MasukKeesokan harinya, Abram sudah berada di depan gudang yang dimaksud Agha. Gudang tua di pinggir kota itu tampak kumuh, berkarat, dan dikelilingi rumput liar. Hujan masih menetes dari atap seng yang bocor, menimbulkan suara gemericik yang bergema di dalam ruangan. Lampu gantung tua menjadi penerang.
Semenjak kematian Anita, Abram tidak seperti biasanya. Sikapnya semakin hari semakin tidak dapat ditebak. Pertemuan dengan Edwin membuat pikirannya mulai berubah. Ia sedikit agak pendiam dari biasanya. Ada sesuatu di benaknya, sesuatu yang hanya dia sendiri yang dapat menjelaskannya. Sesuatu yang timbul akibat dendam yang tertanam di dalam dirinya. Abram melangkah masuk dengan hati-hati. Tangannya tidak pernah jauh dari saku jasnya, tempat ia menyimpan pistol kecil, sekadar untuk berjaga. Pistol itu bukan miliknya pribadi, namun milik Edwin yang ia pinjam tadi malam. Bau karat dan debu menyambutnya. Namun langkahnya tetap mantap tanpa rasa ragu. Di ujung ruangan, seorang pria bertubuh tegap berdiri. Wajahnya keras, dengan bekas luka samar di pipi kiri. Jaket kulit hitamnya terlihat usang, namun sorot matanya tajam, seakan bisa menelanjangi isi kepala siapa pun. “Jadi kau Abram?” suara pria itu dalam dan berat. Abram mengangguk. “Dan kamu pasti Guntur Prasetya.” sahutnya. Lalu Guntur mendekat, langkahnya mantap, tanpa keraguan sedikit pun. “Edwin bilang kau kehilangan seseorang. Kekasihmu, Anita.” Abram menelan ludah, lalu menjawab tegas, niatnya sudah bulat untuk mencari pembunuh Anita dan memberikan keadilan padanya. Hatinya tidak akan pernah tenang sebelum masalah ini selesai. “Dia diperkosa dan dibunuh. Dan aku ingin tahu siapa yang melakukannya.” Jawab Abram dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang kuat. Guntur menatapnya lama, seperti sedang menakar keteguhan hati Abram. Lalu ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus rokok, menyalakan, dan menghembuskan asap. “Kalau kau hanya ingin kebenaran, itu mudah. Tapi kalau kau ingin balas dendam… itu cerita lain. Dan aku harus tahu sejauh mana kau siap melangkah.” “Aku ingin keduanya. Kebenaran… dan balasan setimpal untuk orang yang merenggut nyawanya.” sahutnya sambil mengepalkan tangan. Mata Guntur menyipit, lalu sebuah senyum tipis muncul di wajah kerasnya. Ia melihat tekad Abram yang sudah bulat dan berani mengambil sebuah resiko besar. “Bagus. Itu jawaban yang aku mau dengar. Mulai malam ini, kau akan dengar hal-hal yang tidak pernah diungkap polisi. Tapi ingat, semakin dalam kita masuk, semakin berbahaya. Tidak ada jalan kembali.” Ucap Guntur. Abram menatap balik, sorot matanya penuh tekad. Tak ada rasa takut di dalam hatinya. Seseorang sudah mengambil salah satu yang paling berharga dalam hidupnya. “Aku tidak butuh jalan kembali. Aku hanya butuh maju sampai akhir.” Hening sesaat. Hanya suara hujan yang jatuh di atap seng. Lalu Guntur menjulurkan tangan tanda menyetujui kesepakatan yang telah dijalin. “Kalau begitu, kita sepakat. Mulai sekarang, kematian Anita… jadi urusanku juga.” Abram menyambut tangan itu. Saat genggaman mereka terkunci, udara di dalam gudang seakan menegang—lahirlah sebuah persekutuan gelap yang kelak akan menyeret mereka ke dalam pusaran rahasia. Semenjak pertemuan dengan Guntur, niat Abram untuk membalas dendam atas kematian Anita semakin kuat. Ia seketika merubah niatnya dari yang awalnya menangkap si pembunuh dan diadili seadil-adilnya dalam ruang persidangan, menjadi ingin meringkus, dan memberikan hukuman dengan caranya sendiri, yaitu menghabisinya. Niat ini sudah tertanam dan tak dapat ditarik kembali. *** Malam itu, setelah pertemuan di gudang, Guntur tak langsung bergerak. Ia kembali ke kamar sempit yang jadi markasnya: meja kayu penuh tumpukan kertas, layar laptop tua, dan satu papan pin yang dipenuhi foto, catatan, serta benang merah. Guntur menyalakan lampu, menatap foto Anita yang Abram serahkan—sebuah wajah yang kini menjadi alasan setiap napasnya. Saat pertemuan di gedung itu, Abram memberikan semua informasi yang dibutuhkan, termasuk dua barang bukti yang dia temukan di tempat kejadian, yang ia bungkus sedemikian rupa tanpa bersentuhan kulit sedikitpun. Guntur menata kembali semua barang yang ada, yang ia dapat dari Abram: laporan polisi awal, foto TKP yang bocor ke media, hasil visum sederhana yang sempat diambil keluarga, dan beberapa pesan terakhir di ponsel Anita yang didapat Edwin. Guntur mencatat inkonsistensi: jam kejadian yang