공유

Bab 8

작가: UmaMe
last update 게시일: 2026-08-25 00:08:25

Gegar Otak Ringan & Kehadiran yang Tak Diharapkan

Hari itu Danindra bangun jauh lebih siang dari biasanya. Bukan karena libur kuliah, melainkan kepalanya berdenyut hebat, disertai rasa pening yang membuatnya sulit membuka mata. Dengan susah payah ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur, jari-jarinya gemetar saat mencari nama Diana—sahabatnya yang akan memberitahu dosen bahwa ia tak bisa masuk kuliah hari ini.

Danindra bangkit perlahan, wajahnya mengernyit menahan nyeri yang berdenyut di pelipis. Ia duduk sebentar di tepi kasur sampai rasa pening itu sedikit mereda, lalu berjalan keluar kamar tanpa mandi, menuruni tangga sambil berpegangan erat pada sandaran tangan. Setiap langkah terasa berat, seakan kepalanya berputar pelan namun terus-menerus.

"Nyonya Danindra?" Bik Wati yang sedang menyapu di ruang tengah segera berhenti dan menghampirinya dengan cemas.

"Mau kemana, Nyonya? Terlihat sekali Bu sedang tidak enak badan."

"Turun ke bawah... ingin makan, Bik," jawab Danindra pelan, suaranya terdengar lemah.

"Sudah hampir jam sebelas siang ini, Nyonya. Sarapan sudah habis. Biar Bik Wati masakkan nasi goreng dan telur mata sapi ya?"

"Terima kasih, Bik. Apa saja boleh."

Tak lama kemudian, makanan tersaji di meja makan. Danindra memakannya dengan cepat, seakan ingin segera kembali berbaring.

"Terima kasih, Bik Wati. Saya naik ke kamar dulu."

"Nyonya Danindra," panggil Bik Wati lembut namun tegas. "Bagaimana kalau saya panggilkan Dokter Rizal, dokter keluarga Tuan Angga? Biar beliau periksa luka di dahi Nyonya."

"Tidak perlu, Bik. Benar-benar tidak apa-apa," tolak Danindra pelan, lalu berjalan perlahan menaiki tangga kembali ke kamarnya. Ia berbaring kembali, menutup mata—kepalanya terasa semakin berat dan berdenyut tak kunjung reda.

Belum lama ia berbaring, pintu kamarnya diketuk. Danindra bangkit dengan susah payah, membuka pintu dan mendapati Bu Wati berdiri di sana bersama seorang pria paruh baya berjas putih.

"Maaf, Nyonya. Saya tidak tega melihat Nyonya kesakitan," ucap Bik Wati. "Ini Dokter Rizal, beliau akan memeriksa keadaan Nyonya."

Danindra hendak menolak, tapi melihat tatapan cemas Bik Wati, kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia hanya mengangguk pelan dan membiarkan dokter itu memeriksa luka di dahi serta menekan pelipis dan tengkuknya.

"Nyonya, saya sarankan segera ke rumah sakit untuk dirontgen dan observasi lebih lanjut," kata Dokter Rizal serius setelah selesai memeriksa. "Luka benturan di kepala tidak boleh dianggap remeh."

"Bisakah hanya diberi obat saja, Dokter?" tanya Danindra lemah.

"Maaf, Nyonya. Saya tidak berani mengambil risiko. Lebih baik diperiksa secara menyeluruh," jawab dokter itu tegas namun ramah.

Setelah dokter pamit, Bik Wati segera mengajak Danindra. "Pak Narto sudah menyiapkan mobil di depan, Nyonya. Mari kita ke rumah sakit sekarang. Sekali saja, supaya Bik Wati tenang."

Melihat ketegasan di wajah Bik Wati, Danindra akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah, Bik. Ayo kita pergi."

Sesampainya di rumah sakit, Bik Wati yang mengurus segala pendaftaran. Sambil menunggu nomor antrian, Bik Wati menelepon Angga. "Tuan, Nyonya sedang di rumah sakit... kepalanya terluka dan berdenyut cukup parah. Dokter menyarankan pemeriksaan rontgen."

Dari seberang sana hanya terdengar jawaban singkat. "Iya."

Tak lama kemudian nama Danindra dipanggil. Ia masuk ke ruang pemeriksaan, menjalani rontgen dan pemeriksaan menyeluruh. Setelah semua selesai, dokter yang menangani menjelaskan dengan lembut namun jelas: "Hasil pemeriksaan menunjukkan gegar otak ringan. Nyonya harus dirawat beberapa hari di sini agar kami bisa memantau kondisi kepala dan mencegah risiko komplikasi."

Danindra hanya mengangguk pelan. Tak ada protes, tak ada penolakan. Terserah mau bagaimana pun, yang penting kepalaku tidak sakit lagi, batinnya pasrah.

