/ Lainnya / Ikrar Dendam / Bab 56 - Merasa Terancam

공유

Bab 56 - Merasa Terancam

작가: Faiz Achmad
last update 게시일: 2026-07-22 17:04:20

Abram menatap satu per satu wajah yang ada di ruangan itu; Guntur, Edwin dan dr. Maya. Semua tampak serius dengan informasi yang sedang mereka dalami.

"Masih ada orang yang terlibat di kampus."

Kalimat itu membuat mereka saling berpandangan.

"Maksudmu masih ada kaki tangan Kapak Hitam di sana?" tanya Guntur. Abram mengangguk pelan.

Dia sebenarnya sudah memiliki prasangka itu sebelum Fardan mati. Hanya saja Abram ingin fokus pada informasi dan keadaan Fardan. Kini sangkaan itu mulai ia utara
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Ikrar Dendam    Bab 56 - Merasa Terancam

    Abram menatap satu per satu wajah yang ada di ruangan itu; Guntur, Edwin dan dr. Maya. Semua tampak serius dengan informasi yang sedang mereka dalami. "Masih ada orang yang terlibat di kampus." Kalimat itu membuat mereka saling berpandangan. "Maksudmu masih ada kaki tangan Kapak Hitam di sana?" tanya Guntur. Abram mengangguk pelan. Dia sebenarnya sudah memiliki prasangka itu sebelum Fardan mati. Hanya saja Abram ingin fokus pada informasi dan keadaan Fardan. Kini sangkaan itu mulai ia utarakan dan mungkin akan segera ia cari tahu. "Hilmi sudah mati. Kalau memang dia satu-satunya penghubung, seharusnya semua jejak berhenti di situ. Tapi kenyataannya Anita tetap diawasi sampai hari terakhir hidupnya. Artinya ada orang lain yang terus mengirim informasi." Edwin membuka kembali folder berisi jadwal kuliah Anita yang ia dapatkan dari Abram. Semuanya tidak ada yang kebetulan, tampak sudah terencana dengan sangat matang. "Aku juga sempat berpikir begitu." Jawab Edwin. Lalu ia memperb

  • Ikrar Dendam    Bab 55 - Paket Alpha

    Malam semakin larut. Hujan rintik-rintik terdengar membasahi atap rumah persembunyian yang ditempati Abram, Guntur, dan Edwin. Lampu ruang tamu sengaja dibuat redup.Di atas meja tergeletak laptop, beberapa map cokelat, foto-foto hasil penyelidikan, serta ponsel milik Fardan yang berhasil mereka amankan.Abram duduk bersandar sambil memperhatikan layar laptop. Guntur membuka satu per satu dokumen yang telah mereka kumpulkan selama beberapa minggu terakhir, sedangkan Edwin sibuk mencoba menembus data yang tersimpan di ponsel Fardan.Ruangan itu dipenuhi keheningan. Hanya suara ketikan keyboard yang sesekali memecah suasana."Ada sesuatu yang aneh," gumam Edwin."Apa?" tanya Abram tanpa mengalihkan pandangan. Edwin memutar layar laptopnya."Di ponsel Fardan hampir semua percakapan tentang operasi besar sudah dihapus. Tapi ada satu folder yang gagal terhapus sempurna."Ia membuka sebuah file terenkripsi. Setelah beberapa menit mencoba memecah sandinya, muncul sebuah dokumen dengan judul

  • Ikrar Dendam    Bab 54 - Proyek Kabut

    Malam itu, hujan turun perlahan membasahi kaca gedung tua yang berdiri megah di tengah kawasan industri yang sepi. Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang biasa yang sudah lama tidak digunakan. Namun di balik pintu baja tebalnya, tempat itu menjadi salah satu pusat operasi Kapak Hitam.Raven melangkah menyusuri lorong panjang dengan wajah tanpa ekspresi. Sepatu kulitnya memantulkan suara langkah yang bergema di ruangan kosong. Dua pria bersenjata yang berjaga di depan sebuah pintu besi segera menundukkan kepala saat melihatnya."Beliau sudah menunggu," kata salah satu penjaga.Raven tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu itu dan masuk. Ruangan di dalam cukup luas, namun penerangannya redup. Di ujung ruangan terdapat meja panjang dari kayu hitam. Seorang pria paruh baya duduk di sana sambil menikmati secangkir teh hangat.Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Ia mengenakan setelan sederhana, jauh dari kesan seorang pemimpin organisasi kriminal. Namun semua orang di Kapak Hit

