Share

Bab 2

Author: UmaMe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-22 08:40:16

Kesepakatan yang Pahit

Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya menyinari halaman rumah mewah keluarga Wijaya ketika deru mesin kendaraan terdengar mendekat. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan pintu utama, diikuti sepuluh orang berbadan tegap berjas hitam yang turun serentak. Dari mobil utama, keluar sosok pria muda dengan wajah yang sama sekali tidak menyiratkan keramahan. Itu Angga Pratama. Langkah kakinya berat dan penuh amarah, seolah setiap langkahnya membawa badai yang siap meledak kapan saja.

Pak Haris dan Melda yang baru saja turun dari tangga sontak terkejut melihat kedatangan Angga dengan pengawalan sebanyak itu. Belum sempat mereka menyapa, Angga sudah berdiri di hadapan mereka, suaranya meledak dengan penuh kemarahan.

"Di mana Gladys?!" tanyanya tajam, matanya menatap Pak Haris dengan pandangan tak percaya. "Hampir seluruh kota sudah kucari, tapi tak ada kabar darinya! Kenapa dia pergi di saat pernikahan kita tinggal hitungan jam? Apa sebenarnya yang kalian lakukan pada Gladys?!"

Pak Haris menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri meski hatinya berdebar cemas. "Maafkan kita, Angga. Kita sendiri juga tidak tahu ke mana Gladys pergi. Tapi tenang saja, pernikahan sore nanti tetap akan terlaksana. Hanya saja..." Pak Haris terdiam sesaat sebelum melanjutkan dengan suara berat. "...hanya saja, yang akan berdiri di sampingmu bukan Gladys, melainkan Danindra. Dia akan menggantikan posisi adiknya."

Wajah Angga berubah merah padam mendengar kata-kata itu. Ia mundur selangkah, menatap Pak Haris seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Kau bercanda, Pak?!" bentak Angga, suaranya meninggi. "Kalian mempermainkan perasaanku?! Aku mencintai Gladys! Bukan orang lain! Bagaimana bisa kalian menawarkan pengganti begitu saja seolah ini barang yang bisa ditukar-tukar?!"

"Aku tahu ini berat untukmu, Angga," ujar Pak Haris berusaha menjelaskan. "Kami sudah berusaha mencari Gladys ke mana-mana. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Mungkin dia sudah pergi ke luar negeri. Dan kalaupun kami terus mencarinya, tidak akan sempat sebelum upacara sore nanti. Waktu kita tidak cukup."

"Tapi tetap saja—"

"Dengarkan aku, Angga," potong Pak Haris dengan nada yang kini ikut mengeras. "Pernikahan ini harus tetap dilaksanakan, ada Gladys atau tidak. Ini bukan sekadar soal perasaan, tapi menyangkut bisnis besar yang sedang keluarga kita jalankan bersama. Kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah bergantung pada penyatuan keluarga kita. Jika pernikahan ini batal, kita berdua harus membayar denda yang nilainya cukup fantastis—jumlah yang bisa menghancurkan perusahaan kedua belah pihak dalam sekejap."

Angga terdiam mendengarnya. Kata-kata itu bagaikan palu yang menghantam kesadarannya. Ia mencintai Gladys, ia menginginkan Gladys. Namun kenyataan di depan matanya begitu kejam. Bisnis yang telah ia bangun bersama ayahnya selama bertahun-tahun, kepercayaan para investor, nasib ratusan karyawan—semua itu terancam runtuh jika ia memilih mempertahankan perasaannya sendiri.

Suasana hening sejenak. Hanya terdengar napas berat Angga yang berusaha menahan emosinya. Akhirnya, ia menghela napas kasar, menatap lurus ke depan tanpa menatap siapa pun.

"Baik," ucapnya dingin dan penuh kepahitan. "Atur sesuka hati kalian. Laksanakan pernikahan itu."

Belum lama kata-kata itu terucap, terdengar langkah kaki turun dari tangga. Danindra muncul dengan pakaian rapi, siap berangkat ke kampus. Ia berjalan menunduk, tidak menyangka akan ada tamu sedini itu. Saat ia mendongak dan melihat sosok pria asing di hadapannya, langkahnya terhenti.

"Danindra!" panggil Pak Haris tegas. "Kemarilah."

Danindra mendekat dengan ragu. "Ada apa, Yah? Aku harus ke kampus sekarang."

"Ini Angga Pratama," kata Pak Haris memperkenalkan. "Dan ingat, pernikahan kalian akan dilaksanakan sore nanti. Kau harus hadir tepat waktu. Jangan sampai terlambat."