Danindra dibawa ke ruang rawat inap yang cukup luas dan nyaman. Ia berbaring diam di atas kasur yang empuk, memejamkan mata sambil berusaha menenangkan rasa nyeri yang perlahan mereda. Bik Wati keluar sebentar untuk menelepon Angga kembali.

"Tuan, Nyonya harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Saya izin pulang sebentar untuk mengambil perlengkapan Nyonya. Bisakah Tuan datang sebentar menemani Nyonya sebelum saya kembali?"

"Baik. Saya akan ke sana," jawab Angga singkat.

Bik Wati kembali ke ruang rawat dengan senyum lega. "Nyonya Danindra, Bik Wati pulang sebentar mengambil baju dan perlengkapan. Tuan Angga akan datang menemani Nyonya di sini."

Danindra terkejut, matanya terbuka lebar. "Angga... akan datang?"

"Iya, Nyonya. Beliau sebentar lagi sampai."

Danindra terdiam. Sudah beberapa hari ini ia berhasil menghindari pria itu—pria yang dingin, bermulut tajam, dan selalu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun kini ia tak bisa lari lagi. Ia hanya bisa pasrah, berjanji dalam hati untuk tetap diam saja.

Tak lama berselang, pintu ruang rawat terbuka. Angga masuk dengan langkah tegap, diikuti Rendra di belakangnya. Bu Wati segera berpamitan. "Bik Wati pergi dulu ya, Nyonya."

Angga duduk di sofa di sudut ruangan tanpa mengucap sepatah kata pun. Rendra menghampiri tepi tempat tidur, menatap luka di dahi Danindra dengan tatapan prihatin. "Bagaimana keadaan Nyonya sekarang? Masih pusing?"

"Sedikit berkurang, Mas Rendra. Terima kasih sudah bertanya," jawab Danindra dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Kenapa dahi Nyonya bisa terluka?" rendra bertanya lagi.

"Ada insiden kecil di kampus kemarin." jawab Danindra.

Rendra melirik jam tangannya. "Sudah waktunya saya pulang, Nyonya. Saya pamit dulu."

"Baik, Mas. Hati-hati di jalan."

Angga hanya mengangguk singkat saat Rendra berpamitan padanya. Pintu tertutup, dan kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. Keheningan menyelimuti, terasa berat namun entah kenapa tak lagi terasa menyesakkan seperti biasanya. Danindra menatap ke arah jendela, sementara Angga duduk diam memandangi lantai. Tak ada yang berani memulai pembicaraan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 52

    Keseruan Berkeliling Mall Milik AnggaDiana tampak sangat antusias sejak langkah pertama memasuki mall yang megah itu. Ia langsung mengandeng lengan Danindra dengan riang, menarik‑narik untuk berkeliling ke sana kemari. Mata Diana tak henti‑hentinya berbinar kagum melihat kemegahan mall tersebut, mulai dari lampu‑lampu kristal yang berkilauan di langit‑langit hingga lantai marmer yang mengkilap bak cermin.Tiba‑tiba Diana mendekatkan mulut ke telinga Danindra dan berbisik pelan, "Bolehkah aku minta dibelikan sesuatu?" sambil mengedip‑ngedipkan mata dengan wajah memohon. Danindra menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis, "Kamu mau beli apa?" tanyanya. "Ehhhh apa ya… kita putar‑putar dulu nanti kalau ada yang membuatku tertarik baru kita lihat‑lihat," jawab Diana sambil menarik lengan Danindra lagi."Na, kita sudah mengitari mall ini tiga kali lho, kakiku sampai capek," keluh Danindra sambil menggosok pergelangan kakinya. "Baru tiga kali lho belum sepuluh kali!" rengek Diana dengan nad

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 51

    Kejutan Jalan‑Jalan ke MallSesampainya di kampus pagi itu, Danindra langsung berkeliling mencari Diana di koridor dekat kelas. Begitu mata bertemu mata, Diana segera mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu."Eh Din! Kenapa kemarin izin kuliah? Aku kan sudah menunggumu," tanya Diana dengan nada kepo yang khas.Danindra tersenyum tipis. "Ada urusan keluarga Di, aku pergi ke rumah Kakek Hardian milik Angga."Diana mengerutkan dahi lalu cemberut sambil bergumam, "Iya‑iya… yang sudah berkeluarga sibuk ya."Danindra hanya tertawa pelan tanpa membantah."Eh aku makin kepo deh!" seru Diana lagi. "Lalu gimana respon Kakeknya Angga sama kamu?""Kakeknya baik sekali sama aku Di. Tapi Paman Gunawan sama Bibi Sinta sepertinya kurang suka melihat aku dekat dengan Angga," jawab Danindra pelan."Lho kenapa emang?" tanya Diana makin penasaran."Kurang tahu aku Di. Kamu ini kepo sekali ya," ucap Danindra sambil menyenggol lengan Diana."Ihhh!" Diana mendengus sambil tersenyum. "Ok deh aku tidak a

