LOGIN
“Kan sudah aku bilang kemarin, aku akan pergi hari ini. Kenapa uangnya masih belum ditransfer juga?!”
Evelyn tersungkur ke lantai setelah Kania, kakak sepupunya, mendorongnya dengan kasar.
“Uangku pas-pasan, Kak. Kau tahu sendiri gajiku kecil,” jawab Evelyn pasrah.
Kania mencengkeram kedua pipinya hingga Evelyn meringis.
“Kau pikir aku tidak tahu tabunganmu banyak?” tukasnya, lalu mendorong kepala Evelyn.
“Aku sudah bayar sewa dan uang makan kepada Tante Gladis. Tidak ada yang tersisa dari gajian kemarin!” jawab Evelyn sebisa mungkin.
“Itu sudah seharusnya!” bentak Kania. “Kau tidak ingat siapa yang memungutmu setelah orang tuamu meninggal? Harusnya kau tahu diri!”
PLAK!
Tamparan keras membuat kepala Evelyn tertoleh. Pipi putihnya memerah, rasa perih menjalar hingga telinganya.
Evelyn terdiam sesaat dengan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.
Selama bertahun-tahun gadis itu menerima semua perlakuan itu karena merasa berhutang kepada keluarga Kania. Ia selalu berusaha membantu semua pekerjaan rumah sebagai balas budi. Bahkan sekarang, ketika ia sudah bekerja, ia juga tetap menyisihkan uang untuk diberikan kepada sang tante.
Namun, semua itu ternyata masih kurang. Uang tabungan Evelyn berkali-kali tetap diambil, seolah ia sama sekali tak boleh menyisakan uang untuk masa depannya sendiri.
Awalnya, gadis itu masih merasa tak masalah karena semua yang dia berikan nyatanya memang tak sebanding dengan semua biaya yang dikeluarkan keluarga tantenya untuk pendidikan dan kehidupannya.
Akan tetapi, sampai kapan ia harus terus membayar hanya karena pernah ditolong?
Bahkan bukan hanya membayar, tapi juga disiksa seperti ini.
Evelyn perlahan mengangkat wajahnya. Air mata masih menggenang di pelupuk mata, tetapi rasa takut di sana telah menghilang.
“Cukup, Kak … Memangnya aku ladang uang kalian?” ujar Evelyn lirih, tapi cukup menusuk. “Kalau kau suka berfoya-foya di klub, kenapa tidak kau sendiri yang bekerja untuk membayarnya? Selama ini aku sudah memberikan semua uangku untuk kalian, tapi kalian tidak pernah merasa cukup!”
Wajah Kania memerah karena marah.
“Kau sudah berani melawanku, ya?” Tangan Kania langsung mencengkeram rambut Evelyn dan menariknya kasar.
“Argh! Kak, sakit! Lepasin, Kak!”
Evelyn berusaha melepaskan diri, tetapi Kania terus menyeretnya hingga tubuhnya membentur sisi ranjang.
“Mentang-mentang sudah punya gaji sendiri, sekarang kau berani melawanku?”
Kania mengambil ponsel Evelyn dari atas nakas dan melemparkannya ke hadapan gadis itu.
“Cepat transfer uangnya!” ancam Kania. “Jangan banyak alasan, atau aku akan menyiksamu lebih dari ini!”
Dengan tangan sedikit gemetar, Evelyn meraih ponselnya. Ia sedikit mendongak, lalu berkata dengan nada tegas, “Tidak, ini uang tabunganku!”
“Ck, banyak omong! Cepat lakukan!” Kania berdecak kesal. Ujung kaki Kania mendorong tangan Evelyn.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Evelyn meraih ponselnya. Ia mengangkat wajah dan menatap Kania dengan berani.
“Tidak. Ini uang tabunganku.”
“Ck, banyak omong! Cepat transfer sekarang!”
Kania mendorong tangan Evelyn dengan ujung kakinya. Evelyn tetap bergeming.
Namun, ketika Kania menginjak tangannya, Evelyn meringis menahan sakit.
