공유

Chapter 5 - Kejutan Kecil

작가: Nabila Irawan
last update 게시일: 2022-09-13 22:52:13

“Kamu sudah makan, sayang? Maaf, ya, tadi pagi aku buru-buru jadi nggak sempat sarapan bareng kamu.”

Gina yang tadinya berpikir bahwa ia hanya tinggal bersandiwara seperti biasa, kini menjadi sedikit canggung dan sulit mengontrol diri. Pasalnya Safira masih duduk tak jauh darinya, sembari memilah berkas yang tadi dipegang oleh Endra.

“Oh, em, i-iya mas nggak apa-apa. I-ini aku bawa makanannya ke sini biar kita bisa makan sama-sama.”

“Wah, kalau gini sih ngerepotin.”

“Nggak kok, mas.”

“Makasih, ya, sayangku.”

Mata Gina sudah memerah ketika Endra yang duduk di sampingnya tiba-tiba mengecup keningnya dengan lembut. Disaksikan oleh Irma dan Safira, ini adalah kecupan pertamanya dari Endra.

“Setelah ini, kalau mau ada pertemuan pagi-pagi ya bangunnya harus lebih pagi juga. Mag kamu kan sudah parah, kalau sampai asam lambungnya naik pas lagi ketemu client gimana?”

Tabiat seorang ibu memang sering mengomeli anaknya, namun Endra sendiri adalah tipe anak yang justru menikmati omelan tersebut.

“Iya, Ma. Aku lupa bilang ke Gina semalam. Lagipula aku juga nggak tega harus buat dia bangun lebih pagi lagi.”

Andai apa yang dikatakan oleh Endra adalah kenyataan, mungkin Gina akan merasakan perasaan senang luar biasa. Lagipula, ia sudah terbiasa bangun pagi untuk menunaikan sholat subuhnya dan juga beberapa kali terbangun lebih pagi lagi karena rasa mual efek kehamilan yang beberapa kali masih sering ia rasakan.

“Permisi, Pak. Berkasnya sudah selesai dipilah. Ini berkas yang akan menjadi bahan pertimbangan perusahaan untuk selanjutnya, dan yang ini akan saya bawa kembali untuk direvisi bersama pak Adrian.”

Endra yang masih mengunyah makanannya langsung menenggak air dan segera mengambil berkas itu dari tangan Safira. “Oh, iya, terima kasih, ya.”

“Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi. Bu Irma dan Bu Gina, saya permisi juga. selamat pagi.”

Raut wajah Safira masih sama seperti tadi, cenderung biasa saja dan menjurus ke ramah. Mungkin Gina harus lebih menormalkan perasaannya agar nanti jika Endra dan Safira kembali bersama ia tidak akan terkejut.

“Si dedek gimana? Baik, kan? Nggak bikin kamu repot?”

Endra yang juga tiba-tiba mengusap perutnya dengan lembut membuat Gina sangat ingin meneteskan air mata. Demi Tuhan, meskipun awalnya perasaannya cukup tidak tenang karena kehadiran Safira, tapi kini hal itu sudah terganti oleh rasa bahagia akibat kejutan-kejutan kecil yang didapatnya. Tidak banyak, hanya kecupan di dahi dan usapan lembut di perut. Anaknya pasti sangat senang di dalam sana.

Melihat tatapan Gina yang begitu menyimpan banyak makna, Endra lagi-lagi merasa tidak tenang. Tapi di satu sisi juga merasa beruntung karena secara tidak langsung takdir telah memberinya kesempatan untuk mewujudkan apa yang diinginkan istrinya tanpa harus membuang harga dirinya lebih dulu. Entah perasaan bersalah atau apa, yang jelas Endra sedikit merasa senang karenanya.

“Ndra, Gin, barusan Anna kirim pesan. Katanya dia ada keperluan mendadak, sementara di rumah lagi ada tukang yang benerin tembok kamar mandi dan nggak bisa ditinggal. Gina, mau ikut mama atau di sini saja?”

