تسجيل الدخولAng ampon ng aking ama ay ikinulong lamang sa masikip na storage closet nang halos labinlimang minuto, ngunit tinalian niya ako at itinapon sa loob bilang parusa. Tinakpan pa niya ang ventilation gamit ang mga tuwalya. "Bilang nakatatandang kapatid ni Wendy, kung hindi mo siya kayang alagaan, marapat lamang na maranasan mo rin ang takot na naramdaman niya,” seryoso niyang sabi. Alam niyang may claustrophobia ako, ngunit ang aking mga desperadong pakiusap, ang aking matinding takot, ay sinagot lang ng malupit na sermon. "Magsilbi sana itong aral sayo para maging mabuting kapatid." Nang tuluyang lamunin ng kadiliman ang huling hibla ng liwanag, nakakaawa akong nagpumiglas. Isang linggo ang lumipas bago muling naalala ng aking ama na may anak pa siyang nakakulong at nagpasya siyang tapusin na ang aking parusa. "Sana'y naging magandang aral sa iyo ang isang linggong ito, Jennifer. Kung mangyayari pa ito muli, hindi ka na pwedeng manatili sa bahay na ito." Ngunit kailanman ay hindi niya malalaman na matagal ko nang nalanghap ang aking huling hininga sa nakakasulasok na silid na iyon. Sa kadiliman, unti-unti nang nabubulok ang aking katawan.
عرض المزيد“Nina! Saya harap Anda tahu, mengapa saya panggil ke mari,” tegas Nathan. Suara bariton itu terdengar begitu menusuk di telinga Nina, seorang eksekutif muda yang menjadi bawahannya.
Di dalam ruang kantor yang elegan dan mewah itu, Nathan Wilson, seorang pria berusia 32 tahun, duduk di depan meja kerjanya yang dipenuhi dengan tumpukan dokumen yang harus ia perikasa. Wajah maskulinnya melengkapi keagungan sosok bos yang dijuluki bos killer oleh para karyawannya.
Betapa tidak, ia memimpin dengan tegas dan keras, selalu menuntut perfeksionis kepada bawahannya. Namun, berkat kepemimpinannya itu, kemajun yang cukup gemilang telah berhasil dicapai. Ia telah membawa perusahaannya menjadi salah satu perusahaan raksasa yang sangat diperhitungkan.
Sementara di hadapannya, Nina Evans, seorang gadis muda berusia 23 tahun, duduk dengan wajah tegang, tangannya berkeringat, ia tidak tahu lagi kesalahan apa yang telah dilakukannya.
Ini sudah menginjak bulan ke tujuh, sejak Nina bergabung dengan perusahaan besar yang dipimpin oleh Nathan. Awalnya ia sangat berambisi untuk bisa bergabung di perusahaan bergengsi itu, karena ia adalah salah satu lulusan universitas terbaik, dengan nilai-nilai dan bakat istimewa.
Namun, kenyataan tak seindah yang ia bayangkan. Nina harus bekerja ekstra keras untuk membuktikan kemampuannya. Meskipun kerap mendapati kesulitan, atau lebih tepatnya dipersulit oleh big bosnya ini, karena semua yang dilakukannya selalu mendapatkan kritikan. Tapi, Nina selalu berusaha bekerja secara profesional, semua itu ia hadapi sebagai bagian dari resiko sebuah pekerjaan.
“Saya tidak yakin, Pak. Apa yang sebenarnya terjadi?” jawab Nina berusaha untuk tenang, meskipun ia sangat tegang.
Nathan menatap gadis dihadapannya dengan tajam. “Ini tentang laporan yang Anda kirimkan kemarin, lihat! Begitu banyak kesalahan di dalamnya!” Pria itu membanting sebandel berkas di depan Nina, membuat gadis itu terkesiap.
Nina menghela napas, ia berusaha sedapat mungkin untuk tenang, diraihnya berkas itu dan dibukanya, ia terperanjat, seakan tidak percaya dengan penglihatannya.
“Tapi Pak, kemarin saya sudah mengeceknya dengan sangat ketat,” jawab Nina.
“Anda selalu saja berdalih, Nina. Saya tidak tahu mengapa Anda terus menerus melakukan kesalahan seperti ini.” Nathan mendengus, tatapannya menusuk pada gadis di depannya.
