Share

Bab 5

Author: WinaraBZ
last update publish date: 2026-02-24 09:16:56

Aim kembali melangkah ke tempat Daeng Dirman berdiri. Wajahnya terlihat ragu, seolah masih menimbang sesuatu yang berat di kepalanya.

“Jadi… bagaimana, Pak Aim?” tanya Dirman dengan nada tenang, meski di balik sorot matanya tersimpan rasa ragu.

Aim menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Sebenarnya, Daeng… saya pribadi agak terkejut. Jujur saja, saya juga merasa malu.”

Dirman mengangkat alis tipis, memberi isyarat agar Aim melanjutkan. “Mobilnya Daeng ini… kalau ditukar tambah dengan mobil saya, nilainya jauh sekali. Mobilku itu paling-paling cuma dihargai tiga puluh lima sampai empat puluh lima juta. Sedangkan saya… kemampuan uangku tidak sampai sepuluh juta untuk tambahnya. Padahal Daeng sudah luar biasa murah hati.”

Ia menunduk. Nada suaranya jujur, tanpa dibuat-buat. Dirman langsung membaca situasi itu. Dalam benaknya, suara Tuan Ziyan kembali terngiang jelas.

“Apa pun caranya, mobil Pak Aim harus berganti dengan yang lebih baik sore ini. Tuan Karim akan bertemu kembali dengan mitranya itu. Ingat, Daeng… buat semuanya terlihat alami.”

Perintah itu sempat membuat Dirman pening. Ia bukan orang yang gemar bermain perasaan. Tapi keadaan mendesak, dan kebetulan—anak buah tuannya menemukan informasi bahwa Aim memang sudah lama berniat mencari mobil untuk tukar tambah.

Maka lahirlah ide itu. Menukar mobilnya sendiri. Meski, jujur saja, dengan hati yang sedikit patah.

Daeng… daeng yang sabar yah, batinnya, sambil tersenyum miris menahan perasaan.

“Berapa kemampuanta Pak Aim?” tanya Dirman akhirnya. Aim menjawab lirih, “Tujuh juta ji, Daeng. Saat ini yang ada di tangan baru lima juta.”

Dirman menarik napas dalam-dalam. Harus alami, ia mengingatkan dirinya sendiri. “kalau tambaki satu juta lagi bagaimana?” ujarnya perlahan. “Biar sekalian kita bantu urus surat jual belinya sama balik nama. Jadi tidak pusing ki lagi urus ini-itu.”

Aim terdiam.

Dirman melanjutkan, seolah berpikir keras,“Kepepetma juga ini. Ada pekerjaanku yang mendesak, butuh mobil carry. Mobilta ini mesinnya masih ori, halus. Itu yang bikin saya tertarik.”

Aim mengangguk pelan. “Saya tanyaki dulu mamanya nah, Daeng. InsyaAllah bisa nanti saya usahakan cari tambahnya”

Ia segera menjauh beberapa langkah dan menghubungi Bunda Zayna.

“Assalamualaikum, dek,” suaranya sedikit tergesa. “Mintaki Daeng delapan juta katanya sekalian urus balik nama, supaya tidak pusing lagi ketemu.”

Di seberang sana, suara Bunda Zayna terdengar tenang dan penuh syukur.

“Waalaikumussalam. Alhamdulillah, kak…rezekyta ini. Uangnya sudah ada di rekeningku dari hasil withdraw tadi. Saya transfer sekarang ya. Bayarmi saja pakai mobile bankingta yang tiga juta sisanya.”

Aim hampir tak percaya. “Alhamdulillah, dek… Ya Allah. Mobil Livina itu masih baru, pemakaian baru setahun.”

“Iye, kak. Tutupki dulu teleponnya. Lanjutkan saja transaksinya.”

Dengan wajah berseri, Aim kembali ke arah Dirman.

“Daeng, aman mi. Sudah adami sisanya. Istri sudah setuju.”

“Alhamdulillah,” ujar Dirman mantap. “Marimi pale kita ke sana. Ada temanku, kebetulan notaris. Bisa langsung kita urus.”

Tak lama kemudian, proses jual beli berjalan lancar.

Dokumen ditandatangani.

Bukti transaksi disiapkan.

