Beranda / Rumah Tangga / Senja di Ujung Istanbul / Bab 04. Pernyataan Mengejutkan

Share

Bab 04. Pernyataan Mengejutkan

Penulis: Aleena
last update Tanggal publikasi: 2024-01-22 18:44:40

"Mas Hamish, makan dulu, ya?"

Aku sudah menyendokkan bubur untuknya. Ini adalah hari pertama aku menggantikan Ibu untuk menjaga Mas Hamish. Bukan lagi mengaku sebagai seorang istri, hanya seseorang yang disuruh menggantikan tugas untuk merawatnya.

"Ibu mana?"

"Ibu--"

"Kau memanggil ibuku siapa?" Mas Hamish langsung menyela begitu saja saat aku menyebut mertuaku dengan sebutan Ibu.

"Maaf, Ibu yang menyuruhku memanggilnya Ibu." Aku memberanikan diri menatap matanya yang begitu dingin saat bicara padaku. Begitu berbeda dengan tatapannya dulu, selalu dipenuhi cinta dan kasih sayang.

"Ibuku memang sangat baik dengan semua orang."

Aku mengangguk.

"Kalau begitu kamu makanlah, Mas! Kasihan Ibu selalu mencemaskanmu, ingin segera melihatmu sembuh seperti dulu."

Terdengar dengusan kecil dari bibirnya. "Bawa sini! Aku bisa memakannya sendiri!"

Mas Hamish sama sekali tak mau memakan suapan bubur dariku. Aku mengangguk mengerti. Walaupun hati ini begitu sakit menerima penolakannya, tetapi aku tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Yang penting dia mau makan agar perutnya tidak kosong karena banyak obat yang harus diminumnya.

Tepat saat bubur itu hendak berpindah ke tangan Mas Hamish, seseorang yang begitu suamiku tunggu-tunggu kedatangannya telah hadir.

"Mas Hamish!" Suara itu terdengar lembut. Aku sebagai wanita saja merasa merinding mendengar dia bicara. Detik itu juga Mas Hamish langsung mengalihkan perhatian pada wanita yang berdiri di ambang pintu. Perempuan cantik berambut hitam bergelombang dengan cekungan kecil di pipi kiri.

Hari ini aku melihat sendiri bagaimana pria yang beberapa hari lalu selalu menunjukkan wajah lesu, kini berubah ceria. Ya, Sofie datang menjenguk Mas Hamish ... di rumah sakit.

"Sofie!" panggil Mas Hamish.

Aku memalingkan wajah. Hatiku ternyata tak sekuat itu saat melihat Mas Hamish dengan mata berbinar memandang Sofie yang berjalan mendekat pada brankar. "Akhirnya kamu datang."

Tangan yang terbebas jarum infus itu langsung meraih tangan Sofie. Tatapan matanya begitu sendu dan dipenuhi cinta. Ada kerinduan mendalam yang terpancar di sana. Mas Hamish sepertinya benar-benar mencintai Sofie.

"Hai, apa kabar?" Suara Sofie yang tenang dan lembut membuat Mas Hamish tak memalingkan diri sedikitpun dari perempuan itu.

"Sangat baik. Apalagi kamu mau menjengukku."

Aku yang duduk di kursi merasa seperti orang asing di antara mereka berdua. Kupingku terasa panas, tetapi aku harus tetap berada di sana, melihat apa saja yang akan mereka obrolkan.

"Apa kamu sedang makan siang?" Sofie bertanya setelah melihat kotak ransum berada di tanganku. "Sebaiknya aku tunggu di luar saja. Selesaikan makanmu!"

"Hei, tunggu! Mengapa kamu yang menunggu di luar?" Mas Hamish menoleh padaku. "Aira! Namamu Aira, kan?"

Bahkan, saat menyebit namaku saja Mas Hamish seperti enggan. Walaupun begitu aku tetap menjawabnya meski hanya dengan anggukan.

"Berikan bubur itu padaku. Aku ingin Sofie yang menyuapiku. Tugasmu sudah selesai. Sekarang keluarlah!"

Tanganku meremas kotak ransum itu, seakan-akan sulit untuk melepaskan. Aku merasa tidak rela suamiku disuapi oleh perempuan lain. Awalnya aku bergeming di tempat, tak ingin menyerahkan kotak makan itu, tetapi bentakan Mas Hamish selanjutnya membuatku terkejut.

"Mengapa kau tetap di sana? Cepat keluar! Biarkan Sofie yang menggantikanmu!"

Aku mengembuskan napas lelah. Berusaha tersenyum meski terpaksa, aku memberikan kotak itu kepada Sofie, lalu beranjak dari duduk.

