/ Romansa / Istana yang Retak / Bab 15. Runtuhnya Topeng

공유

Bab 15. Runtuhnya Topeng

작가: Lia Lintang
last update 게시일: 2026-04-18 00:50:15

Pagi itu datang tanpa kehangatan, seolah matahari pun enggan menyentuh dunia yang penuh luka dan rahasia, sementara di dalam gedung kantor yang dulu menjadi tempat Twin berdiri dengan penuh percaya diri, suasana terasa jauh berbeda dingin, asing, dan penuh bisikan yang tidak lagi disembunyikan.

Langkah kaki Twin terdengar pelan namun tegas saat ia melangkah masuk ke lobi, mengenakan pakaian rapi seperti biasa, rambutnya tersisir sempurna, wajahnya dipoles seakan tidak terjadi apa-apa, padahal
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Istana yang Retak   Bab 34. Puncak Kesuksesan Julia

    Malam setelah telepon Twin itu menjadi salah satu malam terpanjang dalam hidup Bram. Ia duduk bersandar di depan pintu kamar, menunggu Julia membukakan kunci, tetapi sampai lewat tengah malam tak ada jawaban selain isak pelan yang sesekali terdengar dari dalam. Hana sempat bangun karena haus dan mendapati ayahnya masih duduk di lantai. Gadis kecil itu memeluk leher Bram sambil mengantuk, lalu bertanya polos kenapa Mama marah lagi. Bram tidak mampu menjawab. Ia hanya memeluk putrinya erat, sambil menatap daun pintu yang terasa seperti tembok pemisah antara dirinya dengan segala yang dulu ia miliki.Pagi harinya, Julia keluar kamar dengan wajah pucat, tetapi sorot matanya jauh lebih dingin dari sebelumnya. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada tangisan. Tidak ada adegan melempar barang. Justru ketenangan itulah yang membuat Bram lebih takut. Sebab perempuan yang terlalu sering menangis suatu hari akan sampai pada titik ketika air mata tak lagi berguna. Dan saat itu, yang lahir adalah keputu

  • Istana yang Retak   Bab 33. Telepon dari Masa Lalu yang Busuk

    Setelah Bu Sulastri dan Arman pergi dengan muka masam, rumah itu kembali sunyi. Namun sunyi yang kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena pertengkaran baru saja lewat, melainkan karena Julia dan Bram sama-sama kehabisan tenaga untuk marah. Seolah emosi mereka sudah diperas habis. Julia duduk di sofa sambil memijat pelipis, sedangkan Bram berdiri lama di dekat jendela, menatap pagar yang baru saja tertutup. Lelaki itu tidak bicara apa-apa, tetapi dari pundaknya yang turun dan napasnya yang berat, Julia tahu Bram sedang dihantam rasa malu yang lebih dalam dari sebelumnya.“Mas,” panggil Julia akhirnya.Bram menoleh pelan.“Aku capek.”Dua kata sederhana itu justru membuat Bram menunduk. Sebab ia tahu, Julia bukan hanya lelah bekerja, bukan hanya lelah mengurus Hana, melainkan lelah menanggung semua kebodohan orang-orang di sekeliling Bram.“Aku juga,” jawab Bram lirih.Hana yang sejak tadi diam-diam mengintip dari balik pintu kamar mendekat sambil membawa boneka Upin. Gadis kecil i

  • Istana yang Retak   Bab 32. Mertua Datang Membawa Petaka

    Pintu pagar yang dibanting Nita masih bergetar pelan ketika keheningan menyelimuti rumah itu.Namun keheningan kali ini bukan jenis yang menenangkan. Ia seperti sisa ledakan yang menyisakan asap, serpihan, dan bau hangus di mana-mana. Bram berdiri mematung di dekat pintu dengan dada naik turun. Tangannya masih gemetar karena emosi. Belum pernah seumur hidup ia mengusir ibu dan adiknya sendiri. Ada rasa bersalah, tentu saja. Tetapi jauh lebih besar dari itu adalah rasa muak. Ia baru saja melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keluarganya datang bukan untuk menopang, melainkan untuk menguliti sisa harga dirinya.Di ruang tengah, Hana masih sesenggukan. Gadis kecil itu memeluk Julia erat, wajahnya menempel di perut ibunya. “Mama… Eyang marah ya?” tanyanya dengan suara tercekat.Julia mengusap rambut putrinya perlahan. “Sudah, sayang. Tidak apa-apa.”Tetapi Julia tahu, semuanya tidak akan baik-baik saja semudah itu. Anak sekecil Hana kembali dipaksa menyaksikan pertengkaran. Keluar