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 50

    Pagi Setelah Berkunjung ke MakamSetelah selesai berdiam sejenak di makam ayah dan ibu Angga, hati Danindra masih terasa penuh haru. Di dalam mobil, Angga duduk tenang di sampingnya, tatapannya melurus ke depan seolah masih teringat ucapan yang ia sampaikan tadi di makam. Pak Budi mengarahkan mobil menuju rumah tempat mereka tinggal, karena buku perkuliahan Danindra masih tertinggal di sana dan ia harus segera berangkat ke kampus.Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Bik Wati sudah berdiri di teras menyambut mereka dengan senyum hangat."Selamat datang tuan Angga, Nyonya Danindra," sapa Bik Wati sambil melangkah mendekat.Angga mengangguk pelan. "Terima kasih Bik Wati."Bik Wati menatap wajah mereka bergantian lalu bertanya dengan nada perhatian, "Apakah tuan berdua sudah sarapan pagi ini?""Sudah Bik Wati," jawab Angga. "Kami sudah sarapan di rumah Kakek Hardian sebelum berangkat ke makam.""Oh begitu ya tuan," ucap Bik Wati. "Kalau begitu saya lanjutkan pekerjaan di dapur dulu ya

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 49

    Kunjungan ke Makam Ayah dan IbuSetelah selesai sarapan, Angga dan Danindra berpamitan kepada Kakek Hardian untuk pulang. Kakek mengantar mereka sampai ke teras depan, tersenyum hangat sambil menepuk pelan bahu Angga sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan awalnya hanya ada keheningan yang tenang, sampai tiba-tiba Angga menoleh ke arah Danindra dan membuka suara."Danindra..." panggilnya pelan. "Kamu mau aku ajak ke makam ayah dan ibuku?"Danindra menatapnya sejenak, lalu mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Mau," jawabnya tegas namun lembut.Angga tersenyum lega, lalu menoleh ke depan. "Pak Budi, kita ke makam keluarga Pratama ya.""Baik, Tuan Angga," jawab Pak Budi sambil memutar setir, mengubah arah mobil menuju tempat yang bagi Angga adalah tempat paling sunyi namun juga paling berharga di hatinya.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Saat gerbang makam terbuka, Danindra terkesima. Kawasan ini sangat luas, tertata rapi dengan jalan setapa

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 48

    Pagi yang Penuh Kejutan Pagi itu, Angga terbangun lebih dulu. Senyum merekah di wajahnya saat melihat Danindra masih terlelap di depannya. Ia perlahan mengusap wajah Danindra, sentuhan itu membuat pemilik wajah terasa terganggu dan akhirnya membuka mata. Danindra terkejut saat mata mereka bertemu langsung. Angga hanya tersenyum lembut lalu bertanya, “Tidurmu nyenyak?” Danindra hanya mengangguk, masih diliputi rasa canggung. Saat ia hendak bangun, Angga justru memeluknya pelan dan berbisik, “Biarkan dulu seperti ini.” Danindra pun diam, menunggu sampai Angga melepaskan pelukannya. Tiba‑tiba terdengar ketukan di pintu. “Iya,” jawab Angga. Ia melepaskan pelukan itu lalu menyuruh Danindra mandi. Danindra segera berlari kecil menuju walk‑in closet; pipinya sudah memerah seperti tomat karena perlakuan Angga tadi. Angga membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Kakek Hardian. “Kakek, ada apa?” tanya Angga sambil membuka pintu setengah. Kakek tampak penasaran, celingak‑celinguk ing

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 47

    Malam yang Lembut di Kamar KenanganSaat Danindra keluar dari kamar mandi, Angga yang sedang berdiri di dekat jendela hanya melirik sekilas lalu berbalik hendak pergi ke dalam kamar mandi. Danindra yang melihat pergerakan itu langsung merasa panik kecil, seketika berdiri dan bertanya dengan suara yang terdengar sedikit tergesa, "Mau ke mana?""Mandi," jawab Angga singkat namun nadanya tetap lembut, seakan ingin menenangkan kegelisahan yang tiba-tiba muncul di wajah Danindra. Lalu ia melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang terhubung dengan kamar mandi, menutup pintunya perlahan dari luar."Oh..." Danindra bergumam sendirian di ruangan yang cukup luas itu, pipinya tiba-tiba terasa hangat karena merasa malu sendiri karena bertanya begitu tiba-tiba. Ia berjalan mendekati ranjang besar yang terbuat dari kayu jati tua itu dan duduk perlahan di tepinya. Rasanya sungguh canggung sekali—meski saat ini hanya ada dirinya sendiri di kamar yang megah itu, ia ragu untuk sekadar merebahkan tub

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status