"Duduklah, Sofie!"

Sofie tersenyum dan mengangguk. Dia sangat cantik. Pantas saja Mas Hamish begitu tergila-gila padanya. Selain wanita karier yang berpendidikan, dia juga memiliki pesona yang tidak bisa ditolak pria. Aku jadi ragu saat menyerahkan suamiku untuk bisa bertemu kembali dengannya.

Sofie menggantikan posisiku duduk tepat di sisi ranjang Mas Hamish. Senyum merekah yang tidak pernah terlihat di wajah suamiku, kini mengembang dengan sempurna.

"Aku pergi dulu!" kataku berpamitan.

Tidak ada yang menanggapi perkataanku. Mereka seakan-akan sedang terbius dengan tatapan masing-masing. Aku memilih keluar, memperhatikan mereka dari celah pintu. Walaupun Mas Hamish adalah suamiku, tetapi tatapan tidak suka yang sebelumnya mengarah padaku cukup membuatku tahu diri. Keberadaanku tidak diharapkan. Aku hanya pengganggu kebersamannya dengan Sofie.

Tidak ada pilihan lain selain pergi. Andai aku melakuan pemaksaan, dan mengatakan pada Mas Hamish bahwa aku adalah istrinya, tentu dia akan semakin marah dan membenciku. Belum lagi mengingat perkatan dokter bahwa kami tidak bisa menyentil ingatan Mas Hamish karena bisa berakibat fatal untuk otak dan semua memori yang tersimpan di kepalanya.

Untuk saat ini, aku berusaha sabar, dan lebih bersabar lagi hanya demi kesembuhan suamiku.

Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku masih bisa mendengar mereka bicara.

"Sofie, mereka bilang kita terpisah selama lima tahun. Apa itu benar?"

Sofie yang digenggam tangannya mengangguk. "Aku sudah lulus dan bekerja. Bagaimana denganmu?"

Mas Hamish tersenyum. "Seperti ini. Aku kecelakaan, dan ada masalah dengan kakiku."

"Juga ingatanmu." Sofie menyela. "Kamu benar-benar lupa apa yang sudah terjadi lima tahun belakangan ini?"

"Entahlah! Mereka mengatakan bahwa aku hilang ingatan. Tapi aku tidak lupa saat berusaha menemuimu di bandara. Lalu, sebuah truk menabrak mobilku dari arah depan."

"Kamu mengejarku?"

"Hemm, tentu saja. Aku tidak ingin kamu pergi. Aku ingin kita menikah. Aku tidak bisa hidup tanpamu."

Mataku memanas, telinga pun terasa berdengung. Rasanya setiap perkataan yang diucapkan oleh Mas Hamish menusuk-nusuk hati dan perasaanku. Aku tidak bisa menahan buliran jernih yang tiba-tiba menetes di pipi.

"Jangan bicara lagi. Sekarang habiskan makananmu!"

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Sofie dengan telaten menyuapi Mas Hamish. Aku senang melihat suamiku yang sebelumnya malas makan, kini justru sangat lahap. Setidaknya dengan begitu dia akan lebih cepat sembuh meskipun harus mengorbankan perasaanku.

"Aku jadi tidak sabar untuk disuapi seperti ini setiap hari."

Aku memalingkan muka, lalu menutup pintu kamar perawatan Mas Hamish pelan-pelan. Rasanya dadaku sesak, sudah tidak sanggup menahan rasa sakit yang menghunjam tajam. Tepat saat aku membalikkan badan, Ibu datang menghampiriku. Aku langsung memeluknya, lalu menangis di bahu Ibu mertua.

Ini baru satu hari, tetapi sudah sesakit ini. Aku harap Sofie benar-benar ingin membantuku, dan tidak ada niatan untuk kembali kepada suamiku.

***

"Ay, kepalaku pusing sekali."

Mas Hamish baru pulang bekerja. Aku yang baru saja membuatkan teh hangat langsung menghampiri suamiku itu. Teh aku letakkan di meja ruang tamu, lalu melangkah ke sofa di mana Mas Hamish sedang menyandarkan kepalanya di sana.

"Mas Hamish sakit?"

"Nggak tahu. Rasanya pusing banget." Tangan Mas Hamish beberapa kali memijit pangkal hidungnya. Aku tersenyum, lalu mengambil duduk di sebelahnya.

"Minum dulu, mumpung masih hangat."

Mas Hamish menurut, menyeruput teh bunga melati itu hingga tandas tak bersisa. "Makasih, Ay."

"Sama-sama. Apa ada masalah di kerjaan?"

