Mag-log inDi sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya.
Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan api untuk membakar ujungnya. Beberapa detik selanjutnya asap keluar dari mulut Hendrik dan menyebar ke mana-mana. "Lama tidak berjumpa, Gha. Udah kangen aku nih?". Tanya Hendrik sambil tertawa. "Aku habis KKN. Sibuk banget, gak kayak kamu jalan ditempat". Jawabnya mencoba mencairkan suasana. "Sialan kamu, Gha". "Eh, Aku mau nanyain masalah Anita. Dia beneran udah gak ada?". Tanya Agha pura-pura tidak tahu. "Kamu baru dengar, Gha?. Iya, kabarnya dia dibunuh, entah siapa pembunuhnya. Sampai sekarang tidak ada yang tahu". Jawabnya. "Aku baru denger sepulang KKN kemarin. Bukannya kamu dulu suka banget ya sama dia?. Hahaha...". Tanya Agha dibarengi dengan tawa agar dia tak curiga. "Iya. Dulunya aku suka sama dia. Tapi dia malah pilih si Abram. Tuh akibatnya, mati kan". Jawabnya ngasal. "Eh, jangan-jangan kamu ya yang bunuh karena cemburu?". Agha mulai memancing, namun tetap dengan nada bercanda. "Eh.. ngawur aja. Ngapain juga aku bunuh dia. Malahan aku mau nunggu sampai dia benar-benar mau menerima cintaku". "Ah .. yang bener? Kalau iya juga gak apa-apa. Aku gak akan bilang-bilang". "Jangan ngomong sembarangan kamu, Gha. Tar dikira beneran masuk penjara aku". Jawabnya. Tak ada tanda-tanda dialah pelakunya. Namun Abram tetap masih belum yakin. Karena dia tahu bagaimana sikap si Hendrik. Namun ia sadar tidak dapat memaksa Hendrik menceritakan segala hal tentang Anita. Ia tentu butuh waktu untuk membuktikan kebenaran yang diinginkan, apakah Hendrik melakukan semua ini atau dia memang mengatakan yang sebenarnya seperti yang ia ucapkan barusan bahwa dirinya tak terlibat dalam kematian Anita. Cerita ini semakin memunculkan bayak teka-teki seperti teka-teki silang yang dipercaya dapat mengasah kemampuan otak. *** Abram adalah seorang lelaki yang sudah lulus beberapa tahun dari kuliahnya. Kini dia merupakan seorang karyawan di perusahaan yang ada di Gresik. Selama beberapa hari ini pikirannya benar-benar tidak tenang, dihantui oleh kematian Anita. Abram duduk termenung di ruang kerjanya yang gelap. Aroma ruangan ber-AC dan lembaran dokumen berserakan di meja, namun pikirannya hanya terpaku pada satu hal: Anita. Wanita yang seharusnya menjadi pendamping hidupnya kini telah tiada—dengan cara yang tidak manusia. Rasa duka bercampur amarah menghantam hatinya. Ia tidak percaya jika kematian Anita hanyalah musibah. Ada sesuatu yang disembunyikan, ada tangan kotor yang bermain di balik tragedi itu. Abram akhirnya memutuskan untuk bergerak diam-diam. Ia tak bisa mempercayai aparat resmi, karena bisa saja ada orang dalam yang terlibat. Maka, lewat seorang kenalan lama, ia meminta dipertemukan dengan seorang penyelidik handal. "Kamu di mana?". Tanya Abram pada seseorang di telepon. "Aku di Surabaya. Ada apa Bram?". Tanya seseorang itu. Namanya adalah Edwin. "Kasus Anita tak kunjung menemukan jalan. Aku butuh bantuanmu, aku perlu seseorang yang dapat membantuku". "Oh, masalah itu bisa diatur. Temui aku besok malam sepulang kamu kerja". Ucap Edwin. "Baik, kita akan bertemu besok malam". Abram tahu Edwin memiliki banyak kenalan dari berbagai macam jenis manusia, dari mulai orang-orang biasa, pemabuk, pada kriminal, penegak hukum, pejabat sampai yang memiliki profesi tertentu seperti yang diminta Abram saat ini. *** Jarum sudah menunjuk angka sepuluh. Di sebuah kafe yang agak sepi, Abram duduk dengan wajah tegang. Matanya masih menyimpan luka mendalam, bayangan kematian Anita terus menghantui benaknya. Di hadapannya, Edwin datang dengan ka sederhana namun raut wajah serius. “Aku tidak bisa diam, Win. Kematian Anita meninggalkan luka yang sangat dalam. Penyelesaian kasus ini begitu panjang dan penuh drama. Seolah ada yang sengaja ingin menutupi kebenaran. Aku sudah mendatangi kantor polisi berkali-kali, namun jawabannya sama, tak kunjung menemukan pelakunya". Ucap Abram membuka obrolan. Edwin mengangguk pelan, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Kamu ingin kebenaran, berarti kamu butuh orang yang tepat, Bram. Aku punya beberapa nama. Mereka bukan detektif resmi, tapi bisa menggali hal-hal yang tidak bisa dijangkau polisi.” Jawab Edwin. Abram menatapnya dengan sorot penuh harap dan kemarahan. Dia benar-benar sudah hilang kesabaran akibat lambatnya penangan kasus yang menjerat calon tunangan yang akhirnya tidak dapat dilanjutkan. “Aku tidak peduli bagaimana caranya. Aku hanya butuh seseorang yang