LOGINPagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karim dan Ziyan bersiap menuju lokasi lahan resort yang akan dibangun. Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja kecil ruang makan hotel. Karim berdiri di dekat jendela, memandang keluar sebentar sebelum akhirnya berbicara.
“Ziyan.” “Iya, Tuan.” Bagaimana progres pergantian mobil Aim? Sudah kamu selidiki?” Ziyan tidak langsung menjawab. Ia membuka tablet di tangannya, menampilkan beberapa catatan. “Sudah, Tuan. Data lengkap sudah saya kumpulkan semalam dan Dirman sudah mengantonginya.” Karim menoleh, memberi isyarat agar ia melanjutkan. “Nama lengkapnya Aimuddin, biasa dipanggil Aim. Carry biru itu milik pribadi, bukan pinjaman atau operasional kantor. Dipakai untuk kerja sekaligus keluarga.” Karim mendengarkan tanpa memotong. “Beliau sudah lama ingin mengganti mobil. Bahkan beberapa kali bertanya soal tukar tambah di bengkel langganannya.” “Motivasinya?” tanya Karim singkat. “Anak-anaknya sudah besar. Mobil terasa sempit. Dan…” Ziyan sedikit tersenyum, “istrinya sangat mendambakan Grand Livina.” Karim terdiam beberapa detik. “Sejak lama?” tanyanya pelan. Menurut informasi dari Pak Anton, sudah cukup lama. Aim sering bercanda katanya tidak mungkin ada orang mau tukar tambah Livina mahal dengan Carry lamanya.” Karim mengangguk pelan. “Bagus. Itu artinya kita tidak memaksakan sesuatu yang tidak ia inginkan.” “Benar, Tuan. Justru ini keinginan yang tertunda.” Karim berjalan pelan ke arah meja, mengambil barang pribadi yang akan dibawahnya survei lokasi. “Pastikan satu hal.” Apa itu, Tuan?” “Transaksi harus wajar. Dia tetap merasa membeli dengan kemampuannya sendiri. Jangan sampai harga dirinya tersentuh.” Ziyan mengangguk mantap. “Daeng Dirman sudah saya arahkan untuk mendekati lewat bengkel Pak Anton. Hari ini kemungkinan besar dirman tengah menghubungi Aim.” Karim tersenyum tipis. “Ok. Setelah dari lokasi resort, saya ingin semuanya sudah sesuai yang saya harapkan.” Siap, Tuan.” Karim melangkah keluar lebih dulu. Sementara Ziyan menatap kembali catatannya. Semua data cocok. Mobil milik pribadi.Ada niat lama untuk mengganti.Istri sangat menginginkan Grand Livina. Ini bukan sekadar membantu. Ini menyempurnakan keinginan yang sudah ada. Sepertinya semesta mendukung. "Assalamualaikum, dengan Pak Aim?” “Waalaikumsalam. Iye, betul pak. Ada yang bisa saya bantuki? Mohon maaf, tabe. Dengan siapa ini?” “Iye Pak Aim, saya dapat nomor ta dari bengkel Pak Anton. Katanya mauki tukar tambah mobil ta yang Carry itu? Saya ini sudah lama cari-cari Carry.” “Iye, betul pak. Tapi mobilku ini sudah tuami. Saya dapat waktu lelang di kantor pajak, kupakai ji untuk kantor. Begini saja pak, bagaimana kalau kita ketemu jam 11? Biar kita sama-sama lihat mobil. Siapa tahu sama-samaki suka.” “Baik pale Pak Aim. Oh iya, maaf lupa perkenalkan diri. Save mi nomor ku atas nama Daeng Dirman. Nanti saya kasih lokasi. Jangan lupa bawaki surat-suratnya, siapa tahu berjodohka dengan mobil ta. Soalnya saya mau terbang lagi ke Jakarta, jadi agak padatka. Nanti kita lanjut bicara di sana. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Telepon pun berakhir. Daeng Dirman tersenyum puas. Alhamdulillah, akhirnya ada jalan juga mengganti mobil suami Bunda Zayna. Big Boss kasih tugas mendadak, waktunya pun sempit. Untung anak buah Pak Ziyan dimana-mana, jadi mudah cari informasi. Ia menatap Grand Livina miliknya. Oh Livina, maafkan. Baru setahun kita bersama, tapi kamu akan punya tuan baru. Di Rumah Bunda Zayna “Siapa pah?” tanya Bunda Zayna penasaran. “Temannya Anton, dek. Katanya mau lihat mobil. Tapi astagfirullah… kulupa tanya mobil apa punyanya.” Bunda Zayna geleng-geleng sambil tersenyum. “Ya ampun papa ini. Sudah, nanti dilihat saja dulu. Jangan beli mobil dalam karung. Periksa baik-baik suratnya. Kalau memang mau tambah, plafonku bisa lima juta.” Siap sayang, insyaAllah. Kayaknya si biru ini tidak lama lagi bersama kita.”Ada rasa sedih, tapi juga harapan. Ia membayangkan anak-anak tidak lagi berdesak-desakan di mobil. “Jam berapa mi ini pah?” “Jam 10 check in toh. Kita berangkat jam 9. saya mau beli camilan dulu untuk anak-anak” “Ok Mah. Saya siapkan surat-suratnya dulu. Siapa tahu memang rezekyta.” Ziyan: Assalamualaikum bunda, mohon maaf ada perubahan tempat pertemuan. Bunda Zayna dan keluarga diarahkan menginap di Hotel Satria Wisata. Bunda Zayna: Baik tuan, terima kasih informasinya. “Selamat datang di Hotel Satria Wisata. Ada yang bisa kami bantu?” “Iye mba, kami mau check-in. Reservasi atas nama Tuan Karim.” “Baik, mohon ditunggu.” Pak, Bu, ini kuncinya. Tio, tolong antar ke Suite Family lantai dua.” Room boy mengantar mereka. “Ini kamarnya, Pak/Bu. Ada lagi yang bisa saya bantu?” “Terima kasih, mas. Bisa dijelaskan fasilitasnya? Hehe… saya dari kampung.” Room boy tersenyum ramah dan menjelaskan satu per satu fasilitas kamar. “Baik bu, kalau butuh apa-apa silakan hubungi room service.” “Terima kasih banyak, mas. Ini tipnya.” Setelah sendiri, Bunda Zayna mencoba satu per satu fasilitas kamar dengan rasa takjub. Sepertinya Tuan Karim sengaja pilih hotel ini. Aksesnya dekat ke mana-mana.” Tak lama, Aim mendekat. “Dek, saya pergi dulu. Sudah ada lokasi pertemuan dengan Daeng Dirman.” “Ketemu di mana pah?” “Warkop M.Coffee.” “Hati-hati ya. Jangan lama, kita mau ketemu Tuan Karim ba’da Ashar.” “InsyaAllah.” Aim pun pergi. “Anak-anak, ayo berenang!” “Horeee!” “Tunggu, mama siapkan camilan dulu.” “Yes, Bos Mama!” sahut Ana dan Zayan kompak. Di Tempat Lain “Bagaimana Bunda Zayna dan keluarga?” tanya Karim. “Sudah di hotel, sekarang menemani anak-anak berenang. Suaminya lagi proses jual beli mobil dengan Dirman.” “Bagus. Pastikan semuanya lancar. Oh iya, hubungi hotel. Antar camilan berat dan ringan ke kolam renang. Masukkan ke tagihanku.” Ziyan terdiam. Perhatian banget sama istri orang, gumamnya pelan. Karim menatapnya. “Kenapa?” “Tidak apa-apa, bos,” jawab Ziyan cepat sambil berlalu. Di Warkop M.Coffee “Assalamualaikum, dengan Daeng Dirman?” “Iye, dengan Pak Aim?” “Iye, alhamdulillah bisa ketemu.” “Mana mobil ta?” “Itu, yang biru di samping Grand Livina.” Dirman menoleh. Carry biru itu terparkir tepat di samping Livinanya. “Masih bagus ji mesinnya?" "kita cobami dulu daeng,belum pernah turun mesin itu” katanya. “Apa mobil ta daeng,kulupa tanya?” hehehe “Grand Livina itu pas disamping mobilmu. Rute Pare-Pare–Makassar ji, dua minggu sekali. Selebihnya dalam kota.” Aim tertegun,mobil yang jadi perhatiannya ketika mencari parkiran. Mobil itu jauh dari bayanangannya dan rasanya timpang dibandingkan Carry miliknya. “Coba maki juga,” ajak Dirman membuyarkan lamunan Aim. Setelah test drive dan pemeriksaan surat-surat, mereka duduk kembali.