Bukannya menjawab, Mas Hamish langsung merebahkan kepalanya di pahaku. Dia lebih seperti anak kecil, meringkuk dengan wajah dibenamkan pada perutku. Aku mengusap rambutnya yang tebal, tetapi terasa lembut saat helai demi helainya mengenai telapak tanganku.

"Nggak ada. Semuanya baik-baik aja."

"Heem, syukurlah. Sebaiknya Mas mandi dulu. Setelah itu aku pijitin."

Tangannya melingkar pada pinggangku. Dia selalu bersikap manja saat pulang kerja. Tapi ... aku menyukainya. Saat ada anak nanti, mungkin kami akan kesulitan bermesraan seperti ini.

"Kamu udah selesai?"

"Heem?"

Dia mengubah posisi kepalanya yang sebelumnya menghadap perutku, kini menatapku. "Udah suci, belum?"

"Iya, tadi aku--" Belum sempat aku menyelesaikan jawaban, Mas Hamish langsung beranjak, berdiri. Dia langsung menarik tanganku.

"Ayuklah! Sekarang aja."

"Apa?"

"Udah, buruan, Ay! Udah cuti seminggu, kan?"

Mau tidak mau, aku harus berdiri. Dia mengapit bahuku dengan lengannya yang melingkar. Kami berjalan beriringan seraya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar utama. "Tapi ... Mas. Bukannya tadi kamu bilang sedang sakit?"

"Oh, itu. Udah sembuh, kok," ucapnya sambil tertawa kecil.

"Kok bisa?"

"Ya, bisa, dong! Oh, ya, Ay, pakai baju yang semalem Mas kasih, ya?"

Aku mencubit pinggangnya gemas. Wajahku langsung merona mengingat pakaian apa yang Mas Hamish berikan padaku semalam.

***

"Aira!"

Kelopak mataku mengerjap saat suara itu memanggil namaku.

"Sofie!"

Di taman rumah sakit, yaitu di sebuah gazebo yang dinaungi pepohonan rindang, aku menyandarkan kepala di salah satu penyangganya. Lamunanku akan ingatan masa lalu buyar seketika saat Sofie datang menghampiri. Aku tersenyum padanya, lalu menggeser pantat untuk memberikan akses Sofie agar ikut duduk di sini.

"Terima kasih sudah datang," kataku tulus.

"Heem."

Kami sama-sama terdiam. Ada rasa canggung yang tak biasa karena kami sebelumnya tidak saling mengenal. Apalagi pria yang kami cintai adalah pria yang sama.

"Aira!"

"Ya!"

"Aku tadi banyak ngobrol dengan Mas Hamish. Dia mengingat semua kejadian, masa-masa indah kami dulu. Aku tidak menyangka jika dia tidak melupakan satu kejadian pun yang kami lewati bersama."

Aku menunduk. Sebenarnya tidak dijelaskan Sofie pun aku sudah tahu. Mas Hamish memang mengingat kembali memori sebelum kecelakaan limat tahun silam yang merengut ingatannya. Namun, saat Sofie menjelaskan ini, rasanya luka yang awalnya sudah lebih baik, kini justru menganga parah.

"Aira, dulu saat aku tahu Mas Hamish melupakanku, hidupku terasa hancur. Kami saling mencintai. Tidak ada satu di antara kami yang ingin menjauh. Nama coffe shop yang Mas Hamish dirikan itu juga menggunakan namaku dan namanya yang disatukan. M'ld Espresso. Jadi, kamu tahu kan bagaimana besarnya perasaan Mas Hamish kepadaku?"

"Aku tahu. Aku bisa melihatnya. Tapi, itu masa lalu, Sofie. Masa itu sudah terlewat sangat lama. Lima tahun, itu waktu yang cukup lama untuk menghapus masa-masa indah kalian."

Sofie tersenyum. "Seharusnya itu yang terjadi. Tapi lihatlah, Aira! Tuhan seakan memberi kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Setelah lima tahun perasaan yang sempat redup, hubungan yang tidak kelihatan juntrungannya, kini justru dibuka lebar tanpa pernah kami inginkan."

"Apa maksudmu, Sofie?"

Bukannya berperasangka buruk, tetapi aku merasa ada sesuatu yang hendak Sofie sampaikan kepadaku. Setiap kalimat yang diucapkannya seperti sedang memberi tahu bahwa ... Tuhan sengaja membuat skenario ini untuk mempersatukan mereka kembali. Tidak! Aku menggeleng kuat-kuat, tidak mungkin Sofie bisa setega itu mengkhinati kepercayaanku. Dia mau datang bukan untuk hubungannya sendiri, melainkan hanya ingin membantuku.

