مشاركة

Istri 7 Raja Iblis
Istri 7 Raja Iblis
مؤلف: VAD_27

Bab 1

مؤلف: VAD_27
last update تاريخ النشر: 2026-07-16 23:17:52

“Kan sudah aku bilang kemarin, aku akan pergi hari ini. Kenapa uangnya masih belum ditransfer juga?!”

Evelyn tersungkur ke lantai setelah Kania, kakak sepupunya, mendorongnya dengan kasar.

“Uangku pas-pasan, Kak. Kau tahu sendiri gajiku kecil,” jawab Evelyn pasrah.

Kania mencengkeram kedua pipinya hingga Evelyn meringis.

“Kau pikir aku tidak tahu tabunganmu banyak?” tukasnya, lalu mendorong kepala Evelyn.

“Aku sudah bayar sewa dan uang makan kepada Tante Gladis. Tidak ada yang tersisa dari gajian kemarin!” jawab Evelyn sebisa mungkin.

“Itu sudah seharusnya!” bentak Kania. “Kau tidak ingat siapa yang memungutmu setelah orang tuamu meninggal? Harusnya kau tahu diri!”

PLAK!

Tamparan keras membuat kepala Evelyn tertoleh. Pipi putihnya memerah, rasa perih menjalar hingga telinganya.

Evelyn terdiam sesaat dengan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.

Selama bertahun-tahun gadis itu menerima semua perlakuan itu karena merasa berhutang kepada keluarga Kania. Ia selalu berusaha membantu semua pekerjaan rumah sebagai balas budi. Bahkan sekarang, ketika ia sudah bekerja, ia juga tetap menyisihkan uang untuk diberikan kepada sang tante.

Namun, semua itu ternyata masih kurang. Uang tabungan Evelyn berkali-kali tetap diambil, seolah ia sama sekali tak boleh menyisakan uang untuk masa depannya sendiri.

Awalnya, gadis itu masih merasa tak masalah karena semua yang dia berikan nyatanya memang tak sebanding dengan semua biaya yang dikeluarkan keluarga tantenya untuk pendidikan dan kehidupannya.

Akan tetapi, sampai kapan ia harus terus membayar hanya karena pernah ditolong?

Bahkan bukan hanya membayar, tapi juga disiksa seperti ini.

Evelyn perlahan mengangkat wajahnya. Air mata masih menggenang di pelupuk mata, tetapi rasa takut di sana telah menghilang.

“Cukup, Kak … Memangnya aku ladang uang kalian?” ujar Evelyn lirih, tapi cukup menusuk. “Kalau kau suka berfoya-foya di klub, kenapa tidak kau sendiri yang bekerja untuk membayarnya? Selama ini aku sudah memberikan semua uangku untuk kalian, tapi kalian tidak pernah merasa cukup!”

Wajah Kania memerah karena marah.

“Kau sudah berani melawanku, ya?” Tangan Kania langsung mencengkeram rambut Evelyn dan menariknya kasar.

“Argh! Kak, sakit! Lepasin, Kak!”

Evelyn berusaha melepaskan diri, tetapi Kania terus menyeretnya hingga tubuhnya membentur sisi ranjang.

“Mentang-mentang sudah punya gaji sendiri, sekarang kau berani melawanku?”

Kania mengambil ponsel Evelyn dari atas nakas dan melemparkannya ke hadapan gadis itu.

“Cepat transfer uangnya!” ancam Kania. “Jangan banyak alasan, atau aku akan menyiksamu lebih dari ini!”

Dengan tangan sedikit gemetar, Evelyn meraih ponselnya. Ia sedikit mendongak, lalu berkata dengan nada tegas, “Tidak, ini uang tabunganku!”

“Ck, banyak omong! Cepat lakukan!” Kania berdecak kesal. Ujung kaki Kania mendorong tangan Evelyn.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Evelyn meraih ponselnya. Ia mengangkat wajah dan menatap Kania dengan berani.

“Tidak. Ini uang tabunganku.”