Nina berusaha mengumpulkan keberanian, ia mengangkat wajahnya dan tatapan keduanya pun bertemu. Sejurus keduanya terdiam sebelum akhirnya Nina berkata, “saya tidak sengaja melakukan kesalahan, Pak. Saya sudah mencoba melakukan yang terbaik.”
Nathan nampak tidak puas, matanya menatap semakin tajam, seakan sedang menguliti gadis itu.
“Anda tahu, Nina. Saya sangat menilai pekerjaan Anda, kesalahan-kesalahan seperti ini tidak boleh terulang lagi,” ujar Nathan dingin.
“Baik, Pak. Saya akan memeriksa kembali laporan ini dan segera memperbaikinya.”
“Hmm, Anda boleh kembali,” perintah Nathan datar, matanya kembali terfokus pada berkas-berkas di hadapannya.
“Baik, Pak. Saya permisi.” Nina berdiri, lalu berbalik meninggalkan Nathan. Lelaki itu mengangkat wajahnya, ia menatap punggung gadis itu, yang menghilang di balik pintu, sekilas senyum samar melintasi wajah tampannya.
Nina meninggalkan ruangan Nathan dengan perasaan campur aduk, ia telah bekerja keras membuat laporan itu, lalu memeriksanya dengan hati-hati sebelum diserahkan. Tapi mengapa jadi banyak kesalahan begini? Apa kemarin ia terlalu bersemangat sehingga menjadi kurang fokus?
Gadis itu menjadi semakin kacau, banyak pertanyaan demi pertanyaan melintas di pikirannya, ia penasaran mengapa setiap laporan yang ia buat sering seperti ini, ‘apa ada yang sengaja merubah, ya? Tapi siapa? Dan apa mungkin?’ gumam Nina membathin.
Tiba-tiba …
Brukk!!
“Aww!” teriak seseorang. Nina menubruk seorang gadis hingga keduanya sama-sama terjatuh, barang-barang yang mereka bawapun berserakan di lantai.
“Ma-maaf, sa-saya tidak sengaja,” ucap Nina sambil membantu memunguti barang-barang gadis yang telah di tabraknya.
Gadis yang ditabrak Nina itu tertegun, ia tidak menyangka gadis bodoh yang menabraknya adalah Nina, sahabatnya sendiri. Padahal baru saja ia mau melabrak.
“Nina …” panggil Laura sambil menatap Nina yang masih tertunduk membereskan barang-barangnya.
Demi mendengar suara yang tidak asing menyebut namanya, Nina pun mengangkat wajah. Benar saja, Laura sahabat sekaligus rekan kerjanya sedang menatapnya dengan bingung.
“Oh, kamu rupanya, so sorry Laura, aku tidak fokus tadi.”
“Hei, kamu kenapa Nina? Ini masih di kantor, kamu jalan seperti orang bermimpi, coba kalau di luar sana, bukan orang yang kau tabrak, tapi mobil.” Laura langsung nyerocos.
“Iya maaf, aku memang sedikit melamun tadi,” jawab Nina seperlunya, ia segera menyerahkan barang-barang Laura yang tadi berantakan. “Nah, sekarang sudah beres, nggak ada yang rusak, jadi aku nggak harus ganti rugi, kan.”
“Tunggu-tunggu. Kamu kenapa, Nina?” tanya Laura cepat, ia melihat wajah Nina yang seperti orang linglung. Nina tidak menjawab, gadis itu hanya mengedikkan bahu.
“Oke-oke, kalau gitu kita minum kopi dulu yuk, kafein itu bagus, supaya tubuh menjadi fresh lagi,” ajak Laura.
“Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku, Laura.” Nina berusaha berkelit, alih-alih menjawab Laura langsung menarik tangan Nina ke kafetaria yang ada di lingkungan kantor, untuk menikmati secangkir kopi.
Laura dan Nina duduk sambil menyesap secangkir kopi hangat. Laura sudah lama mengenal Nina, jadi ia tahu pasti gadis itu sedang menghadapi masalah, sehingga membuatnya linglung.
“Nah, sekarang coba ceritakan, kamu ada masalah apa, Nin?” tanya Laura penasaran.
“Tidak ada apa-apa kok, Ra.” Nina menjawab dengan santai, sambil kembali menyesap kopinya.
“Hei, Nina. Pliss deh, aku ini sahabat lama kamu, jangan bilang nggak ada apa-apa ya.” Laura nyerocos menggerutu.