"Aira, andai nanti setelah aku membantu Mas Hamish mengingat masa lalunya sedikit demi sedikit, dan dia mulai mengingatmu. Namun, ternyata dia tetap memilihku. Aku ... mungkin akan menerimanya."

***"Mas Hamish, makan dulu, ya?"

Aku sudah menyendokkan bubur untuknya. Ini adalah hari pertama aku menggantikan Ibu untuk menjaga Mas Hamish. Bukan lagi sebagai seorang istri, hanya seseorang yang diminta menggantikan tugas untuk merawatnya.

"Ibu mana?"

"Ibu—"

"Kau memanggil ibuku siapa?" Mas Hamish langsung menyela begitu saja saat aku menyebut mertuaku dengan sebutan Ibu.

"Maaf, Ibu yang menyuruhku memanggilnya Ibu."

Aku memberanikan diri menatap matanya yang begitu dingin saat bicara padaku. Begitu berbeda dengan tatapannya dulu, yang selalu dipenuhi cinta dan kasih sayang.

"Ibuku memang sangat baik pada semua orang."

Aku mengangguk.

"Kalau begitu, kamu makanlah, Mas! Kasihan Ibu selalu mencemaskanmu. Ibu ingin segera melihatmu sembuh seperti dulu."

Terdengar dengusan kecil dari bibirnya.

"Bawa sini! Aku bisa makan sendiri!"

Mas Hamish sama sekali tidak mau menerima suapan bubur dariku. Aku mengangguk mengerti. Walaupun hati ini begitu sakit menerima penolakannya, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Yang penting dia mau makan agar perutnya tidak kosong, karena banyak obat yang harus diminumnya.

Tepat saat bubur itu hendak berpindah ke tangan Mas Hamish, seseorang yang begitu suamiku tunggu-tunggu kedatangannya akhirnya tiba.

"Mas Hamish!"

Suara itu terdengar lembut. Aku sebagai wanita saja merasa merinding mendengarnya. Detik itu juga, Mas Hamish langsung mengalihkan perhatian pada wanita yang berdiri di ambang pintu. Perempuan cantik berambut hitam bergelombang dengan cekungan kecil di pipi kiri.

Hari ini aku melihat sendiri bagaimana pria yang beberapa hari lalu selalu menunjukkan wajah lesu, kini berubah ceria. Ya, Sofie datang menjenguk Mas Hamish ... di rumah sakit.

"Sofie!" panggil Mas Hamish.

Aku memalingkan wajah. Hatiku ternyata tak sekuat itu saat melihat Mas Hamish dengan mata berbinar memandang Sofie yang berjalan mendekat ke brankar.

"Akhirnya kamu datang."

Tangan yang terbebas dari jarum infus itu langsung meraih tangan Sofie. Tatapan matanya begitu sendu dan dipenuhi cinta. Ada kerinduan mendalam yang terpancar di sana. Mas Hamish sepertinya benar-benar mencintai Sofie.

"Hai, apa kabar?"

Suara Sofie yang tenang dan lembut membuat Mas Hamish tak memalingkan wajah sedikit pun dari perempuan itu.

"Sangat baik. Apalagi kamu mau menjengukku."

Aku yang duduk di kursi merasa seperti orang asing di antara mereka berdua. Kupingku terasa panas, tetapi aku harus tetap berada di sana, melihat apa saja yang akan mereka obrolkan.

"Apa kamu sedang makan siang?" Sofie bertanya setelah melihat kotak ransum berada di tanganku. "Sebaiknya aku tunggu di luar saja. Selesaikan makanmu!"

"Hei, tunggu! Mengapa kamu yang menunggu di luar?"

Mas Hamish menoleh padaku.

"Aira! Namamu Aira, kan?"

Bahkan saat menyebut namaku saja Mas Hamish seperti enggan. Walaupun begitu, aku tetap menjawabnya meski hanya dengan anggukan.

"Berikan bubur itu padaku. Aku ingin Sofie yang menyuapiku. Tugasmu sudah selesai. Sekarang keluarlah!"

Tanganku meremas kotak ransum itu, seakan-akan sulit untuk melepaskannya. Aku merasa tidak rela suamiku disuapi oleh perempuan lain. Awalnya aku bergeming di tempat, tak ingin menyerahkan kotak makan itu, tetapi bentakan Mas Hamish selanjutnya membuatku terkejut.

"Mengapa kau tetap di sana? Cepat keluar! Biarkan Sofie yang menggantikanmu!"