“Ck, banyak omong! Cepat transfer sekarang!”

Kania mendorong tangan Evelyn dengan ujung kakinya. Evelyn tetap bergeming.

Namun, ketika Kania menginjak tangannya, Evelyn meringis menahan sakit. 

“Argh … iya .. iya, aku transfer,” ucap Evelyn akhirnya dengan berat hati.

Kania baru mengangkat kakinya setelah Evelyn membuka aplikasi bank. Dengan jemari yang masih gemetar, Evelyn mengetik nominal, lalu menekan tombol transfer.

Ting!

Ponsel Kania berbunyi. Ia segera memeriksa saldo yang masuk. Namun, bukannya puas, wajahnya justru berubah kesal.

“Cuma 6 juta?” Kania menatap tajam. “Aku minta 10 juta, Evelyn!”

Evelyn kembali diamuk, dia melindungi kepalanya saat Kania menendang tubuhnya dengan brutal.

“Dasar jalang tidak tahu diri! Cepat transfer 4 juta lagi!” cecar Kania sambil terus melayangkan kakinya ke tubuh Evelyn.

"Argh! Kak! Itu sisa gajiku! Aku tidak punya lagi!" tukas Evelyn di sela injakan kaki Kania.

Kania akhirnya berhenti. Ia mendecakkan lidah, lalu memandangi Evelyn yang sudah meringkuk di lantai dengan wajah memar dan tubuh penuh luka.

“Ck. Baiklah, sekarang aku ampuni.” Kania merapikan pakaiannya seolah tidak terjadi apa-apa. “Tapi, besok aku akan datang lagi. Siapkan empat juta sisanya.”

Tanpa menunggu jawaban, Kania berbalik dan meninggalkan kamar, membanting pintu di belakangnya.

“Andai Ayah dan Ibu masih hidup...” gumam Evelyn lirih sambil mengusap air mata di pipinya.

Mungkin hidupnya tidak akan sesengsara ini.

Evelyn telah menjadi yatim piatu sejak tiga tahun lalu. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia terpaksa tinggal bersama Gladis, adik ibunya. Saat itu, ia baru lulus sekolah dan harus mengubur impian untuk kuliah.

Evelyn akhirnya bekerja sebagai buruh pabrik dengan upah minim. Sebagian gajinya diserahkan kepada Gladis untuk biaya tempat tinggal dan makan, ditambah uang bulanan untuk kebutuhan Gladis dan Kania. Semua itu menjadi syarat agar Evelyn tetap boleh tinggal di rumah tersebut.

Sahabatnya sudah berkali-kali menyarankan Evelyn untuk pindah. Dengan penghasilannya, ia sebenarnya masih mampu menyewa kamar kos sederhana dan hidup mandiri.

Sayangnya, setiap kali tabungannya hampir cukup untuk pergi, uang itu selalu diambil Kania atau Gladis dengan berbagai alasan. Seolah mereka tahu Evelyn sedang berusaha melepaskan diri.

Bibirnya yang kering dan pecah-pecah terasa perih saat ia bergerak. Dengan menahan sakit, Evelyn bangkit dan mengunci pintu kamar.

Dengan menahan sakit, Evelyn bangkit dan mengunci pintu kamar. Biasanya ia akan mengobati lukanya terlebih dahulu, tetapi malam ini tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.

Saat hendak berbaring, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari sahabatnya masuk.

Ting!

Evelyn membuka ponsel dan menemukan sahabatnya mengirim foto liburannya di Bali. Dia juga mengirim foto berbagai masakan di meja makan rumahnya.

[Itu foto liburanku kemarin yang kau minta. Bagus, kan? Kapan kita akan liburan kesana juga, hehe?]

[Lihat, Evelyn. Aku sudah pandai memasak sepertimu. Terimakasih sudah mengajariku, suamiku menyukai masakanku.]

Evelyn jadi menipiskan bibir dengan hatinya berdenyut iri.

