เข้าสู่ระบบIstanbul, Turki.
Tepat pada pertengahan bulan Oktober, saat kelompok tur religi baru saja menjejakkan kaki di Bandar Udara Internasional Atatürk, Turki, aku disibukkan memberi arahan kepada setiap anggota jemaah selama safar berlangsung. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel untuk beristirahat sebelum keesokan harinya menjelajahi beberapa tempat wisata yang berada di negara ini.
Ya, aku adalah salah satu tour guide yang bekerja di bawah Azalea Travel untuk memandu wisata religi dalam kunjungan ke Istanbul, Turki.
Saat matahari sedang cerah-cerahnya, aku dan rombongan menyusuri jalan menuju Selat Bosphorus. Blue Mosque atau biasa disebut Masjid Sultan Ahmed menjadi tujuan pertama tur religi kali ini. Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, tim mengajak jemaah menaiki kapal sembari menikmati landscape Teluk Golden Horn dan Selat Bosphorus.
Aku memilih berada di luar kapal bersama para wisatawan lainnya. Sangat disayangkan jika tidak menikmati indahnya perjalanan laut. Pemandangannya memang sangat mengasyikkan. Banyak perumahan yang bagus di tepi selat ini, hotel-hotel mewah, dan kapal-kapal. Bahkan ada helikopter yang nangkring di atasnya. Dari tempat yang sama, enam kubah Blue Mosque sudah bisa dilihat jelas dengan mata telanjang.
Seperti biasa, aku memberi arahan mengenai larangan dan imbauan sebelum memasuki masjid yang sudah menjadi ikon Kota Istanbul. Bukan hanya wisatawan muslim yang ingin melihat bangunan ini, melainkan para turis asing berambut perak. Walaupun begitu, mereka harus tetap mengenakan tudung sebagai penutup kepala jika ingin melihat keindahan rumah ibadah yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ahmed dan letaknya di seberang Hagia Sophia itu.
Aku tidak ikut masuk ke dalam, memilih menopangkan lengan pada jembatan seraya menatap Selat Bosphorus yang berkilauan terkena cahaya matahari. Angin sepoi-sepoi terasa menerpa wajahku, sangat nyaman untuk memejamkan mata. Hingga sebuah suara ribut-ribut membuat perhatianku teralihkan.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Seorang pria Melayu dengan rambut belah samping terlihat sedang terlibat adu mulut dengan warga lokal. Aku memperhatikan perdebatan mereka yang sepertinya tidak akan menemui titik temu. Bagaimana tidak, pria itu berbicara menggunakan bahasa Inggris, sementara wanita paruh baya yang sedang beradu argumen menggunakan bahasa Turki. Pemandangan yang unik.
"Permisi, bisa saya bantu?"
Melihat rekan sesama rumpun sedang dalam masalah membuatku tidak tega. Aku memutuskan membantu pria asing itu karena sepertinya terkendala bahasa.
Pria itu menatapku sejenak sebelum akhirnya mengembangkan senyum.
"Nona, apa kamu mengerti ibu ini bicara apa? Aku tadi memang tidak sengaja menabraknya, tetapi dia terus saja bicara yang aku sendiri tidak paham maksudnya. Tolonglah, aku bingung menghadapinya."
Wajah lelaki itu terlihat panik. Sepertinya sudah lama perselisihan aneh itu berlangsung. Dan aku baru menyadarinya.
Aku mengangguk.
"Saya coba dulu, ya."
"Pardon, İngilizce biliyor musun?" Aku membuka obrolan kepada wanita paruh baya itu, menanyakan apakah beliau bisa berbahasa Inggris atau tidak.
Wanita itu menggeleng.
"Tidak, saya tidak mengerti bahasa Inggris," ucapnya dengan logat dan bahasa Turki yang khas. "Apa pria itu teman Anda? Dia tadi membeli minuman dan uangnya kurang. Lalu saya menagihkan untuk pemilik kedai itu, tetapi dia malah tidak segera memberikan uangnya."
Aku menanggapi dengan senyuman.
"Berapa kekurangan uangnya?"
"Lima lira."
Aku mengangguk mengerti. Saat hendak merogoh tas dan mengeluarkan dompet, pria itu menahan tanganku.
"Apa dia memintamu uang? Ingin memerasmu?"