Aku mengembuskan napas lelah. Berusaha tersenyum meski terpaksa, aku memberikan kotak itu kepada Sofie, lalu beranjak dari duduk.

"Duduklah, Sofie!"

Sofie tersenyum dan mengangguk. Dia sangat cantik. Pantas saja Mas Hamish begitu tergila-gila padanya. Selain wanita karier yang berpendidikan, dia juga memiliki pesona yang tidak bisa ditolak pria. Aku jadi ragu saat menyerahkan suamiku untuk bisa bertemu kembali dengannya.

Sofie menggantikan posisiku, duduk tepat di sisi ranjang Mas Hamish. Senyum merekah yang tidak pernah terlihat di wajah suamiku kini mengembang dengan sempurna.

"Aku pergi dulu!" kataku berpamitan.

Tidak ada yang menanggapi perkataanku. Mereka seakan-akan sedang terbius dengan tatapan masing-masing. Aku memilih keluar, memperhatikan mereka dari celah pintu. Walaupun Mas Hamish adalah suamiku, tatapan tidak suka yang sebelumnya mengarah padaku cukup membuatku tahu diri. Keberadaanku tidak diharapkan. Aku hanya pengganggu kebersamaan mereka dengan Sofie.

Tidak ada pilihan lain selain pergi. Andai aku melakukan pemaksaan dan mengatakan kepada Mas Hamish bahwa aku adalah istrinya, tentu dia akan semakin marah dan membenciku. Belum lagi mengingat perkataan dokter bahwa kami tidak bisa menyentil ingatan Mas Hamish karena bisa berakibat fatal pada otak dan semua memori yang tersimpan di kepalanya.

Untuk saat ini, aku berusaha sabar, dan lebih bersabar lagi hanya demi kesembuhan suamiku.

Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku masih bisa mendengar mereka bicara.

"Sofie, kata mereka kita terpisah selama lima tahun. Bener, ya?”

Sofie yang digenggam tangannya mengangguk.

“Aku udah lulus dan sekarang kerja. Kamu sendiri gimana?”

Mas Hamish tersenyum.

“Ya, begini. Aku kecelakaan. Kakiku juga bermasalah.”

"Juga ingatanmu," Sofie menyela. "Kamu benar-benar lupa apa yang sudah terjadi lima tahun belakangan ini?"

"Entahlah! Mereka bilang aku hilang ingatan. Seingatku, aku berusaha menemuimu di bandara. Lalu, sebuah truk menabrak mobilku dari arah depan."

“Kamu ngejar aku?”

“Hmm, tentu saja. Aku nggak mau kamu pergi. Aku mau kita menikah. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”

Mataku memanas, telinga pun terasa berdengung. Rasanya setiap perkataan yang diucapkan oleh Mas Hamish menusuk-nusuk hati dan perasaanku. Aku tidak bisa menahan buliran jernih yang tiba-tiba menetes di pipi.

"Udah, jangan ngomong lagi. Sekarang habisin makanannya!"

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Sofie dengan telaten menyuapi Mas Hamish. Aku senang melihat suamiku yang sebelumnya malas makan kini justru sangat lahap. Setidaknya, dengan begitu dia akan lebih cepat sembuh meskipun harus mengorbankan perasaanku.

"Aku jadi nggak sabar disuapin kayak gini setiap hari."

Aku memalingkan muka, lalu menutup pintu kamar perawatan Mas Hamish pelan-pelan. Rasanya dadaku sesak, sudah tidak sanggup menahan rasa sakit yang menghunjam tajam. Tepat saat aku membalikkan badan, Ibu datang menghampiriku. Aku langsung memeluknya, lalu menangis di bahu Ibu mertua.

Ini baru satu hari, tetapi sudah sesakit ini. Aku harap Sofie benar-benar ingin membantuku dan tidak ada niatan untuk kembali kepada suamiku.

***

"Ay, kepalaku pusing sekali."

Mas Hamish baru pulang bekerja. Aku yang baru saja membuatkan teh hangat langsung menghampiri suamiku itu. Teh aku letakkan di meja ruang tamu, lalu melangkah ke sofa tempat Mas Hamish sedang menyandarkan kepalanya.

"Mas Hamish sakit?"

"Nggak tahu. Rasanya pusing banget."

Tangan Mas Hamish beberapa kali memijat pangkal hidungnya. Aku tersenyum, lalu mengambil duduk di sebelahnya.

"Minum dulu, mumpung masih hangat."

Mas Hamish menurut, menyeruput teh bunga melati itu hingga tandas tak bersisa.

"Makasih, Ay."

"Sama-sama. Apa ada masalah di kerjaan?"

