Share

Bab 6

Author: WinaraBZ
last update publish date: 2026-03-03 18:51:12

Ruang VIP hotel itu masih menyimpan kehangatan pertemuan yang baru saja usai. Dokumen kontrak telah ditandatangani. Map hitam eksklusif kini tertutup rapi di atas meja marmer. Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajah-wajah yang baru saja mengikat kerja sama besar. Karim berdiri lebih dulu.

"Baik, Bund. Karena penandatanganan sudah selesai, saya pamit. Saya akan kembali ke Bandung sore ini, lalu langsung ke Turki. Mungkin cukup lama sebelum kita bisa bertemu lagi.”

Di sampingnya, Ziyan—asisten pribadinya—langsung sigap merapikan dokumen dan menyimpannya dengan profesional.

Karim melanjutkan, “Untuk pelaporan, setiap tanggal 15 dan 30, buat dalam bentuk video presentasi. Kirim langsung ke nomor pribadi saya. Karena ini tidak terkait perusahaan.”

Ziyan sedikit mengangkat alisnya. Ia memahami maksud atasannya, tapi tetap mencatat dengan ekspresi netral. Bunda Zayna menatap sopan.

“Maaf, Tuan. Apakah tidak apa-apa lewat nomor pribadi? Bukankah Tuan cukup sibuk?”

Sang suami yang sejak tadi duduk tenang di sampingnya ikut bersuara, rendah namun tegas. “Biasanya laporan investasi melalui jalur resmi, bukan?”

Karim tersadar ucapannya bisa ditafsirkan berbeda. “Ehm… maksud saya, ini murni investasi pribadi saya. Jadi saya yang harus menangani langsung agar setiap kondisi bisa direspons cepat tanpa birokrasi perusahaan.”

Ziyan menambahkan secara profesional,

“Benar, Pak. Dana ini bukan atas nama perusahaan. Saya tetap akan membantu monitoring secara administratif.” Suasana kembali netral.

“Baik, Tuan. Selama tetap dalam koridor profesional,” jawab Bunda Zayna lembut.

“Tentu,” balas Karim.

Di sudut ruangan, dua anak Bunda Zayna duduk serius bermain game di tablet mereka. Sesekali terdengar suara kemenangan kecil yang tertahan. Sejenak, Bunda Zayna berdiri. Wajahnya tenang, tapi ada kerendahan hati yang tulus di sorot matanya.

“Ehm, Tuan… terima kasih sudah memfasilitasi kami menginap di hotel ini dengan segala kemewahannya. Kami sungguh merasa diterima… sebagai orang kelas rendah.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Karim menatapnya dalam.

Kelas rendah? Apakah ia benar-benar memandang dirinya serendah itu?

Karim memperhatikan pakaian Bunda Zayna yang sederhana. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Namun justru memancarkan wibawa alami. Bukan hanya penampilannya yang bersahaja… cara berpikirnya pun terlalu merendah. Dan itu yang membuat Karim tidak suka. Dalam benaknya terlintas, Dia harus belajar menghargai dirinya sendiri… seperti cara saya melihat dirinya. Karim menarik napas perlahan.

“Ehm… sama-sama, Bunda Zayna,” ucapnya tenang namun lebih dalam dari sebelumnya.

“Anda dan keluarga sangat bernilai. Sehingga layak diperlakukan istimewa.” Kalimat itu tidak terdengar seperti basa-basi.

Bunda Zayna tertegun sejenak. Tatapannya melembut. Senyum tulus terukir di wajahnya senyum yang jarang muncul, karena hidup telah membuatnya lebih banyak berpikir daripada merasa. Sang suami memperhatikan momen itu dengan tenang. Tatapannya tidak cemburu, tidak pula curiga—hanya penuh kesadaran.

Karim kembali bersikap formal.

“Baiklah, silakan dinikmati fasilitas yang diberikan pihak hotel. Jangan sungkan. Kami akan check out sekarang.” Ia melangkah lebih dulu, mengulurkan tangan kepada suami Bunda Zayna untuk perpisahan terakhir.

“Terima kasih atas kerja samanya. InsyaAllah membawa manfaat dan berkah untuk kita semua.”

“Aamiin,” jawab mereka bersamaan.

Kemudian Karim menelungkupkan tangannya dengan sopan ke arah Bunda Zayna, gestur hormat yang terjaga batasnya.

Ziyan berdiri sedikit di belakang, profesional seperti biasa, memastikan semua agenda selesai tanpa cela. Karim dan Ziyan berjalan beriringan keluar dari ruang VIP menuju kamar hotel untuk bersiap. Langkah mereka mantap di lorong panjang berkarpet tebal.