Danindra menatap pria di hadapannya itu—Angga. Wajahnya tampan namun dingin, matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Tanpa senyum, tanpa salam, Danindra hanya mengangguk pelan.

"Iya, Yah. Aku tidak lupa," jawabnya singkat.

Tiba-tiba Angga mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Danindra. Genggamannya kuat, namun sama sekali tidak terasa hangat. Ia menarik Danindra berjalan keluar rumah menuju teras, meninggalkan Pak Haris dan Melda di ruang tengah.

Di depan teras, Angga melepaskan tangannya dan menatap Danindra dengan tatapan tajam namun datar. "Mau tidak mau, kita harus menikah sore ini. Kau pasti sudah mendengar alasannya. Bisnis yang sedang keluarga kita geluti terlalu berisiko jika aku gagal menikah hari ini. Jadi, jangan berharap lebih. Ini hanya pernikahan demi kesepakatan, bukan karena perasaan."

Danindra menunduk, merasakan betapa hina posisinya saat ini. "Iya," jawabnya pelan, itu satu-satunya kata yang bisa ia ucapkan.

Tanpa bicara satu kata lagi, Angga berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Wajahnya tetap angkuh dan dingin seperti saat ia datang. Pintu mobil tertutup rapat, dan iringan kendaraan itu pun melesat pergi meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.

Danindra berdiri sendirian di teras, menatap hingga mobil itu hilang dari pandangannya. Angin pagi menerpa wajahnya, terasa dingin menusuk tulang.

"Aku tidak bisa menolak," gumamnya lirih pada diri sendiri, air mata mulai menggenang namun ia berusaha menahannya. "Sekeras apa pun aku menolak, akhirnya akan tetap sama. Tidak ada yang peduli apa yang aku rasakan."

Dengan langkah gontai dan hati yang semakin berat, Danindra berbalik dan berjalan menuju kendaraannya, berangkat menuju kampus dengan pikiran yang jauh dari pelajaran kuliah. Ia tahu, hari ini bukan sekadar hari biasa—ini adalah hari di mana kebebasannya sendiri akan dikorbankan demi nama dan bisnis keluarga.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 52

    Keseruan Berkeliling Mall Milik AnggaDiana tampak sangat antusias sejak langkah pertama memasuki mall yang megah itu. Ia langsung mengandeng lengan Danindra dengan riang, menarik‑narik untuk berkeliling ke sana kemari. Mata Diana tak henti‑hentinya berbinar kagum melihat kemegahan mall tersebut, mulai dari lampu‑lampu kristal yang berkilauan di langit‑langit hingga lantai marmer yang mengkilap bak cermin.Tiba‑tiba Diana mendekatkan mulut ke telinga Danindra dan berbisik pelan, "Bolehkah aku minta dibelikan sesuatu?" sambil mengedip‑ngedipkan mata dengan wajah memohon. Danindra menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis, "Kamu mau beli apa?" tanyanya. "Ehhhh apa ya… kita putar‑putar dulu nanti kalau ada yang membuatku tertarik baru kita lihat‑lihat," jawab Diana sambil menarik lengan Danindra lagi."Na, kita sudah mengitari mall ini tiga kali lho, kakiku sampai capek," keluh Danindra sambil menggosok pergelangan kakinya. "Baru tiga kali lho belum sepuluh kali!" rengek Diana dengan nad

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 51

    Kejutan Jalan‑Jalan ke MallSesampainya di kampus pagi itu, Danindra langsung berkeliling mencari Diana di koridor dekat kelas. Begitu mata bertemu mata, Diana segera mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu."Eh Din! Kenapa kemarin izin kuliah? Aku kan sudah menunggumu," tanya Diana dengan nada kepo yang khas.Danindra tersenyum tipis. "Ada urusan keluarga Di, aku pergi ke rumah Kakek Hardian milik Angga."Diana mengerutkan dahi lalu cemberut sambil bergumam, "Iya‑iya… yang sudah berkeluarga sibuk ya."Danindra hanya tertawa pelan tanpa membantah."Eh aku makin kepo deh!" seru Diana lagi. "Lalu gimana respon Kakeknya Angga sama kamu?""Kakeknya baik sekali sama aku Di. Tapi Paman Gunawan sama Bibi Sinta sepertinya kurang suka melihat aku dekat dengan Angga," jawab Danindra pelan."Lho kenapa emang?" tanya Diana makin penasaran."Kurang tahu aku Di. Kamu ini kepo sekali ya," ucap Danindra sambil menyenggol lengan Diana."Ihhh!" Diana mendengus sambil tersenyum. "Ok deh aku tidak a

