Share

Bab 4

Author: WinaraBZ
last update publish date: 2026-02-23 08:29:36

Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karim dan Ziyan bersiap menuju lokasi lahan resort yang akan dibangun. Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja kecil ruang makan hotel. Karim berdiri di dekat jendela, memandang keluar sebentar sebelum akhirnya berbicara.

“Ziyan.”

“Iya, Tuan.”

Bagaimana progres pergantian mobil Aim? Sudah kamu selidiki?”

Ziyan tidak langsung menjawab. Ia membuka tablet di tangannya, menampilkan beberapa catatan.

“Sudah, Tuan. Data lengkap sudah saya kumpulkan semalam dan Dirman sudah mengantonginya.”

Karim menoleh, memberi isyarat agar ia melanjutkan.

“Nama lengkapnya Aimuddin, biasa dipanggil Aim. Carry biru itu milik pribadi, bukan pinjaman atau operasional kantor. Dipakai untuk kerja sekaligus keluarga.”

Karim mendengarkan tanpa memotong.

“Beliau sudah lama ingin mengganti mobil. Bahkan beberapa kali bertanya soal tukar tambah di bengkel langganannya.”

“Motivasinya?” tanya Karim singkat.

“Anak-anaknya sudah besar. Mobil terasa sempit. Dan…” Ziyan sedikit tersenyum, “istrinya sangat mendambakan Grand Livina.”

Karim terdiam beberapa detik.

“Sejak lama?” tanyanya pelan.

Menurut informasi dari Pak Anton, sudah cukup lama. Aim sering bercanda katanya tidak mungkin ada orang mau tukar tambah Livina mahal dengan Carry lamanya.”

Karim mengangguk pelan. “Bagus. Itu artinya kita tidak memaksakan sesuatu yang tidak ia inginkan.”

“Benar, Tuan. Justru ini keinginan yang tertunda.”

Karim berjalan pelan ke arah meja, mengambil barang pribadi yang akan dibawahnya survei lokasi. “Pastikan satu hal.”

Apa itu, Tuan?”

“Transaksi harus wajar. Dia tetap merasa membeli dengan kemampuannya sendiri. Jangan sampai harga dirinya tersentuh.”

Ziyan mengangguk mantap. “Daeng Dirman sudah saya arahkan untuk mendekati lewat bengkel Pak Anton. Hari ini kemungkinan besar dirman tengah menghubungi Aim.”

Karim tersenyum tipis. “Ok. Setelah dari lokasi resort, saya ingin semuanya sudah sesuai yang saya harapkan.”

Siap, Tuan.”

Karim melangkah keluar lebih dulu.

Sementara Ziyan menatap kembali catatannya.

Semua data cocok. Mobil milik pribadi.Ada niat lama untuk mengganti.Istri sangat menginginkan Grand Livina. Ini bukan sekadar membantu. Ini menyempurnakan keinginan yang sudah ada. Sepertinya semesta mendukung.

"Assalamualaikum, dengan Pak Aim?”

“Waalaikumsalam. Iye, betul pak. Ada yang bisa saya bantuki? Mohon maaf, tabe. Dengan siapa ini?”

“Iye Pak Aim, saya dapat nomor ta dari bengkel Pak Anton. Katanya mauki tukar tambah mobil ta yang Carry itu? Saya ini sudah lama cari-cari Carry.”

“Iye, betul pak. Tapi mobilku ini sudah tuami. Saya dapat waktu lelang di kantor pajak, kupakai ji untuk kantor. Begini saja pak, bagaimana kalau kita ketemu jam 11? Biar kita sama-sama lihat mobil. Siapa tahu sama-samaki suka.”

“Baik pale Pak Aim. Oh iya, maaf lupa perkenalkan diri. Save mi nomor ku atas nama Daeng Dirman. Nanti saya kasih lokasi. Jangan lupa bawaki surat-suratnya, siapa tahu berjodohka dengan mobil ta. Soalnya saya mau terbang lagi ke Jakarta, jadi agak padatka. Nanti kita lanjut bicara di sana. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Telepon pun berakhir.

Daeng Dirman tersenyum puas. Alhamdulillah, akhirnya ada jalan juga mengganti mobil suami Bunda Zayna. Big Boss kasih tugas mendadak, waktunya pun sempit. Untung anak buah Pak Ziyan dimana-mana, jadi mudah cari informasi.

Ia menatap Grand Livina miliknya. Oh Livina, maafkan. Baru setahun kita bersama, tapi kamu akan punya tuan baru.

Di Rumah Bunda Zayna

“Siapa pah?” tanya Bunda Zayna penasaran. “Temannya Anton, dek. Katanya mau lihat mobil. Tapi astagfirullah… kulupa tanya mobil apa punyanya.”