berbeda antar saksi, zippo yang ditemukan tapi tidak ada sidik jari, serta satu nama yang terus muncul di daftar telepon Anita tapi belum diperiksa lebih jauh. Semua informasi itu tentu ia dapatkan dari Abram. Selama ini, dia bergerak sendirian mencari informasi yang berhubungan dengan kematian Anita. Semua informasi yang ia peroleh disimpan sendiri tanpa ia ceritakan pada siapapun, termasuk Eriko. Abram mendapatkan rekaman CCTV sedikit buram, yang ada di sudut desa. Namun itu tidak cukup. Lalu Guntur mengumpulkan lagi rekaman CCTV dari rute pulang Anita: minimarket, jalan-jalan kecil, dan satu pom bensin. Beberapa kamera ‘mati’ pada jam-jam tertentu—terlalu kebetulan menurutnya. Ia akhirnya meminta bantuan seorang kenalan IT untuk mengakses metadata gambar dan melacak sinyal ponsel terakhir yang terhubung. Guntur mulai merasa pembunuhan ini begitu terstruktur. Selain itu, Guntur juga menyusun peta relasi Anita: teman kuliah, teman dekat, mantan pacar, dan orang-orang yang pernah terlibat pertengkaran dengannya. Dari semua itu, Guntur menandai tiga orang yang menarik: satu teman kuliah yang satu kelas dengannya, yang tiba-tiba berhenti, satu dosen yang sering chat dengan dengan alasan tugas kuliahnya, dan seorang pria bernama Fardan yang sempat berdebat publik dengan Anita seminggu sebelum kematian. Sebagai seorang penyelidik yang handal, dia pasti memiliki banyak kolega yang dapat membantu pencarian itu. Ia menghubungi beberapa informan lama yang dapat memberikan informasi tambahan tentang kasus kematian Anita. Ia juga mendatangi beberapa tempat seperti kos-kosan atau kontrakan di area kampus, tukang parkir, penjual bakso dan tukang jahit. Dari tukang parkir, dia tahu ada mobil hitam yang sering mondar-mandir di dekat rumah Anita seminggu sebelum kejadian. Dari tukang jahit, dia dapat deskripsi sisipan kain yang aneh di jaket korban. Malam itu juga saat hujan reda, Guntur kembali ke lokasi kematian. Ia memeriksa sudut-sudut yang mungkin dilewatkan polisi: bekas roda motor atau pola bercak yang tak cocok dengan laporan awal. "Kasus ini benar-benar aneh. Sekelas polisi harus dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik. Namun sampai saat ini tak ada perkembangan. Wajar saja si Abram geram pada mereka". Ucap Guntur. Baik Abram atau Guntur memiliki pemikiran yang sama saat itu; ketidak jujuran penegak hukum yang ceritanya sudah beredar kemana-mana. Apalagi sekarang jaman canggih. Semua berita yang dianggap pencitraan belaka begitu cepat menyebar. Netizen yang ada di dunia maya langsung banyak yang membanjiri dengan komen-komen sarkas tanpa perlu mencari tahu kebenarannya. Seolah mereka langsung percaya hal negatif yang dilakukan penegak hukum adalah sebuah kebenaran. Masyarakat banyak yang muak dengan praktik-praktik liar di jalan raya yang mungkin mereka adalah oknum tertentu. Namun, mata yang sudah terlalu benci sudah tidak menaruh hormat pada para penegak hukum di negeri ini.Ledakan itu mengguncang seluruh bangunan. Debu berjatuhan dari langit-langit. Lampu merah di sepanjang lorong berkedip cepat sebelum beberapa di antaranya padam. Abram dan Edwin masih berjongkok di balik sebuah meja besi ketika suara langkah kaki mulai terdengar dari arah gerbang.Langkah itu tidak terburu-buru. Justru terlalu teratur. Seolah orang-orang yang baru masuk itu sudah tahu persis ke mana mereka harus bergerak.“Apa itu orang-orangmu?” tanya Verin dari pengeras suara.“Tidak. Itu bukan kelompokku.” Jawabnya. Abram dan Edwin saling berpandangan.Suara tembakan kembali terdengar. Beberapa peluru menghantam pintu besi di sisi gudang. Dua orang yang berjaga di dekat gerbang langsung berlari mencari perlindungan.“Siapa mereka?” tanya Verin."Jangan-jangan mereka teman-temanmu. Jangan macam-macam kamu, Bram" Tuduh Verin.Nada suara Verin berubah drastis. Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, terdengar ketakutan dalam suaranya."Aku tidak tahu siapa mereka." Jawa
Aku sudah tahu, Ini jebakan.” Kata Edwin pelan. "Apa?" Tanya Abram. "Berhenti ikut campur urusan kapak hitam... atau nyawa Pak Bima berakhir malam ini." Jawabnya membuat Abram naik pitam. Abram mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Namun kali ini Abram tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar yang kini telah kembali gelap. “Ulangi,” katanya. Verin terdiam beberapa detik. “Berhenti ikut campur urusan Kapak Hitam. Hentikan penyelidikanmu. Tinggalkan semua yang berkaitan dengan Proyek Kabut. Jika kau melakukannya, Pak Bima tetap hidup.” “Dan kalau tidak?” “Nyawanya berakhir malam ini.” “Aku tidak akan percaya hanya dengan kata-katamu.” “Bagus. Berarti kau mulai belajar.” “Tunjukkan dia lagi.” “Tidak.” “Tunjukkan Pak Bima sekarang!” “Jangan berteriak padaku, Abram. Kau datang ke sini bukan untuk memberikan perintah.” Edwin kembali mendekat. Ia bisa melihat kemarahan Abram mulai berada di titik berbahaya. “Tenang,” bisiknya. Abram menarik napas