"Tidak, apa tadi Anda membeli minuman di salah satu kedai?"
Pria itu mengangguk mengiakan.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Uang Anda kurang, dan Ibu ini meminta kekurangannya."
Tangan lelaki itu menepuk dahinya sendiri.
"Astaga! Memalukan sekali. Berapa kekurangannya? Biar aku yang membayar."
"Lima lira."
"Heem."
Dia mengeluarkan sebanyak sepuluh lira, dua kali lipat dari jumlah uang yang dibutuhkan.
"Berikan kepada Nyonya itu. Dan sampaikan permintaan maafku," ujarnya seraya mengangsurkan lembaran uang itu kepadaku.
Aku menerimanya dan langsung memberikannya kepada Ibu itu.
"Mohon maaf atas ketidaksopanan teman saya. Dia hanya tidak sengaja."
"Ini terlalu banyak. Dia hanya perlu membayar lima lira saja."
Kelebihannya diberikan kepadaku. Aku menahannya dan mengatakan bahwa itu semua sebagai bentuk permintaan maaf. Namun, perkataan wanita paruh baya itu cukup membuatku terkesima.
"Kami tidak menerima uang yang bukan hak kami. Terima kasih, orang baik. Senang berjumpa dengan kalian."
Wanita itu menangkupkan kedua tangan, lantas pergi dari hadapan kami.
"Ini, dia tidak mau menerima lebihnya."
Uang itu aku kembalikan kepada pemiliknya.
"Tapi aku tidak menerima kembali uang yang sudah aku keluarkan."
"Lalu?"
"Bawa saja buat kenang-kenangan."
Aku menggeleng pelan. Kenang-kenangan apa yang hanya lima lira? Namun, karena tidak ingin berdebat, akhirnya uang itu aku masukkan ke dalam tas. Lagi pula, tidak enak terus-menerus bersama pria asing yang memang bukan dari rombonganku.
"Hai, Nona. Aku belum tahu namamu."
Dia menjejeri langkahku yang hendak kembali ke Blue Mosque.
"Sesama orang Indonesia, sepertinya tidak baik kalau tidak saling kenal."
Oh, rupanya dia juga berasal dari negara yang sama denganku.
Aku menghela napas, lalu menghentikan langkah. Dia langsung tersenyum dengan menyipitkan mata.
"Aira," kataku.
"Aira?"
Dia mengulang pengucapan namaku dengan kedua alis bertaut.
"Boleh tahu nama panggilannya?"
"Panggil saja Aira. Orang-orang memanggil saya dengan nama itu."
"Aira, Aira."
Kepalanya mengangguk-angguk. Entah apa maksudnya.
"Kalau begitu, boleh, kan, aku panggil dengan 'Ay'?"
"Hah?"
"Ay, senang berkenalan denganmu. Perkenalkan, aku Hamish—"
Tangannya terulur padaku.
"—calon suami kamu, Ay."
"Apa?"
"Bercanda. Tapi kalau masih ada lowongan, aku akan mendaftar duluan," ucapnya seraya menunjukkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi.
Aku menggulir satu per satu foto yang berada pada galeri ponsel. Masih sangat jelas terpatri dalam ingatan bagaimana awal pertemuan pertama kami dulu, saat senja di ujung kota Istanbul.
Wajah tampan suamiku dengan senyum teduhnya membuatku merasakan jatuh cinta untuk pertama kali. Kuusap foto itu dengan telapak tangan.
Dia manis juga humoris. Kami hanya berkenalan selama dua bulan, lalu melanjutkan ke jenjang pernikahan.
"Nyonya, ini kantornya."
Pandanganku teralihkan ketika sopir pribadi Mas Hamish mengajakku bicara. Bangunan tinggi itu adalah alamat kantor tempat Sofie bekerja, wanita yang dicari Mas Hamish begitu mata suamiku terbuka. Tidak benar jika hatiku tidak sakit. Saat memutuskan mencari keberadaan Sofie, aku sudah berusaha menahan ego dan rasa cemburu yang menggebu di dada ini.
"Tunggu saya di sini! Saya akan masuk."
Aku keluar dari mobil, menatap bangunan kokoh yang menjulang di depanku. Menurut informasi yang aku dapatkan dari Reno, Sofie bekerja di kantor ini sebagai sekretaris.