“Jadi begini, Pak Aim,” jelas Dirman sambil menyerahkan berkas. “Untuk balik nama, biarmi temanku yang urus. Kita pegang saja dulu bukti jual belinya. Ini kunci mobil, dan fotokopi STNK sementara biar aman di jalan.”

Aim menerima semuanya dengan tangan sedikit bergetar—antara bahagia dan tak percaya.

“InsyaAllah paling lama dua hari kelar. Nanti bisa kita ambil di alamat ini.”“Iye pale, Daeng,” jawab Aim tulus. “Terima kasih banyak. Berjodoh ka dengan mobilta.”

“Alhamdulillah,” balas Dirman. “Saya ini malah beruntung sekali.”

Mereka tersenyum. Kesepakatan itu terasa ringan, tapi bermakna. Tak lama setelah itu, Dirman menelpon.

“Halo, Bos. Done. Mobil sudah jadi hak milik suami Bunda Zayna.”

Di seberang, suara Ziyan terdengar puas.

“Ok. Terima kasih, Daeng. Saya sudah kirim sisanya, silahkan cari pengganti mobilmu yang sudah berpindah tuan,hehehe”

“Alhamdulillah. Senang berbisnis dengan Anda, Bos,ternyata anda mengetahuinya...hehehe"

Telepon ditutup. Ziyan segera melapor kepada Karim.

“Tuan, mobil aman. Sesuai kriteria Anda.”

Karim mengangguk kecil. “Mungkin saat ini, Bunda Zayna lagi bahagia dapat mobil bekas tapi baru,” ujarnya samar, hampir tersenyum.

Sementara itu, di Kamar Hotel Bunda Zayna.

“Assalamualaikum, Mam. Ayo kita turun ke parkiran, lihat mobil yang baru saja tukar tambah,” ujar Aim penuh semangat.

Bunda Zayna tersenyum, namun segera mengingat sesuatu. “Waalaikumussalam. Sebaiknya bapak bersiap dulu. Tidak lama lagi kita bertemu dengan Tuan Karim untuk tanda tangan kontrak. Setelah itu baru kita lihat mobilnya.”

“Astagfirullah,” gumam Aim. “Saya lupa, dek. Iye pale… mandi dulu.”

Kak Ana mendekat. “Mam mau keluar?”“Iya, Nak. Kita mau ketemu Tuan Karim dan Om Ziyan.”

“Om yang kemarin, Mam? Yang kelihatannya kayak CEO itu?” canda Ana. Bunda Zayna tertawa kecil.

“Hehe… kayak tau saja. Iya. Beliau calon investor Mama. Yuk, ganti baju, kita siap-siap.”

Tak lama kemudian, notifikasi masuk di ponsel Bunda Zayna.

Ziyan:

Bunda Zayna, Tuan Karim 15 menit lagi tiba di resto hotel. Ruang privat sudah direservasi atas nama Tuan Karim. Mohon bersiap.

Zayna:

Siap, Tuan Ziyan. Terima kasih.

“Ayo kita turun ke resto,” ajaknya pada suami dan anak-anak.

“Jom,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Maaf, Mbak. Ruang privat atas nama Tuan Karim,” ujar bunda zaynal.

“Dengan Bunda Zayna?” tanya staf itu memastikan.

“Iya.”“Silakan ikut saya.”

Mereka diarahkan ke ruang privat yang elegan. Beberapa camilan pembuka telah tersaji.

“Silakan dinikmati, Bu, Pak. Ini pesanan langsung dari Tuan Karim.”

“Terima kasih,” jawab Bunda Zayna sopan.

Begitu staf pergi, Bunda Zayna menoleh ke suaminya. “MasyaAllah… mewah ya, Pak.”

Suaminya tersenyum. “Kita kayak tamu spesial saja.”

“Alhamdulillah. Rezeki Mama,” bisik Bunda Zayna “Doa anak-anak,” sahut sang suami. “InsyaAllah pelan-pelan terkabul.”

Pintu terbuka.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam, Tuan,” jawab mereka serempak.

“Maaf sedikit terlambat,” ucap Karim. “Pare-Pare cukup macet juga.”

“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Bunda Zayna. “

Karim duduk dengan tenang. “Bagaimana, Bunda Zayna? Sudah dibicarakan dengan teliti bersama suami?”

“Alhamdulillah, Tuan,” jawabnya mantap. “Kami sudah sepakat dengan poin-poin yang Tuan tawarkan. Pada dasarnya, kami sangat bersyukur atas kepercayaan ini.”

