Home / Romansa / Istana yang Retak / Bab 15. Runtuhnya Topeng

Share

Bab 15. Runtuhnya Topeng

Author: Lia Lintang
last update publish date: 2026-04-18 00:50:15

Pagi itu datang tanpa kehangatan, seolah matahari pun enggan menyentuh dunia yang penuh luka dan rahasia, sementara di dalam gedung kantor yang dulu menjadi tempat Twin berdiri dengan penuh percaya diri, suasana terasa jauh berbeda dingin, asing, dan penuh bisikan yang tidak lagi disembunyikan.

Langkah kaki Twin terdengar pelan namun tegas saat ia melangkah masuk ke lobi, mengenakan pakaian rapi seperti biasa, rambutnya tersisir sempurna, wajahnya dipoles seakan tidak terjadi apa-apa, padahal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istana yang Retak   Bab 78. Perburuan Bukti Terakhir

    Kabar hilangnya dokumen milik Kartika menghantam Julia seperti gelombang besar yang datang tanpa peringatan. Selama beberapa menit setelah mendengar pengakuan Surya, ia hanya berdiri membeku di samping mobil.Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning di halaman rumah tua itu, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Yang terbayang dalam benaknya hanyalah satu hal: jika dokumen asli itu benar-benar hilang, maka jalan menuju kebenaran bisa tertutup selamanya.Bram segera mengambil alih situasi ketika melihat wajah istrinya yang semakin pucat. Ia meminta Julia duduk terlebih dahulu sementara dirinya dan Surya mencoba menenangkan keadaan.Namun bahkan Bram sendiri tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Mereka baru saja menemukan secercah harapan untuk mengungkap misteri kematian Kartika, tetapi harapan itu kini terancam lenyap bahkan sebelum sempat mereka genggam."Siapa yang tahu lokasi dokumen itu?" tanya Bram.Surya mengusap wajahnya dengan t

  • Istana yang Retak   Bab 77. Darah yang Tertumpah di Masa Lalu

    Rumah tua itu terasa semakin sempit setelah pengakuan mengejutkan yang baru saja didengar Julia. Udara di dalam ruangan seolah menjadi lebih berat.Tangannya masih menggenggam surat tua yang sudah menguning, sementara pikirannya dipenuhi ribuan pertanyaan yang saling bertabrakan. Selama puluhan tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mengetahui asal-usulnya. Ia mengenal kedua orang tuanya, mengenal keluarganya, mengenal kisah hidupnya.Namun hanya dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh fondasi yang selama ini menopang hidupnya runtuh satu demi satu. Ia ternyata anak angkat.Ibu kandungnya bernama Kartika. Dan yang paling mengejutkan, perempuan yang melahirkannya bukan meninggal karena sakit atau kecelakaan seperti yang selama ini dipercayai sebagian orang, melainkan menjadi korban sebuah kejahatan yang sengaja ditutupi selama bertahun-tahun.Julia duduk diam cukup lama. Air matanya sudah berhenti mengalir, tetapi rasa sesak di dadanya justru semakin kuat. Bram yang berada di

  • Istana yang Retak   Bab 76. Kebenaran yang Mengguncang

    Malam itu, Julia hampir tidak bisa memejamkan mata.Pesan misterius yang diterimanya terus berputar di dalam kepala."Jika ingin tahu siapa dirimu sebenarnya..."Kalimat itu terdengar sederhana.Namun cukup untuk mengguncang fondasi hidup yang selama ini ia yakini.Di sampingnya, Bram juga belum tidur.Pria itu beberapa kali memandangi istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang."Kamu masih memikirkan pesan itu?"Julia mengangguk pelan."Aku tidak tahu harus percaya atau tidak."Bram terdiam.Ia memahami kebingungan Julia.Selama puluhan tahun, perempuan itu tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya mengenal keluarganya.Mengenal masa lalunya.Mengenal siapa dirinya.Namun satu foto tua telah membuat semua keyakinan itu retak."Aku akan ikut besok," kata Bram akhirnya.Julia menoleh."Tidak perlu.""Aku tetap ikut."Nada suaranya tegas."Kita sudah terlalu sering menghadapi masalah sendirian."Tatapan mereka bertemu.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Julia tidak membantah.Ka