Bukannya menjawab, Mas Hamish langsung merebahkan kepala di pahaku. Dia lebih seperti anak kecil, meringkuk dengan wajah dibenamkan pada perutku. Aku mengusap rambutnya yang tebal, tetapi terasa lembut saat helai demi helainya mengenai telapak tanganku.

"Nggak ada. Semuanya baik-baik aja."

"Heem, syukurlah. Sebaiknya Mas mandi dulu. Setelah itu aku pijitin."

Tangannya melingkar pada pinggangku. Dia selalu bersikap manja saat pulang kerja. Tapi ... aku menyukainya. Saat ada anak nanti, mungkin kami akan kesulitan bermesraan seperti ini.

"Kamu udah selesai?"

"Heem?"

Dia mengubah posisi kepalanya yang sebelumnya menghadap perutku, kini menatapku.

"Udah suci, belum?"

"Iya, tadi aku—"

Belum sempat aku menyelesaikan jawaban, Mas Hamish langsung beranjak dan berdiri. Dia langsung menarik tanganku.

"Ayuklah! Sekarang aja."

"Apa?"

"Udah, buruan, Ay! Udah cuti seminggu, kan?"

Mau tidak mau, aku harus berdiri. Dia mengapit bahuku dengan lengannya yang melingkar. Kami berjalan beriringan seraya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar utama.

"Tapi ... Mas. Bukannya tadi kamu bilang sedang sakit?"

"Oh, itu. Udah sembuh, kok," ucapnya sambil tertawa kecil.

"Kok bisa?"

"Ya, bisa, dong! Oh, ya, Ay, pakai baju yang semalam Mas kasih, ya?"

Aku mencubit pinggangnya gemas. Wajahku langsung merona mengingat pakaian apa yang Mas Hamish berikan padaku semalam.

****

"Aira!"

Kelopak mataku mengerjap saat suara itu memanggil namaku.

"Sofie!"

Di taman rumah sakit, tepatnya di sebuah gazebo yang dinaungi pepohonan rindang, aku menyandarkan kepala di salah satu penyangganya. Lamunanku akan ingatan masa lalu buyar seketika saat Sofie datang menghampiri. Aku tersenyum padanya, lalu menggeser pantat untuk memberikan tempat agar Sofie bisa ikut duduk di sini.

"Terima kasih sudah datang," kataku tulus.

"Heem."

Kami sama-sama terdiam. Ada rasa canggung yang tak biasa karena kami sebelumnya tidak saling mengenal. Apalagi pria yang kami cintai adalah pria yang sama.

"Aira!"

"Ya!"

"Aku tadi banyak ngobrol dengan Mas Hamish. Dia mengingat semua kejadian, masa-masa indah kami dulu. Aku tidak menyangka kalau dia tidak melupakan satu kejadian pun yang kami lewati bersama."

Aku menunduk. Sebenarnya, tanpa dijelaskan Sofie pun aku sudah tahu. Mas Hamish memang mengingat kembali memori sebelum kecelakaan lima tahun silam yang merenggut ingatannya. Namun, saat Sofie menjelaskan ini, rasanya luka yang awalnya sudah lebih baik kini justru menganga parah.

"Aira, dulu saat aku tahu Mas Hamish melupakanku, hidupku terasa hancur. Kami saling mencintai. Tidak ada satu pun di antara kami yang ingin menjauh. Nama coffee shop yang Mas Hamish dirikan itu juga menggunakan namaku dan namanya yang disatukan. Sofham Espresso. Jadi, kamu tahu, kan, bagaimana besarnya perasaan Mas Hamish kepadaku?"

"Aku tahu. Aku bisa melihatnya. Tapi, itu masa lalu, Sofie. Masa itu sudah terlewat sangat lama. Lima tahun, itu waktu yang cukup lama untuk menghapus masa-masa indah kalian."

Sofie tersenyum.

"Seharusnya itu yang terjadi. Tapi lihatlah, Aira! Tuhan seakan memberi kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Setelah lima tahun perasaan yang sempat redup, hubungan yang tidak kelihatan juntrungannya, kini justru dibuka lebar tanpa pernah kami inginkan."

"Apa maksudmu, Sofie?"

Bukannya berprasangka buruk, tetapi aku merasa ada sesuatu yang hendak Sofie sampaikan kepadaku. Setiap kalimat yang diucapkannya seperti sedang memberi tahu bahwa ... Tuhan sengaja membuat skenario ini untuk mempersatukan mereka kembali.

Tidak! Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak mungkin Sofie bisa setega itu mengkhianati kepercayaanku. Dia mau datang bukan untuk hubungannya sendiri, melainkan hanya ingin membantuku.