“Alhamdulillah kalau begitu,” ujar Karim sambil membuka map di hadapannya.

“Berarti kita bisa lanjut.” Ia menggeser dokumen kontrak kerja sama.

Di dalamnya tercantum jelas:

— Akun RDN atas nama Karim Al Farizi

— Fasilitas smartphone dan laptop untuk analisa

— Skema bagi hasil: 75% untuk Karim sebagai pemilik portofolio, 25% untuk Bunda Zayna sebagai pengelola trading

“Kalau sudah clear,” lanjut Karim, “kita tandatangani hari ini.”

Bunda Zayna menatap suaminya. Sang suami mengangguk pelan.

“InsyaAllah,” jawabnya. Sebelum pena benar-benar menyentuh kertas, Bunda Zayna meraih smartphone yg berisi akun RDN yang akan dikelolanya. Gerakannya pelan, nyaris ragu.

“Maaf, Tuan Karim,” ucapnya lirih. “Saya ingin memastikan satu hal.”

Karim mengangguk tenang. “Silakan, Bunda.”

Layar ponsel menyala.

Email dari Ziyan sudah terbuka—berisi informasi yang sebelumnya dikirim saat proses pembukaan akun RDN: username, password, serta alamat email khusus yang akan digunakan untuk pelaporan transaksi dan notifikasi resmi.

Beberapa detik berlalu. Sunyi. Tatapannya berhenti.

Cash Balance: Rp1.000.000.000

Jantungnya seolah berdetak lebih keras. Tangannya refleks menggenggam ponsel sedikit lebih kuat. Ia tertegun. Dalam benaknya, ia sempat membayangkan angka yang jauh lebih kecil—seratus juta,mungkin. Uji coba. Penyesuaian. Masa pengenalan.

Namun angka di hadapannya bukan angka percobaan. Ini adalah kepercayaan penuh. Perlahan, Bunda Zayna mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan Karim—tatapan yang tidak menyembunyikan keterkejutan, juga kegamangan.

“Ini… satu miliar?” suaranya nyaris berbisik.

Karim tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk, tenang, seolah angka itu tidak lebih berat dari kata-kata yang baru saja terucap.Bunda,” katanya kemudian, suaranya rendah dan terkendali.

“Saya tidak percaya pada setengah keyakinan.”

Bunda Zayna menunduk kembali. Ada perasaan yang sulit ia namai—antara takut, haru, dan rasa tanggung jawab yang tiba-tiba terasa begitu besar.

“Ini sangat berani, Tuan,” ucapnya pelan. “Menitipkan kepercayaan sebesar ini kepada seseorang yang baru Tuan kenal…”

Karim tersenyum samar. “Keberanian selalu beriringan dengan perhitungan, Bunda. Saya sudah melihat prosesnya, bukan hanya hasilnya.”

Ziyan yang sejak tadi diam, menatap dengan penuh hormat.Ia tahu, momen ini bukan sekadar tentang uang—ini tentang karakter.

Bunda Zayna menghela napas panjang. Lalu, dengan tangan yang kini lebih tenang, ia mengunci layar ponsel dan meletakkannya di atas meja.

“Baik,” katanya mantap. “Kalau begitu, izinkan saya menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sebagai pengelola, tapi sebagai orang yang sadar betul beratnya kepercayaan.”

Karim mendorong map kontrak ke arahnya. “Saya tidak meminta apa-apa selain itu.”Sunyi kembali hadir—sunyi yang bukan canggung, melainkan penuh makna.

Pena pun akhirnya bergerak dan menyentuh kertas menandai awal kerja sama dan awal perubahan hidup mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Investor Asing   Bab. 51

