Inicio / Romansa / Istana yang Retak / Bab 16. Pertemuan

Compartir

Bab 16. Pertemuan

Autor: Lia Lintang
last update Fecha de publicación: 2026-04-19 00:56:37

Langit malam menggantung rendah seperti menekan seluruh kota dengan beban yang tak kasat mata, sementara lampu-lampu jalan memantulkan cahaya pucat di atas aspal yang basah oleh sisa hujan sore tadi, menciptakan suasana muram yang seolah menjadi cerminan isi hati Bram saat ia menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang tak asing kafe lama di sudut jalan yang dulu pernah ia kunjungi tanpa beban, tanpa rahasia, tanpa rasa bersalah yang kini menggerogoti setiap langkahnya.

Ia duduk beberapa detik
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Istana yang Retak   Bab 81. Pengkhianatan yang Tak Termaafkan

    Malam itu menjadi salah satu malam paling mengguncang dalam hidup Julia. Bahkan setelah ambulans membawa tubuh pria tua yang menjadi saksi terakhir tragedi masa lalu itu, ia masih berdiri mematung di dalam gudang yang dingin dan suram. Suara sirene yang perlahan menjauh terdengar seperti gema yang memantul di dalam kepalanya.Namun bukan kematian pria itu yang paling mengusik pikirannya. Bukan pula tembakan yang nyaris merenggut nyawa mereka. Yang terus berputar di benaknya adalah nama yang diucapkan sesaat sebelum pria itu mengembuskan napas terakhir.Nama yang selama ini tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigainya. Nama yang begitu dekat dengan hidupnya hingga Julia tidak pernah membayangkan bahwa orang tersebut menyimpan rahasia sebesar itu selama puluhan tahun.Bram berdiri di samping istrinya sambil memegang pundaknya erat. Ia bisa merasakan tubuh Julia sedikit gemetar. Bukan karena udara malam yang dingin, melainkan karena syok yang masih menguasainya."Kita pulang d

  • Istana yang Retak   Bab 80. Nama yang Selama Ini Disembunyikan

    Suara tembakan yang memecah kesunyian malam membuat seluruh isi gudang berubah kacau dalam sekejap. Pecahan kaca berhamburan ke berbagai arah sementara pria tua yang baru saja mengungkap sebagian rahasia masa lalu itu terjatuh ke lantai dengan tangan menekan dada kirinya.Darah mulai merembes di sela-sela jemarinya. Julia yang masih berada di balik tumpukan peti tua merasakan tubuhnya gemetar hebat. Semua terjadi terlalu cepat.Beberapa detik sebelumnya mereka sedang mendekati jawaban yang selama puluhan tahun terkubur, tetapi kini satu-satunya saksi yang berani berbicara justru menjadi target pembungkaman."Bram!" seru Julia panik."Aku di sini," jawab Bram cepat sambil menarik tubuh istrinya lebih rendah. Tatapannya menyapu ke arah jendela yang pecah. Instingnya mengatakan penembak masih berada di luar. "Jangan keluar!"Julia mengangguk, tetapi matanya terus tertuju pada pria tua yang terkapar beberapa meter dari mereka. Rasa takut dan rasa kemanusiaan bertarung di dalam dirinya. Ia

  • Istana yang Retak   Bab 79. Gudang di Ujung Pelabuhan

    Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Setelah membaca pesan misterius yang berisi foto dokumen Kartika dan alamat sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan, Julia dan Bram nyaris tidak berbicara selama beberapa menit.Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka sadar bahwa setiap langkah yang diambil sekarang akan menentukan apakah misteri kematian Kartika akhirnya terungkap atau justru terkubur selamanya.Di ruang keluarga, jam dinding terus berdetak seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Julia duduk sambil menatap layar ponselnya yang mulai redup.Hatinya dipenuhi keraguan. Selama beberapa bulan terakhir, terlalu banyak jebakan yang diarahkan kepadanya dan keluarganya. Terlalu banyak orang yang berpura-pura menjadi sekutu, lalu menusuk dari belakang.Namun kali ini berbeda. Instingnya mengatakan bahwa orang yang mengirim pesan itu benar-benar mengetahui sesuatu. Sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh banyak pihak.