“Iya-iyaa, Miss Bawel, aku akan cerita,” sahut Nina sambil menatap Laura.
“Nah gitu dong, ah. Bukan Laura namanya kalau nggak bawel.” Laura mengerucutkan bibirnya.
Nina menghela napas sambil memutar-mutar cangkirnya. “Aku barusan dipanggil pak Nathan,” ucapnya.
“What?!” seru Laura terkejut, “dipanggil lagi? Dimarahin?” cecarnya.
“Yah, entah apa namanya, dimarahin atau dikhotbahin, tapi kurang lebih seperti itu.”
“Tunggu-tunggu,” potong Laura, “masalah apa lagi, Nin? Bukannya kamu sudah menyelesaikan pekerjaan kamu dengan baik.”
“Ya, kamu lihat sendiri kan, Ra. Aku sudah berusaha keras menyelesaikannya, juga sudah memeriksanya sebelum aku serahkan, tapi setelah sampai ke tangan Pak Nathan, ada saja yang salah.” Nina menghela napas.
“Dan kali ini, kesalahannya fatal banget, hampir 50 persennya,” imbuhnya.
Kedua sahabat itu terdiam, wajah keduanya menjadi serius. Laura menyesap kopinya kembali, ia sendiri merasa heran, karena sahabatnya ini sering sekali mendapatkan teguran dari sang bigboss, padahal Nina selalu bekerja dengan sungguh-sungguh, ia juga salah satu karyawan yang cerdas dan berbakat.
“Sepertinya ini bukan pertama kali begini deh, Nin.”
“Kamu benar, Ra.” Nina membenarkan, “ini ketiga kalinya pekerjaanku ditolak, padahal aku sudah memeriksanya dengan teliti.”
“Hmm, apa mungkin ada yang melakukan sabotase …”
Ketika kedua gadis itu sedang menebak-nebak berbagai kemungkinan, tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan dan sindiran seseorang.
“Bagaimana mau hasil kerja bagus kalau ngerumpi terus.”
Nang makarating kami sa istasyon ng pulis, sinubukan kong sumunod papasok sa interrogation room, pero para bang may pwersang pumipigil sa akin. Para bang nasusunog ang kaluluwa ko sa bawat pagtulak ko, at hindi ko na matagalang tiisin ‘yung sakit.Gusto kong makita siyang umamin sa lahat ng kasalanan niya.Paulit-ulit kong tinangkang pumasok, pero hindi ko talaga kaya. Bawat pagtatangka, parang nagliliyab ang kaluluwa ko, at sobrang hapdi na.Sa sumunod na mga araw, nagpalakad-lakad lang ako sa labas ng istasyon, umaasa na baka makasagap ng balita mula sa mga pulis na papasok at lalabas.Hindi ako nakakuha ng masyadong impormasyon, pero mayroon akong narinig na nakapagpasaya sa akin.Sapat na raw ang ebidensya para kasuhan si Dad ng murder, at inamin niya ang kasalanan. Malapit na raw siya hatulan, at malamang ay death row ang bagsak niya.Under investigation din ang kompanya niya dahil sa tax evasion.Akala ko ay makakalaya si Wendy, pero may nadiskubre rin ang pulis na siya pala ang
Napabalikwas ‘yung dalawa, si Dad ang unang tumayo at nag-ayos ng damit. Luminga-linga siya, napabuntong-hininga nang makitang wala namang ibang tao.Ako man, gulat din—hindi ko akalaing kaya ko nang humawak ng bagay. Dahil sa instinct, tinest ko pa kung ano pang kaya kong gawin."Ah! May multo!" biglang sigaw ni Wendy, wari’y may nakita siyang anino.Napatigil ako. Kita niya ba ako?Paglaon, parang na-realize ni Wendy na wala namang tao. Yumakap uli siya kay Dad, nanginginig kunwaring natatakot."Yakapin mo ‘ko, natatakot ako."Bigla siyang naupo sa kandungan ni Dad, sabay tanggal pa ng pang-itaas.Nakita ko kung paano nagbago ang mood ng kwarto at naging intimate na ang kanilang mga kilos. Mahihinang ungol ang maririnig sa silid.Kung buhay pa ako, baka nasuka na ako.Nang nadadala na sa init ng katawan ang dalawa, biglang bumukas ang pinto.Labis na nagulat si Dad at naihi sa kaniyang pantalon. Naghabol ng unan si Wendy para takpan ang sarili, nakatitig sila sa pulis na nakatayo sa