    Bunda Zayna membaca pesan dari Soraya, jemarinya sempat terhenti di atas layar ponsel. Pikirannya mulai berkelana.Dia ingin bertemu… berarti kemungkinan besar sekarang sedang berada di Parepare. Bukankah ini justru sebuah kesempatan? Tapi untuk apa?Seorang desainer ternama ingin bertemu dengan dirinya—seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya hanya diisi rutinitas rumah dan trading sederhana. Rasanya tidak masuk akal jika tujuannya untuk bekerja sama. Kerja sama di bidang apa? Fashion? Jauh sekali. Belajar saham? Ah, di ibukota saja banyak sekuritas besar dan edukator yang jauh lebih berpengalaman. Kenapa harus datang ke kota kecil seperti ini?Bunda Zayna menghela napas pelan, namun pikirannya tiba-tiba berbelok. Bukankah Karim juga datang dari luar negeri… dan tetap memilihnya?Astaga… kenapa dia selalu meragukan hal-hal yang bahkan sudah pernah terbukti di depan matanya sendiri?Tatapannya kembali jatuh pada layar ponsel. Kali ini lebih tenang. “Mungkin memang ada sesuatu yang

  • Investor Asing   Bab. 50

    Soraya menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Jari-jarinya sempat bergetar, antara ragu dan berharap."Maaf, saya Soraya. Saya menemukan nomor Bunda di channel MTube. Silakan cek profil saya," tulisnya, disusul tautan website perusahaannya. "Saya sangat tertarik dengan profil Bunda Zayna. Bolehkah saya bertemu dengan Anda?"Pesan itu akhirnya terkirim.Beberapa detik terasa begitu lama. Soraya menatap layar ponselnya tanpa berkedip, seolah berharap tanda “typing…” segera muncul. Namun nihil.Ia menghela napas pelan, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. “Ah… mungkin benar, aku terlalu percaya diri…” gumamnya lirih.Namun baru saja ia hendak beranjak, layar ponselnya tiba-tiba menyala.Satu notifikasi masuk. Dari… Bunda Zayna.~~~♡♡♡~~~Setelah mengirimkan pesan balasan yang sempat tertunda untuk Ziyan, Bunda Zayna meletakkan ponselnya perlahan. Wajahnya masih menyisakan rasa bersalah karena keterlambatan itu.Belum sempat ia benar-benar beranjak, ponselnya kemb

  • Investor Asing   Bab. 49

    Ponsel Ziyan akhirnya berbunyi setelah cukup lama terdiam, Ia menoleh di saat yang sama. Karim juga mengangkat pandangannya. Keduanya saling bertatap tanpa kata.Namun jelas pesan itu pasti dari Bunda Zayna.Karim memberi isyarat kecil dengan dagunya. “Buka.” Ziyan menurut, pesan itu akhirnya dibaca . Beberapa detik hening..lalu tiba-tiba… “Ha… ha…” Ziyan tertawa.Karim ikut menyusul. “Ha… ha… ha…”Keduanya tertawa bersamaan.“Jadi…” Ziyan menggeleng sambil tersenyum, “Bunda Zayna tipe yang mudah kagum… dan cepat teralihkan dengan hal baru yah…”Karim masih tersenyum tipis, namun tiba-tiba ia mengangkat tangan, menghentikan tawa itu. “Tunggu…” Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.Ziyan langsung menoleh.“Bukankah… dia belum secara jelas mengiyakan untuk menggunakan zoom melalui aplikasi internal?”Ziyan terdiam, senyumnya perlahan memudar.“Iya juga…” Ia kembali menatap layar. Membaca ulang lebih pelan dan teliti. “Apakah… beliau belum benar-benar menangkap maksudnya?”Karim

  • Investor Asing   Bab. 48

    Bunda Zayna menatap layar laptopnya cukup lama, kursor berkedip seolah menunggu keputusan. Ia sudah mencoba berkali-kali, mengikuti panduan mengulang langkah namun hasilnya tetap sama. 'Gagal.'Ia menarik napas pelan, lalu mulai mengetik pesan kepada Ziyan."Tuan Ziyan, mohon maaf. Aplikasi ini masih cukup sulit saya pahami. Saya sudah mencoba beberapa kali, namun belum berhasil.” Ia berhenti sejenak, hatinya sedikit bergetar. Namun ia lanjutkan. “Apakah memungkinkan jika Tuan dapat menyampaikan kepada Tuan Karim untuk menggunakan metode lain dalam pelaporan?”Jemarinya kembali terdiam, kalimat berikutnya terasa… lebih berat dari yang seharusnya. “Misalnya… melalui meeting room dengan aplikasi yang lebih umum digunakan.”Ia membaca ulang pesannya, sederhana, masuk akal, tetap menjaga batas. Namun di balik itu ada harap yang ia sembunyikan rapi dengan satu hembusan napas kecil, ia menekan tombol kirim.Terkirim...Ia bersandar perlahan, “Hush… ini hanya soal pekerjaan…” bisiknya pelan,