Jika sudah seperti ini, Gina menjadi bingung sendiri. Kalau ia ikut, maka akan lebih banyak kesempatan Irma untuk bertanya macam-macam padanya. Tapi jika tidak, maka ia harus diam di kantor Endra, setidaknya sampai Irma benar-benar pergi dari sana dan ia bisa kembali pulang ke rumah.

“Gina di sini saja, Ma. Nanti kalau dia bosan atau capek biar aku yang antarkan pulang.”

“Aduh, Mama jadi nggak enak. Padahal tadi sudah janji mau ajak jalan-jalan.”

“Bisa lain kali, Ma.”

Jawaban Endra akhirnya membuat Irma mengangguk dan segera membenahi penampilannya. Ia berpamitan kepada keduanya dan segera pergi karena Anna terus meneleponnya tanpa henti.

“A-aku tunggu mama sampai benar-benar pergi dulu.”

Endra tidak menjawab, ia kembali melanjutkan makannya dan sesekali melirik pada Gina yang hanya diam sembari memainkan ujung cardigan-nya. Andai saja Endra tahu, bahwa perempuan itu tengah bersorak dalam hatinya karena meski ibu mertuanya telah pergi, Endra masih mau menyantap masakannya.

“Kenapa mama datang?” tanya Endra tiba-tiba.

Ujung mata Gina sedikit melirik pada wajah Endra. “Aku nggak tahu. Mama tiba-tiba sudah ada di rumah waktu aku lagi di kamar.”

“Kamu nggak bilang apa-apa ke mama?”

“Nggak. Mama juga nggak tanya macam-macam.”

Beberapa saat kemudian Endra telah menyelesaikan sarapan telatnya.

“Mama sudah pergi lumayan lama.”

Gina tahu bahwa itu adalah kode dari Endra yang menyuruhnya untuk segera pergi dari ruangannya. Maka setelah mendengar kalimat itu, Gina segera membereskan bekas makan Endra dan bersiap-siap untuk segera pergi dari sana.

“Kalau begitu aku pergi sekarang.”

Sebenarnya Gina tidak tahu, ada apa gerangan yang membuat hari itu menjadi hari yang penuh kejutan untuknya. Apa karena ia sedang berulang tahun dan Endra berusaha memberinya kado berupa perlakuan-perlakuan yang lebih baik dari biasanya?

Sebab, bagaimana Gina tidak menyimpulkan demikian, jika tiba-tiba Endra ikut berdiri untuk mengambil jas dan kunci mobil lalu melangkah keluar ruangannya. Bahkan Gina sempat terdiam untuk beberapa saat sembari menatap punggung lebar sang suami. 

“Jangan sampai orang-orang tahu hubungan kita yang sebenarnya. Jadi cepat, pekerjaanku sedang banyak.”

Tanpa banyak bertanya lagi Gina langsung mengikuti langkah Endra. Selama berjalan menuju tempat parkir, ia menjawab banyak sapaan dari para karyawan Endra yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Dan tidak lupa, lengan Endra yang merangkul mesra pinggangnya menjadi satu poin plus atas berita yang beredar mengenai betapa harmonisnya pasangan yang sebentar lagi akan menjadi ibu dan ayah itu.

Namun saat sampai di basement parkir, Endra langsung melepaskan rangkulan itu dan berjalan tanpa menghiraukan Gina yang kesulitan mengikuti langkah-langkah besarnya.

“Mas-“

“Sudah kubilang cepat. Aku nggak punya banyak waktu buat keleletan kamu.”

Jadi Gina hanya menurut. Padahal ia sendiri takut akan mencelakakan anaknya jika harus berjalan terlalu cepat.

Begitu Gina masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi, Endra segera menginjak pedal gas dan pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pun mereka berdua hanya banyak diam. Terlebih Gina, ia rasa tidak ada yang perlu disampaikan meski sebenarnya ia ingin. Lagipula, Endra biasanya hanya akan mengantarkanya sampai seperempat jalan, dan ia akan melanjutkan perjalanan pulangnya dengan taxi.