"Aira, andai nanti setelah aku membantu Mas Hamish mengingat masa lalunya sedikit demi sedikit dan dia mulai mengingatmu. Namun, ternyata dia tetap memilihku. Aku ... mungkin akan menerimanya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 15. Ketahuan

    Seketika mulutku ternganga. Napasku tercekat, sementara jemariku mencengkeram ujung pakaian dengan gugup. Aku kesulitan menjawab pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. “Ini punya siapa, Ra?” tanyanya lagi. Bibirku seolah terkunci. Tenggorokanku terasa kering. Tidak ada satu kata pun yang mampu keluar. “Katakan! Apa benar kamu hamil?” Suara itu menghantam dadaku. Tubuhku menegang, dan jantungku berdegup begitu keras hingga rasanya bisa didengar olehnya. Apakah ini sudah waktunya? Apakah sandiwara ini akan berakhir hari ini? “Dan ini!” Mas Hamish mengeluarkan kardus susu ibu hamil yang selama ini kusimpan di dalam laci. Gerakannya kasar, seolah benda itu adalah bukti kejahatan yang baru saja dia temukan. “Mengapa kamu simpan semua ini di sini? Siapa yang menghamili kamu, hah?” Bibirku bergetar. Aku membuka mulut, tetapi suaraku tertahan di tenggorokan. Apa dia akan percaya bahwa ini adalah anaknya? Apa dia akan percaya jika aku mengatakan semuanya dengan jujur? Aku... taku

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 14. Merawat Aira

    Sudah pasti Mas Hamish tidak akan melewatkan kesempatan untuk pergi bersama Sofie. Aku yakin dia juga menantikan hal itu. Meskipun hatiku begitu melarang Mas Hamish melakukannya, tidak ingin lelaki itu pergi berduaan dengan Sofie, aku bisa apa? “Sofie, sepertinya kita tunda dulu. Aira sakit. Aku nggak tega ninggalin dia.” Aku cukup terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan Mas Hamish kepada Sofie. Mas Hamish benar-benar peduli padaku. Dia bahkan memilih melewatkan keinginannya untuk pergi bersama Sofie. Padahal, aku yakin lelaki itu sudah menunggu-nunggu datangnya hari ini. “Tapi, Mas... kamu udah janji datang jemput aku, kan?” Apa? Mengapa Sofie bicara begitu? Mungkin merasa tidak enak karena jawaban Sofie tidak seperti yang diharapkan, Mas Hamish kemudian menjauh dariku. Dia berdiri di dekat jendela, menutupi cahaya matahari yang masuk dengan punggung tegapnya. Aku tak lagi mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Yang membuatku bingung, mengapa Sofie malah bersik

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 13. Takut Kehilangan

    Waktu terus berlalu. Hubungan kami semakin dekat. Layaknya sahabat. Mas Hamish tak segan menceritakan apa pun kepadaku. Bahkan, tentang hubungannya dengan Sofie yang kian membaik. Jangan tanya tentang hatiku! Aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk dan rupanya sekarang. Apalagi saat Sofie datang kemari dengan senyuman bak malaikat yang sampai sekarang tidak aku mengerti apa maksudnya. Seharusnya sandiwara itu tidak perlu terlalu lama dilakukan. Aku sudah menyuruhnya berhenti, tetapi dengan tegas Sofie mengatakan kalau semua ini demi kebaikan Mas Hamish. Aku seharusnya tidak boleh meragukan niatnya dalam membantu. Ya. Dia benar. Semua ini demi kebahagiaan Mas Hamish, bukan kebahagiaanku. Aku harus terus menahan rasa cemburu dan curiga yang sering kali datang tanpa bisa dicegah. Dan kini, aku berdiri di sini, menatap Mas Hamish yang mulai bisa melangkahkan kaki tanpa alat bantu berjalan. Meskipun pelan, aku bisa melihat keteguhan dan kesungguhannya untuk membuat kakinya kembali ber

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 12. Mengajaknya Pergi

    “Apa kamu mengingat sesuatu?”Ada harapan yang begitu kuat saat menanyakannya. Paling tidak, mungkin ada seberkas bayangan wajahku di kepalanya.“Tidak. Aku tidak mengingat apa pun.”“Lalu?”Itu tadi bayangan apa? Mengapa dia mengatakan dejavu? Apakah aku terlalu banyak berharap agar ingatannya kembali?“Mungkin dulu aku pernah terjatuh seperti ini bersama Sofie. Jadi aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya.”Bukan. Bukan Sofie. Itu aku.Kami memang pernah terjatuh bersama saat itu, dengan Mas Hamish memelukku, melindungi kepalaku agar tidak terbentur lantai. Sama persis dengan kejadian yang baru saja terjadi.Namun, mana mungkin aku mengatakan hal tersebut?Aku menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan.“Ayo, aku bantu berdiri!”“Hemm.” Dia bergumam.Sebaiknya Mas Hamish kembali ke kursi roda.Aku berdiri, lalu mengambil kursi roda yang sempat ditinggalkannya dan meletakkannya di dekatnya.“Hati-hati!” kataku tanpa menatap wajahnya.Entah hanya perasaanku