"Jika saja aku punya suami, aku pasti punya rumah sendiri dan bebas dari Tante Gladis dan Kak Kania, kan?" gumam Evelyn lirih.

Pikiran sederhana itu membuat dadanya terasa hangat untuk sesaat. Evelyn lalu meletakkan ponselnya, menarik selimut hingga ke leher, dan memejamkan mata.

Tak butuh waktu lama sampai Evelyn terlelap. Namun, beberapa saat kemudian, suara benda jatuh membangunkannya.

Kening Evelyn mengernyit. Dalam keadaan setengah sadar, ia membuka mata dan melirik jam dinding.

Pukul dua belas malam.

Evelyn baru saja hendak bangkit ketika pandangannya jatuh ke sudut kamar.

Tujuh pria asing berdiri di sana.

Jantung gadis itu mencelos. Ia refleks mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.

“Si-siapa kalian?!” tanya Evelyn dengan pundak bergetar ketakutan.

Salah satu pria melangkah maju dengan tenang.

“Kami datang untuk menjemputmu, istriku.” Pria itu berhenti sejenak, lalu mengoreksi ucapannya. “Ah, tidak. Maksudku, aku datang untuk menjemputmu, Evelyn Regina Ophelia... istri dari tujuh Raja Iblis.”

Evelyn terbelalak.

Istri tujuh raja iblis?!

Apa mereka ini gila?!

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 25

    Evelyn sontak bangkit berdiri dan menjauh, napasnya memburu dengan mata bergetar ketakutan. Keringat dingin bercucuran saat kilasan mimpi baru itu muncul lagi menguasai rasa takutnya. "Kau kenapa?" Tanya Lucian bingung. Tangannya hendak menggapai bahu Evelyn, ingin menenangkan namun dia tersentak saat Evelyn menepisnya dengan air mata turun membasahi pipinya. Mata hitam gelap yang tajam itu beradu dengan mata hazel terang yang teduh. Angin menerbangkan bunga-bunga beserta helaian rambut keduanya. "Ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Lucian menurunkan intonasi. Evelyn jadi meneguk ludah sebelum menggeleng pelan. Melihat Evelyn yang tidak sewaspada barusan membuat Lucian berani mendekat, dia menarik pakaian Evelyn dan menggunakannya untuk menghapus air matanya. "Ck, memangnya air mataku kotor sampai kau jijik menyentuhnya." Omel Evelyn kesal, ini sudah kedua kalin

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 24

    "Apa maksudmu? Rendi itu manusia ... Dimana kalian pernah bertemu?" Tanya Evelyn bingung. Evelyn jadi memutar otak sebelum terkejut, melotot menatap Lucian. "Jangan bilang ... Rendi bukan manusia?" Lucian menggeleng sambil menghela napas panjang, "imajinasimu tinggi sekali." "Bukan? Lalu dimana kau melihatnya? Dunia ini?" Tanya Evelyn menghampiri Lucian yang duduk di atas rumput pendek. "Tentu saja dunia manusia. Kau pikir aku tidak pernah pergi ke sana di masa lalu?" Tanya Lucian. Tangannya menempel ke atas rumput, ranting tipis dan kuat mencuat muncul dari sana—dahan itu saling melilit sebelum melengkung membentuk bulat. Evelyn ikut duduk di depannya, "dulu kau ke dunia manusia untuk bertemu siapa?" Lucian yang tengah memetik bunga di sampingnya jadi terhenti, dia menatap Evelyn sebelum kilasan masa lalu muncul di otaknya. ~~~ "Hah?