Bunda Zayna geleng-geleng sambil tersenyum. “Ya ampun papa ini. Sudah, nanti dilihat saja dulu. Jangan beli mobil dalam karung. Periksa baik-baik suratnya. Kalau memang mau tambah, plafonku bisa lima juta.”

Siap sayang, insyaAllah. Kayaknya si biru ini tidak lama lagi bersama kita.”Ada rasa sedih, tapi juga harapan. Ia membayangkan anak-anak tidak lagi berdesak-desakan di mobil.

“Jam berapa mi ini pah?”

“Jam 10 check in toh. Kita berangkat jam 9. saya mau beli camilan dulu untuk anak-anak”

“Ok Mah. Saya siapkan surat-suratnya dulu. Siapa tahu memang rezekyta.”

Ziyan: Assalamualaikum bunda, mohon maaf ada perubahan tempat pertemuan. Bunda Zayna dan keluarga diarahkan menginap di Hotel Satria Wisata.

Bunda Zayna: Baik tuan, terima kasih informasinya.

“Selamat datang di Hotel Satria Wisata. Ada yang bisa kami bantu?” “Iye mba, kami mau check-in. Reservasi atas nama Tuan Karim.”

“Baik, mohon ditunggu.” Pak, Bu, ini kuncinya. Tio, tolong antar ke Suite Family lantai dua.”

Room boy mengantar mereka. “Ini kamarnya, Pak/Bu. Ada lagi yang bisa saya bantu?” “Terima kasih, mas. Bisa dijelaskan fasilitasnya? Hehe… saya dari kampung.” Room boy tersenyum ramah dan menjelaskan satu per satu fasilitas kamar. “Baik bu, kalau butuh apa-apa silakan hubungi room service.” “Terima kasih banyak, mas. Ini tipnya.”

Setelah sendiri, Bunda Zayna mencoba satu per satu fasilitas kamar dengan rasa takjub. Sepertinya Tuan Karim sengaja pilih hotel ini. Aksesnya dekat ke mana-mana.”

Tak lama, Aim mendekat. “Dek, saya pergi dulu. Sudah ada lokasi pertemuan dengan Daeng Dirman.” “Ketemu di mana pah?” “Warkop M.Coffee.” “Hati-hati ya. Jangan lama, kita mau ketemu Tuan Karim ba’da Ashar.”

“InsyaAllah.” Aim pun pergi.

“Anak-anak, ayo berenang!”

“Horeee!”

“Tunggu, mama siapkan camilan dulu.”

“Yes, Bos Mama!” sahut Ana dan Zayan kompak.

Di Tempat Lain “Bagaimana Bunda Zayna dan keluarga?” tanya Karim. “Sudah di hotel, sekarang menemani anak-anak berenang. Suaminya lagi proses jual beli mobil dengan Dirman.”

“Bagus. Pastikan semuanya lancar. Oh iya, hubungi hotel. Antar camilan berat dan ringan ke kolam renang. Masukkan ke tagihanku.”

Ziyan terdiam. Perhatian banget sama istri orang, gumamnya pelan. Karim menatapnya. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa, bos,” jawab Ziyan cepat sambil berlalu.

Di Warkop M.Coffee

“Assalamualaikum, dengan Daeng Dirman?”

“Iye, dengan Pak Aim?”

“Iye, alhamdulillah bisa ketemu.”

“Mana mobil ta?”

“Itu, yang biru di samping Grand Livina.”

Dirman menoleh. Carry biru itu terparkir tepat di samping Livinanya. “Masih bagus ji mesinnya?"

"kita cobami dulu daeng,belum pernah turun mesin itu” katanya. “Apa mobil ta daeng,kulupa tanya?” hehehe

“Grand Livina itu pas disamping mobilmu. Rute Pare-Pare–Makassar ji, dua minggu sekali. Selebihnya dalam kota.”

Aim tertegun,mobil yang jadi perhatiannya ketika mencari parkiran. Mobil itu jauh dari bayanangannya dan rasanya timpang dibandingkan Carry miliknya.

“Coba maki juga,” ajak Dirman membuyarkan lamunan Aim.

Setelah test drive dan pemeriksaan surat-surat, mereka duduk kembali.“Bagaimana, Pak Aim?”

“Bagus sekali pak. Kayaknya tidak level ki dengan mobilku.” Dirman tersenyum tipis. “Saya suka ji Carry ta. Tapi mungkin kita tukar tambah". Dirman mencoba merabah kemampuan Aim. "Tambahmi sepuluh juta.”

Aim mengangguk dan menjauh sebentar untuk menelepon istrinya.

Di Kolam Renang

“Permisi, dengan Bunda Zayna?”

“Iya mba?”

“Ada pesanan untuk ibu dari Tuan Ziyan.”

“Oh, terima kasih. Beliau nginap di hotel ini?”