  • Istana yang Retak   Bab 78. Perburuan Bukti Terakhir

    Kabar hilangnya dokumen milik Kartika menghantam Julia seperti gelombang besar yang datang tanpa peringatan. Selama beberapa menit setelah mendengar pengakuan Surya, ia hanya berdiri membeku di samping mobil.Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning di halaman rumah tua itu, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Yang terbayang dalam benaknya hanyalah satu hal: jika dokumen asli itu benar-benar hilang, maka jalan menuju kebenaran bisa tertutup selamanya.Bram segera mengambil alih situasi ketika melihat wajah istrinya yang semakin pucat. Ia meminta Julia duduk terlebih dahulu sementara dirinya dan Surya mencoba menenangkan keadaan.Namun bahkan Bram sendiri tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Mereka baru saja menemukan secercah harapan untuk mengungkap misteri kematian Kartika, tetapi harapan itu kini terancam lenyap bahkan sebelum sempat mereka genggam."Siapa yang tahu lokasi dokumen itu?" tanya Bram.Surya mengusap wajahnya dengan t

  • Istana yang Retak   Bab 77. Darah yang Tertumpah di Masa Lalu

    Rumah tua itu terasa semakin sempit setelah pengakuan mengejutkan yang baru saja didengar Julia. Udara di dalam ruangan seolah menjadi lebih berat.Tangannya masih menggenggam surat tua yang sudah menguning, sementara pikirannya dipenuhi ribuan pertanyaan yang saling bertabrakan. Selama puluhan tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mengetahui asal-usulnya. Ia mengenal kedua orang tuanya, mengenal keluarganya, mengenal kisah hidupnya.Namun hanya dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh fondasi yang selama ini menopang hidupnya runtuh satu demi satu. Ia ternyata anak angkat.Ibu kandungnya bernama Kartika. Dan yang paling mengejutkan, perempuan yang melahirkannya bukan meninggal karena sakit atau kecelakaan seperti yang selama ini dipercayai sebagian orang, melainkan menjadi korban sebuah kejahatan yang sengaja ditutupi selama bertahun-tahun.Julia duduk diam cukup lama. Air matanya sudah berhenti mengalir, tetapi rasa sesak di dadanya justru semakin kuat. Bram yang berada di

  • Istana yang Retak   Bab 76. Kebenaran yang Mengguncang

    Malam itu, Julia hampir tidak bisa memejamkan mata.Pesan misterius yang diterimanya terus berputar di dalam kepala."Jika ingin tahu siapa dirimu sebenarnya..."Kalimat itu terdengar sederhana.Namun cukup untuk mengguncang fondasi hidup yang selama ini ia yakini.Di sampingnya, Bram juga belum tidur.Pria itu beberapa kali memandangi istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang."Kamu masih memikirkan pesan itu?"Julia mengangguk pelan."Aku tidak tahu harus percaya atau tidak."Bram terdiam.Ia memahami kebingungan Julia.Selama puluhan tahun, perempuan itu tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya mengenal keluarganya.Mengenal masa lalunya.Mengenal siapa dirinya.Namun satu foto tua telah membuat semua keyakinan itu retak."Aku akan ikut besok," kata Bram akhirnya.Julia menoleh."Tidak perlu.""Aku tetap ikut."Nada suaranya tegas."Kita sudah terlalu sering menghadapi masalah sendirian."Tatapan mereka bertemu.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Julia tidak membantah.Ka

  • Istana yang Retak   Bab 35. Fitnah di Meja Keluarga

    Sejak kunjungan memalukan itu, Bu Sulastri pulang dengan hati mendidih. Sepanjang perjalanan, perempuan paruh baya itu terus mengomel tanpa henti, sementara Nita duduk di jok belakang dengan wajah kusut penuh kesal. Mobil angkot yang mereka tumpangi terasa panas, bercampur bau bensin dan keringat p

  • Istana yang Retak   Bab 34. Puncak Kesuksesan Julia

    Malam setelah telepon Twin itu menjadi salah satu malam terpanjang dalam hidup Bram. Ia duduk bersandar di depan pintu kamar, menunggu Julia membukakan kunci, tetapi sampai lewat tengah malam tak ada jawaban selain isak pelan yang sesekali terdengar dari dalam. Hana sempat bangun karena haus dan m

  • Istana yang Retak   Bab 33. Telepon dari Masa Lalu yang Busuk

    Setelah Bu Sulastri dan Arman pergi dengan muka masam, rumah itu kembali sunyi. Namun sunyi yang kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena pertengkaran baru saja lewat, melainkan karena Julia dan Bram sama-sama kehabisan tenaga untuk marah. Seolah emosi mereka sudah diperas habis. Julia duduk di

  • Istana yang Retak   Bab 32. Mertua Datang Membawa Petaka

    Pintu pagar yang dibanting Nita masih bergetar pelan ketika keheningan menyelimuti rumah itu.Namun keheningan kali ini bukan jenis yang menenangkan. Ia seperti sisa ledakan yang menyisakan asap, serpihan, dan bau hangus di mana-mana. Bram berdiri mematung di dekat pintu dengan dada naik turun. Ta

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status