel tertawa sinis. "Tidak bisa. Kenapa? Tidak suka?" Matanya menyala penuh kemenangan. "Kamu memang gila," jawab Danindra singkat, lalu berniat perg

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status