“Bagaimana, Pak Aim?” “Bagus sekali pak. Kayaknya tidak level ki dengan mobilku.” Dirman tersenyum tipis. “Saya suka ji Carry ta. Tapi mungkin kita tukar tambah". Dirman mencoba merabah kemampuan Aim. "Tambahmi sepuluh juta.” Aim mengangguk dan menjauh sebentar untuk menelepon istrinya. Di Kolam Renang “Permisi, dengan Bunda Zayna?” “Iya mba?” “Ada pesanan untuk ibu dari Tuan Ziyan.” “Oh, terima kasih. Beliau nginap di hotel ini?” “Iye bu, tapi tadi keluar di pagi hari bersama Tuan Karim. Beliau memesan via telepon.” Tak lama, ponsel Bunda Zayna berbunyi. “Assalamualaikum dek.” “Waalaikumsalam. Bagaimana kak?” “Mobilnya Grand Livina. Bagus sekali. Body, mesin, surat lengkap. Tapi beliau minta tambah sepuluh juta.” “Sepuluh juta?” Bunda Zayna terdiam sejenak. “Saldo rekeningku lima juta. Cash balance mungkin dua atau tiga juta. Saya withdraw dulu kak mungkin 2/3 jam sudah ada. Coba tawar tujuh atau delapan juta. Kalau tidak bisa, jangan dipaksakan. Berarti belum rezekyta.” Aim menarik napas panjang. “Iye dek. Kita coba dulu.” Bunda Zayna menatap anak-anak yang tertawa riang di kolam. Matanya berbinar, Kalau memang berjodoh, mobil impianku akan datang dengan cara yang indah.Zayna termenung sesaat. Lamunannya buyar ketika suara suaminya menyapanya."Eh, Bunda... coba deh yang ini." Aim menyodorkan sepotong kue basah lalu menyuapkannya ke mulut Zayna dengan antusias. "Gimana rasanya?" tanyanya penuh semangat.Sambil mengunyah, Zayna mengangguk pelan. "Enak". Namun, perhatian Zayna tidak lagi tertuju pada kue yang sedang dinikmatinya. Matanya justru terpaku pada wajah suaminya yang tampak begitu bahagia, sorot mata itu tidak biasa. Binar yang telah lama hilang kini kembali terlihat jelas setelah terakhir kali ia saksikan bertahun-tahun lalu, saat kedua buah hati mereka lahir ke dunia. Tapi hari ini...Cahaya itu kembali hadir.Siapa sebenarnya Perempuan itu yang membuatnya sebahagia ini? Pertanyaan itu berulang kali berputar di benaknya. Ia ingin bertanya sosok itu yang mampu mengubah suasana hati suaminya sedemikian rupa. Namun bibirnya tetap kelu, ada sesuatu yang menahannya. "Ayah... aku ke kamar dulu."Aim menoleh sekilas lalu tersenyum."Iya, Bunda. T
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Aim keluar dari gedung kantor dan segera menghampiri keluarganya yang tampak asyik menikmati aneka jajanan khas daerah itu."Ayah, sini!" panggil Ana sambil melambaikan tangan, mengajaknya bergabung.Dengan langkah bersemangat, Aim mendekati mereka. "Apa yang kalian makan, sayang?" tanyanya kepada Zayna dan anak-anak."Ayah coba sendiri saja deh," jawab Zayna sambil menyodorkan sepiring makanan kepadanya. Aim langsung mencicipinya."Ehm... enak," katanya sambil mengangguk puas. "Benar kan, Bunda? Pasti Ayah suka," ujar Ana dengan wajah ceria.Zayna hanya tersenyum. Namun tanpa sengaja pandangannya jatuh pada kantong plastik yang dibawa suaminya. Aim menyadari tatapan itu."Oh, ini juga jajanan seperti yang lain, Bunda," katanya sambil menyerahkan kantong tersebut kepada istrinya. "Simpan sebagian ya, tiap jenisnya.""Iya," jawab Zayna pelan.Entah mengapa hatinya terasa sedikit sensitif. Ia masih menunggu penjelasan dari Aim tentang siapa orang yang
"Anita? Jadi benar kamu?" sapanya hangat.Wajah Anita langsung berbinar. "Aim... ternyata benar kamu."Keduanya sempat terdiam beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka memang teman lama yang pernah mengisi sebagian masa muda mereka.Anita kemudian mengusap bahu anak perempuan di sampingnya. "Iya, ini aku. Dan ini anakku, Gita."Aim tersenyum ramah. "Halo, Gita.""Gita, ini teman Ibu waktu kuliah dulu."Gita mengangguk sopan. "Halo, Om.""Halo juga."Anita lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zayna dan anak-anak yang sedang berjalan menyusuri deretan pedagang. "Itu keluargamu, Aim?" tanyanya pelan.Aim mengikuti arah pandangan Anita. Senyumnya langsung melembut. "Iya. Alhamdulillah." Ada kebanggaan yang tak bisa disembunyikan dalam nada suaranya.Anita memperhatikan keluarga kecil itu beberapa saat. Seorang wanita berhijab yang sederhana namun tampak hangat, ditemani anak-anak yang ceria dan penuh tawa. "Kalian terlihat bahagia."Aim tersenyu
