Accueil / Lainnya / Ikrar Dendam / Bab 13 - Sebuah teror

Share

Bab 13 - Sebuah teror

Auteur: Faiz Achmad
last update Date de publication: 2026-05-01 08:00:42

Malam semakin dalam saat Guntur kembali ke kontrakan Abram. Kali ini langkahnya lebih cepat, wajahnya lebih keras. Ancaman yang ia terima bukan sekadar gertakan kosong, itu tanda bahwa ia sudah terlalu dekat pada musuh yang pastinya bukan orang biasa. Bisa jadi dia seorang pengusaha atau seseorang yang punya jabatan tinggi yang sulit disentuh oleh hukum. Abram langsung berdiri saat pintu terbuka.

“Bagaimana?” tanyanya, melihat ekspresi Guntur.

Tanpa banyak kata, Guntur menu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Ikrar Dendam    Bab 18 - Mengikuti mobil Hilmi

    Keesokan paginya, mereka Abram dan Guntur berdiri di depan kampus. Tempat yang terlihat biasa saja, namun kini terasa menyimpan banyak rahasia. Raka tidak ikut ke Gresik sesuai apa yang ia katakan sebelumnya. Dia akan diburu dan dibunuh jika sampai kembali mengungkap kasus ini. Ia sudah mendapatkan ancaman yang sangat serius dari mereka. Mahasiswa berlalu-lalang, tak ada yang tahu bahwa dua kematian mungkin berakar dari tempat ini. Abram dan Guntur akan melakukan rencana yang sudah mereka rancang saat berada di rumah Raka, yaitu menculik Hilmi. “Itu ruangannya,” bisik Guntur. Ia menunjuk ke arah gedung lama di sisi kiri sambil mengamati sekitar. “Kita nggak bisa langsung masuk. Kita tidak boleh membuat kegaduhan di kampus." Lanjut Guntur. “Lalu?” Abram mulai tak sabar. “Kita tunggu,” jawab Guntur singkat. Beberapa jam berlalu. Hingga akhirnya keluar dari kampus. “Itu dia,” ucap Guntur pelan. Seorang pria paruh baya keluar dari gedung. Kacamata tipis, langkah cepat dan wa

  • Ikrar Dendam    Bab 17 - Motif utama terungkap

    Raka duduk dengan wajah tegang, jemarinya saling mengunci di atas meja. Suasana ruangan sederhana itu terasa berat, seolah setiap kata yang akan keluar membawa beban yang tidak ringan."Susi... Ada hubungan apa dengan Susi? Tanya Guntur.“Aku akan menyampaikan semua yang Anita ceritakan ke aku… sebelum dia mati,” ucap Raka pelan, namun jelas.Guntur yang bersandar di kursi langsung menegakkan badan. Tatapannya tajam, penuh perhatian. Abram, di sisi lain, mengepalkan tangannya tanpa sadar. Ia tak sabar mendengar semua pengakuan dari Raka.“Ini tentang siapa yang sebenarnya ada di balik semua ini?” tanya Abram, suaranya menahan emosi. Raka mengangguk perlahan.“Seperti yang aku katakan tadi bahwa Anita pernah mendengar percakapan… tanpa sengaja. Waktu itu dia lagi di kampus, dekat ruang dosen. Dia dengar dosen Hilmi bicara sama seseorang. Tapi… dia nggak tahu siapa orang itu.”“Isi pembicaraannya?” Guntur menyela cepat.Raka menarik napas dalam, seolah mengulang kembali ingatan yang sel

  • Ikrar Dendam    Bab 16 - Menuju kediaman Raka

    Sementara Guntur mencoba menemukan alamat Raka. Dia tidak langsung mencari Raka dengan cara biasa. Ia tahu, orang seperti Raka yang namanya muncul dalam catatan misterius bukan tipe yang mudah dilacak lewat alamat resmi.“Kalau dia masih hidup dan terlibat… dia pasti sudah menghapus dirinya. Tapi, dia meninggalkan pesan, seolah ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting,” kata Guntur.Langkah pertama, Guntur menelusuri identitas lama Raka: data kampus, alamat KTP, hingga riwayat tempat tinggal. Hasilnya seperti dugaan, semua sudah usang. Alamat terakhir menunjukkan rumah kontrakan kecil yang kini sudah kosong sejak dua tahun lalu.“Terlalu bersih, tapi kenapa dia meninggalkan jejak.” Gumam Guntur yang mulai bingung.Dari situ dia mulai berpikir bahwa Raka bukanlah orang yang terlibat dalam pembunuhan Anita. Tapi, dia ingin menyelamatkan, hanya saja tidak ada kemampuan untuk melakukan itu."Mungkin... Dia pergi karena ada yang mengancam. Laki-laki berjaket hitam yang datang sebelum ia