bisa menemukan siapa yang sebenarnya membunuh Anita. Kalau perlu, mereka juga harus bisa memberi balasan.” Edwin menatap tajam, seakan mengukur seberapa jauh tekad sahabatnya itu. Jalan yang akan ia ambil tentu penuh resiko.Sedikit saja salah langkah, dia akan berurusan dengan penegak hukum yang mulai hilang citranya di depan publik. “Kalau begitu, aku akan pertemukan kamu dengan kenalanku, salah satu yang terbaik. Tapi ingat Bram, orang seperti itu tidak murah… dan sekali mereka bergerak, tak ada jalan mundur.” Balas Edwin dengan penuh keyakinan. Abram mengepalkan tangan di atas meja. “Uang bukan masalah. Yang penting aku tahu siapa dalangnya… dan kenapa Anita harus mati.” Keduanya terdiam sejenak. Di luar, hujan mulai turun, seolah menjadi saksi bisu lahirnya sebuah keputusan berbahaya: sebuah penyelidikan bayangan yang akan membuka pintu menuju rahasia gelap, sekaligus menyalakan api balas dendam dalam diri Abram. Edwin menyulut rokoknya, sesekali memandang ke arah luar, menatap hujan yang semakin deras dan merasakan hawa dingin. Ia mulai menghembuskan asap dari mulutnya pelan sebelum akhirnya berkata, “Ada satu orang yang bisa kita andalkan. Namanya Guntur. Mantan intel, sekarang bekerja serabutan sebagai penyelidik bayangan. Metodenya kasar, tapi hasilnya selalu ada. Dia bukan tipe yang banyak bicara, tapi kalau sudah menerima bayaran, dia akan gali informasi sampai ke akar-akarnya.” Mendengar nama yang disebut, Abram mengernyit, menimbang nama yang baru saja disebut. Nama yang masih asing di telinganya, nama yang baru pertama kali didengarnya. “Guntur… apa dia bisa dipercaya?". Tanyanya tegas. Ia tak ingin main-main dengan kasus ini. Lalu Edwin menatapnya tajam. “Percaya padaku, dia hanya bekerja untuk siapa yang bayarannya paling dulu masuk. Dan kali ini, dia punya alasan pribadi untuk membantu. Sebelum ke sini, aku sempat menemuinya dan menyampaikan kasus Anita. Katanya, kasus Anita mirip dengan kematian adiknya dulu. Itu membuatnya lebih berbahaya sekaligus lebih termotivasi.” Abram terdiam, hatinya bergejolak. Rasa duka bercampur dengan harapan yang mulai muncul. Dendam dalam hatinya semakin membara saat nama Anita disebut. “Kalau begitu, pertemukan aku dengannya. Aku ingin dengar langsung dari mulutnya.”. Jawabnya. Edwin mengangguk, lalu menepuk bahu sahabatnya. “Besok malam, gudang tua di samping kota. Dia tidak suka tempat ramai, lebih suka tempat yang bisa membuatnya kabur sewaktu-waktu. Datang sendiri, jangan bawa orang lain. Itu syaratnya.” “Baik. Kalau dia bisa membongkar siapa yang membunuh Anita, aku akan lakukan apapun.” Balas Abram sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di luar, hujan semakin deras, seakan menutup rapat perjanjian yang baru saja tercipta. Nama Guntur kini menjadi kunci awal perjalanan gelap Abram menuju kebenaran—atau mungkin, menuju jurang yang lebih berbahaya.Ledakan itu mengguncang seluruh bangunan. Debu berjatuhan dari langit-langit. Lampu merah di sepanjang lorong berkedip cepat sebelum beberapa di antaranya padam. Abram dan Edwin masih berjongkok di balik sebuah meja besi ketika suara langkah kaki mulai terdengar dari arah gerbang.Langkah itu tidak terburu-buru. Justru terlalu teratur. Seolah orang-orang yang baru masuk itu sudah tahu persis ke mana mereka harus bergerak.“Apa itu orang-orangmu?” tanya Verin dari pengeras suara.“Tidak. Itu bukan kelompokku.” Jawabnya. Abram dan Edwin saling berpandangan.Suara tembakan kembali terdengar. Beberapa peluru menghantam pintu besi di sisi gudang. Dua orang yang berjaga di dekat gerbang langsung berlari mencari perlindungan.“Siapa mereka?” tanya Verin."Jangan-jangan mereka teman-temanmu. Jangan macam-macam kamu, Bram" Tuduh Verin.Nada suara Verin berubah drastis. Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, terdengar ketakutan dalam suaranya."Aku tidak tahu siapa mereka." Jawa
Aku sudah tahu, Ini jebakan.” Kata Edwin pelan. "Apa?" Tanya Abram. "Berhenti ikut campur urusan kapak hitam... atau nyawa Pak Bima berakhir malam ini." Jawabnya membuat Abram naik pitam. Abram mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Namun kali ini Abram tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar yang kini telah kembali gelap. “Ulangi,” katanya. Verin terdiam beberapa detik. “Berhenti ikut campur urusan Kapak Hitam. Hentikan penyelidikanmu. Tinggalkan semua yang berkaitan dengan Proyek Kabut. Jika kau melakukannya, Pak Bima tetap hidup.” “Dan kalau tidak?” “Nyawanya berakhir malam ini.” “Aku tidak akan percaya hanya dengan kata-katamu.” “Bagus. Berarti kau mulai belajar.” “Tunjukkan dia lagi.” “Tidak.” “Tunjukkan Pak Bima sekarang!” “Jangan berteriak padaku, Abram. Kau datang ke sini bukan untuk memberikan perintah.” Edwin kembali mendekat. Ia bisa melihat kemarahan Abram mulai berada di titik berbahaya. “Tenang,” bisiknya. Abram menarik napas