“Argh … iya .. iya, aku transfer,” ucap Evelyn akhirnya dengan berat hati.
Kania baru mengangkat kakinya setelah Evelyn membuka aplikasi bank. Dengan jemari yang masih gemetar, Evelyn mengetik nominal, lalu menekan tombol transfer.
Ting!
Ponsel Kania berbunyi. Ia segera memeriksa saldo yang masuk. Namun, bukannya puas, wajahnya justru berubah kesal.
“Cuma 6 juta?” Kania menatap tajam. “Aku minta 10 juta, Evelyn!”
Evelyn kembali diamuk, dia melindungi kepalanya saat Kania menendang tubuhnya dengan brutal.
“Dasar jalang tidak tahu diri! Cepat transfer 4 juta lagi!” cecar Kania sambil terus melayangkan kakinya ke tubuh Evelyn.
"Argh! Kak! Itu sisa gajiku! Aku tidak punya lagi!" tukas Evelyn di sela injakan kaki Kania.
Kania akhirnya berhenti. Ia mendecakkan lidah, lalu memandangi Evelyn yang sudah meringkuk di lantai dengan wajah memar dan tubuh penuh luka.
“Ck. Baiklah, sekarang aku ampuni.” Kania merapikan pakaiannya seolah tidak terjadi apa-apa. “Tapi, besok aku akan datang lagi. Siapkan empat juta sisanya.”
Tanpa menunggu jawaban, Kania berbalik dan meninggalkan kamar, membanting pintu di belakangnya.
“Andai Ayah dan Ibu masih hidup...” gumam Evelyn lirih sambil mengusap air mata di pipinya.
Mungkin hidupnya tidak akan sesengsara ini.
Evelyn telah menjadi yatim piatu sejak tiga tahun lalu. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia terpaksa tinggal bersama Gladis, adik ibunya. Saat itu, ia baru lulus sekolah dan harus mengubur impian untuk kuliah.
Evelyn akhirnya bekerja sebagai buruh pabrik dengan upah minim. Sebagian gajinya diserahkan kepada Gladis untuk biaya tempat tinggal dan makan, ditambah uang bulanan untuk kebutuhan Gladis dan Kania. Semua itu menjadi syarat agar Evelyn tetap boleh tinggal di rumah tersebut.
Sahabatnya sudah berkali-kali menyarankan Evelyn untuk pindah. Dengan penghasilannya, ia sebenarnya masih mampu menyewa kamar kos sederhana dan hidup mandiri.
Sayangnya, setiap kali tabungannya hampir cukup untuk pergi, uang itu selalu diambil Kania atau Gladis dengan berbagai alasan. Seolah mereka tahu Evelyn sedang berusaha melepaskan diri.
Bibirnya yang kering dan pecah-pecah terasa perih saat ia bergerak. Dengan menahan sakit, Evelyn bangkit dan mengunci pintu kamar.
Dengan menahan sakit, Evelyn bangkit dan mengunci pintu kamar. Biasanya ia akan mengobati lukanya terlebih dahulu, tetapi malam ini tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.
Saat hendak berbaring, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari sahabatnya masuk.
Ting!
Evelyn membuka ponsel dan menemukan sahabatnya mengirim foto liburannya di Bali. Dia juga mengirim foto berbagai masakan di meja makan rumahnya.
[Itu foto liburanku kemarin yang kau minta. Bagus, kan? Kapan kita akan liburan kesana juga, hehe?]
[Lihat, Evelyn. Aku sudah pandai memasak sepertimu. Terimakasih sudah mengajariku, suamiku menyukai masakanku.]
Evelyn jadi menipiskan bibir dengan hatinya berdenyut iri.
"Jika saja aku punya suami, aku pasti punya rumah sendiri dan bebas dari Tante Gladis dan Kak Kania, kan?" gumam Evelyn lirih.
Pikiran sederhana itu membuat dadanya terasa hangat untuk sesaat. Evelyn lalu meletakkan ponselnya, menarik selimut hingga ke leher, dan memejamkan mata.