Namun ketika Endra terus melaju tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, Gina tidak tahan untuk tidak bertanya, “Mas, belokannya terlewat. Kalau di tempat lain takutnya nggak bakalan ada taxi kosong yang lewat.”

Tidak ada jawaban. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan rumah mereka dengan selamat.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 50 - Usaha

    “STOP, PA, STOP!”Ardi sama sekali tak terpengaruh oleh teriakan sang istri yang berusaha menghentikannya untuk memukuli bajingan itu yang sayangnya adalah anak kandungnya sendiri.Sementara itu yang tengah dipukuli hanya diam pasrah, menerima setiap hantaman menyakitkan yang sudah ia terima sejak bermenit-menit lalu. Tak ada keinginan untuk melawan, pun menyangkal atas setiap lontaran kata kasar yang sang ayah tujukan padanya. Semuanya memang salahnya. Ia pantas mendapatkan semua ini.“Anak gak tahu diuntung! Gak tahu malu!” Ardi melayangkan pukulan terakhirnya pada wajah sang anak sebelum benar-benar berhenti. Ia bangkit dari posisi jongkoknya dengan napas yang memburu. “Kamu nggak dididik buat jadi bajingan! Kamu nggak dididik buat jadi laki-laki brengsek! Tanggung jawab Papa d

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 49 - Segunung Penyesalan

    “Singkat cerita, Gina kembali terbuka kepada saya, dia bercerita beberapa hal yang membuat saya sangat bersyukur karena secara nggak langsung Gina memberitahu saya bahwa dia sudah baik-baik saja. Rasanya sebagian besar kekhawatiran saya terangkat.” Senyuman lebar Oliv tunjukkan pada Endra. “Tapi sayangnya setelah itu komunikasi saya dengan Gina nggak sesering dulu. Saya kembali fokus pada karier dan hidup saya, begitu juga dengan Gina. Bahkan saya nggak tahu kalau Gina menikah dengan Mas Endra, saya baru tahu setahun kemudian ketika saya memberitahu perihal pernikahan saya.”Endra mengusap wajahnya frustasi. “Boleh saya tanya?”Oliv mengangguk. Ia meminum minumannya sebelum kembali menyimak Endra.“Apa ada orang lain yang tahu tentang ini?”

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 48 - Yang Sebenarnya Terjadi

    Rasti menutup mulutnya tak menyangka. Ia bergantian memandang Oliv dan Endra yang sama-sama larut dalam pikirannya. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit, membayangkan betapa tersiksanya menjadi wanita yang saat ini tengah mereka bicarakan.“Itu dari pihak ayahnya. Sementara ibunya memang tidak memiliki keluarga kandung karena besar di panti asuhan. Jadi sejak saat itu, mereka hanya hidup berempat. Gina sempat trauma hebat dan depresi karena kejadian itu, tapi akhirnya dia kembali sehat dan bisa lanjutin hidupnya.” Oliv menatap Endra yang menunduk dengan tangan yang mengepal erat di atas meja. “Mas Endra, semuanya sudah berlalu. Mungkin sisa-sisa memori itu masih sangat melekat di ingatan Gina. Asal tidak diingatkan hal yang menjurus ke sana, semuanya bakal baik-baik aja.”Terlambat. Kata demi kata yang ia lontarkan pada Gina mal

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 47 - Masa Lalu Gina

    “Bu Gina sudah tidak apa-apa. Tidak ada trauma kepala yang serius. Hanya saja… luka terbuka dan memar dari kekerasan fisik yang dialami cukup mengkhawatirkan, apalagi dengan kondisi baru melahirkan secara caesar dua bulan lalu.” Dokter itu melirik sang pasien yang tengah menatap ke arah jendela, kemudian kembali menatap lelaki di hadapannya. “Saran saya, penjagaan rumah harus diperketat, Pak, atau mungkin Bu Gina bisa ditemani anggota keluarga lain saat Bapak tidak ada. Kasus perampokan ini memang sedang marak, kita sulit memprediksi pergerakan mereka yang berniat jahat.”Endra mengangguk, kemudian mengucapkan terima kasih. Ia terpaksa mengarang cerita seperti itu karena demi Tuhan, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 46 - Trauma

