Share

Chapter 4 - Safira

Penulis: Nabila Irawan
last update Tanggal publikasi: 2022-09-13 22:37:13

Padatnya rutinitas di ibukota pada pagi hari menjadi salah satu kendala yang cukup serius bagi beberapa orang. Salah satunya adalah Endra. Beberapa kali terjebak macet di beberapa titik yang berbeda membuat waktunya harus terbuang percuma dan mengorbankan janjinya yang sudah ia buat kemarin siang bersama sang client.

“Iya, Pak. Sudah saya sampaikan kepada beliau bahwa anda kemungkinan akan terlambat karena terjebak macet. Beliau maklum dan merasa tidak keberatan jika harus menunggu sedikit lebih lama.”

Helaan napas lega langsung saja terdengar. “Syukur kalau begitu. Saya pastikan akan sampai dalam 15 menit.”

“Baik, Pak. Saya sampaikan kembali kepada beliau.”

“Terima kasih, Ji.”

“Dengan senang hati, pak.”

Endra menutup panggilannya dan kembali fokus pada jalanan. Jika bukan karena terlalu banyak merenung setelah mendengar ucapan Gina, ia tidak akan terlambat pergi ke kantor. Juga, sebenarnya ia sedikit menyesal dengan pilihannya untuk kembali masuk ke dalam rumah. Sebab kini pikiran dan hatinya malah terasa semakin gelisah dan tidak karuan.

Sial sekali.

***

“Gina?”

Seketika Gina terbangun dari tidur singkatnya di pagi hari ini. Tadinya ia hanya ingin menenangkan diri sebentar dengan cara menutupi tubuhnya dengan selimut, tapi ternyata ia malah ketiduran.

“Gina?”

Panggilan itu terdengar lagi. Jadi dengan segera Gina turun dari ranjangnya dan bergegas keluar kamar untuk menemui ibu mertuanya yang entah dari kapan sudah tiba di sana; berdiri di dekat dapur sembari menengok kanan kiri.

“Mama? Maaf, Ma, barusan Gina ketiduran,” ujarnya sembari menghampiri Irma –ibu mertuanya, untuk menyalaminya.

Melihat sang menantu yang tengah memegangi perutnya dengan sebelah tangan, membuat Irma tersenyum simpul. “Nggak usah minta maaf. Wajar saja, dulu waktu hamil Anna mama juga keseringan tidur.” Irma mengusap perut Gina dan kembali bertanya, “gimana keadaan kandungan kamu? Sehat, kan? Nggak ada masalah apa-apa, kan?”

“Alhamdulillah semuanya baik, Ma. Kalau ada apa-apa pasti Gina dan Mas Endra langsung hubungi Mama.”

“Iya, harus. Biar Mama, Papa dan Anna bisa langsung gerak cepat.”

Gina tidak pernah tidak tersenyum ketika sedang berbicara dengan Irma. Namun, pertanyaan Irma terkadang tidak selalu menyenangkan untuknya.

“Tapi kamu kenapa keluar dari kamar tamu? Nggak tidur di atas?”

“Gina agak capek kalau harus naik turun tangga, Ma. Jadi, Gina minta mas Endra untuk sementara pindah ke kamar bawah.”

“Oh, begitu.” Irma melangkahkan kakinya ke meja makan dan menemukan dua piring nasi dengan lauk yang sama sekali belum tersentuh. “Lalu ini? Kamu dan Endra nggak sarapan dulu?”

Apa Gina bilang.

“Mas Endra buru-buru pergi ke kantor karena ada sedikit masalah. Jadi rencananya makanannya mau Gina kirim aja ke sana.”

“Siapa yang mau kirim?”

“Mungkin… ojek online.”

“Gimana kalau mama anterin kamu ke kantornya Endra? Sekalian kita jalan-jalan.”

Karena sudah terlanjur dan tidak ingin membuat ibu mertuanya curiga, Gina hanya bisa mengangguk mengiyakan.

“Kalau begitu, Gina mau siapkan dulu makanannya.”

Irma mengangguk dan tersenyum. “Biar Mama bantu.”