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 50

    Pagi Setelah Berkunjung ke MakamSetelah selesai berdiam sejenak di makam ayah dan ibu Angga, hati Danindra masih terasa penuh haru. Di dalam mobil, Angga duduk tenang di sampingnya, tatapannya melurus ke depan seolah masih teringat ucapan yang ia sampaikan tadi di makam. Pak Budi mengarahkan mobil menuju rumah tempat mereka tinggal, karena buku perkuliahan Danindra masih tertinggal di sana dan ia harus segera berangkat ke kampus.Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Bik Wati sudah berdiri di teras menyambut mereka dengan senyum hangat."Selamat datang tuan Angga, Nyonya Danindra," sapa Bik Wati sambil melangkah mendekat.Angga mengangguk pelan. "Terima kasih Bik Wati."Bik Wati menatap wajah mereka bergantian lalu bertanya dengan nada perhatian, "Apakah tuan berdua sudah sarapan pagi ini?""Sudah Bik Wati," jawab Angga. "Kami sudah sarapan di rumah Kakek Hardian sebelum berangkat ke makam.""Oh begitu ya tuan," ucap Bik Wati. "Kalau begitu saya lanjutkan pekerjaan di dapur dulu ya

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 49

    Kunjungan ke Makam Ayah dan IbuSetelah selesai sarapan, Angga dan Danindra berpamitan kepada Kakek Hardian untuk pulang. Kakek mengantar mereka sampai ke teras depan, tersenyum hangat sambil menepuk pelan bahu Angga sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan awalnya hanya ada keheningan yang tenang, sampai tiba-tiba Angga menoleh ke arah Danindra dan membuka suara."Danindra..." panggilnya pelan. "Kamu mau aku ajak ke makam ayah dan ibuku?"Danindra menatapnya sejenak, lalu mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Mau," jawabnya tegas namun lembut.Angga tersenyum lega, lalu menoleh ke depan. "Pak Budi, kita ke makam keluarga Pratama ya.""Baik, Tuan Angga," jawab Pak Budi sambil memutar setir, mengubah arah mobil menuju tempat yang bagi Angga adalah tempat paling sunyi namun juga paling berharga di hatinya.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Saat gerbang makam terbuka, Danindra terkesima. Kawasan ini sangat luas, tertata rapi dengan jalan setapa

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 48

    Pagi yang Penuh Kejutan Pagi itu, Angga terbangun lebih dulu. Senyum merekah di wajahnya saat melihat Danindra masih terlelap di depannya. Ia perlahan mengusap wajah Danindra, sentuhan itu membuat pemilik wajah terasa terganggu dan akhirnya membuka mata. Danindra terkejut saat mata mereka bertemu langsung. Angga hanya tersenyum lembut lalu bertanya, “Tidurmu nyenyak?” Danindra hanya mengangguk, masih diliputi rasa canggung. Saat ia hendak bangun, Angga justru memeluknya pelan dan berbisik, “Biarkan dulu seperti ini.” Danindra pun diam, menunggu sampai Angga melepaskan pelukannya. Tiba‑tiba terdengar ketukan di pintu. “Iya,” jawab Angga. Ia melepaskan pelukan itu lalu menyuruh Danindra mandi. Danindra segera berlari kecil menuju walk‑in closet; pipinya sudah memerah seperti tomat karena perlakuan Angga tadi. Angga membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Kakek Hardian. “Kakek, ada apa?” tanya Angga sambil membuka pintu setengah. Kakek tampak penasaran, celingak‑celinguk ing

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 47

    Malam yang Lembut di Kamar KenanganSaat Danindra keluar dari kamar mandi, Angga yang sedang berdiri di dekat jendela hanya melirik sekilas lalu berbalik hendak pergi ke dalam kamar mandi. Danindra yang melihat pergerakan itu langsung merasa panik kecil, seketika berdiri dan bertanya dengan suara yang terdengar sedikit tergesa, "Mau ke mana?""Mandi," jawab Angga singkat namun nadanya tetap lembut, seakan ingin menenangkan kegelisahan yang tiba-tiba muncul di wajah Danindra. Lalu ia melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang terhubung dengan kamar mandi, menutup pintunya perlahan dari luar."Oh..." Danindra bergumam sendirian di ruangan yang cukup luas itu, pipinya tiba-tiba terasa hangat karena merasa malu sendiri karena bertanya begitu tiba-tiba. Ia berjalan mendekati ranjang besar yang terbuat dari kayu jati tua itu dan duduk perlahan di tepinya. Rasanya sungguh canggung sekali—meski saat ini hanya ada dirinya sendiri di kamar yang megah itu, ia ragu untuk sekadar merebahkan tub

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status