Share

Bab 9

Author: WinaraBZ
last update publish date: 2026-03-06 13:30:45

Setelah perbincangan hangat bersama kedua orang tuanya, Karim kembali ke kamar dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang. Niat awalnya hanya menginap satu malam di rumah orang tuanya, namun ia mengurungkan rencana itu. Ia tahu, kepulangannya kali ini akan memancing rasa ingin tahu sang ayah.

Karim mengenal betul insting bisnis Tuan Ismet—tajam, teliti, dan sulit dikelabui. Karena itu, ia harus berhati-hati.

Ia memanggil asistennya.

“Ziyan, hapus semua jejak kerja sama saya dengan Bunda Zayna.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Investor Asing   Bab. 26

    Hari itu, Bunda Zayna hanya berdagang di dua saham. Bukan karena kurang peluang—justru sebaliknya. Ia melihat ada tiga saham lain yang ritmenya mulai “hidup”, namun belum berada di waktu yang tepat untuk masuk. Pergerakannya masih mentah, tapi menjanjikan. Senyum tipis terlukis di wajahnya. “Itu nanti… di penutupan,” bisiknya pelan.Baginya, tidak semua peluang harus diambil sekarang. Ada yang lebih baik ditunggu—hingga momentumnya benar-benar matang.Dengan dua posisi yang sudah diselesaikan dengan baik, ia tidak memaksakan diri untuk terus masuk market. Ia menutup platform tradingnya perlahan.Klik.Selesai.Bagi sebagian orang, mungkin ini terasa aneh—meninggalkan market saat peluang masih terlihat. Namun bagi Bunda Zayna, inilah bagian dari disiplin. Bukan hanya soal kapan masuk dan keluar… tapi juga kapan berhenti.Ia melirik jam di dinding. Waktu telah bergeser. Dan perannya pun ikut berganti.Bunda Zayna bangkit dari kursinya, merapikan meja kerja yang sejak pagi menjadi “medan

  • Investor Asing   Bab 25

    Trading hari kedua, Bunda Zayna tampak jauh lebih percaya diri. Kesalahan di hari sebelumnya ia bedah semalaman, membuka ulang setiap catatan, setiap entry, bahkan emosi yang sempat muncul saat market bergerak di luar ekspektasi.Dari sana, ia menyusun dua pendekatan yang lebih matang: satu untuk menghadapi kemungkinan market berbalik arah, dan satu lagi untuk memaksimalkan momentum saat terjadi breakout kuat.Baginya, trading tak ubahnya berdagang. Ada saatnya untung, ada kalanya rugi. Namun, satu prinsip yang ia pegang erat—kerugian harus ditekan sekecil mungkin, sementara peluang harus dimaksimalkan dengan disiplin.Seperti biasa, sebelum market dibuka, Bunda Zayna sudah duduk di ruang kerjanya, menyiapkan konten edukasi pagi. Namun kali ini berbeda. Sedikit lebih berani. Ia mengangkat hasil tradingnya sendiri sebagai bahan pembelajaran. Chanel MiTube “Selamat pagi Sobat Trader, Assalamualaikum Semua..Hari ini saya ingin berbagi sedikit evaluasi dari trading yang saya lakukan ke

  • Investor Asing   Bab. 24

    Ziyan: "Ya, Raya… coba kamu pertimbangkan lagi dech tawaran itu dengan lebih serius. Kebetulan Karim punya resort yang sedang dikembangkan di sana. Akan sangat menarik jika kamu juga membuka butik di lokasi yang sama…" Jeda beberapa detik. Raya membaca ulang, alisnya perlahan mengernyit. Pesan berikutnya muncul. Ziyan: "Dengan begitu… kita tetap bisa “bertemu”… meski tidak secara langsung." Raya menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya, seolah mencoba menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata itu. Jariny bergerak cepat. Raya: "Seriously…?" Tak butuh waktu lama, balasan datang. Ziyan: "Yap. Dan bukan hanya itu… aku juga punya sesuatu untukmu." Raya kini duduk lebih tegak. Rasa penasarannya terpancing. Ziyan: "Seorang kandidat ambassador. Seorang ibu rumah tangga… terlihat sederhana dari luar. Tapi sebenarnya luar biasa." Detak jantungnya entah mengapa ikut berubah ritme. Raya menggigit bibir bawahnya pelan, matanya menyipit penuh minat. Pesan terakhir masuk, seola