  • Istana yang Retak   Bab 75. Rahasia yang Terkubur

    Ruang kunjungan rumah tahanan terasa dingin.Namun dinginnya ruangan itu masih kalah dibandingkan perasaan yang kini menguasai Mifta.Perempuan itu duduk kaku di balik kaca pembatas. Tangannya yang memegang gagang telepon sedikit bergetar. Tatapannya tidak pernah lepas dari pria yang duduk di seberang.Pria yang selama ini berusaha ia lupakan.Pria yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya."Kamu masih hidup," bisik Mifta.Pria itu tersenyum tipis."Sampai sekarang, iya."Nada suaranya tenang.Terlalu tenang.Seolah mereka sedang membicarakan cuaca, bukan masa lalu yang penuh luka.Mifta menelan ludah."Apa maumu?"Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi."Aku hanya ingin melihat keadaanmu."Mifta tertawa pendek.Tawa pahit yang terdengar nyaris seperti ejekan."Kalau begitu sekarang kamu sudah lihat."Ia menunjuk seragam tahanan yang dikenakannya."Kau puas?"Pria itu tidak langsung menjawab.Tatapannya justru mempelajari wajah Mifta.Wajah yang dulu penuh ambisi.Penuh percaya

  • Istana yang Retak   Bab 74. Tamu dari Masa Lalu

    Dua minggu setelah penangkapan Mifta, kehidupan keluarga Julia perlahan kembali menemukan ritmenya.Tidak sempurna.Masih ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.Masih ada trauma yang sesekali muncul tanpa peringatan.Namun setidaknya, mereka bisa bernapas lebih lega.Hana kembali bersekolah dengan normal. Meski sesekali masih meminta Julia mengantarnya sampai ke depan kelas, senyum gadis kecil itu mulai sering terlihat. Tawa yang sempat menghilang kini kembali memenuhi rumah.Bram pun perlahan menemukan pijakannya.Meski belum memiliki pekerjaan tetap, ia mulai membantu mengelola beberapa usaha milik Julia. Awalnya ia merasa rendah diri karena bergantung pada istrinya, tetapi Julia tidak pernah mempermasalahkan hal itu."Kita keluarga," kata Julia suatu malam.Kalimat sederhana itu masih teringat jelas di benak Bram.Bukan lagi soal siapa yang menghasilkan uang lebih banyak.Bukan lagi soal gengsi.Melainkan tentang saling menopang ketika salah satu terjatuh.Dan untuk pertama kalinya

  • Istana yang Retak   Bab 73. Perempuan yang Kehilangan Segalanya

    Suasana di ruang kerja Julia berubah tegang dalam hitungan detik. Semua orang yang berada di sana membeku, menatap Mifta yang berdiri di tengah ruangan dengan senyum aneh di wajahnya. Di luar, langkah kaki para petugas kepolisian terdengar semakin dekat, tetapi entah mengapa perempuan itu tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda ketakutan.Justru sebaliknya.Ia tampak tenang.Terlalu tenang.Julia memperhatikan lawan lamanya itu dengan saksama. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Mifta, ia tidak lagi melihat perempuan ambisius yang selalu tampil rapi dan percaya diri. Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah seseorang yang sudah kehabisan pegangan.Seseorang yang telah kehilangan arah."Kamu masih sempat tersenyum?" tanya Julia pelan.Mifta terkekeh.Awalnya pelan.Lalu semakin keras.Tawa itu menggema di ruangan dan membuat suasana semakin tidak nyaman."Apa menurutmu aku takut?" tanyanya.Julia tidak menjawab.Mifta menggeleng pelan."Kalian semua terlambat."Alis Julia berkerut

  • Istana yang Retak   Bab 36. Lelaki yang Kehilangan Harga Diri

    Suasana rumah kakak ipar Bu Sulastri berubah canggung setelah pertengkaran kecil itu. Tidak ada lagi suara tawa lepas seperti sebelumnya.Beberapa saudara mulai sibuk berpura-pura mengambil makanan, sebagian lain memilih mengalihkan perhatian ke anak-anak yang bermain di halaman. Namun sorot mata

  • Istana yang Retak   Bab 35. Fitnah di Meja Keluarga

    Sejak kunjungan memalukan itu, Bu Sulastri pulang dengan hati mendidih. Sepanjang perjalanan, perempuan paruh baya itu terus mengomel tanpa henti, sementara Nita duduk di jok belakang dengan wajah kusut penuh kesal. Mobil angkot yang mereka tumpangi terasa panas, bercampur bau bensin dan keringat p

  • Istana yang Retak   Bab 34. Puncak Kesuksesan Julia

    Malam setelah telepon Twin itu menjadi salah satu malam terpanjang dalam hidup Bram. Ia duduk bersandar di depan pintu kamar, menunggu Julia membukakan kunci, tetapi sampai lewat tengah malam tak ada jawaban selain isak pelan yang sesekali terdengar dari dalam. Hana sempat bangun karena haus dan m

  • Istana yang Retak   Bab 33. Telepon dari Masa Lalu yang Busuk

    Setelah Bu Sulastri dan Arman pergi dengan muka masam, rumah itu kembali sunyi. Namun sunyi yang kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena pertengkaran baru saja lewat, melainkan karena Julia dan Bram sama-sama kehabisan tenaga untuk marah. Seolah emosi mereka sudah diperas habis. Julia duduk di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status