"Bagaimana, Bunda Zayna? Apakah masih ada yang perlu ditanyakan terkait kontrak yang baru?" tanya Karim.Bunda Zayna masih membuka beberapa lembar dokumen di hadapannya. Sesaat kemudian ia menggeleng pelan."Tidak ada, Tuan. Sebagian besar isinya hampir sama dengan kontrak sebelumnya. Hanya ada beberapa penyesuaian, dan seperti biasa setiap lima belas hari tetap harus ada pelaporan."Sambil bergumam pelan, ia mulai menghitung dengan jari-jarinya."Kalau saya libur empat belas hari, berarti tinggal satu hari saja, dong? Jadi selama liburan saya tetap harus trading walaupun sebentar..." keluhnya. "Huft... tanggung jawabnya malah makin besar."Setiap perubahan ekspresi di wajah Bunda Zayna tak luput dari perhatian Karim dan Ziyan. Keduanya hanya bisa saling berpandangan, lalu menggeleng sambil menahan senyum geli.Setelah kembali membaca beberapa bagian terakhir, Bunda Zayna menganggukkan kepalanya mantap."Baik, Tuan Karim. Saya rasa cukup."Kalimat itu meluncur begitu saja hingga membu
"Tuan, sepertinya Bunda Zayna sudah berada di ruang virtual," lapor Ziyan melalui pesan singkat.Karim yang sedang menatap layar laptopnya hanya membaca pesan itu sekilas."Biarkan saja. Tunggu sepuluh menit lagi, baru kita bergabung," balasnya tenang."Baik, Tuan."Beberapa saat kemudian Karim kembali menghubungi Ziyan. "Ziyan.""Ya, Tuan.""Kamu sudah mengirim sepuluh miliar ke RDN yang dikelolanya?""Sudah, Tuan. Saya kirim setelah pertemuan terakhir kita. Hanya saja kemungkinan Bunda Zayna belum sempat melihatnya. Bursa masih libur karena cuti bersama, jadi transaksi belum berjalan normal," jawab Ziyan."Baik, tidak masalah." Karim menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya."Bagaimana perkembangan di Parepare? Apakah ada pergerakan dari Kelvin?""Saat ini Kelvin sedang menemui pihak butik rekanan Nona Soraya, Tuan."Karim mengernyit tipis. "Ada sesuatu yang mencurigakan?""Menurut laporan orang-orang kita, Kelvin berusaha mencari kontrak awal terkait brand ambassador sebelumnya.""D
Ana dan Zayan sangat senang bermain di kolam. Kolam yang ada di rumah itu memang tidak seperti standar kolam renang pada umumnya. Kedalamannya hanya sekitar dada orang dewasa sehingga cukup aman untuk anak-anak, terlebih Zayan sudah mulai belajar berenang.Tawa kedua anak itu terdengar memenuhi area belakang rumah. Sesekali cipratan air mengenai wajah mereka, membuat Ana tertawa semakin keras sementara Zayan sibuk mengejar kakaknya di dalam air.Zayna yang sejak tadi duduk di tepi kolam akhirnya berdiri lalu mendekati suaminya yang sedang mengawasi anak-anak mereka.“Yah, sudah setengah enam. Yuk, bunda rasa cukup untuk hari ini berenangnya. Bersih-bersih dulu kemudian bersiap makan malam,” ucapnya lembut.Aim menoleh ke arah istrinya lalu mengangguk kecil sebelum memanggil kedua anaknya.“Ana... Zayan... ayo naik dulu, kita mandi.”Seperti biasa, Ana langsung memasang wajah memohon.“Yah... sepuluh menit lagi. Kak Ana belum puas...” rengeknya manja.“Iya bund, sepuluh menit lagi ya.