  • Investor Asing   Bab. 23

    Selama perjalanan, Ziyan duduk bersandar, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Bukan tentang bisnis semata—melainkan tentang bagaimana caranya bisa sesuai permintaan karim, hemmm mengetahui ukuran tubuh seseorang bukankah itu ranah privasi,malah bisa di anggap kurang ajar... astaga bos..ada..ada ..aja...Ia memutar berbagai kemungkinan di kepalanya. Atau......tiba-tiba seperti ada lampu dikepalanya... nah sekarang bagaimana caranya secara tidak langsung soraya yang minta dan Bunda Zayna bisa menjadi calon customer Soraya—atau bahkan lebih, atau mungkin menjadi bagian dari brand....bukankah ini tidak sedikit pun terlihat ada kaitannya dengan Karim?“Hem…” gumamnya pelan. “Bukankah Bunda Zayna bisa jadi ambassador Sonia Collection… dia kan seorang konten kreator…” Matanya sedikit menyipit, ide itu mulai terasa masuk akal. Okay… aku coba saja.” Tanpa menunggu lama, Ziyan langsung mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan."Hai Ya, gimana kabarnya? Sudah di Jakarta?" Beberapa men

  • Investor Asing   Bab 22

    Karim yang sejak tadi bersiap mengambil jasnya tiba-tiba terdiam, seolah teringat sesuatu.“Zi…”Ziyan yang sedang memeriksa beberapa pesan di ponselnya langsung menoleh.“Iya"Karim berjalan pelan ke arah meja, lalu berkata dengan nada berpikir. “Di acara fashion show semalam… ada satu model pakaian yang menurutku sangat cocok untuk Bunda Zayna.”Ziyan mengangkat alis sedikit.Karim melanjutkan, Tapi masalahnya… bagaimana kita bisa tahu ukuran badannya?”Ziyan mulai merasa arah pembicaraan ini tidak biasa.Karim menatapnya serius. “Aku ingin dia memakai pakaian yang dirancang langsung oleh Soraya.”Ziyan terdiam.“Pasti dia akan terlihat sangat anggun,” lanjut Karim pelan. "Saat pakaian itu ditampilkan di catwalk semalam, aku justru membayangkan Bunda Zayna yang berjalan di sana.”Mendengar itu, Ziyan yang sedang meneguk air tiba-tiba tersedak.“Kh—kh…” Ia buru-buru menutup mulutnya. "Ya ampun, bos"… gumamnya dalam hati. Apakah sekarang Bunda Zayna sudah mulai mendominasi pikirannya?

  • Investor Asing   Bab 21

    "Ehm… Karim, jadi kamu berangkat hari ini, nak?” tanya Ismet memecah keheningan setelah sekian lama semua orang terdiam di meja makan. “Jadi, Yah!” jawab Karim cepat, seakan ingin memutus kecanggungan yang baru saja terjadi.Rima yang mengamati wajah sang anak merasa sedikit bersalah. Tanpa sadar ia telah menyinggung masa lalu yang selama ini Karim kubur rapat.“Nak…” suara Rima melembut. Karim menoleh. Mommy sudah siapkan oleh-oleh buat Dede dan Babaanne-mu di sana.”Karim tersenyum tipis sambil mengangguk. “Setiap kali Daddy menelepon, Babaanne selalu menanyakan kapan kamu pulang.” Ismet ikut menimpali "Kalau kamu sempat, mampirlah ke rumah mereka,” ucapnya tenang. “Dede pasti senang melihatmu.”Karim menghela napas pelan lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Pasti, Yah. Aku juga sudah lama tidak ke sana.”Ismet mengangguk kecil. Ia tahu putranya itu jarang benar-benar tinggal di rumah keluarga mereka di Turki. Sejak beberapa tahun terakhir, Karim bahkan lebih sering menginap di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status