Sengaja aku mendatanginya tepat lima menit sebelum jam makan siang dimulai. Mungkin nanti aku bisa mengajaknya berbincang sekaligus makan siang.
"Saya Aira, ingin bertemu dengan Bu Sofie."
Aku memperkenalkan diri di depan resepsionis.
"Sudah ada janji?"
Aku menggeleng.
"Belum. Hanya teman lama. Ada sedikit keperluan di luar masalah kantor."
Perempuan yang rambutnya disanggul rapi itu mengangguk.
"Silakan tunggu di sana! Sebentar lagi Ibu Sofie akan keluar."
Aku undur diri setelah mengucapkan terima kasih.
Mematuhi apa yang dianjurkan oleh Mbak Resepsionis, aku memilih duduk di kursi tunggu. Sembari menekuri ponsel, aku juga sesekali melirik ke arah koridor yang mungkin nanti Sofie sudah keluar dari sana. Namun, ternyata tidak sesuai dugaan.
Dari arah lobi, aku melihat seorang wanita bergandengan tangan dengan pria berjas rapi, lalu cipika-cipiki, setelah itu saling melambaikan tangan. Tidak salah lagi, itu adalah Sofie. Mereka berpisah, pria itu kembali memasuki mobil dan pergi.
Wanita cantik berstelan jas dan rok span yang menurutku terlalu pendek berjalan ke arahku. Untuk sesaat aku merasa ragu mengutarakannya. Bagaimana jika Sofie nanti justru membuat Mas Hamish semakin mencintainya? Apalagi melihat penampilan perempuan itu begitu seksi dan tampak seperti wanita berkelas. Aku pribadi merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya.
"Bu Sofie, ada yang mencari Anda."
Perkataan resepsionis itu membuat langkah Sofie terhenti. Sepatu hak tinggi perempuan itu berputar, lalu mengarah padaku sesuai dengan arahan tangan si resepsionis yang memang menunjuk ke arahku.
Aku berdiri, lalu menyunggingkan senyum tipis kepadanya.
"Hai, aku Aira. Istri Mas Hamish."
Kami akhirnya duduk berhadapan di sebuah restoran untuk makan siang. Namun, Sofie hanya memesan minuman karena dia sudah makan selepas meeting tadi.
Aku sendiri hampir tidak menyentuh makanan di hadapanku.
Entah kenapa, rasanya sulit sekali untuk makan dalam keadaan seperti ini.
"Mas Hamish kecelakaan."
Aku mulai bercerita.
Sofie menatapku.
"Lalu?"
"Dia mengalami amnesia sebagian. Amnesia retrograd parsial, dan melupakan kenangan lima tahun terakhir."
Aku menatap Sofie lekat-lekat.
"Dia tidak mengenaliku, tetapi malah mencarimu, Sofie."
Sofie tersenyum tipis.
"Terus?"
Aku meraih tangan Sofie, menggenggam jemari lentiknya yang dihiasi kutek merah menyala.
"Aku ingin meminta bantuanmu. Dia terus-menerus berkata ingin menemuimu. Ingin menikahimu."
"Maksudmu apa, Aira?" Sofie menggeleng. "Apa kamu ingin aku menjadi madumu?"
"Aku wanita karier. Aku tidak sudi dimadu."
"Sofie, bukan itu maksudku."
Bukan hanya Sofie yang tidak ingin dimadu. Aku pun sama.
Aku tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain.
Melihat Mas Hamish menanyakan wanita lain saja sudah membuat dadaku terasa sesak. Apalagi membayangkan harus berbagi cinta dengan perempuan lain.
"Aku hanya ingin kamu bertemu dengan Mas Hamish, lalu mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi hubungan di antara kalian."
Aku menarik napas pelan.
"Maaf, aku seharusnya tidak melibatkanmu dalam situasi rumit ini. Aku hanya tidak tahu harus mencari bantuan kepada siapa lagi karena Mas Hamish terus saja mencari keberadaanmu."
Aku benar-benar merasa tidak enak hati kepada Sofie.
Bagaimanapun, aku sedang meminta seorang perempuan untuk berhadapan kembali dengan laki-laki yang pernah dicintainya.
"Bagaimana kalau aku menolak?"
Sofie mengatakannya dengan begitu tenang.