“Iye bu, tapi tadi keluar di pagi hari bersama Tuan Karim. Beliau memesan via telepon.”

Tak lama, ponsel Bunda Zayna berbunyi.

“Assalamualaikum dek.”

“Waalaikumsalam. Bagaimana kak?”

“Mobilnya Grand Livina. Bagus sekali. Body, mesin, surat lengkap. Tapi beliau minta tambah sepuluh juta.”

“Sepuluh juta?” Bunda Zayna terdiam sejenak. “Saldo rekeningku lima juta. Cash balance mungkin dua atau tiga juta. Saya withdraw dulu kak mungkin 2/3 jam sudah ada. Coba tawar tujuh atau delapan juta. Kalau tidak bisa, jangan dipaksakan. Berarti belum rezekyta.”

Aim menarik napas panjang.

“Iye dek. Kita coba dulu.”

Bunda Zayna menatap anak-anak yang tertawa riang di kolam. Matanya berbinar, Kalau memang berjodoh, mobil impianku akan datang dengan cara yang indah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Investor Asing   Bab. 195

    Zayna perlahan membuka matanya. Pandangan matanya masih kabur. Kepalanya terasa berat, sementara tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga. Ia mencoba menggerakkan tangannya, lalu menoleh ke sekeliling. Ia mendapati dirinya berada di sebuah kamar sederhana. Bukan kamar rumah sakit.Beberapa saat Zayna hanya terdiam, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Kemudian ingatan itu datang kembali—suaminya, ia belum mengetahui setelahnya. Dadanya terasa sesak, entah mengapa ia merasakan firasat buruk.Sementara itu, jenazah Aim telah dibawa ke pesantren yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tempat Aim sebelumnya mendapatkan perawatan.Setelah melalui pembicaraan dengan pihak pesantren dan atas persetujuan Zayan, mereka memutuskan untuk mengurus jenazah Aim di sana. Zayan tahu, jika bundanya sudah sadar, Zayna pasti akan menyetujui keputusan tersebut.Untuk sementara, Zayna belum ingin bertemu dengan banyak orang yang mengenalnya. Ia hanya ingin berada di tempat yang tenang, jauh dari

  • Investor Asing   Bab. 194

    Aim yang sejak tadi sudah terbangun hanya diam memperhatikan istrinya. Ada rasa haru yang begitu dalam di matanya.Selama hampir seminggu terakhir, pihak rumah sakit menyarankan agar Aim dan Zayna tetap menjalani rawat inap. Kondisi Aim memang belum memungkinkan untuk langsung dibawa pulang. Ia ditempatkan di kamar kelas satu yang cukup nyaman, jauh dari keramaian, sehingga Zayna bisa mendampinginya dengan lebih tenang.Mata Aim perlahan terbuka. “Bunda...”Suara Zayan terdengar pelan. "Bunda, Ayah memanggil"Zayna menoleh ke arah suaminya. “Ayah...”Ia segera mendekat. “Ada yang sakit?” tanyanya cemas.Aim menggeleng pelan sambil tersenyum.Ia kemudian memberikan isyarat agar Zayna mendekat. Zayna duduk di sisi tempat tidur.Aim menggenggam tangannya. “Ayah mungkin... tidak bisa menemani Bunda lagi.”Zayna tertegun. “Maksud Ayah apa?” Air mata mulai menggenang di matanya. “Ayah sudah sehat. Kata dokter, Ayah sudah bisa pulang.”Aim hanya tersenyum, selama ini ia memang sengaja meny

  • Investor Asing   Bab. 193

    Sementara itu, di Pare-Pare, Kelvin tidak tinggal diam. Ia mulai mengumpulkan bukti dari lapangan, termasuk mencari orang-orang yang pernah melihat langsung beberapa kejadian yang kini dipelintir di media. Satu per satu saksi ia hubungi dan dimintai keterangan.Eksel bekerja sama dengan ayahnya tanpa kenal lelah, mereka menjadikan ini sebagai wujud menebus rasa bersalahnya karena telah menjadi bagian penyebab masalah.Keduanya menyusun seluruh bukti secara menyeluruh, mulai dari foto dan video asli, metadata, waktu pembuatan file, hingga jejak penyuntingan yang ditemukan pada materi yang beredar. Mereka tidak ingin menyisakan celah sedikit pun.Setiap bukti diperiksa ulang dan dicocokkan dengan keterangan saksi maupun data digital yang mereka miliki. Jika ada satu bagian yang masih meragukan, mereka kembali memeriksanya. Hampir tiga kali dua puluh empat jam mereka bekerja tanpa benar-benar berhenti.Sementara itu, Ziyan juga sudah menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. I

