LOGINRuang VIP hotel itu masih menyimpan kehangatan pertemuan yang baru saja usai. Dokumen kontrak telah ditandatangani. Map hitam eksklusif kini tertutup rapi di atas meja marmer. Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajah-wajah yang baru saja mengikat kerja sama besar. Karim berdiri lebih dulu.
"Baik, Bund. Karena penandatanganan sudah selesai, saya pamit. Saya akan kembali ke Bandung sore ini, lalu langsung ke Turki. Mungkin cukup lama sebelum kita bisa bertemu lagi.” Di sampingnya, Ziyan—asisten pribadinya—langsung sigap merapikan dokumen dan menyimpannya dengan profesional. Karim melanjutkan, “Untuk pelaporan, setiap tanggal 15 dan 30, buat dalam bentuk video presentasi. Kirim langsung ke nomor pribadi saya. Karena ini tidak terkait perusahaan.” Ziyan sedikit mengangkat alisnya. Ia memahami maksud atasannya, tapi tetap mencatat dengan ekspresi netral. Bunda Zayna menatap sopan. “Maaf, Tuan. Apakah tidak apa-apa lewat nomor pribadi? Bukankah Tuan cukup sibuk?” Sang suami yang sejak tadi duduk tenang di sampingnya ikut bersuara, rendah namun tegas. “Biasanya laporan investasi melalui jalur resmi, bukan?” Karim tersadar ucapannya bisa ditafsirkan berbeda. “Ehm… maksud saya, ini murni investasi pribadi saya. Jadi saya yang harus menangani langsung agar setiap kondisi bisa direspons cepat tanpa birokrasi perusahaan.” Ziyan menambahkan secara profesional, “Benar, Pak. Dana ini bukan atas nama perusahaan. Saya tetap akan membantu monitoring secara administratif.” Suasana kembali netral. “Baik, Tuan. Selama tetap dalam koridor profesional,” jawab Bunda Zayna lembut. “Tentu,” balas Karim. Di sudut ruangan, dua anak Bunda Zayna duduk serius bermain game di tablet mereka. Sesekali terdengar suara kemenangan kecil yang tertahan. Sejenak, Bunda Zayna berdiri. Wajahnya tenang, tapi ada kerendahan hati yang tulus di sorot matanya. “Ehm, Tuan… terima kasih sudah memfasilitasi kami menginap di hotel ini dengan segala kemewahannya. Kami sungguh merasa diterima… sebagai orang kelas rendah.” Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Karim menatapnya dalam. Kelas rendah? Apakah ia benar-benar memandang dirinya serendah itu? Karim memperhatikan pakaian Bunda Zayna yang sederhana. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Namun justru memancarkan wibawa alami. Bukan hanya penampilannya yang bersahaja… cara berpikirnya pun terlalu merendah. Dan itu yang membuat Karim tidak suka. Dalam benaknya terlintas, Dia harus belajar menghargai dirinya sendiri… seperti cara saya melihat dirinya. Karim menarik napas perlahan. “Ehm… sama-sama, Bunda Zayna,” ucapnya tenang namun lebih dalam dari sebelumnya. “Anda dan keluarga sangat bernilai. Sehingga layak diperlakukan istimewa.” Kalimat itu tidak terdengar seperti basa-basi. Bunda Zayna tertegun sejenak. Tatapannya melembut. Senyum tulus terukir di wajahnya senyum yang jarang muncul, karena hidup telah membuatnya lebih banyak berpikir daripada merasa. Sang suami memperhatikan momen itu dengan tenang. Tatapannya tidak cemburu, tidak pula curiga—hanya penuh kesadaran. Karim kembali bersikap formal. “Baiklah, silakan dinikmati fasilitas yang diberikan pihak hotel. Jangan sungkan. Kami akan check out sekarang.” Ia melangkah lebih dulu, mengulurkan tangan kepada suami Bunda Zayna untuk perpisahan terakhir. “Terima kasih atas kerja samanya. InsyaAllah membawa manfaat dan berkah untuk kita semua.” “Aamiin,” jawab mereka bersamaan. Kemudian Karim menelungkupkan tangannya dengan sopan ke arah Bunda Zayna, gestur hormat yang terjaga batasnya. Ziyan berdiri sedikit di belakang, profesional seperti biasa, memastikan semua agenda selesai tanpa cela. Karim dan Ziyan berjalan beriringan keluar dari ruang VIP menuju kamar hotel untuk bersiap. Langkah mereka mantap di lorong panjang berkarpet tebal. Di belakang, Bunda Zayna dan keluarganya masih berada di ruang VIP. Anak-anaknya kini berpindah ke meja makan kecil, menikmati menu spesial restoran hotel yang tersaji elegan. Sang suami duduk di sampingnya. Ia menoleh pelan. “Bunda bukan