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 11. Dejavu

    Pagi itu, waktu seakan berjalan lebih lambat. Satu, dua, tiga detik yang terus berputar pada jarum jam dinding terasa begitu berarti. Hujan mulai mengguyur bumi sejak pagi, membuatku kesulitan untuk mengajak Mas Hamish pergi ke suatu tempat. Hari ini bertepatan dengan tanggal pernikahan kami. Tepat lima tahun. Walaupun Mas Hamish tidak mengingat apa pun, aku hendak mengajaknya ke suatu tempat yang mungkin bisa memunculkan kembali kenangan-kenangan indah kami. Namun, cuaca ternyata tidak bersahabat. Hujan turun sejak pagi, seolah tidak peduli pada banyak orang yang terpaksa menunda janji karena kehadirannya. Aku menjulurkan tangan, menengadah ke arah rintik hujan di luar jendela. Percikan air bagaikan buliran kristal yang terpecah, lalu menciprat ke permukaan wajahku hingga membuatku memejamkan mata. “Ra, kamu ngapain?” Kelopak mataku yang sempat terpejam seketika terbuka begitu suara Mas Hamish mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapati lelaki itu sudah berdiri di belakangku.

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 10. Belum Siap

    Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, dokter datang tepat pukul delapan pagi. Mas Hamish sudah bersiap untuk mengikuti serangkaian proses terapi, mulai dari pemeriksaan hingga penyuluhan. Mereka terlibat dalam perbincangan serius.Aku menghampiri mereka, lalu berhenti tepat di samping kanan kursi roda Mas Hamish.“Bagaimana perkembangannya, Dok?”“Nah, tepat waktu sekali, Bu Aira datang.”Sejenak aku mengarahkan pandangan kepada Mas Hamish, seolah meminta penjelasan tentang maksud perkataan dokter. Namun, lelaki itu hanya diam.“Jadi begini,” dokter mulai menjelaskan. “Pak Hamish harus berlatih untuk menggerakkan kakinya. Nggak perlu terlalu berat. Cukup latihan duduk, kemudian berdiri. Bisa dibantu dengan penyangga, semacam meja di depannya. Nanti saya catatkan tahapan-tahapan yang sebaiknya dilakukan secara berurutan sesuai petunjuk.”Aku mengangguk mengerti.“Bu Aira tinggal memastikan Pak Hamish melakukan semuanya sesuai prosedur yang saya catatkan.”“Baik, Dok. Akan saya lakukan.”

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 06. Sifat yang Berbeda

    "Maaf, aku hanya cemas."Aku menjadi gugup. Bukan berarti aku tidak pernah melihat tubuh polos suamiku, tetapi saat ini situasinya berbeda. Mas Hamish mengira aku hanyalah orang luar sehingga tidak mungkin secara terang-terangan membantu membenarkan celananya."Sebentar, jangan lihat ke belakang! A

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 05. Kembali Pulang

    "Lepaskan yang di sana juga!"Hari ini, tepat hari kelima setelah Mas Hamish terbangun dari koma, dokter mengatakan jika suamiku sudah boleh pulang. Perkembangan kesehatan Mas Hamish begitu pesat, apalagi sejak Sofie sering datang menjenguknya.Sofie. Aku tidak tahu ini adalah berita baik, atau just

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 03- Bertemu Sofie

    Istanbul, Turki.Tepat pada pertengahan bulan Oktober di saat kelompok tour religi baru saja menjejakkan kaki pada Bandar Udara Internasional Atatürk, Turki, aku disibukkan memberi arahan setiap anggota jemaah selama safar berlangsung. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kami melanjutkan

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 02- Kejutan Kedua

    "Pasien mengalami amnesia sebagian."Aku mendengar penjelasan tersebut dengan menguatkan hati. Aku dan Ibu mertua berada di ruangan dokter untuk membicarakan perkembangan kesehatan Mas Hamish."Maksud Dokter?" tanyaku meminta kejelasan."Ada beberapa jenis kehilangan memori ingatan pasca kecelakaan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status