Genggaman tanganku terlepas.
"Itu..." Aku terdiam sejenak. "Tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu melakukan itu."
Aku menunduk.
"Aku tahu ini salah. Aku hanya ingin mencari cara agar ingatan suamiku kembali lagi."
Sofie menyeruput es kopinya tanpa ekspresi.
Lalu dia mengarahkan tatapannya kepadaku.
"Aira, apa kamu tahu jika sebelumnya aku dan Mas Hamish adalah sepasang kekasih yang saling mencintai?"
Walaupun kalimat itu terasa menyakitkan, aku tetap mengangguk.
"Aku tahu."
Sofie menghela napas.
"Aku menunggunya datang ke bandara saat itu. Tetapi sampai panggilan penerbanganku tiba, dia tak datang. Tidak ada kabar apa pun darinya setelah itu."
Tatapannya menerawang.
"Dan saat aku kembali ke negara ini... dia sudah menikahi wanita lain."
Aku menunduk.
Rasa bersalah perlahan hadir melingkupi hatiku.
Nyatanya, aku adalah perusak hubungan yang sudah mereka jalin sejak lama.
Tapi...
Semua itu bukan salahku, kan?
Aku tidak tahu-menahu tentang hubungan Mas Hamish bersama Sofie sebelumnya.
Aku bahkan tidak pernah tahu bahwa sebelum mengenalku, ada seorang perempuan yang begitu berarti dalam hidupnya.
"Lalu sekarang, apa kamu sudah menikah?"
Aku memberanikan diri bertanya.
Aku teringat akan pria yang bersama Sofie di lobi tadi.
Sofie menggeleng.
"Aku belum menikah sampai detik ini. Pria yang kamu lihat tadi hanya teman baikku."
"Oh!"
Hanya itu yang mampu terucap dari bibirku.
Jika Sofie tidak mau menolong, itu bukan salahnya. Aku sangat memakluminya dan tidak akan mempermasalahkan itu.
Mungkin dia tidak ingin kembali membuka luka lama.
Mungkin dia tidak ingin mengingat masa lalu ketika dirinya dan Mas Hamish harus berpisah, padahal saat itu mereka masih saling menyayangi.
Aku pun tidak ingin memaksanya.
"Kalau begitu, aku permisi. Maaf sudah mengganggu waktumu, Sofie."
Aku mulai beranjak dari kursi.
"Aku akan membantumu."
Langkahku terhenti.
Kalimat itu sungguh tidak pernah kusangka.
"Apa?"
"Aku bersedia bertemu dengan Mas Hamish."
Aku menatapnya.
Untuk beberapa saat, aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.
Kemudian senyumku mengembang.
"Terima kasih."
Aku mengucapkannya berkali-kali.
Sofie ikut tersenyum kecil.
Kami berjabat tangan kemudian.
Sofie ternyata wanita yang baik.
Setidaknya, masih ada harapan untuk menjembatani masa lalu yang terlupakan dengan Mas Hamish melalui kedatangan Sofie.
Semoga usahaku ini tidak akan sia-sia.
Namun, saat aku hendak pergi darinya, Sofie kembali memanggilku.
"Aira!"
Langkahku terhenti seketika.
Sebelum kepalaku sempat menoleh ke belakang, Sofie berkata,
"Kamu tadi bertanya apa aku sudah menikah atau belum, tapi kamu tidak bertanya mengapa aku masih sendiri hingga kini. Ya, Aira, aku sampai detik ini tidak menikah karena belum bisa melupakan suamimu."
Tubuhku seketika kaku.
Aku tidak bergerak.
Tidak juga mampu menjawab.
Kalimat itu terus menggema di kepalaku.
Belum bisa melupakan suamiku.
Aku datang kepadanya dengan harapan dia bisa membantu Mas Hamish mengingat masa lalu.
Tapi sekarang aku justru sadar...
masa lalu itu mungkin belum benar-benar selesai.