kelas rendah,” ucapnya lembut. Bunda Zayna tersenyum kecil. “Aku hanya takut lupa diri.” Sang suami menggenggam tangannya singkat. “Kita bukan sedang naik kelas. Kita hanya sedang bertumbuh.” Di lorong hotel yang berkarpet tebal menuju kamar. Karim berjalan tanpa berbicara. Namun dalam pikirannya, satu kalimat terus berulang: "Kelas Rendah, Dia tidak tahu betapa berharganya dirinya." Sementara itu, di ruang VIP… Bunda Zayna dan keluarganya masih menikmati hidangan spesial dari restoran hotel. Anak-anak sudah berpindah dari game ke makanan penutup yang terlihat terlalu cantik untuk disentuh. Tiba-tiba mata Bunda Zayna berbinar. “Pah… ada karokenya! Kita nyanyi yuk!” Ia menunjuk ke sudut ruangan yang ternyata memiliki layar besar tersembunyi. Aim—suaminya—menoleh, lalu berdiri mendekat. “Tapi, Mam… saya tidak tahu cara menghidupkannya.” “Kita minta tolong saja pelayannya.” Aim melihat sekeliling. “Biasanya ada bel atau lonceng, seperti di novel yang saya baca. Atau tombol connector tersembunyi…” Bunda Zayna mengangkat alis. “Ah, kelamaan cari tombolnya. Biasanya ruang VIP ada pelayan berjaga di depan.” Aim berjalan ke pintu dan sedikit membuka. “Mas…” panggilnya sopan. "Boleh bantu saya di dalam?” “Baik, Pak,” jawab pelayan sigap. Pelayan masuk dan tersenyum ramah. “Apa yang bisa saya bantu, Pak?” “Ehm… kami ingin karaoke bersama keluarga. Apakah bisa, Mas?” “Oh tentu, Pak. Di ruangan ini memang ada fasilitasnya. Mari saya bantu.” Dengan terampil, pelayan menekan tombol kecil yang tersembunyi di panel dinding. Seketika ruangan berubah. Lampu warna-warni keluar dari celah plafon. Lampu sorot menyala lembut. Panel akustik tersembunyi bergeser otomatis. Ruang semi formal itu berubah menjadi mini studio keluarga. Anak-anak bersorak kecil. Bunda Zayna justru terpaku. Matanya menatap plafon. Tangannya refleks mengambil pulpen dari tas dan mulai membuat sketsa kecil di kertas serbet. Aim memperhatikannya. “Bund…”Tidak ada jawaban. “Bund…” Masih diam. “Ya ampun, istriku menghayal lagi,” katanya sambil melambaikan tangan di depan wajah Bunda Zayna. “Pah! Tangannya menghalangi,” protesnya kesal. “Bunda ini dari tadi diajak ngobrol, taunya lagi melamun.” “Oh… lagi ngajak ngobrolki?” katanya polos. Aim menggeleng. “Bunda lagi melamun apa?” Bunda Zayna menyodorkan serbet berisi coretan. “Saya coba membayangkan sistem mekaniknya di dalam plafon.” Masih diam. Aim memandangi sketsa itu. “Ini karaoke, Mam… bukan proyek pembangunan bandara.” Anak-anak tertawa. Pelayan masih berdiri di samping layar. “Permisi, Bapak/Ibu, ada lagi yang bisa saya bantu?” Bunda Zayna tersadar. “Eh… Masnya masih di dalam?” Pelayan tersenyum menahan tawa. “Hehe, aman, Mas. Terima kasih bantuannya.” Ia memberikan tip. Aim menoleh pelan. “Bund…” “Ehm?” Aim menoleh pelan. Bund…” “Ehm?” “Memang harus begitu ya, setiap minta bantuan kasih tip?” “Iya. Kata teman Bunsa gitu. Kalau masuk hotel, siapkan beberapa lembar kecil. Anggap saja berbagi. Kasihan itu semacam uang tambahan mereka.” “Iya tapi kan itu pekerjaannya…” “Sudahlah Pah, jangan pelit. Kita baru dapat rezeki, loh. Anggap berbagi kebahagiaan.” Aim menghela napas dramatis. “Baiklah. Kalau begitu, nanti saya yang karaoke paling semangat. Biar impas.” Bunda Zayna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudian… “Yank,” kata Aim sambil melihat jam. “Ruangan ini sampai jam berapa booking-nya?” Bunda Zayna terdiam. “Oh iya ya… kok baru kepikiran yah. Tapi tanyanya ke siapa, ya Pah? Saya nggak enak kalau tanya ke Pak Karim atau Tuan Ziyan…” “Ya tanya resepsionis saja. Mereka pasti tahu.” “Iya juga ya. Takut kelewat terus nggak bisa bayarnya. hehehe” Aim tersenyum. “Pergi maki.” “Iye, pigi ma ini,” balasnya sambil tertawa kecil. Bunda Zayna berjalan keluar menuju resepsionis. Namun secara kebetulan, ia bertemu dengan Ziyan yang sedang mengurus proses check-out. “Tuan Ziyan…” Ziyan menoleh sopan. “Eh, Bunda. Ada yang bisa saya bantu?” “Ehm… tidak, Tuan. Saya hanya mau ke…” Kalimatnya menggantung. Ia ingin bertanya ke resepsionis soal ruangan, tapi yang mentraktir