Tak butuh waktu lama sampai Evelyn terlelap. Namun, beberapa saat kemudian, suara benda jatuh membangunkannya.
Kening Evelyn mengernyit. Dalam keadaan setengah sadar, ia membuka mata dan melirik jam dinding.
Pukul dua belas malam.
Evelyn baru saja hendak bangkit ketika pandangannya jatuh ke sudut kamar.
Tujuh pria asing berdiri di sana.
Jantung gadis itu mencelos. Ia refleks mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.
“Si-siapa kalian?!” tanya Evelyn dengan pundak bergetar ketakutan.
Salah satu pria melangkah maju dengan tenang.
“Kami datang untuk menjemputmu, istriku.” Pria itu berhenti sejenak, lalu mengoreksi ucapannya. “Ah, tidak. Maksudku, aku datang untuk menjemputmu, Evelyn Regina Ophelia... istri dari tujuh Raja Iblis.”
Evelyn terbelalak.
Istri tujuh raja iblis?!
Apa mereka ini gila?!
"Kau akan pergi ke mana?" Tanya Salim menghentikan langkah Raidne keluar ruangan."Pa-pantai."Blam!Pintu ditutup meninggalkan Salim yang masih terjerat dokumen di meja kerjanya. Salim jadi menghela nafas, dia tidak berhak menghentikan karena pekerjaan Raidne sudah tuntas.Hanya saja ada yang menganggu benak Salim."Sepertinya dia ke pantai untuk menghindar dari Ratu." Simpul Salim menggeleng pelan.Raidne adalah orang yang cerdas, buktinya dia selalu menjadi orang tercepat menyelesaikan tugas Kerajaan. Karena itu pula dia bisa menjadi Raja.Kelemahannya adalah di ketakutan dan keraguannya sendiri.Jika saja Raidne tidak berpikir berlebihan bahwa semuanya akan berakhir buruk mungkin dia tidak perlu menyimpan rahasia pada Ratu."Mungkin." Gumam Salim.Dia sendiri jadi meragu saat mengingat masa lalu dimana terjadi masalah besar yang melibatkan Raidne dan Evelyn.Hari itu Salim menyuruhnya tenang dan berhenti memprediksi semua akhir bu
Langkah Darianth terhenti saat pintu utama Istana terbuka. Penjaga memberitakan kedatangan Evelyn dan Raidne.Kebetulan sekali."Makan malam sudah siap, mari-," ucapan Darianth terhenti dengan netra melebar.Keningnya mengernyit melihat keadaan keduanya yang kacau. Pakaian Evelyn robek dan memakai jubah Raidne asal sedangkan kondisi Raidne lebih parah. Tubuhnya berlumuran darah, hidungnya patah dan wajahnya babak belur.Keduanya bergeming dengan raut wajah tidak terbaca, apalagi mereka berdiri dengan jarak."Apa yang terjadi?" Tanya Darianth.Hening.Tidak ada jawaban dari keduanya sampai Darianth tersentak. Ujung jarinya terhenti beberapa senti di depan leher evelyn yang terluka. Ada bekas cekikan di sana."Sebenarnya apa yang-," ucapan Darianth terhenti saat Raidne melewatinya.Beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Darianth jadi menoleh pada Evelyn yang menunduk sambil mengusap lengannya. Raut wajahnya tidak terbaca. Kenin
"Raidne tidak mungkin seorang pembunuh. Aku tidak akan tetipu." Ujar Evelyn menggeleng kuat dengan jantung berdegup kencang.Dalam artian buruk.Tapi dia akan tetap mempercayai Raidne."Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi terlihat bahwa pria ini menaruh kasih sayang dan cinta besar untukmu namun sepertinya itu hanya perasaan sepihak, ya?" Tanya Raidne membuat Evelyn tersentak."Kau ... Sama sekali tidak tahu apapun soal pria ini. Sedari awal kau hanya menumbuhkan kepercayaan tanpa tahu bagaimana karakter asli san masa lalunya."Evelyn jadi meneguk ludah dengan jantung mencelos, yang dikatakan hantu itu benar adanya."Kalau begitu, haruskah aku ceritakan bagaimana sifat Siren yang sebenarnya?" Tanyanya membuat Evelyn jadi bimbang.Haruskah Evelyn mendengarkannya karena sejujurnya dia sangat penasaran apalagi Raidne terlihat menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya."Kau sepertinya penasaran. Baiklah, akan aku ceritakan padamu-,"