Di belakang, Bunda Zayna dan keluarganya masih berada di ruang VIP. Anak-anaknya kini berpindah ke meja makan kecil, menikmati menu spesial restoran hotel yang tersaji elegan. Sang suami duduk di sampingnya. Ia menoleh pelan. “Bunda bukan kelas rendah,” ucapnya lembut. Bunda Zayna tersenyum kecil.

“Aku hanya takut lupa diri.” Sang suami menggenggam tangannya singkat.

“Kita bukan sedang naik kelas. Kita hanya sedang bertumbuh.”

Di lorong hotel yang berkarpet tebal menuju kamar. Karim berjalan tanpa berbicara. Namun dalam pikirannya, satu kalimat terus berulang:

"Kelas Rendah, Dia tidak tahu betapa berharganya dirinya."

Sementara itu, di ruang VIP…

Bunda Zayna dan keluarganya masih menikmati hidangan spesial dari restoran hotel. Anak-anak sudah berpindah dari game ke makanan penutup yang terlihat terlalu cantik untuk disentuh. Tiba-tiba mata Bunda Zayna berbinar. “Pah… ada karokenya! Kita nyanyi yuk!”

Ia menunjuk ke sudut ruangan yang ternyata memiliki layar besar tersembunyi.

Aim—suaminya—menoleh, lalu berdiri mendekat. “Tapi, Mam… saya tidak tahu cara menghidupkannya.”

“Kita minta tolong saja pelayannya.” Aim melihat sekeliling. “Biasanya ada bel atau lonceng, seperti di novel yang saya baca. Atau tombol connector tersembunyi…” Bunda Zayna mengangkat alis.

“Ah, kelamaan cari tombolnya. Biasanya ruang VIP ada pelayan berjaga di depan.” Aim berjalan ke pintu dan sedikit membuka.

“Mas…” panggilnya sopan. "Boleh bantu saya di dalam?”

“Baik, Pak,” jawab pelayan sigap. Pelayan masuk dan tersenyum ramah.

“Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

“Ehm… kami ingin karaoke bersama keluarga. Apakah bisa, Mas?”

“Oh tentu, Pak. Di ruangan ini memang ada fasilitasnya. Mari saya bantu.”

Dengan terampil, pelayan menekan tombol kecil yang tersembunyi di panel dinding. Seketika ruangan berubah. Lampu warna-warni keluar dari celah plafon. Lampu sorot menyala lembut. Panel akustik tersembunyi bergeser otomatis. Ruang semi formal itu berubah menjadi mini studio keluarga.

Anak-anak bersorak kecil.

Bunda Zayna justru terpaku.

Matanya menatap plafon. Tangannya refleks mengambil pulpen dari tas dan mulai membuat sketsa kecil di kertas serbet.

Aim memperhatikannya.

“Bund…”Tidak ada jawaban.

“Bund…”

Masih diam. “Ya ampun, istriku menghayal lagi,” katanya sambil melambaikan tangan di depan wajah Bunda Zayna.

“Pah! Tangannya menghalangi,” protesnya kesal. “Bunda ini dari tadi diajak ngobrol, taunya lagi melamun.”

“Oh… lagi ngajak ngobrolki?” katanya polos. Aim menggeleng. “Bunda lagi melamun apa?”

Bunda Zayna menyodorkan serbet berisi coretan. “Saya coba membayangkan sistem mekaniknya di dalam plafon.” Masih diam. Aim memandangi sketsa itu.

“Ini karaoke, Mam… bukan proyek pembangunan bandara.”

Anak-anak tertawa. Pelayan masih berdiri di samping layar. “Permisi, Bapak/Ibu, ada lagi yang bisa saya bantu?”

Bunda Zayna tersadar.

“Eh… Masnya masih di dalam?”

Pelayan tersenyum menahan tawa.

“Hehe, aman, Mas. Terima kasih bantuannya.”

Ia memberikan tip. Aim menoleh pelan.

“Bund…”

“Ehm?”

Aim menoleh pelan.

Bund…”

“Ehm?”

“Memang harus begitu ya, setiap minta bantuan kasih tip?” “Iya. Kata teman Bunsa gitu. Kalau masuk hotel, siapkan beberapa lembar kecil. Anggap saja berbagi. Kasihan itu semacam uang tambahan mereka.”