  • Investor Asing   Bab. 192

    Beberapa waktu kemudian, Karim dan Ziyan tiba di salah satu pusat kerja tim Karim. Ruangan itu dipenuhi perangkat komputer, monitor, serta berbagai peralatan jaringan yang tersusun rapi. Tempat itu memang dirancang sebagai salah satu pusat kendali untuk pekerjaan tim yang membutuhkan koordinasi jarak jauh.Kelvin dan Eksel tidak berada di ruangan yang sama, Eksel tetap berada di Jakarta, sementara Kelvin masih berada di Pare-Pare. Sesuai instruksi Sonia.Kelvin masih berpura-pura seolah-olah berada di pihaknya. Karena itu, keberadaannya di Pare-Pare tetap dipertahankan. Hal ini menjadi keuntungan buat Karim apabila memerlukan bukti-bukti penguat karena berada di daerah yang sama dengan Bunda Zayna.Meski terpisah oleh jarak, Kelvin dan Eksel tetap bekerja dalam satu jaringan server yang sama. Keduanya sudah memahami pembagian tugas masing-masing.Kelvin bergabung dengan tim pengawal Karim disebuah ruangan yang pernah ia buat sendiri ketika dulu menyelidiki Zayna. Begitu instruksi Kari

  • Investor Asing   Bab. 191

    “Tuan!”Ziyan bergegas menemui Karim dengan wajah panik. Napasnya bahkan masih terdengar berat ketika ia menyerahkan ponselnya.Karim mengerutkan kening.“Ada apa?”Ziyan tidak langsung menjawab. Ia hanya menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan sejumlah berita terbaru.Karim membaca beberapa judul yang terpampang di sana. Wajahnya perlahan berubah.“Astagfirullahaladzim...”Ia terdiam, untuk beberapa detik, Karim seperti kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Dadanya terasa sesak, seolah sebuah godam baru saja menghantam tepat ke dalam hatinya.Namun, seperti biasa, ia berusaha mengendalikan dirinya.“Amankan Bunda Zayna dan keluarganya sekarang.” Suaranya tegas meskipun matanya mulai memerah. “Blokir seluruh akses berita yang bisa masuk ke pesantren Ana. Jangan sampai anak itu mengetahui apa yang sedang terjadi.” Air mata tanpa sadar jatuh dari sudut matanya.Ziyan terdiam, selama bertahun-tahun bekerja bersama Karim, baru kali ini ia melihat bosnya menangis.“Tuan...”“Lanjut

  • Investor Asing   Bab. 190

    Di layar televisi, tiba-tiba muncul sosok pengusaha terkenal, Wajah Karim ditampilkan di beberapa stasiun televisi, lalu disandingkan dengan foto Zayna.Aim terdiam, matanya menatap layar tanpa berkedip. Beberapa foto mereka yang sebenarnya biasa saja telah diedit sedemikian rupa sehingga terlihat jauh lebih intim. Pertemuan awal mereka yang memang pernah terjadi dua kali ditampilkan seolah-olah merupakan rangkaian pertemuan rahasia. Bahkan beberapa pertemuan melalui ruang virtual pun ikut dimasukkan sebagai bagian dari narasi yang sengaja dibangun.Tidak berhenti di sana, tiket perjalanan yang memang pernah digunakan Zayna bersama keluarganya juga ditampilkan. Namun, semuanya digiring menjadi sebuah cerita yang sama sekali berbeda.Seolah-olah Zayna diam-diam melakukan perjalanan bersama Karim. “Astagfirullah...” Aim menutup mulutnya dengan tangan.“Tidak mungkin...” Pikirannya berusaha mencari penjelasan. 'Mungkinkah Tuan Karim yang melakukan semua ini?' Namun, ia segera menggeleng.

  • Investor Asing   Bab 2

    “Hmm… sebelumnya saya pernah ditelepon seseorang bernama Karim,” ucap Bunda Zayna pelan, duduk berhadapan dengan suaminya di ruang tamu sederhana mereka. “Dia ingin saya mengelola akun RDN-nya. Katanya pakai referral saya, dengan pembagian hasil 75:25.”Suaminya mengernyit. “Langsung begitu saja?”

  • Investor Asing   Bab. 1

    Adzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur. Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan.Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana,

  • Investor Asing   Bab. 79

    Kalimat itu membuat Karim spontan mengernyit, refleks ia menoleh ke belakang di sana ada Mommynya berdiri. Tangannya masih menggenggam nampan camilan hangat, namun wajahnya tampak membeku. Tatapannya bertemu dengan mata Karim beberapa detik tanpa suara, Karim sedikit terkejut. “Mommy... sejak kapa

  • Investor Asing   Bab 6

    Ruang VIP hotel itu masih menyimpan kehangatan pertemuan yang baru saja usai. Dokumen kontrak telah ditandatangani. Map hitam eksklusif kini tertutup rapi di atas meja marmer. Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajah-wajah yang baru saja mengikat kerja sama besar. Karim berdiri lebih dulu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status