Hingga satu setengah jam berlalu, mereka sudah sampai di lobi perusahaan milik Endra. Perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi ini sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu. Masih terbilang baru karena Endra benar-benar merintis semuanya dari nol.

“Selamat pagi Bu Irma dan Bu Gina. Ada yang bisa saya bantu?”

Resepsionis di sana begitu ramah dan sangat baik. Hal ini yang membuat Gina tidak pernah bosan datang ke perusahaan Endra meski kunjungannya ke tempat itu masih bisa dihitung dengan jari. Itu pun, hanya untuk mendukung sandiwara mereka.

“Endra ada di ruangannya?”

“Kebetulan Pak Endra sedang berada di ruang meeting, Bu. Apa mau saya sampaikan pada sekretaris beliau untuk memberi tahu kedatangan ibu dan Bu Gina?”

“Nggak perlu. Kami tunggu di depan ruangannya saja.”

“Ah, baik bu, silakan.”

“Terima kasih ya, Nina.”

“Dengan senang hati.”

Sedari tadi Gina hanya diam dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya. Bahkan ketika hendak pergi dari sana, ia sempatkan untuk menatap ke arah Nina dan sedikit menundukkan kepalanya sebagai gestur berpamitan, yang juga dibalas serupa oleh Nina.

“Hati-hati jalannya, nak, jangan sampai kepeleset.”

Gina mengangguk, “Iya, Ma.”

Akhirnya mereka telah sampai di lantai 7; lantai tertinggi dari bangunan tersebut. Mereka menunggu di sofa kecil di luar ruangan Endra sembari bercengkrama dan sesekali tertawa karena sesuatu yang lucu.

Hingga tak lama kemudian Endra muncul dari balik tembok sembari menggenggam beberapa berkas di tangannya. Hal itu disambut senyuman oleh Gina. Ia berdiri untuk melancarkan sandiwaranya dengan masih tersenyum manis.

Namun tak lama senyuman itu hilang, terganti dengan denyutan sakit yang hatinya rasakan secara tiba-tiba.

Endra memang ada di sana, berjalan tenang sembari melihat berkas di tangannya. Namun seseorang yang berjalan di belakang Endra cukup membuat Gina seperti kehilangan pikirannya untuk beberapa saat.

Safira…

Mantan kekasih Endra yang Gina sendiri tidak yakin bahwa mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Bagaimana pun, Safira, atau yang sering Endra panggil Fira, adalah seseorang yang masih Endra cintai hingga kini. Seseorang yang seringkali menjadi alasannya merasakan perasaan iri yang tidak berdasar. Padahal, ia sudah terbiasa ketika Endra mengatakan bahwa lelaki itu masih sangat mencintai Fira. Tapi kalau harus membayangkan bahkan melihat secara langsung interaksi mereka, rasanya Gina ingin segera pergi untuk merenungi perasaan sakitnya seharian.

“Loh, Mama?”

Irma yang juga sama-sama melihat apa yang Gina lihat hanya bisa menghela napas panjang. Ia alihkan pandangannya pada Safira yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Sejujurnya, Irma tidak pernah membenci Safira. Ketika ia meminta Safira untuk memahami kondisi keluarganya terutama Endra yang harus menikahi Gina, ia membicarakannya secara baik-baik dan diterima baik-baik pula oleh perempuan itu. Tapi sayangnya sekarang ada Gina di sampingnya, jadi ia sangat takut untuk melakukan sesuatu; takut melukai hati salah satu di antara keduanya.

Endra menolehkan wajahnya pada Safira sebelum memasang wajah tersenyumnya pada Irma dan Gina. “Mama dan Gina sudah lama di sini? Kenapa nggak langsung masuk saja? Ini juga. Kamu kan sudah biasa ke sini, kenapa nggak tunggu di dalam?”

Gina tahu Endra sudah memulai sandiwaranya, jadi ia tanggapi dengan sama antusiasnya. “Nggak apa, mas. Tadi kita tunggu sambil ngobrol  juga sama beberapa karyawan.”