Siang ini Mas Hamish seharusnya pulang dari rumah sakit. Aku sengaja tidak menjemputnya karena Ibu dan Ayah sudah memintaku menunggu di rumah. Lagi pun, aku masih mogok bicara padanya.Sejak hari itu, aku tak lagi menemui Mas Hamish di rumah sakit. Aku memilih menitipkan suamiku pada Reno. Makanan kesukaannya sudah aku masakkan. Dan semua hidangan sudah kutata dengan dibantu Bi Rumi. Kedua mertuaku juga akan makan siang di sini sehingga aku harus menyiapkan segalanya sebaik mungkin. Bel terdengar dari pintu depan bersamaan semua pekerjaan selesai."Biar saya saja, Bi!" ucapku saat Bi Rumi hendak membukakan pintu.Aku tahu jika itu Mas Hamish yang datang. Menyerahkan apron pada Bi Rumi, aku segera berjalan menghampiri pintu untuk membukanya. Dan benar, sesuai dugaan jika di sana ada Mas Hamish yang duduk pada kursi roda bersama kedu mertuaku."Assalamualaikum." Aku mencium punggung kedua mertuaku bergantian. Dari ekor mata, aku sempat melihat Mas Hamish memperhatikan interaksiku bersa
Tidak bisa dipungkiri jika aku sempat tersentak dengan apa yang baru saja Mas Hamish ucapkan.Menyukai?Mengapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?Mencoba tetap tenang, aku tidak ingin terpancing dengan pertanyaan itu. Bisa saja jika aku mengakui perasaanku, hubungan baik yang baru saja kubangun bersamanya akan kandas hari ini juga."Maksud kamu?""Kamu tidak diam-diam memendam perasaan padaku?" tanya Mas Hamish lagi. Kedua alisnya terlihat terangkat, sorot mata lurus nan tajam menatapku tanpa berkedip."Kenapa kamu berpikir begitu? Apa ada perkataanku yang mempengaruhimu?""Sikapmu," ucap Mas Hamish yang cukup membuatku bingung."Sikap? Sikap yang mana?""Kamu terlalu baik dan terlalu mencemaskanku. Perhatianmu terlalu berlebihan melebihi orang tuaku sendiri. Mengapa kamu begitu khawatir denganku?""Hanya karena itu?" Aku menantang tatapannya yang mulai berubah. Tidak seperti Mas Hamish yang aku temui pagi tadi. Dia lebih dingin dan asing. "Aku bertanggung jawab dengan apa yang terj
Akhir-akhir ini hubunganku dengan Mas Hamish memiliki banyak kemajuan. Dia sudah menyingkirkan dinding pemisah di antara kami. Sikapnya yang biasanya dingin, sudah berangsur melunak, walaupun ... di matanya aku hanyalah seorang teman.Tidak masalah. Itu jauh lebih baik daripada menganggapku sebagai musuh."Ra!" Suaranya terdengar memanggil bersamaan dengan ketukan di pintu kamarku.Hari ini Mas Hamish memintaku menemaninya untuk mengunjungi salah satu gerai coffe shop kami yang sedang mengalami kendala. Cabang baru yang memang kurang aku perhatikan karena terlalu fokus dengan kecelakan yang menimpa suamiku.Segera kubuka pintu, dan di sana Mas Hamish sudah siap dengan pakaian yang rapi, duduk di atas kursi rodanya. Dia terlihat tampan dengan rambut tebal belah samping yang sudah disisir rapi. Aku sempat terpesona ketika menatapnya."Ehem." Dehemannya membuatku tersadar. Segera memalingkan muka, aku mendadak kikuk."Sudah siap?" tanyanya kemudian.Aku mengangguk. "Maaf, sudah membuatmu
"Apa kamu mengingat sesuatu?" Ada harapan yang begitu kuat saat menanyakannya. Paling tidak, mungkin ada seberkas bayangan wajahku di kepalanya."Tidak. Aku tidak mengingat apa pun.""Lalu?"Itu tadi bayangan apa? Mengapa dia mengatakan dejavu? Apakah aku terlalu banyak berharap agar ingatannya kembali?"Mungkin dulu aku pernah terjatuh seperti ini bersama Sofie. Jadi aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya."Bukan. Bukan Sofie. Itu aku. Kami memang pernah terjatuh bersama saat itu dengan Mas Hamish memelukku, melindungi kepalaku agar tidak terbentur pada lantai. Sama persis dengan kejadian yang baru saja terjadi. Namun, mana mungkin aku mengatakan hal tersebut.Aku hela napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan. "Ayo, aku bantu berdiri!""Hemm." Dia bergumam.Sebaiknya Mas Hamish kembali ke kursi roda. Aku berdiri kemudian, lalu mengambil kursi roda yang sempat ditinggalkan Mas Hamish, meletakakn di dekat lelaki itu."Hati-hati!" kataku tanpa menatap wajahnya.Ent