“Iya tapi kan itu pekerjaannya…”

“Sudahlah Pah, jangan pelit. Kita baru dapat rezeki, loh. Anggap berbagi kebahagiaan.” Aim menghela napas dramatis.

“Baiklah. Kalau begitu, nanti saya yang karaoke paling semangat. Biar impas.” Bunda Zayna hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Beberapa menit kemudian…

“Yank,” kata Aim sambil melihat jam.

“Ruangan ini sampai jam berapa booking-nya?”

Bunda Zayna terdiam.

“Oh iya ya… kok baru kepikiran yah.  Tapi tanyanya ke siapa, ya Pah? Saya nggak enak kalau tanya ke Pak Karim atau Tuan Ziyan…”

“Ya tanya resepsionis saja. Mereka pasti tahu.”

“Iya juga ya. Takut kelewat terus nggak bisa bayarnya. hehehe” Aim tersenyum.

“Pergi maki.” “Iye, pigi ma ini,” balasnya sambil tertawa kecil. Bunda Zayna berjalan keluar menuju resepsionis.

Namun secara kebetulan, ia bertemu dengan Ziyan yang sedang mengurus proses check-out. “Tuan Ziyan…” Ziyan menoleh sopan. “Eh, Bunda. Ada yang bisa saya bantu?”

“Ehm… tidak, Tuan. Saya hanya mau ke…”

Kalimatnya menggantung.

Ia ingin bertanya ke resepsionis soal ruangan, tapi yang mentraktir justru berdiri di depannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Investor Asing   Bab. 99

    Zayna termenung sesaat. Lamunannya buyar ketika suara suaminya menyapanya."Eh, Bunda... coba deh yang ini." Aim menyodorkan sepotong kue basah lalu menyuapkannya ke mulut Zayna dengan antusias. "Gimana rasanya?" tanyanya penuh semangat.Sambil mengunyah, Zayna mengangguk pelan. "Enak". Namun, perhatian Zayna tidak lagi tertuju pada kue yang sedang dinikmatinya. Matanya justru terpaku pada wajah suaminya yang tampak begitu bahagia, sorot mata itu tidak biasa. Binar yang telah lama hilang kini kembali terlihat jelas setelah terakhir kali ia saksikan bertahun-tahun lalu, saat kedua buah hati mereka lahir ke dunia. Tapi hari ini...Cahaya itu kembali hadir.Siapa sebenarnya Perempuan itu yang membuatnya sebahagia ini? Pertanyaan itu berulang kali berputar di benaknya. Ia ingin bertanya sosok itu yang mampu mengubah suasana hati suaminya sedemikian rupa. Namun bibirnya tetap kelu, ada sesuatu yang menahannya. "Ayah... aku ke kamar dulu."Aim menoleh sekilas lalu tersenyum."Iya, Bunda. T

  • Investor Asing   Bab. 98

    Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Aim keluar dari gedung kantor dan segera menghampiri keluarganya yang tampak asyik menikmati aneka jajanan khas daerah itu."Ayah, sini!" panggil Ana sambil melambaikan tangan, mengajaknya bergabung.Dengan langkah bersemangat, Aim mendekati mereka. "Apa yang kalian makan, sayang?" tanyanya kepada Zayna dan anak-anak."Ayah coba sendiri saja deh," jawab Zayna sambil menyodorkan sepiring makanan kepadanya. Aim langsung mencicipinya."Ehm... enak," katanya sambil mengangguk puas. "Benar kan, Bunda? Pasti Ayah suka," ujar Ana dengan wajah ceria.Zayna hanya tersenyum. Namun tanpa sengaja pandangannya jatuh pada kantong plastik yang dibawa suaminya. Aim menyadari tatapan itu."Oh, ini juga jajanan seperti yang lain, Bunda," katanya sambil menyerahkan kantong tersebut kepada istrinya. "Simpan sebagian ya, tiap jenisnya.""Iya," jawab Zayna pelan.Entah mengapa hatinya terasa sedikit sensitif. Ia masih menunggu penjelasan dari Aim tentang siapa orang yang