justru berdiri di depannya.Kereta mulai meninggalkan Kota Makassar dengan kecepatan yang perlahan meningkat. Eksel memilih duduk di dekat jendela. Sejak tadi matanya nyaris tak pernah lepas dari pemandangan di luar. Sesekali ia mengambil ponselnya untuk mengabadikan beberapa momen, lalu kembali menempelkan wajahnya ke kaca."Amazing..."gumamnya pelan, begitu memasuki wilayah Maros, hamparan tambak mulai terlihat membentang di sisi rel. Di kejauhan, garis biru Selat Makassar tampak menyatu dengan langit pagi yang cerah.Beberapa perahu nelayan terlihat berayun pelan di bibir pantai, sementara burung-burung laut sesekali melintas rendah di atas permukaan air. Tak lama kemudian, kereta memasuki kawasan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), pemandangan kembali berubah. Hamparan sawah hijau membentang sejauh mata memandang, diselingi petak-petak tambak yang memantulkan cahaya matahari pagi.Di sisi lain, gugusan Pegunungan Karst Maros-Pangkep berdiri kokoh dengan bentuk tebing-tebing batu kapur yang menjulang tinggi.
Setelah seluruh laporan trading selesai dirapikan, Bunda Zayna kembali membuka daftar saham yang berada di dalam portofolio Tuan Karim.Ia memperhatikan grafik satu per satu. "Hm...dua saham ini sepertinya masih berada dalam tren naik."Ia memberi tanda pada kedua saham tersebut sebagai rencana transaksi keesokan pagi.Untuk portofolio pribadinya, Bunda Zayna juga mulai menyusun strategi baru.Besok ia berencana kembali menerapkan metode BSJP (Beli Sore Jual Pagi) pada sebagian dananya, sementara sebagian dana lainnya akan dipindahkan ke akun investasi jangka panjang."Kalau empat puluh persen dipindahkan ke akun investasi..." gumamnya sambil menghitung."...dana tradingku jadi terlalu kecil untuk mengejar target transaksi."Ia kembali menggeleng pelan. "Jangan terburu-buru, dua puluh persen saja dulu.""Sedikit demi sedikit menambah kepemilikan saham investasi juga sudah cukup." Baginya, konsistensi jauh lebih penting daripada memaksakan hasil besar dalam waktu singkat.Setelah menutu
Malam semakin larut, setelah memastikan seluruh laporan trading dan analisis portofolio milik Tuan Karim selesai disusun, Bunda Zayna tidak langsung menutup laptopnya.Ia masih membuka satu berkas lagi. Kali ini bukan laporan milik Karim, melainkan catatan transaksi portofolio pribadinya.Selama ini, Bunda Zayna terbiasa hanya melihat hasil akhirnya. Hari itu untung atau rugi, berapa nilai profit yang diperoleh, atau berapa besar kerugian yang harus diterima. Ia jarang benar-benar merekap perputaran dana, nilai transaksi harian, maupun akumulasi pembelian dan penjualan saham secara terperinci.Namun kali ini berbeda, beberapa hari sebelumnya, ia berhasil mendaftarkan diri pada program edukasi khusus yang diselenggarakan oleh sekuritas tempat ia bermitra. Program tersebut ditujukan bagi nasabah yang ingin memperdalam ilmu investasi dan manajemen portofolio. Salah satu syaratnya adalah memiliki akumulasi nilai transaksi tertentu selama masa pemantauan tiga bulan, minimal lima puluh juta
Bunda Zayna tiba di rumah dengan membawa sebungkus gado-gado yang baru saja dibelinya di warung langganan. Malam itu, gado-gado sederhana itu menjadi pelengkap makan malam keluarga mereka.Seperti biasa, suasana meja makan dipenuhi obrolan ringan. Ana bercerita tentang kegiatan hari itu, sementara Zayan sesekali menyela dengan cerita versinya sendiri yang membuat semua tertawa.Setelah makan malam selesai dan dapur kembali rapi, Bunda Zayna membuka laptopnya. Ia mulai merekap hasil trading hari itu sekaligus menyusun rencana transaksi untuk keesokan harinya.Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh iya, Yah..." Bunda Zayna menoleh kepada suaminya. "Ada satu hal penting yang belum sempat Bunda ceritakan. Maaf, ya."Aim yang sedang merapikan beberapa mainan Zayan langsung menoleh."Apa itu, Bunda?"Sebelum menjawab, Bunda Zayna melirik ke arah kedua anak mereka.Ana yang memahami isyarat ibunya segera berdiri. "Ayah... Bunda... Ana sama Dek Zayan tidur dulu ya."Ia menggandeng tangan adiknya.