  • Ikrar Dendam    Bab 53 - Berita Kematian Fardan

    Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti jalanan pinggiran kota ketika sebuah mobil patroli berhenti mendadak di tepi jalan yang sepi. Dua orang polisi yang sedang melakukan patroli rutin turun setelah melihat sesuatu tergeletak tidak jauh dari bahu jalan."Pak... ada seseorang di sini!" seru seorang polisi muda dengan nada tegang.Mereka segera mendekat. Tubuh seorang pria terbaring tak bergerak dengan pakaian berlumuran darah. Dari kondisi luka di tubuhnya, jelas terlihat bahwa pria itu menjadi korban penembakan."Hubungi tim identifikasi dan ambulans. Cepat!" perintah polisi yang lebih senior.Beberapa menit kemudian, lokasi itu dipenuhi garis polisi. Tim identifikasi mulai bekerja, memotret setiap sudut tempat kejadian perkara dan mengumpulkan barang bukti yang tersisa."Korban laki-laki, usia sekitar tiga puluh lima hingga empat puluh tahun," ucap salah satu petugas forensik."Terdapat tiga luka tembak. Dugaan sementara, korban meninggal beberapa jam yang lalu."Seorang pe

  • Ikrar Dendam    Bab 52 - Semakin Jelas

    Setelah melalui kejadian yang cukup menegangkan, akhirnya mobil yang dikendarai Guntur tiba di sebuah rumah yang terletak di tempat yang sepi, jauh dari kerumunan. Rumah itu adalah milik teman Edwin yang kini mereka tinggali secara gratis. "Kita sudah sampai." Ucap Guntur. "Dimana ini?" Tanya dokter Maya. "Ini adalah tempat persembunyian kami." "Apa kalian dapat dipercaya?" Sejenak dokter Maya Ragu. "Selama berpihak pada kami, kami akan menjaga Bu dokter. Ingatlah, aku tunangan Anita. Aku sudah sejauh ini hanya untuk membalas kematian kekasihku." Jawab Abram dingin tanpa basa-basi. Ia kemudian masuk ke rumah itu. "Jangan diambil hati. Semenjak Anita mati, sifatnya berubah drastis. Dia hanya ingin menemukan orang yang membunuh kekasihnya, tidak lebih." Edwin menjelaskan. "Baik. Aku percaya pada kalian." Jawabmya pada akhirnya. Semua sudah berada di dalam rumah yang sebenarnya cukup besar, hanya saja tidak ditempati dan dibiarkan begitu lama hingga membuat warna temboknya mulai

  • Ikrar Dendam    Bab 51 - Balasan yang Setimpal

    Tiga pasang lampu mobil itu semakin mendekat dengan cepat, membelah gelapnya jalan sepi. Suara mesin mereka terdengar keras, seolah tidak lagi berusaha menyembunyikan keberadaan. Abram langsung mengambil keputusan."Kita pergi sekarang.""Bagaimana dengan dia?" tanya Edwin sambil melirik Fardan yang masih terikat. Abram menatap Fardan sesaat."Dia tetap di sini."Wajah Fardan langsung pucat. Ia seolah sudah tahu apa yang akan terjadi padanya jika mereka tahu dirinya dalam keadaan seperti itu. Fardan sudah pasti curiga Fardan membocorkan sebuah rahasia."Tidak! Jangan tinggalkan aku! Mereka akan membunuhku!"Abram tidak menjawab. Ia hanya berbalik menuju mobil. Baginya, Fardan bukan korban. Pria itu telah mengakui pembunuhan terhadap Susi."Please, Abram! Tolong!"Suara Fardan terdengar panik. Namun Abram tetap berjalan. Beberapa detik kemudian, mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan lokasi. Dari kaca belakang, Fardan terlihat masih berteriak meminta bantuan. Lima menit kemudi

  • Ikrar Dendam    Bab 7 - Kecurigaan pada Pihak Berwajib

    Keesokan harinya, Abram duduk di meja kerja kamarnya menatap berkas laporan itu untuk kesekian kalinya. Setiap kata di dalamnya terasa ganjil, seolah disusun terburu-buru. Keterangan saksi tak lengkap, hasil autopsi tertutup sebagian, dan laporan kronologi berubah dari versi pertama yang ia terima.

  • Ikrar Dendam    Bab 6 - Pertemuan dengan Guntur

    Keesokan harinya, Abram sudah berada di depan gudang yang dimaksud Agha. Gudang tua di pinggir kota itu tampak kumuh, berkarat, dan dikelilingi rumput liar. Hujan masih menetes dari atap seng yang bocor, menimbulkan suara gemericik yang bergema di dalam ruangan. Lampu gantung tua menjadi penerang.

  • Ikrar Dendam    Bab 5 - Menyewa Penyelidik

    Di sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya. Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan

  • Ikrar Dendam    Bab 4 - Kembali ke Kantor Polisi

    Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status