  • Ikrar Dendam    Bab 15 - Organisasi Kapak Hitam

    Malam terasa begitu cepat datangnya. Abram dan Guntur sudah berada di rumah kontrakan. Tanpa menunggu lama, Abram mengeluarkan kalung yang ia dapatkan malam itu di lokasi pembunuhan Anita. Ia menyandingkan dengan kalung yang diberikan oleh ayahnya Susi. Ternyata, dua barang itu sama persis. "Lihat, sama persis. Tak ada yang beda sedikitpun. Ini berarti milik satu orang, atau kelompok yang sama." Ucap Abram. "Iya, aku yakin ini adalah sebua jaringan atau organisasi. Kita harus mencari tahu hal ini dulu sebelum menyelidiki yang lainnya." Jawab Guntur. Mereka tidak langsung tahu. Justru proses menemukannya begitu panjang, penuh keraguan, dan hampir menyesatkan. Awalnya, Guntur memperlakukan liontin itu seperti artefak biasa. Ia memotret setiap detailnya, bentuk kapak, lekukan bilah, hingga ukiran kecil di gagangnya. Dari situ, ia melakukan analisis. “Kapak ini bukan model umum, bilahnya melengkung ke dalam, dan ada dua garis s

  • Ikrar Dendam    Bab 14 - Menemui orang tua Susi

    Langit pagi itu pucat, seolah enggan benar-benar terang. Guntur menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana di ujung gang sempit. Cat temboknya mulai pudar, halaman kecilnya dipenuhi pot tanaman yang tampak dirawat dengan sabar, Abram turun lebih dulu. Langkahnya melambat saat mendekati pagar.“Sudah lama aku tidak ke sini,” gumamnya.Ia pernah sekali datang ke sini, tepatnya saat kematian Susi. Dia datang bersama bapak ibunya. Kebetulan orang tua mereka saling mengenal.Pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya. Wajahnya lembut, tapi garis-garis kelelahan terlihat jelas. Matanya sempat menyipit, mencoba mengenali tamu di depannya.“Abram?”Suara itu bergetar. Abram menunduk sedikit sambil menyalami tangannya dan menempelkan ke hidungnya. Wanita itu membuka pintu lebih lebar. Ada kehangatan yang bercampur dengan kesedihan.“Masuk… masuk, Nak.”Ruang tamu rumah itu sederhana. Di dinding, tergantung bebera

  • Ikrar Dendam    Bab 13 - Sebuah teror

    Malam semakin dalam saat Guntur kembali ke kontrakan Abram. Kali ini langkahnya lebih cepat, wajahnya lebih keras. Ancaman yang ia terima bukan sekadar gertakan kosong, itu tanda bahwa ia sudah terlalu dekat pada musuh yang pastinya bukan orang biasa. Bisa jadi dia seorang pengusaha atau seseorang yang punya jabatan tinggi yang sulit disentuh oleh hukum. Abram langsung berdiri saat pintu terbuka. “Bagaimana?” tanyanya, melihat ekspresi Guntur.Tanpa banyak kata, Guntur menunjukkan layar ponselnya. Sebuah pesan ancaman yang ia dapatkan saat akan pulang dari kafe tadi. Ancaman nyata yang tidak boleh dianggap remeh.“Berhenti sekarang, atau kamu yang berikutnya.”Wajah Abram langsung pucat. Dia tidak menyangka kasus kematian Anita akan merambat ke sesuatu yang tak terduga. Kematian itu bukan sesuatu yang tidak disengaja. Namun ini adalah sebuah rencana yang memang sudah diatur sedemikian rupa.“Mereka sudah tahu pergerakan kita..."

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status