Kelvin menghabiskan suapan terakhir gado-gadonya. Pandangannya masih sesekali mengikuti langkah Bunda Zayna yang mulai menjauh dari warung.Sebenarnya sempat terlintas di benaknya untuk menempelkan sebuah alat penyadap berukuran mini pada barang bawaan perempuan itu. Namun niat tersebut segera ia urungkan."Jangan gegabah."Ia menggeleng pelan. "Kalau memang Karim sampai menugaskan dua pengawal bayangan, besar kemungkinan area di sekitar rumah Bunda Zayna juga sudah menjadi perhatian mereka."Kelvin menarik napas panjang."Kalau aku memaksakan diri sekarang, justru kedua pengawal itu akan meningkatkan kewaspadaannya. Tidak sebanding dengan informasi yang mungkin kudapat."Baginya, penyelidikan yang baik bukanlah tentang bergerak cepat, melainkan tentang mengetahui kapan harus menunggu. Saat itulah ponselnya berdering. Di layar tertera sebuah nama.Eksel Calling...Senyum tipis muncul di wajah Kelvin. Ia segera mengangkat panggilan itu."Halo, Eksel.""Hallo, Ayah!" suara di seberang
Sudah dua hari Kelvin berada di Parepare. Ia sengaja tidak terburu-buru mendekati target. Pengalamannya selama bertahun-tahun mengajarkan satu hal, semakin sulit seseorang ditemukan, semakin banyak lapisan pengamanan yang tidak terlihat.Pagi itu ia kembali mengunjungi alamat yang pernah tercantum sebagai tujuan pengiriman paket atas nama Zayna Azzahra.Mobilnya diparkir beberapa ratus meter dari rumah tersebut. Dari dalam kendaraan, Kelvin mengamati lingkungan sekitar sambil sesekali melihat layar perangkat yang berada di pangkuannya. Ia memetakan kondisi lingkungan, jalur keluar-masuk, titik yang ramai dilalui warga, hingga lokasi yang memungkinkan seseorang melakukan pengawasan tanpa menarik perhatian.Beberapa kali ia melihat sosok yang tampak seperti warga biasa. Namun pola pergerakannya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Kelvin menyunggingkan senyum tipis."Hm... benar dugaanku."Ia memperhatikan seorang pria yang beberapa kali berpindah posisi seolah sedang menunggu seseoran
Ponsel Ziyan akhirnya berbunyi setelah cukup lama terdiam, Ia menoleh di saat yang sama. Karim juga mengangkat pandangannya. Keduanya saling bertatap tanpa kata.Namun jelas pesan itu pasti dari Bunda Zayna.Karim memberi isyarat kecil dengan dagunya. “Buka.” Ziyan menurut, pesan itu akhirnya diba
Tatapannya mantap, tidak goyah sedikit pun. “Dan saya tidak ingin terburu-buru… hanya untuk terlihat siap.” Ia memberi jeda singkat, membiarkan makna itu sampai. “Masalah itu…” ucapnya pelan, “akan kita bahas lebih lanjut.”Soraya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Ketika saya sudah benar-b
Aim kembali melangkah ke tempat Daeng Dirman berdiri. Wajahnya terlihat ragu, seolah masih menimbang sesuatu yang berat di kepalanya. “Jadi… bagaimana, Pak Aim?” tanya Dirman dengan nada tenang, meski di balik sorot matanya tersimpan rasa ragu.Aim menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Se
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karim dan Ziyan bersiap menuju lokasi lahan resort yang akan dibangun. Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja kecil ruang makan hotel. Karim berdiri di dekat jendela, memandang keluar sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Ziyan.”“Iya, Tuan.”Ba