“Oh, gitu.” Tatapan mata Endra kembali pada Safira, dan hal itu cukup membuat hati Gina kembali berdenyut nyeri. “Kamu jangan salah paham, ya, sayang. Safira di sini karena perusahaan tempatnya bekerja sedang ada proyek dengan perusahaan ini. Kamu nggak apa kan?”

“Nggak, kok, nggak apa-apa. Santai saja.”

Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Gina berharap bahwa tadi pagi ia belum bangun. Dan ini hanyalah salah satu mimpi acaknya yang tidak sengaja melintas dalam tidur singkatnya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 50 - Usaha

    “STOP, PA, STOP!”Ardi sama sekali tak terpengaruh oleh teriakan sang istri yang berusaha menghentikannya untuk memukuli bajingan itu yang sayangnya adalah anak kandungnya sendiri.Sementara itu yang tengah dipukuli hanya diam pasrah, menerima setiap hantaman menyakitkan yang sudah ia terima sejak bermenit-menit lalu. Tak ada keinginan untuk melawan, pun menyangkal atas setiap lontaran kata kasar yang sang ayah tujukan padanya. Semuanya memang salahnya. Ia pantas mendapatkan semua ini.“Anak gak tahu diuntung! Gak tahu malu!” Ardi melayangkan pukulan terakhirnya pada wajah sang anak sebelum benar-benar berhenti. Ia bangkit dari posisi jongkoknya dengan napas yang memburu. “Kamu nggak dididik buat jadi bajingan! Kamu nggak dididik buat jadi laki-laki brengsek! Tanggung jawab Papa d

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 49 - Segunung Penyesalan

    “Singkat cerita, Gina kembali terbuka kepada saya, dia bercerita beberapa hal yang membuat saya sangat bersyukur karena secara nggak langsung Gina memberitahu saya bahwa dia sudah baik-baik saja. Rasanya sebagian besar kekhawatiran saya terangkat.” Senyuman lebar Oliv tunjukkan pada Endra. “Tapi sayangnya setelah itu komunikasi saya dengan Gina nggak sesering dulu. Saya kembali fokus pada karier dan hidup saya, begitu juga dengan Gina. Bahkan saya nggak tahu kalau Gina menikah dengan Mas Endra, saya baru tahu setahun kemudian ketika saya memberitahu perihal pernikahan saya.”Endra mengusap wajahnya frustasi. “Boleh saya tanya?”Oliv mengangguk. Ia meminum minumannya sebelum kembali menyimak Endra.“Apa ada orang lain yang tahu tentang ini?”

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 48 - Yang Sebenarnya Terjadi

    Rasti menutup mulutnya tak menyangka. Ia bergantian memandang Oliv dan Endra yang sama-sama larut dalam pikirannya. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit, membayangkan betapa tersiksanya menjadi wanita yang saat ini tengah mereka bicarakan.“Itu dari pihak ayahnya. Sementara ibunya memang tidak memiliki keluarga kandung karena besar di panti asuhan. Jadi sejak saat itu, mereka hanya hidup berempat. Gina sempat trauma hebat dan depresi karena kejadian itu, tapi akhirnya dia kembali sehat dan bisa lanjutin hidupnya.” Oliv menatap Endra yang menunduk dengan tangan yang mengepal erat di atas meja. “Mas Endra, semuanya sudah berlalu. Mungkin sisa-sisa memori itu masih sangat melekat di ingatan Gina. Asal tidak diingatkan hal yang menjurus ke sana, semuanya bakal baik-baik aja.”Terlambat. Kata demi kata yang ia lontarkan pada Gina mal

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 47 - Masa Lalu Gina

    “Bu Gina sudah tidak apa-apa. Tidak ada trauma kepala yang serius. Hanya saja… luka terbuka dan memar dari kekerasan fisik yang dialami cukup mengkhawatirkan, apalagi dengan kondisi baru melahirkan secara caesar dua bulan lalu.” Dokter itu melirik sang pasien yang tengah menatap ke arah jendela, kemudian kembali menatap lelaki di hadapannya. “Saran saya, penjagaan rumah harus diperketat, Pak, atau mungkin Bu Gina bisa ditemani anggota keluarga lain saat Bapak tidak ada. Kasus perampokan ini memang sedang marak, kita sulit memprediksi pergerakan mereka yang berniat jahat.”Endra mengangguk, kemudian mengucapkan terima kasih. Ia terpaksa mengarang cerita seperti itu karena demi Tuhan, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 46 - Trauma