    PLAK!!Hening sesaat. Wajah Gina masih tertoleh ke arah kanan akibat tamparan yang baru ia dapatkan dari sang suami. Rasanya panas dan perih. Ia yakin pipi kirinya sudah memerah.“Apa pernah aku mengizinkan kamu buat masukin lelaki lain ke rumah ini?”Nada bicara itu masih tenang, namun sangat menyiratkan amarah yang luar biasa.“Apa ini bukan yang pertama kali?”Pertanyaan itu ditanggapi gelengan oleh Gina. “Aku nggak kayak gitu, Mas.”“TERUS INI APA?!” Napas Endra naik turun karena emosi. “Bisa-bisanya kamu terima lelaki lain di saat suamimu lagi nggak ada di rumah? Bisa-bisanya kamu lancang dan biarkan dia men

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 45 - Kunjungan Darren

    “Kenapa Kak Darren ada di sini?”Di pintu rumahnya Gina menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Darren tidak datang sendiri, mungkin bersama Daffa atau Lia. Tapi nyatanya tidak. Pria dengan setelan kaus putih yang dibalut kemeja flannel dan dipadupadankan dengan jeans hitam itu hanya datang seorang diri. Tak lupa dengan paperbag yang dijinjingnya. “Maaf aku nggak bilang. Aku–““Kakak dapat alamatku dari mana?”“Kamu pernah kasih waktu aku mau kirim makanan.” Iya juga. Gina merutuki dirinya sendiri karena itu. Di dalam memang ada Bi Asih, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman karena bagaimanapun ia sudah bersuami. Terlebih, Endra akan marah besar jika tahu Darren telah menginjakkan kakinya di rumah itu. Tapi Gina pun tak enak jika harus membiarkan tamunya di luar rumah. “Masuk dulu, Kak.”Ajakan itu disambut senyum sumringah oleh bibir tipis Darren. Ia duduk di kursi ruang tamu dan menyimpan bawaannya di atas meja. “Ini ada sedikit bingkisan buat kamu. Nggak yang aneh

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 16 - Cuti

    Pagi ini Gina memutuskan untuk kembali memasakkan sarapan untuk Endra terlepas dari sang suami yang sebenarnya tidak meminta. Hanya saja, aneh rasanya jika kebiasaan yang hampir tiga tahun ia lakukan harus tiba-tiba dihentikan.Yang berbeda kali ini adalah Gina tidak menunggu Endra di meja makan, mel

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 7 - Sedikit Khawatir

    Pagi ini terasa ada yang berbeda. Endra tidak mencium aroma masakan yang biasanya selalu menguar hingga ke setiap penjuru rumah. Ia juga tidak mendengar adanya pergerakan atau tanda-tanda seseorang sedang memasak di dapur. Pun, meja makan yang biasanya sudah terisi kini masih dalam keadaan kosong.

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 6 - Amarah yang Meledak

    “Kenapa, Mas? Ada masalah di kantor?”Hari di mana Endra mengantarkan Gina pulang sampai ke rumah sudah satu minggu yang lalu, dan semenjak itu pula perlakuan Endra kembali kasar dan dingin padanya.Seperti malam ini. Lelaki itu pulang dengan wajah merah menahan amarah. Hal ini membuat Gina sebenar

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Prolog

    “Bukan akhiran seperti ini yang aku inginkan, mas. Bukan dengan menandatangani surat seperti ini lalu diakhiri dengan pertemuan di ruang sidang.” “Ini keputusanku dan kamu harus mengikutinya! Dua tahun ini sudah cukup aku menuruti semua keinginan kamu dan orangtuaku. Nggak lagi, Gina. Sudah cukup.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status