  • Istana yang Retak   Bab 31. Ipar Adalah Benalu

    Ruang tamu itu belum juga pulih dari keterkejutan ketika postingan memalukan tentang Bram tersebar di grup keluarga besar. Pak Hadi duduk dengan wajah kusut, Bu Sulastri berkali-kali mengelus dada sambil menggumam istigfar, sedangkan Bram sendiri masih berdiri membatu seperti manusia yang baru saja dicabut seluruh harga dirinya. Hanya Julia yang tetap mampu menjaga kepalanya dingin, walaupun dalam dadanya amarah dan firasat buruk saling berdesakan. Ia tahu, foto itu bukan kebetulan. Seseorang memang sedang menguntit rumah mereka. Dan orang itu kemungkinan besar adalah Twin. Namun sebelum Julia sempat mengajak Bram bicara serius, suara decakan sinis Nita justru memecah keheningan.“Ya ampun, Mas… viral lagi?” ujarnya sambil menatap layar ponselnya, bukannya prihatin malah terdengar seperti sedang menikmati gosip artis. “Komentarnya pedes-pedes banget. Astaga, malu banget ya kalau sampai tetangga kampung lihat.”Bram menoleh tajam. “Nita, bisa gak sih jangan bacain?”“Lho, aku cuma ka

  • Istana yang Retak   Bab 30. Harga Diri yang Tercabik

    Suasana di ruang tamu berubah seperti ladang ranjau yang siap meledak kapan saja. Tidak ada lagi basa-basi keluarga. Tidak ada lagi senyum sopan. Yang tersisa hanya tatapan saling serang dan kata-kata yang menunggu untuk melukai lebih dalam. Bu Sulastri berdiri dengan dada naik turun, wajahnya merah padam menahan marah sekaligus malu. Selama ini, di depan saudara-saudaranya, di depan tetangga kampung, ia selalu membanggakan Bram sebagai putra sukses yang bekerja di perusahaan besar, punya rumah sendiri, mobil, istri cantik, anak lucu. Bram adalah piala hidupnya. Bukti bahwa ia berhasil menjadi ibu. Dan hari ini, di ruang tamu yang bahkan teh manisnya belum habis, piala itu dihantam sampai pecah oleh kenyataan yang ditunjukkan Julia tanpa ampun.“Kamu sengaja mempermalukan keluarga kami?” suara Bu Sulastri bergetar.Julia tidak langsung menjawab. Ia justru merapikan map-map tagihan di atas meja, lalu menatap mertuanya dengan tenang. “Saya tidak mempermalukan siapa pun, Bu. Fakta mema

  • Istana yang Retak   Bab 29. Mertua yang Menambah Luka

    Sejak telepon dari Twin malam itu, Bram menjadi jauh lebih gelisah. Ia berkali-kali memeriksa pagar, memastikan pintu terkunci, bahkan sesekali mengintip dari balik gorden setiap mendengar suara motor melintas. Julia yang menyadari perubahan sikap suaminya sempat bertanya, tetapi Bram memilih menahan diri untuk tidak menceritakan semuanya. Ia terlalu takut jika Julia kembali panik.Rumah yang baru saja tenang walau rapuh itu tidak sanggup menerima ledakan baru. Maka Bram memendam kecemasan itu sendirian sambil mencoba memikirkan usaha kecil apa yang bisa ia jalankan dari modal pemberian Julia.Namun, rupanya hidup belum selesai mempermainkannya.Sabtu siang, saat Julia sedang menata laporan di meja makan dan Bram baru selesai mencuci motor, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Hana yang sedang bermain balok langsung berlari ke jendela.“Papa, ada mobil Eyang!” serunya.Bram menoleh cepat. Dadanya langsung turun. Mobil silver tua milik orang tuanya.Belum sempat ia bereaksi,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status