    PLAK!!Hening sesaat. Wajah Gina masih tertoleh ke arah kanan akibat tamparan yang baru ia dapatkan dari sang suami. Rasanya panas dan perih. Ia yakin pipi kirinya sudah memerah.“Apa pernah aku mengizinkan kamu buat masukin lelaki lain ke rumah ini?”Nada bicara itu masih tenang, namun sangat menyiratkan amarah yang luar biasa.“Apa ini bukan yang pertama kali?”Pertanyaan itu ditanggapi gelengan oleh Gina. “Aku nggak kayak gitu, Mas.”“TERUS INI APA?!” Napas Endra naik turun karena emosi. “Bisa-bisanya kamu terima lelaki lain di saat suamimu lagi nggak ada di rumah? Bisa-bisanya kamu lancang dan biarkan dia men

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 45 - Kunjungan Darren

    “Kenapa Kak Darren ada di sini?”Di pintu rumahnya Gina menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Darren tidak datang sendiri, mungkin bersama Daffa atau Lia. Tapi nyatanya tidak. Pria dengan setelan kaus putih yang dibalut kemeja flannel dan dipadupadankan dengan jeans hitam itu hanya datang seorang diri. Tak lupa dengan paperbag yang dijinjingnya. “Maaf aku nggak bilang. Aku–““Kakak dapat alamatku dari mana?”“Kamu pernah kasih waktu aku mau kirim makanan.” Iya juga. Gina merutuki dirinya sendiri karena itu. Di dalam memang ada Bi Asih, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman karena bagaimanapun ia sudah bersuami. Terlebih, Endra akan marah besar jika tahu Darren telah menginjakkan kakinya di rumah itu. Tapi Gina pun tak enak jika harus membiarkan tamunya di luar rumah. “Masuk dulu, Kak.”Ajakan itu disambut senyum sumringah oleh bibir tipis Darren. Ia duduk di kursi ruang tamu dan menyimpan bawaannya di atas meja. “Ini ada sedikit bingkisan buat kamu. Nggak yang aneh

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 3 - Resah

    Malam hari akan menjadi saat-saat paling dingin nan sunyi untuk Gina. Tak terkecuali juga malam ini; malam di mana ia akan menyambut detik-detik peringatan hari kelahirannya ke dunia ini 24 tahun silam. Hari di mana telah terlahir sesosok bayi cantik yang mungil, yang tidak akan ada seorang pun yan

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 2 - Sarapan dan Pernikahan

    “Sarapan dulu, Mas.” Endra yang baru turun dari tangga sama sekali tidak ingin menanggapi tawaran Gina. Lelaki berperawakan tinggi itu hanya melengos dan terus berjalan menuju pintu untuk segera pergi bekerja. Meski sudah terbiasa, terkadang Gina selalu merasa sedih ketika harus kembali makan seo

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 1 - Hanya Bayangan

    Plak! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Endra tepat ketika kalimat terakhirnya terucap. “Di mana nurani kamu, Kak?! Di mana letak nurani kamu sampai kamu tega berkata seperti itu pada Kak Gina?!” Itu adiknya. Adik kandung Endra yang masih duduk di bangku kuliah. Anna namanya. Sedari tadi, ia

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Prolog

    “Bukan akhiran seperti ini yang aku inginkan, mas. Bukan dengan menandatangani surat seperti ini lalu diakhiri dengan pertemuan di ruang sidang.” “Ini keputusanku dan kamu harus mengikutinya! Dua tahun ini sudah cukup aku menuruti semua keinginan kamu dan orangtuaku. Nggak lagi, Gina. Sudah cukup.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status