  • Investor Asing   Bab. 47

    Sementara Karim terjebak dalam kekhawatiran karena merasa belum cukup kuat untuk melindunginya, Soraya menyimpan kegelisahan karena tidak ingin Bunda Zayna terlalu mudah membuka akses pribadinya, dan Ziyan diam-diam hanyut dalam euforia kekaguman yang bahkan ia sendiri tak sepenuhnya sadari.Namun di sisi lain, sosok yang mereka pikirkan justru sedang berjalan dalam dunianya sendiri, tenang, fokus, dan semakin terarah.Hari ini adalah hari ke-9. Sembilan hari yang bukan sekadar tentang hasil, melainkan tentang proses yang perlahan membentuk ketenangan. Di depan layar, Bunda Zayna tidak lagi terburu-buru. Tidak ada lagi keputusan yang lahir dari emosi atau dorongan sesaat. Semua terasa lebih terukur, Ia mulai menemukan ritmenya. Berbagai pengetahuan yang pernah ia pelajari kini ia rangkai dengan caranya sendiri, dipadukan dengan pengalaman, analisa, dan “feeling” yang semakin terasah.Market tidak sedang bersahabat, Kondisi domestik dan global masih dipenuhi ketidakpastian. Pergerakan

  • Investor Asing   Bab. 46

    Ziyan menarik napas, lalu tanpa sadar menambahkan dengan penuh penekanan “Saya… sangat… sangat… kagum tuan.”Hening....Ziyan akhirnya menyadari sesuatu. Perlahan, ia mengangkat pandangan. Dan.... langsung bertemu dengan tatapan Karim, dingin, tajam dan tanpa ekspresi. Udara di ruangan itu seolah berubah. Ziyan menelan ludah, senyumnya perlahan menghilang.“Eh…”Karim masih menatapnya, tanpa berkata apa-apa. Namun justru itu yang membuat suasana semakin menekan. Wajah Karim mengeras, tatapannya tidak beralih sedikit pun.Ziyan merasakan bulu kuduknya berdiri. “Astaghfirullah…” gumamnya pelan. Ia langsung tersentak, berdiri lebih tegak. "Maaf, Bos…” Nada suaranya berubah cepat, kembali profesional.Lalu, dengan senyum canggung yang dipaksakan ia mengangkat tangannya.... “Pisss…”Karim akhirnya menarik napas pelan, pandangan itu perlahan melunak… meski hanya sedikit. “Cukup.” Jawabnya singkat.Ziyan langsung mengangguk cepat. “Siap, Bos.” Sejenak ia masih berdiri di tempat, seperti menc

  • Investor Asing   Bab. 23

    Selama perjalanan, Ziyan duduk bersandar, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Bukan tentang bisnis semata—melainkan tentang bagaimana caranya bisa sesuai permintaan karim, hemmm mengetahui ukuran tubuh seseorang bukankah itu ranah privasi,malah bisa di anggap kurang ajar... astaga bos..ada..

  • Investor Asing   Bab 22

    Karim yang sejak tadi bersiap mengambil jasnya tiba-tiba terdiam, seolah teringat sesuatu.“Zi…”Ziyan yang sedang memeriksa beberapa pesan di ponselnya langsung menoleh.“Iya"Karim berjalan pelan ke arah meja, lalu berkata dengan nada berpikir. “Di acara fashion show semalam… ada satu model pakai

  • Investor Asing   Bab 21

    "Ehm… Karim, jadi kamu berangkat hari ini, nak?” tanya Ismet memecah keheningan setelah sekian lama semua orang terdiam di meja makan. “Jadi, Yah!” jawab Karim cepat, seakan ingin memutus kecanggungan yang baru saja terjadi.Rima yang mengamati wajah sang anak merasa sedikit bersalah. Tanpa sadar

  • Investor Asing   Bab 19

    Malam itu rumah sudah tenang. Setelah memastikan anak-anaknya tertidur, Bunda Zayna kembali ke ruang kerjanya, sedikit ruang didekat dapur menjadi area khususnya saat ini dalam menjalankan Amanah. Di meja kecil dekat jendela, laptopnya sudah menyala, menampilkan lembar laporan trading yang selalu i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status