  • Investor Asing   Bab. 97

    "Anita? Jadi benar kamu?" sapanya hangat.Wajah Anita langsung berbinar. "Aim... ternyata benar kamu."Keduanya sempat terdiam beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka memang teman lama yang pernah mengisi sebagian masa muda mereka.Anita kemudian mengusap bahu anak perempuan di sampingnya. "Iya, ini aku. Dan ini anakku, Gita."Aim tersenyum ramah. "Halo, Gita.""Gita, ini teman Ibu waktu kuliah dulu."Gita mengangguk sopan. "Halo, Om.""Halo juga."Anita lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zayna dan anak-anak yang sedang berjalan menyusuri deretan pedagang. "Itu keluargamu, Aim?" tanyanya pelan.Aim mengikuti arah pandangan Anita. Senyumnya langsung melembut. "Iya. Alhamdulillah." Ada kebanggaan yang tak bisa disembunyikan dalam nada suaranya.Anita memperhatikan keluarga kecil itu beberapa saat. Seorang wanita berhijab yang sederhana namun tampak hangat, ditemani anak-anak yang ceria dan penuh tawa. "Kalian terlihat bahagia."Aim tersenyu

  • Investor Asing   Bab. 96

    "Bagaimana, Bunda Zayna? Apakah masih ada yang perlu ditanyakan terkait kontrak yang baru?" tanya Karim.Bunda Zayna masih membuka beberapa lembar dokumen di hadapannya. Sesaat kemudian ia menggeleng pelan."Tidak ada, Tuan. Sebagian besar isinya hampir sama dengan kontrak sebelumnya. Hanya ada beberapa penyesuaian, dan seperti biasa setiap lima belas hari tetap harus ada pelaporan."Sambil bergumam pelan, ia mulai menghitung dengan jari-jarinya."Kalau saya libur empat belas hari, berarti tinggal satu hari saja, dong? Jadi selama liburan saya tetap harus trading walaupun sebentar..." keluhnya. "Huft... tanggung jawabnya malah makin besar."Setiap perubahan ekspresi di wajah Bunda Zayna tak luput dari perhatian Karim dan Ziyan. Keduanya hanya bisa saling berpandangan, lalu menggeleng sambil menahan senyum geli.Setelah kembali membaca beberapa bagian terakhir, Bunda Zayna menganggukkan kepalanya mantap."Baik, Tuan Karim. Saya rasa cukup."Kalimat itu meluncur begitu saja hingga membu

  • Investor Asing   Bab. 95

    "Tuan, sepertinya Bunda Zayna sudah berada di ruang virtual," lapor Ziyan melalui pesan singkat.Karim yang sedang menatap layar laptopnya hanya membaca pesan itu sekilas."Biarkan saja. Tunggu sepuluh menit lagi, baru kita bergabung," balasnya tenang."Baik, Tuan."Beberapa saat kemudian Karim kembali menghubungi Ziyan. "Ziyan.""Ya, Tuan.""Kamu sudah mengirim sepuluh miliar ke RDN yang dikelolanya?""Sudah, Tuan. Saya kirim setelah pertemuan terakhir kita. Hanya saja kemungkinan Bunda Zayna belum sempat melihatnya. Bursa masih libur karena cuti bersama, jadi transaksi belum berjalan normal," jawab Ziyan."Baik, tidak masalah." Karim menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya."Bagaimana perkembangan di Parepare? Apakah ada pergerakan dari Kelvin?""Saat ini Kelvin sedang menemui pihak butik rekanan Nona Soraya, Tuan."Karim mengernyit tipis. "Ada sesuatu yang mencurigakan?""Menurut laporan orang-orang kita, Kelvin berusaha mencari kontrak awal terkait brand ambassador sebelumnya.""D

  • Investor Asing   Bab. 94

    Ana dan Zayan sangat senang bermain di kolam. Kolam yang ada di rumah itu memang tidak seperti standar kolam renang pada umumnya. Kedalamannya hanya sekitar dada orang dewasa sehingga cukup aman untuk anak-anak, terlebih Zayan sudah mulai belajar berenang.Tawa kedua anak itu terdengar memenuhi area belakang rumah. Sesekali cipratan air mengenai wajah mereka, membuat Ana tertawa semakin keras sementara Zayan sibuk mengejar kakaknya di dalam air.Zayna yang sejak tadi duduk di tepi kolam akhirnya berdiri lalu mendekati suaminya yang sedang mengawasi anak-anak mereka.“Yah, sudah setengah enam. Yuk, bunda rasa cukup untuk hari ini berenangnya. Bersih-bersih dulu kemudian bersiap makan malam,” ucapnya lembut.Aim menoleh ke arah istrinya lalu mengangguk kecil sebelum memanggil kedua anaknya.“Ana... Zayan... ayo naik dulu, kita mandi.”Seperti biasa, Ana langsung memasang wajah memohon.“Yah... sepuluh menit lagi. Kak Ana belum puas...” rengeknya manja.“Iya bund, sepuluh menit lagi ya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status