"Raidne! Ohok-ohok ... A-apa yang kau lakukan?!" Jerit Evelyn terbatuk perih saat cekikan tangan Raidne semakin menguat. Membuat tenggorokannya tertekan dan kesulita mengambil nafas. Evelyn melotot dan meronta saat cekikan Raidne seolah ingin mematahkan tulang lehernya. Suara tawa melengking dari hantu laut itu kembali memenuhi atmosfer, seolah menertawakannya yang tengah sekarat. Jemari Evelyn mencoba mencengkram sekitarnya, dia meraup pasir dan melemparkannya ke mata Raidne namun yang terjadi adalah Evelyn lebih terkejut saat Raidne tetap membuka matanya meskipun memerah karena pasir. Ini gila! "Bunuh! bunuh!" Desis Raidne dengan gigi menggertak. Evelyn kembali meronta, meraba-raba sekitarnya untuk mencari benda apapun yang bisa dia gunakan. "Aku akan membunuhmu terlebih dahulu, membuat Siren ini menderita sebelum kemudian membunuhnya untuk menyusulmu!" Desis Raidne menyeringai dengan netra melotot dan diakhiri
"Hahh, akhirnya selesai juga." Gumam Bram merenggangkan badan dan pinggangnya, berdiri di pelataran Rumah sakit."Anda tidak perlu memaksakan diri, Yang Mulia." Ujar Yul di sampingnya."Aku tidak, namun jika tidak melihat langsung kondisi para korban yang terluka, aku sama sekali tidak bisa tenang." Ujar Bram.Yul jadi mengulum senyum di wajahnya yang renta, "anda sungguh berhati mulia, Yang Mulia.""Tentu saja. Sekarang, ayo mulai bekerja. Aku harus cepat menyelesaikannya karena ada istriku yang cerewet tengah menungguku." Ujar Bram tersenyum geli saat wajah kesal Evelyn terbayang di kepalanya."Anda pasti menyelesaikannya dengan cepat.""Tentu saja! Rakyat percaya padaku karena aku bijak, berhati mulia dan baik hati. Apalagi aku sangat populer karena ketampananku." Tukas Bram sambil menyeringai bangga."Lalu, apakah dengan itu semua Ratu Evelyn sudah menyukai anda kembali, Yang Mulia?" Tanya Yul sontak membuat Bram terbatuk karena ucapannya tepat s
"Raidne, ada apa?" Tanya Evelyn bingung saat dia ditarik untuk berlari menjauh dari pantai.Tapi Evelyn tidak mendapatkan jawaban apapun saat Raidne terus berlari dengan wajah panik. Seolah secepat mungkin ingin membawa Evelyn pergi dari sana.Nafas Evelyn memburu saat langkah mereka terhenti di depan gua sebelumnya, kali ini dengan tangga menanjak."Ah!" Tukas Evelyn terkejut saat tubuhnya diangkat ke pundak. Raidne memanggulnya seperti sekarung beras sebelum menaiki tangga gua dengan sangat cepat.Raidne tidak bisa mendapatkan risiko kaki Evelyn yang tergellincir jatuh di tangga seperti sebelumnya. Dia juga tidak tega jika harus menarik Evelyn tertatih-tatih ditangga.Cukup lama sampai keduanya berhasil keluar dari gua. Evelyn pikir Raidne akan langsung menurunkannya namun ternyata tidak, dia lanjut berlari sambil terus menggendongnya melewati hutan sebelumnya.Kening Evelyn mengernyit dengan mata membelalak saat langit yang sebelumnya cerah mendadak g