Pagi itu, waktu seakan terasa lebih lama. Dari satu, dua, tiga detik yang berputar pada jarum jam dinding begitu berarti. Hujan mulai mengguyurkan curahnya pada permukaan bumi sehingga aku kesulitan keluar untuk mengajak Mas Hamish ke suatu tempat.Hari ini bertepatan dengan tanggal pernikahan kami, yaitu tepat lima tahun. Walaupun Mas Hamish tidak mengingat apa pun, aku hendak mengajaknya ke suatu tempat yang mungkin bisa mengingatkannya dengan memori-memori indah kami. Namun, cuaca nyatanya tidak bersahabat. Hujan turun sejak pagi, tanpa meminta izin pada banyak orang yang terpaksa menunda janji karena kehadirannya.Aku menjulurkan tangan, menengadah pada rintik hujan ke luar jendela. Percikan air bagaikan buliran kristal terpecah, lalu menciprat ke permukaan wajah yang langsung membuatku memejamkan mata."Ra, apa yang kamu lakukan?"Kelopak mata yang sempat memejam seketika terbuka begitu suara Mas Hamish mengejutkanku. Aku menoleh kemudian, mendapati pria itu sudah berada di belak
Sesuai jadwal yang ditentukan, dokter datang tepat pukul delapan pagi. Mas Hamish sudah bersiap mengikuti serangkaian proses terapi. Dari pemeriksaan, juga penyuluhan. Mereka terlibat perbincangan serius. Aku menghampiri lalu berhenti tepat di samping kanan kursi roda Mas Hamish."Bagaiana perkembangannya, Dok?""Nah, tepat waktu sekali Bu Aira datang."Sejenak aku mengarahkan pandangan ke arah Mas Hamish, meminta jawaban akan maksud dari dokter tersebut. Tapi, lelaki itu tak memberi jawaban apa pun."Jadi begini." Dokter memulai bicara. " Pak Hamish harus berlatih untuk menggerakkan kakinya. Tidak perlu terlalu berat. Cukup latihan duduk, kemudian berdiri. Bisa dibantu dengan ada penyangga semacam meja di depannya. Nanti saya catatkan tahapan-tahapannya yang sebaiknya dilakukan dengan urut sesuai petunjuk."Aku mengangguk mengerti."Bu Aira tinggal memastikan Pak Hamish melakukan sesuai prosedur yanv saya catatkan.""Baik, Dok. Akan saya lakukan."Dokter merapikan perlengkapan usai m
"Maaf, aku hanya cemas."Aku menjadi gugup. Bukan berarti aku tidak pernah melihat tubuh polos suamiku, tetapi saat ini situasinya berbeda. Mas Hamish mengira aku hanyalah orang luar sehingga tidak mungkin secara terang-terangan membantu membenarkan celananya."Sebentar, jangan lihat ke belakang! A
"Lepaskan yang di sana juga!"Hari ini, tepat hari kelima setelah Mas Hamish terbangun dari koma, dokter mengatakan jika suamiku sudah boleh pulang. Perkembangan kesehatan Mas Hamish begitu pesat, apalagi sejak Sofie sering datang menjenguknya.Sofie. Aku tidak tahu ini adalah berita baik, atau just
"Mas Hamish, makan dulu, ya?"Aku sudah menyendokkan bubur untuknya. Ini adalah hari pertama aku menggantikan Ibu untuk menjaga Mas Hamish. Bukan lagi mengaku sebagai seorang istri, hanya seseorang yang disuruh menggantikan tugas untuk merawatnya."Ibu mana?""Ibu--""Kau memanggil ibuku siapa?" Mas
"Pasien mengalami amnesia sebagian."Aku mendengar penjelasan tersebut dengan menguatkan hati. Aku dan Ibu mertua berada di ruangan dokter untuk membicarakan perkembangan kesehatan Mas Hamish."Maksud Dokter?" tanyaku meminta kejelasan."Ada beberapa jenis kehilangan memori ingatan pasca kecelakaan