"Dapat inisip mo ‘yan bago mo ikinulong si Wendy! Huli na para humingi ka ng awa ngayon!""Mas pinaburan ka ng mga magulang natin nang napakatagal—nasulit mo na ‘yan! Si Wendy nga, wala nang nanay at tatay, ang kapal pa ng mukha mong i-bully siya?!""Sinasabi ko sa ‘yo, kapag sinaktan mo ulit si Wendy, hindi mo makakalimutan ang gagawin ko sa ‘yo!""Ang sama mo, Jennifer! Masyadong mabait si Dad sayo.""Ayoko ng kapatid na masama na gaya mo!""Sana mamatay ka na lang. Nakakahiya kang maging kapatid ko."Bumabalik-balik sa isip ko ‘yung mga salita ni Ian habang naghihirap ako sa kakapusan ng hangin at dilim ng storage room.Hindi ko alam kung ano nga ba ang naisip ko noon sa gitna ng ganoong desperasyon.Sobrang daming tumatakbo sa isip, masyadong mabilis para makapagsalita.Marahil pinagsisihan ko lahat.Pinagsisihan kong nangtiwala agad ako sa isang estranghera.Pinagsisihan kong hindi ko sinamahan sina Mom at Dad sa ancestral home, baka nailigtas ko pa si Mom.Pinagsisihan kong inuna
Kinagabihan, nagkulong si Dad sa study room, buo pa rin ang paniniwalang nakatakas ako.Para patunayan iyon, inisa-isa pa niyang pinanood ‘yung CCTV footage sa paligid ng villa.Wala mang camera sa loob ng bahay, covered naman ang labas. Bawat sulok ng labas ng villa ay kita—kung may pumasok o lumabas.Wala. Wala akong bakas na lumabas mula nang ikulong ako sa storage."Imposible ‘to!" sigaw niya sabay hagis ng laptop sa pader. Nabasag ito at nagkalat ang mga piraso."Nag-tamper siya ng footage! Matalino si Jennifer, kaya niya ‘tong gawin!"Wala pa akong nakilalang ganyan ka-walang utang na loob!"Hindi pa siya nakuntento, kinuha pa ang ashtray at itinapon din sa pader.Eksaktong pumasok si Wendy, may dalang gatas, bigla itong natigilan nang makita ‘yung ashtray na halos bumagsak na sa tabi niya. Nalaglag ang baso, kumalat ang gatas sa sahig.Kaagad siyang dinampot ni Dad, niyakap nang mahigpit."Shh… ayos lang, Wendy. Shh. Pasensiya ka na, hindi kita gustong takutin. Naiinis lang ako
Naging seryoso ang mukha ni Dad nang hindi pa rin ako lumalabas matapos ang 30 minutes."Kalahating oras na! Anong akala niya, wala akong magagawa sa kanya?!""Ang tigas talaga ng ulo! Hindi pa rin niya naiintindihan ang kasalanan niya!""Hmph! Gusto kong makita kung ano pang kaya niyang gawin!"Sa
Hindi naman ganito ang aming sitwasyon noong hindi pa dumadating si Wendy.Noon, buo pa ang pamilya. May Mommy at Daddy na mahal ako, at si Ian noon ay simpleng bata pa lang.Naglalaro kami ni Ian, binabasahan ako ni Mom ng bedtime stories, at dinadala ako ni Dad sa park para maglakad-lakad.Lahat n
Nasa kalagitnaan ng meeting si Dad nang matanggap niya ‘yung tawag. Walang pag-aalinlangan, dali-dali siyang umuwi.Pagdating niya, binuhat niya agad si Wendy na mukhang namumutla, sabay sigaw, "Anak kita, Wendy. Walang makakapagpaalis sayo rito! At huwag mo nang banggitin ulit na aalis ka."Noong u
Matapos masigurong busog na si Wendy at masaya uli ang mukha niya, saka lamang binalingan ni Dad ang butler."Papalabasin mo na si Jennifer. Paliguin at pag-ayusin mo—ayoko namang mawalan ng ganang kumain ang lahat paglabas niya."May halong pagkatuwa sa ekspresyon niya, para bang isang napakalaking






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.