Mag-log inRasti menutup mulutnya tak menyangka. Ia bergantian memandang Oliv dan Endra yang sama-sama larut dalam pikirannya. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit, membayangkan betapa tersiksanya menjadi wanita yang saat ini tengah mereka bicarakan.“Itu dari pihak ayahnya. Sementara ibunya memang tidak memiliki keluarga kandung karena besar di panti asuhan. Jadi sejak saat itu, mereka hanya hidup berempat. Gina sempat trauma hebat dan depresi karena kejadian itu, tapi akhirnya dia kembali sehat dan bisa lanjutin hidupnya.” Oliv menatap Endra yang menunduk dengan tangan yang mengepal erat di atas meja. “Mas Endra, semuanya sudah berlalu. Mungkin sisa-sisa memori itu masih sangat melekat di ingatan Gina. Asal tidak diingatkan hal yang menjurus ke sana, semuanya bakal baik-baik aja.”Terlambat. Kata demi kata yang ia lontarkan pada Gina mal
“Bu Gina sudah tidak apa-apa. Tidak ada trauma kepala yang serius. Hanya saja… luka terbuka dan memar dari kekerasan fisik yang dialami cukup mengkhawatirkan, apalagi dengan kondisi baru melahirkan secara caesar dua bulan lalu.” Dokter itu melirik sang pasien yang tengah menatap ke arah jendela, kemudian kembali menatap lelaki di hadapannya. “Saran saya, penjagaan rumah harus diperketat, Pak, atau mungkin Bu Gina bisa ditemani anggota keluarga lain saat Bapak tidak ada. Kasus perampokan ini memang sedang marak, kita sulit memprediksi pergerakan mereka yang berniat jahat.”Endra mengangguk, kemudian mengucapkan terima kasih. Ia terpaksa mengarang cerita seperti itu karena demi Tuhan, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
PLAK!!Hening sesaat. Wajah Gina masih tertoleh ke arah kanan akibat tamparan yang baru ia dapatkan dari sang suami. Rasanya panas dan perih. Ia yakin pipi kirinya sudah memerah.“Apa pernah aku mengizinkan kamu buat masukin lelaki lain ke rumah ini?”Nada bicara itu masih tenang, namun sangat menyiratkan amarah yang luar biasa.“Apa ini bukan yang pertama kali?”Pertanyaan itu ditanggapi gelengan oleh Gina. “Aku nggak kayak gitu, Mas.”“TERUS INI APA?!” Napas Endra naik turun karena emosi. “Bisa-bisanya kamu terima lelaki lain di saat suamimu lagi nggak ada di rumah? Bisa-bisanya kamu lancang dan biarkan dia men
“Kenapa Kak Darren ada di sini?”Di pintu rumahnya Gina menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Darren tidak datang sendiri, mungkin bersama Daffa atau Lia. Tapi nyatanya tidak. Pria dengan setelan kaus putih yang dibalut kemeja flannel dan dipadupadankan dengan jeans hitam itu hanya datang seorang diri. Tak lupa dengan paperbag yang dijinjingnya. “Maaf aku nggak bilang. Aku–““Kakak dapat alamatku dari mana?”“Kamu pernah kasih waktu aku mau kirim makanan.” Iya juga. Gina merutuki dirinya sendiri karena itu. Di dalam memang ada Bi Asih, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman karena bagaimanapun ia sudah bersuami. Terlebih, Endra akan marah besar jika tahu Darren telah menginjakkan kakinya di rumah itu. Tapi Gina pun tak enak jika harus membiarkan tamunya di luar rumah. “Masuk dulu, Kak.”Ajakan itu disambut senyum sumringah oleh bibir tipis Darren. Ia duduk di kursi ruang tamu dan menyimpan bawaannya di atas meja. “Ini ada sedikit bingkisan buat kamu. Nggak yang aneh
Siapapun itu, tolong tenggelamkan Gina sekarang juga.Subuh ini, ia baru keluar dari kamar mandi dekat dapur dengan handuk yang melingkar menutupi rambutnya yang basah. Kamar tidurnya tak memiliki kamar mandi dalam seperti kamar di lantai atas, jadi mau tidak mau ia harus menggunakan kamar mandi dekat dapur.Dan tanpa diduga, saat ia keluar dari sana Irma sudah berdiri di dapur dengan segelas air di tangannya. Beberapa detik mereka lalui dengan keheningan, sebelum Irma menyadari sesuatu dan ia tersenyum menggoda ke arah sang menantu.“Duh, si Endra itu kebangetan, ya. Padahal Mama sama Papa lagi nginep di sini.”Wajah Gina memerah karena malu. Ia berniat berpamitan pada Irma untuk segera kembali ke kamar, namun ucapan Irma belum berhenti. “Baru jam 3 loh, Gin. Padahal nanti aja jam 4 biar bisa langsung sholat subuh.”Gina gelagapan, ia sangat malu.“M-mama kenapa udah bangun?” tanyanya untuk mengalihkan pe
“Ndra, gue nggak maksud gitu, gue juga nggak tahu kalau Darren bakal –““Iya, memang semuanya salah gue kok, Daf. Lo nggak salah karena yang lo bilang itu memang faktanya.”“Ndra –““Mungkin si Darren nya aja yang terlalu sayang sama Gina sampai dia begitu. Gue nggak nyalahin lo. ini memang salah gue.”Kali ini Daffa diam dan tidak berusaha menyela. Ia merasa sangat bersalah atas kenyataan yang terjadi saat ini. Ia tidak menyangka bahwa Darren akan sejauh itu. Yang ia pikir Darren hanya akan sedikit menggertak Endra untuk memberikan sahabatnya itu pelajaran.“Lagipula ini juga jadi tantangan buat gue. Proyek itu nilainya nggak main-main. Dan kapan lagi ya kan gue dapat kesempatan buat dapatin tender itu?”Kopi hitam pekat itu Endra seruput dengan nikmat. Ia mengedarkan pandangannya pada setiap sudut café untuk menghindari sorotan kecewa di matanya. Bagaimanapun hu
Pagi ini terasa ada yang berbeda. Endra tidak mencium aroma masakan yang biasanya selalu menguar hingga ke setiap penjuru rumah. Ia juga tidak mendengar adanya pergerakan atau tanda-tanda seseorang sedang memasak di dapur. Pun, meja makan yang biasanya sudah terisi kini masih dalam keadaan kosong.
“Kenapa, Mas? Ada masalah di kantor?”Hari di mana Endra mengantarkan Gina pulang sampai ke rumah sudah satu minggu yang lalu, dan semenjak itu pula perlakuan Endra kembali kasar dan dingin padanya.Seperti malam ini. Lelaki itu pulang dengan wajah merah menahan amarah. Hal ini membuat Gina sebenar
“Kamu sudah makan, sayang? Maaf, ya, tadi pagi aku buru-buru jadi nggak sempat sarapan bareng kamu.”Gina yang tadinya berpikir bahwa ia hanya tinggal bersandiwara seperti biasa, kini menjadi sedikit canggung dan sulit mengontrol diri. Pasalnya Safira masih duduk tak jauh darinya, sembari memilah b
Padatnya rutinitas di ibukota pada pagi hari menjadi salah satu kendala yang cukup serius bagi beberapa orang. Salah satunya adalah Endra. Beberapa kali terjebak macet di beberapa titik yang berbeda membuat waktunya harus terbuang percuma dan mengorbankan janjinya yang sudah ia buat kemarin siang b