Edwin perlahan mendekat ke arah Abram yang mulai terpancing emosinya setelah terlibat perbincangan beberapa menit dengan Verin. Suasana menjadi semakin tegang, sebab perbincangan itu belum menemukan solusi di antar kedua belah pihak."Jangan terpancing. Dia sengaja membuatmu marah." Ucap Edwin. Dari tadi ia terus mengawasi Abram agar tidak terpancing oleh ucapan Verin."Aku tahu," jawab Abram singkat."Kalau tahu, kendalikan dirimu."Edwin paham betul dengan karakter Abram. Dia adalah orang yang baik dan tenang. Namun kematian Anita telah mengubah segalanya. Tidak menghilangkan kebaikannya, tetapi membuat karakternya lebih liar dan menggebu-gebu. Tidak merasa takut, berani mengambil resiko, agresif dan bertindak sangat nekat.Abram menarik napas panjang. Tatapannya masih tertuju pada kamera di sudut ruangan. Orang yang sedang berbicara tidak terlihat batang hidungnya, hanya suaranya saja. Hal itulah yang membuat Abram emosi."Verin." Panggilnya dengan suara yang memecah kesunyian di d
Lampu kecil di ujung ruangan masih menyala. Beberapa sosok berdiri diam di belakangnya. Wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya siluet tubuh yang membuat suasana gudang semakin mencekam. Abram tidak bergerak. Edwin berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling.Kemudian suara R. Satria kembali terdengar dari pengeras suara."Tenang, Abram. Kalau aku ingin mencelakai kalian, percakapan ini tidak akan pernah dimulai." Ucap R. Satria. Abram menatap kamera yang berada di sudut ruangan."Berhenti bersembunyi.""Kau benar-benar tidak dapat ditebak. Pantas banyak yang menganggap dirimu sebagai ancaman.""Jadi kau juga mengawasiku.""Sudah cukup lama.""Sejak kapan?""Sejak kau mulai menyelidiki kematian Anita."Nama itu membuat Edwin langsung menoleh kepada Abram.bAbram mengepalkan tangannya."Jadi semua ini berhubungan dengan Anita?""Lebih dari yang kau bayangkan.""Kalau begitu keluarlah. Kita bicara langsung.""Belum.""Takut?""Bukan takut. Aku hanya tidak
Abram dan Edwin akhirnya meninggalkan rumah persembunyian. Sebelum masuk ke mobil, Abram sempat menoleh ke arah Guntur."Jangan melakukan apa pun sebelum kami memberi kabar.""Aku tahu." Guntur mengangguk."Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, bawa dr. Maya pergi dari sini.""Jaga dirimu, Bram."Abram hanya mengangguk. Edwin masuk ke kursi pengemudi. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman. Guntur berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali masuk. dr. Maya sudah duduk di depan laptop."Menurutmu mereka akan baik-baik saja?" tanyanya. Guntur menarik kursi dan duduk di sampingnya."Aku tidak tahu." Jawab Guntur. Jawaban itu membuat dr. Maya menoleh.Biasanya Guntur selalu memiliki jawaban untuk menenangkan orang lain. Namun kali ini tidak. Matanya justru tertuju pada layar laptop yang menampilkan posisi Abram dan Edwin. Sementara itu, mobil Abram terus melaju menuju kawasan pelabuhan.Jalan semakin sepi. Bangunan-
Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat. Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi. Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu. "Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram. "R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin. "Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima." "Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin. "B
Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn
Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira. "Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia.
Berita kematian Anita menyebar dengan sangat cepat. Abram, yang merupakan kekasih Anita, seperti mendengar petir di siang bolong mengetahui kabar kematian wanita yang sangat dicintainya. Perasaan Abram sangat hancur, terluka seperti dihujam oleh senjata tajam dari belakang. Bagaimana tidak, malam
Setelah menemukan satu benda yang ia curigai milik pelaku, Abram langsung memasukkannya dalam kantong plastik berwarna hitam. Namun Abram tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mencari petunjuk apapun yang dapat mengarahkan pada pelaku pemerkosaan dan pembunuhan kekasihnya, Anita. Tidak ada yang t