Edwin perlahan mendekat ke arah Abram yang mulai terpancing emosinya setelah terlibat perbincangan beberapa menit dengan Verin. Suasana menjadi semakin tegang, sebab perbincangan itu belum menemukan solusi di antar kedua belah pihak."Jangan terpancing. Dia sengaja membuatmu marah." Ucap Edwin. Dari tadi ia terus mengawasi Abram agar tidak terpancing oleh ucapan Verin."Aku tahu," jawab Abram singkat."Kalau tahu, kendalikan dirimu."Edwin paham betul dengan karakter Abram. Dia adalah orang yang baik dan tenang. Namun kematian Anita telah mengubah segalanya. Tidak menghilangkan kebaikannya, tetapi membuat karakternya lebih liar dan menggebu-gebu. Tidak merasa takut, berani mengambil resiko, agresif dan bertindak sangat nekat.Abram menarik napas panjang. Tatapannya masih tertuju pada kamera di sudut ruangan. Orang yang sedang berbicara tidak terlihat batang hidungnya, hanya suaranya saja. Hal itulah yang membuat Abram emosi."Verin." Panggilnya dengan suara yang memecah kesunyian di d
Lampu kecil di ujung ruangan masih menyala. Beberapa sosok berdiri diam di belakangnya. Wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya siluet tubuh yang membuat suasana gudang semakin mencekam. Abram tidak bergerak. Edwin berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling.Kemudian suara R. Satria kembali terdengar dari pengeras suara."Tenang, Abram. Kalau aku ingin mencelakai kalian, percakapan ini tidak akan pernah dimulai." Ucap R. Satria. Abram menatap kamera yang berada di sudut ruangan."Berhenti bersembunyi.""Kau benar-benar tidak dapat ditebak. Pantas banyak yang menganggap dirimu sebagai ancaman.""Jadi kau juga mengawasiku.""Sudah cukup lama.""Sejak kapan?""Sejak kau mulai menyelidiki kematian Anita."Nama itu membuat Edwin langsung menoleh kepada Abram.bAbram mengepalkan tangannya."Jadi semua ini berhubungan dengan Anita?""Lebih dari yang kau bayangkan.""Kalau begitu keluarlah. Kita bicara langsung.""Belum.""Takut?""Bukan takut. Aku hanya tidak
Abram dan Edwin akhirnya meninggalkan rumah persembunyian. Sebelum masuk ke mobil, Abram sempat menoleh ke arah Guntur."Jangan melakukan apa pun sebelum kami memberi kabar.""Aku tahu." Guntur mengangguk."Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, bawa dr. Maya pergi dari sini.""Jaga dirimu, Bram."Abram hanya mengangguk. Edwin masuk ke kursi pengemudi. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman. Guntur berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali masuk. dr. Maya sudah duduk di depan laptop."Menurutmu mereka akan baik-baik saja?" tanyanya. Guntur menarik kursi dan duduk di sampingnya."Aku tidak tahu." Jawab Guntur. Jawaban itu membuat dr. Maya menoleh.Biasanya Guntur selalu memiliki jawaban untuk menenangkan orang lain. Namun kali ini tidak. Matanya justru tertuju pada layar laptop yang menampilkan posisi Abram dan Edwin. Sementara itu, mobil Abram terus melaju menuju kawasan pelabuhan.Jalan semakin sepi. Bangunan-
Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat. Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi. Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu. "Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram. "R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin. "Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima." "Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin. "B
Keesokan harinya, Abram duduk di meja kerja kamarnya menatap berkas laporan itu untuk kesekian kalinya. Setiap kata di dalamnya terasa ganjil, seolah disusun terburu-buru. Keterangan saksi tak lengkap, hasil autopsi tertutup sebagian, dan laporan kronologi berubah dari versi pertama yang ia terima.
Di sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya. Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan
Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn
Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira. "Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia.