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 23

    Rendi membanting pintu, menarik dasi yang terasa mencekik dan bergegas menuju lantai tiga menggunakan lift. Dia membuka dua kancing teratas kemeja dan pergelangan tangan. Keluar dari lift, Rendi masuk ke dalam satu-satunya ruangan di sana. "Hai, honey." Sapa wanita rambut pendek sebahu. Rendi langsung menenggak wine yang ada di meja kerja si wanita. "Ada masalah?" Napas Rendi memburu sebelum berdecak. "Aku ketahuan, Virda. Evelyn tahu!" Tukas Rendi gusar. "Apa dia tahu pacarmu itu aku?" Tanya Virda, nada bicaranya tenang. Seolah tidak terganggu. Rendi menggeleng, Virda menarik lengannya lembut dengan senyuman sensual yang menggoda, membuat Rendi mendekat dan duduk di kursi kerjanya. "Lalu apa yang dia tahu?" Tanya Virda duduk di pangkuan Rendi. Tangannya bergerak memijat bahu Rendi yang tegang. Berusaha membuatnya tenang

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 22

    "Aku tidak bisa menggunakannya." Ujar Evelyn menutup kopernya. Lucian berdecak gemas, "jangan keras kepala. Jika kau tidak mau, aku akan merusak kertas ini sekarang juga dengan kekuatanku." Lucian berdecih saat Evelyn lekas memeluk kopernya erat. "Dasar munafik." Sungut Lucian menggeleng pelan. Evelyn hanya memajukan bibir bawahnya, "sayang jika dirusak. Lagipula ini sudah jelas untukku, kan. Kau tidak mengerti, aku hanya terkejut. Selama bekerja, belum pernah aku memegang uang dua digit." "Tentu saja aku tidak mengerti. Karena aku adalah Raja yang terbiasa bergelimang harta." Ujar Lucian menyugar rambutnya sombong membuat Evelyn mengumpat dalam hati. "Dan kau adalah istri Raja. Jangan bersikap seperti rakyat jelata, sayang." Tukas Lucian. "Tidak masalah meskipun aku belum sepenuhnya mengakui kalian sebagai suamiku?" Evelyn memastikan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 21

    Evelyn melirik Rendi yang fokus menyetir, ia menoleh ke kursi belakang dimana Lucian duduk. Pria hijau itu menaikan alisnya sok tampan yang dibalas wajah garang Evelyn. Tidak tahu apa yang Lucian lakukan, tapi Rendi tidak bisa melihat keberadaannya. Evelyn tidak begitu mengerti kenapa, tapi katanya mahluk supranatural seperti Lucian sulit di rasakan apalagi dilihat jelas oleh manusia. Kecuali manusia yang punya kepekaan tinggi terhadap hal supranatural. Sedangkan kondisi Evelyn adalah pengecualian karena dia terikat hubungan suami-istri yang membuatnya bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka dengan jelas. Meskipun ada bagian dari diri Evelyn yang tidak mengakui hubungan suami-istri itu, tapi dia tidak banyak bicara. "Eh," gumam Rendi dan Evelyn waktu jari mereka bersentuhan saat akan menekan layar. "Kau ingin memutar lagu?" Tanya Rendi mempersilahkan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 20

    "Kau terlihat cantik sekali, Evelyn." Ujar Rendi menyampirkan anak rambut ke belakang telinga. Evelyn jadi tersenyum dengan wajah memerah sebelum menyuapinya kue. Keduanya duduk di atas karpet polkadot merah putih yang di gelar di pinggir danau. "Pencarian rumahmu berjalan lancar?" Tanya Rendi duduk santai, menikmati piknik mereka. "Bagaimana jika aku tinggal di rumahmu saja? Bukankah itu lebih mudah?" Tanya Evelyn. "Eh?" Tanya Rendi terkejut sebelum berdehem. "Tidak bisa, Evelyn. Kita kan belum menikah, nanti tetangga bertanggapan jelek. Namamu jadi buruk." "Lalu kenapa kau tidak mengajak aku menikah? Kita sudah berpacaran tiga tahun tapi kau sekalipun tidak pernah membicarakan tentang pernikahan." Tukas Evelyn membuat Rendi gelagapan. "Karirku masih stuck, aku juga masih punya cicilan mobil, kenapa harus buru-buru?" Tanya Rendi. Evelyn mengerut dengan raut wajah menurun, "meman

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status